TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
SANDIWARA


__ADS_3

" Aku adalah istrimu." Sahut Sera.


Tiga bulan telah berlalu setelah kejadian itu. Sera hidup bersama Arnold dan Mia bagaikan suami istri. Namun tidak untuk satu hal itu, walaupun ia telah mengaku sebagai istri Arnold, tapi ia tetap menjaga dirinya dengan baik. Mereka bertiga nampak hidup bahagia seperti satu keluarga yang utuh pada umumnya. Sera berhasil meluluhkan hati ibunya agar mau menerima Arnold sebagai menantunya, perlahan nyonya Wijaya pun luluh. Apalagi melihat Sera yang nampak sangat mencintai Arnold. Ia dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata putri semata wayangnya, sebagai orang tua ia tidak mau egois. Ia akan memberikan restunya dan menikahkan mereka berdua setelah ingatan Arnold kembali sepenuhnya.


Sebenarnya bisa saja mereka menikah saat ini juga, namun Sera menginginkan Arnold yang dulu, Arnold yang menganggapnya sebagai wanita yang di cintainya. Ia akan menunggu sampai Arnold mengingat semuanya.


Malam ini keluarga itu sedang makan malam bersama. Ya.. Sera membawa Arnold dan Mia tinggal bersamanya di rumah orang tuanya. Sera bahkan tidak punya pekerjaan lain selain mengurus Mia dan Arnold sebagai anak dan suaminya.


Di meja makan, nampak Mia makan dengan lahap. Ia tidak mengeluarkan suara sama sekali karena selain menghormati makanan, ia juga menghormati nyonya dan tuan Wijaya. Selama tinggal di rumah itu, ia tidak banyak tingkah. Ia menjadi anak penurut dan pendiam hingga membuat nyonya Wijaya lama lama menyukainya.


Arnold nampak makan sambil merenung, entah apa yang ia pikirkan hanya dia yang tahu. Melihat itu, Sera menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan sendok pada piring lalu menatap Arnold.


" Mas kamu kenapa? Kenapa sedari tadi kamu diam saja? Apa kepalamu sakit lagi?" Tanya Sera karena akhir akhir ini Arnold sering mengeluh sakit kepala.


" Aku tidak apa apa, jangan khawatir!" Sahut Arnold tersenyum manis. Ia melanjutkan makannya begitupun dengan Sera.


Sera memperhatikan gerak gerik Arnold yang tidak seperti biasanya. Entah Arnold berkata jujur atau ia membohongi Sera, Sera sendiri tidak tahu.


" Kalau ada sesuatu jangan di pendam sendiri Arnold, berbagilah dengan Sera. Kalau Sera tidak bisa membantu, biar mama yang membantu kamu." Ucap nyonya Wijaya. Ia dapat melihat kesedihan dan keresahan dari wajah Sera.


" Terima kasih Ma, tapi aku tidak apa apa. Aku merasa baik baik saja." Sahut Arnold.


Selesai makan, Sera dan Arnold kembali ke kamarnya. Arnold keluar balkon kamarnya, ia duduk sambil menatap indahnya lampu kelap kelip kota di bawah sana. Bintang bintang nampak bersinar terang di langit yang gelap. Angin dingin berhembus merasuk sendi sendi, namun tidak membuat Arnold berniat masuk ke dalam.


Tak lama Sera menghampirinya lalu duduk di sampingnya.

__ADS_1


" Sayang kenapa kamu di sini? Di sini dingin. Cepatlah masuk! Aku tidak mau sampai kamu sakit." Ujar Arnold memberikan perhatiannya.


" Aku tidak masuk ke dalam sebelum aku mendapatkan jawaban." Sahut Sera membuat Arnold mengerutkan keningnya.


" Aku yakin mas tidak sedang tidak baik baik saja. Masalah apa yang sebenarnya kau pendam Mas? Katakan padaku! Aku pasti akan membantumu." Ujar Sera menatap Arnold.


Arnold menatap manik hitam kecoklatan milik Sera untuk beberapa saat, lalu ia kembali menatap ke depan sana.


" Aku tidak tahu, tapi beberap hari ini aku bermimpi bertemu dengan seorang anak laki laki yang mengaku sebagai putraku." Ujar Arnold.


Jantung Sera berdetak sangat kencang, ia tahu kalau yang Arnold bicarakan adalah Arvi. Setelah kecelakaan yang menimpa Arnold terjadi, Revia dan Arvi mencari Arnold ke rumah sakit. Mereka memberitahu Sera siapa mereka bagi Arnold. Saat itu Sera sangat terkejut. Ia benar benar tidak menyangka jika Arnold memiliki anak selain Mia. Namun ia tidak mempermasalahkannya.


Sera memberitahu apa yang telah terjadi padanya dan Arnold dari awal hingga akhir, sampai pada Arnold mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Sera meminta Revia dan Arvi untuk tidak menemui Arnold dalam beberapa bulan ke depan. Ia tidak mau Arnold memaksakan diri untuk mengingat semuanya karena itu bisa berakibat fatal bagi keselamatan Arnold.


Revia dan Arvi bisa memahami apa yang sedang terjadi, untuk itu mereka tidak lagi menemui Arnold sampai sekarang namun Revia sering bertukar pesan dengan Sera untuk sekedar menanyakan kabar Arnold. Bagaimanapun Arnold tidak punya siapa siapa di dunia ini.


" Apakah sebelumnya kita pernah memiliki seorang putra? Atau anak kita hanya Mia saja?" Tanya Arnold menohok hati Sera.


Sera merasa bingung harus menjawab apa, ingin menjawab dengan kebenaran takut Arnold kenapa napa. Mau berdusta takut ketahuan. Pada akhirnya Sera hanya diam saja.


" Sera... " Ucap Arnold.


" Tidak Mas, kita hanya punya Mia. Tapi kalau sebelumnya Mas punya anak selain Mia, aku tidak tahu." Sahut Sera.


" Sekarang lebih baik pikirkan tentang kesehatanmu Mas, kalau Mas sudah sembuh Mas pasti akan mengingat semuanya. Dan tentunya Mas akan mendapat jawaban dari pertanyaan Mas ini." Ujar Sera.

__ADS_1


" Kau benar sayang, maafkan Mas!" Ucap Arnold merangkul pundak Sera


" Aku yang minta maaf Mas." Gumam Sera tidak terdengar oleh Arnold.


Mereka berbincang hingga jam sepuluh malam. Setelah itu mereka terlelap di atas ranjang sambil berpelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar matahari cerah menyinari kota J yang dari dulu padat penduduk. Sinarnya masuk ke kamar Revia melalui celah celah korden, Revia mengerjapkan matanya melihat sekitar. Ia segera beranjak turun dari ranjang, baru saja kakinya menginjak lantai, tiba tiba perutnya terasa mual, ia membekap mulutnya lalu berlari ke kamar mandi.


" Huek.... "


Suara Revia yang sedang muntah menembus pendengaran Zayn yang masih terlelap. Ia segera membuka matanya malu berlari masuk ke kamar mandi. Sampai di dalam ia melihat Revia membungkuk di depan wastafel sambil memegangi perutnya yang semakin mual.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Zayn mendekat ke arah Revia.


Revia menggelengkan kepalanya, ia kembali memuntahkan cairan bening yang terasa pahit dari perutnya. Zayn memijat tengkuk Revia dengan pelan.


" Kita dokter saja ya, biar kamu di kasih obat. Nanti kalau sudah minum obat pasti sembuh." Ujar Zayn. Revia menggelengkan kepalanya.


Setelah merasa mendingan, Revia membasuh mulutnya dengan air bersih lalu mengeringkannya menggunakannya tisu. Ia membalikkan badannya menghadap Zayn. Zayn mengusap keringat yang menetes di dahi Revia.


" Kamu kelihatan pucat banget sayang, Mas antar ke dokter ya." Ucap Zayn.


" Aku tidak mau Mas, aku mau istirahat saja." Ujar Revia kembali ke. kamarnya. Namun saat ia berjalan, kepalanya tiba tiba terasa berat. Matanya berkunang kunang membuat pandangannya kabur. Tiba tiba tubuhnya oleng lalu..

__ADS_1


Brugh....


TBC


__ADS_2