TERJERAT CINTA WALI MURIDKU

TERJERAT CINTA WALI MURIDKU
KEHIDUPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari hari berlalu hubungan Revia dan Zayn kembali membaik setelah masalah kecil yang menimpa pernikahan mereka kemarin. Sinar matahari masuk ke dalam kamar Revia melalui celah celah korden. Revia membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya. Ia mengelus pipi Zayn yang nampak mulus dan putih berseri. Benar benar tampan paripurna.


" Sudah mengagumi wajah tampan Mas?"


Revia langsung menjauhkan tangannya dari wajah Zayn. Zayn membuka matanya menatap Revia sambil tersenyum.


" Pagi sayang." Sapa Zayn dengan suara seraknya khas bangun tidur.


" Pa.. Pagi Mas." Sahut Revia.


" Kenapa gugup begitu? Santai saja sayang." Ucap Zayn memajukan wajahnya lalu mencium kening Revia.


" Aku mandi dulu Mas." Revia segera beranjak dari ranjangnya namun Zayn menariknya hingga tubuhnya terjerembab kembali di atas ranjang. Zayn lalu memeluknya dengan erat dari belakang.


" Mau kemana hmm? Di sini saja menemani Mas. Kita ulang kegiatan semalam gimana?" Zayn menyentuh telinga Revia dengan hidungnya membuat Revia merasa geli.


" Geli Mas ih... " Ucap Revia mengusap usap telinganya.


" Semalem enggak." Sontao Revia langsung melongo membulatkan matanya. Ia mengingat pergulatan panas mereka semalam. Zayn benar benar menggila, ia tidak membiarkan Revia istirahat walau hanya sebentar saja.


" Apa sih Mas." Revia mendorong pelan tubuh Zayn hingga menjauh darinya. Ia segera turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


Hubungan Revia dan Zayn nampak begitu erat, begitupun dengan hubungan Jean dan Sonia, mereka nampak semakin dekat. Benih benih cinta telah tumbuh di hati keduanya. Kini keduanya selalu bersama bagaikan terkena lem yang sulit untuk di pisahkan. Seperti abg yang sedang bahagia bahagianya memiliki pasangan, kemana mana inginnya selalu bersama.

__ADS_1


" Sayang tolong ambilkan dasiku, aku lupa mengambilnya." Ujar Jean yang sedang berdiri di depan kaca sambil mengancingkan bajunya.


" Iya Mas." Sonia yang sedang duduk di atas ranjang segera beranjak mengambil dasi di laci almari milik Jean. Ia mengambil dasi berwarna hitam yang sangat serasi di pasukan dengan kemeja putih yang Jean pakai saat ini.


Tidak hanya memberikannya, Sonia juga memakaikan dasi di kerah leher Jean. Melihat istrinya sedekat ini, Jean menarik pinggangnya mengikis jarak di antara mereka. Kini tubuh mereka menempel satu sama lain.


" Mas lepaskan! Ini belum selesai pakai dasinya." Ujar Sonia mencoba memberontak namun Jean malah mengeratkan tangannya.


" Biarkan seperti ini." Ucap Jean merapikan anak rambut Sonia.


Keduanya saling menatap satu sama lain, Jean menyusupkan tangannya ke leher belakang Sonia. Ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Sonia dengan lembut. Sonia memejamkan mata, ia juga membuka sedikit mulutnya membiarkan Jean mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka, keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva.


Di rasa keduanya sudah kehabisan nafas, Jean segera melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Sonia dengan lembut menggunakan jempolnya.


" Manis dan selalu manis." Ucap Jean di balas senyuman oleh Sonia.


Berbeda lagi dengan hubungan Arnold dan Sera yang sudah berakhir sejak hari itu. Kini Arnold kembali menjalani hari harinya tanpa memikirkan Sera. Walaupun sering kali bayangan bayangan Sera muncul di kepalanya namun ia cukup tahu diri untuk tidak menganggu hidup Sera lagi. Ia menghabiskan waktunya untuk bekerja, bekerja dan terus bekerja mengumpulkan pundi pundi yang agar kehidupannya kelak tidak sesulit sekarang. Hinaan dari bu Wijaya menjadi pacuan untuk Arnold. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi orang sukses suatu hari nanti agar ia tidak di hina oleh orang lagi. Ia juga bertekad menyekolahkan Mia setinggi mungkin agar nasibnya tidak seperti Arnold saat ini.


Arnold sudah tidak bekerja di cafe tempat ia bekerja dulu, dengan modal nekat ia membuka cafe sendiri dan cafe nya mulai ramai pengunjung. Tentu saja semua ini tidak terlepas dari bantuan Revia yang mengucurkan dana pinjaman padanya untuk memulai usaha. Setiap bulan ia mencicilnya dari hasil keuntungan yang ia peroleh. Bulan depan ia berencana akan membuka cabang di di beberapa kabupaten di kotanya. Untuk saat ini ia cukup bahagia hidup bersama putri kecilnya.


Berbeda lagi dengan Sera, hari hari yang semula ia jalani dengan ceria dan penuh bahagia kini berubah menjadi suram dan sepi. Keinginannya untuk melupakan Arnold nyatanya tidak membuahkan hasil. Semakin ia melupakan Arnold semakin pula ia teringat padanya. Hidupnya benar benar penuh dengan tekanan batin. Bahkan beberapa hari ini ia jatuh sakit akibat stress banyak beban pikiran.


Saat ini Sera sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit ternama di kota itu. Selang infus masih setia menancap di pergelangan tangan kanannya selama empat hari. Bahkan Sera tidak bernafsu makan apapun membuat bu Wijaya merasa cemas.

__ADS_1


" Makanlah Sera! Jangan kerasa kepala! Kalau kamu tidak makan bagaimana kamu bisa sembuh sayang? Sekarang makanlah! Kasihan Raksa, dia gelisah melihatmu seperti ini." Ucap bu Wijaya melirik Raksa yang selalu setia menemani Sera di samping ranjangnya.


" Aku tidak nafsu makan Ma, bawa saja keluar makanannya. Aku tidak mau makan." Ujar Sera keras kepala.


Bu Wijaya menghembuskan nafasnya kasar. Ia tahu benar kenapa putrinya bisa sakit seperti ini.


" Mama tahu ini bentuk protesmu kepada Mama."


" Baiklah kalau kamu masih bersikeras menentang Mama, Mama akan melakukan apa yang menurut mama benar. Kau tinggal menunggu kabar kematiannya saja."


Deg...


Jantung Sera terasa berhenti berdetak. Ia menatap mamanya sekilas lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.


" Jika mama berani mencelakai nya maka aku akan mencelakai diriku sendiri. Jika dia tiada maka aku juga akan tiada. Aku sudah menuruti apa yang menjadi keinginan Mama. Jadi jangan paksa aku untuk berbuat sesuatu yang mengecewakan mama." Entah keberanian darimana Sera bisa membantah ibunya.


Raksa tidak tahu ada apa di antara dua wanita di dekatnya itu. Jujur, ia tidak tahu menahu tentang Arnold, ia berpikir Sera menerima perjodohan ini karena Sera juga menginginkan pernikahan ini. Ibunya bilang, Seta sedang menghindari pria yang saat ini mengejarnya. Siapa lagi? Tentunya Arnold. Itu sebabnya Raksa tidak begitu mempedulikan ucapan Arnold waktu itu, karena yang ia tahu Sera tidak mencintai Arnold.


" Tante, sebenarnya ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua? Kenapa sepertinya kalian berdua sedang terlibat masalah? Apa ini ada hubungannya dengan pria bernama Arnold itu? Pria yang waktu itu datang di acara pertunangan kami? Apa Sera mencintainya? Atau tante menggunakan dia untuk mengancam Sera?" Tanya Raksa menatap bu Wijaya dengan tatapan menyelidik.


" Bu.. Bukan begitu Raksa.. Tante... "


" Benar.. Aku memang mencintainya."

__ADS_1


Jeduarrrr....


TBC....


__ADS_2