TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
KECELAKAAN MAUT


__ADS_3

Jeduaarrrr....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong tubuh Raksa benar benar kaku karena terkejut dengan apa yang telah Sera ucapkan.


" Sera!!!!" Bentak nyonya Wijaya.


" Tante tolong jangan berteriak! Sera sedang sakit." Ucap Raksa.


Nyonya Wijaya menatap Sera dengan tajam seolah ingin mengulitinya hidup hidup.


" Katakan yang sebenarnya Sera! Kalau kau mencintainya kenapa waktu dia datang melamarmu kamu malah menolaknya? Seharusnya kamu menerimanya lalu pergi bersamanya kan?" Tanya Raksa memastikan.


" Mama mengancamku." Lirih Sera.


Raksa melirik ke arah nyonya Wijaya sekilas lalu ia kembali menatap Sera.


" Apa kau benar benar mencintainya?" Aruna menganggukkan kepalanya.


" Tapi dia pria miskin Sera, dia tidak selevel dengan kita. Apa kau tidak akan menyesal hidup susah bersamanya?" Raksa kembali bertanya untuk memastikan perasaan Sera pada Arnold.


" Selama ini aku hidup dalam kesusahan Raksa. Aku bekerja sebagai karyawan di bank milikku sendiri. Aku menikmati hidup menjadi orang biasa. Dan selama beberapa tahun ini aku mampu menjalaninya. Berarti aku juga mampu menjalaninya untuk beberapa waktu ke depan." Sahut Sera.


" Harta bukan segalanya, seiring berjalannya waktu aku yakin mas Arnold bisa sesukses dirimu. Tidak peduli dengan status sosial, yang jelas aku mencintainya Raksa. Dia memiliki putri yang sangat aku sayangi dan menyayangiku. Namun mama mengancam akan mencelakai mereka berdua kalau sampai aku menolak menikah denganmu. Aku bisa apa Raksa? Aku punya pilihan selain menerimamu untuk menyelamatkan mereka dari mama hiks.... " Tiba tiba Sera terisak. Ia nekat memberitahu Raksa yang sebenarnya demi cintanya pada Arnold. Ia sangat berharap Raksa bisa membantunya keluar dari belenggu perjodohan ini. Ia sangat yakin jika Raksa orang yang baik, Raksa pasti mau membantunya.


Dari sini Raksa menyadari jika cinta Sera begitu besar untuk Arnold. Sera bisa menerima Arnold beserta putrinya dengan lapang dada. Bahkan Sera lebih memilih seorang duda beranak satu daripada pria lajang sepertinya. Apalagi perbedaan status Sera dan Arnold menjulang tingi. Raksa benar benar tidak menyangka jika Sera memiliki cinta sebesar itu.


" Tutup mulutmu Sera! Jangan bicara lebih banyak lagi! Atau kau akan tahu apa yang bisa mama lakukan pada mereka berdua." Ancam nyonya Wijaya penuh penekanan.


" Jangan berani melakukan itu Tante! Karena aku tidak akan tinggal diam." Ucapan Raksa membuat Sera dan ibunya terkejut.

__ADS_1


" Raksa kau... " Nyonya Wijaya menghentikan ucapannya. Ia menatap Raksa tidak percaya.


" Aku mendukung perasaan Sera, Tante. Jika dia mencintai Arnold lalu kenapa dia harus di paksa menikah denganku? Aku memang tertarik dengan Sera tapi aku tidak akan tega memaksanya untuk hidup bersamaku. Bersama pria yang tidak dia cintai." Ucap Raksa.


" Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Raksa. Kau jangan khawatir! Sera pasti bisa mencintaimu seperti dia mencintai Arnold. Kau tidak boleh membatalkan perjodohan ini. Tante tidak mau mempunyai menantu miskin seperti pria itu. Wajah Tante mau di taruh dimana Raksa? Tante tidak mau tahu. Kalian berdua tetap harus menikah." Ujar nyonya Wijaya.


" Aku menolaknya."


" Aku menolaknya." Ucap keduanya bersamaan.


" Apa apaan kalian ini hah?" Ucap nyonya Wijaya dengan nada tinggi.


" Kenapa kalian mencoba mempermainkan aku? Apa kalian pikir kalian bisa menentang keinginanku?" Nyonya Wijaya nampak murka. Jiwa gangstarnya merambat begitu saja ke dalam dirinya.


" Sera, kau jangan main main mama Nak! Berani kau melakukan kesalahan maka akan berakibat fatal untuk pria itu." Nyonya Wijaya kembali mengintimidasi putrinya sendiri.


" Kalau begitu biarkan aku yang mati."


Di lain tempat, Arnold yang sedang berjalan di trotoar depan rumah sakit mendadak berhenti karena tali sepatu yang ia pakai terlepas. Hari ini ia sengaja datang ke kota ini untuk mengunjungi Arvi. Ia membawakan oleh oleh untuk Arvi untuk yang pertama kalinya setelah ia sukses seperti sekarang ini.


Saat ia mengikat tali sepatunya, tiba tiba tatapannya menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal berlari menyeberang jalan raya tanpa mempedulikan sekitar. Dari arah depan terlihat sebuah mobil Alphard melintas dengan kecepatan tinggi, melihat hal itu Arnold langsung berlari kencang meninggalkan paper bagnya menuju wanita yang ternyata Sera.


" Seraaa!!!!!!" Teriak Arnold mendorong tubuh Sera ke trotoar sampai....


Brak.....


Tubuh Arnold terpental ke aspalan. Darah segar mengalir dari kepala dan hidungnya. Tubuh Sera mematung melihat kejadian itu, ia menatap belum menyadari jika pria adalah pria yang ia cintai selama ini. Sampai tatapannya tertuju pada wajah yang asing baginya karena Arnold jatuh dengan posisi terlentang.


Deg....

__ADS_1


Jantung Sera berdetak sangat kencang saat menyadari jika pria yang telah menyelamatkannya adalah Arnold.


" Mas Arnold.... " Sera berlari sambil berteriak mendekati tubuh Arnold. Ia menarik kepala Arnold ke dalam pangkuannya.


" Mas bangun Mas!" Sera menepuk pelan pipi Arnold berharap Arnold mau membuka matanya. Namun harapan tinggallah harapan karena Arnold tidak kunjung membuka matanya. Jangan membuka mata, menggerakkan jarinya Arnold tidak bisa.


Di alam bawah sadar Arnold, ia dapat merasakan kekhawatiran Sera. Dalam hati ia tersenyum, ia menyadari jika Sera masih mencintainya. Namun setelah itu ia benar benar tidak bisa merasakan apapun.


Orang orang segera membawa Arnold ke ruang UGD yang ada di rumah sakit tempat Sera di rawat. Sera, Raksa dan nyonya Wijaya menunggu di kursi tunggu depan UGD dengan perasaan cemas.


" Ya Tuhan selamatkan mas Arnold! Aku tidak mau berhutang nyawa kepadanya. Kasihan Mia ya Tuhan... Dia masih terlalu kecil jika harus di tinggal oleh mas Arnold hiks... Kenapa kamu menyelamatkan aku Mas? Harusnya biarkan aku mati, biarkan aku yang berada di dalam sana saat ini." Ucap Sera terisak. Ia tidak tahu jika ucapannya menyayat hati nyonya Wijaya.


Raksa menarik kepala Sera agar bersandar di bahunya.


" Tenanglah Sera! Arnold pasti baik baik saja." Ucap Raksa mencoba menenangkan Sera.


" Bagaimana aku bisa tenang Raksa? Di dalam sana ada seorang penyelamat yang sedang berjuang melawan mautnya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan mas Arnold, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku akan menghukum diriku sendiri." Ucap Sera.


Mereka menunggu hingga hampir dua jam lamanya, dokter keluar memberitahu mereka jika terjadi pendarahan pada otak Arnold. Ia membutuhkan operasi untuk menghentikan pendarahannya. Tanpa membuang waktu, Sera segera mendatangani dokumen persetujuan operasi dan siap menanggung segala resikonya tanpa menyalahkan pihak rumah sakit.


Operasi segera di lakukan oleh tim bedah spesialis di dalam ruangan operasi. Sera terus melafalkan doa agar operasi berjalan dengan lancar dan sesuai harapan.


Singkat waktu, tiga jam kemudian lampu yang semula berwarna merah kini telah padam. Itu tandanya operasi telah selesai, tak lama dokter keluar dari sana. Melihat pintu terbuka, Sera langsung menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana operasinya Dok? Apakah operasinya berjalan dengan lancar? Apakah keadaan calon suami saya baik baik saja?"


Baik nggak ya.....


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Terima kasih...


TBC.. .


__ADS_2