
Jeduarrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong dan di tengah teriknya matahari, jantung Arnold berdetak kencang berkali kali lipat. Ia benar benar terkejut dengan ucapan wanita yang ada di depannya yang menjadi ibunya Sera, yaitu nyonya Wijaya. Ia tidak tuna rungu hingga salah mendengar semua ucapan nyonya Wijaya, pengusaha dan pemilik bank swasta yang memiliki cabang dimana mana. Arnold menatap Sera dengan tajam, ia mendekatkan tubuhnya pada Sera mengikis jarak di antara keduanya. Semua orang menatap ke arahnya. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan perasaan yang berbeda. Terlihat dari sorot mata Arnold jika ia sangat kecewa. Ia merasa di bohongi oleh wanita yang telah mencuri hatinya itu.
Klunting...
Cincin pertunangan Sera yang di pegang oleh Arnold kembali menggelinding ke lantai. Kali ini Arnold tidak peduli tentang cincin itu, yang ia pedulikan adalah tentang berbagai pertanyaan yang bersarang di dalam hatinya saat ini. Kenapa dan mengapa? Dua kata itulah yang akan menjadi awalan pertanyaannya.
" Katakan! Kenapa kau membohongiku selama ini? Kau bilang kau hanya pegawai biasa dan memiliki status sosial yang sama denganku. Kau membuatku percaya diri untuk bersanding denganmu. Katakan! Kenapa kau mendekatiku selama ini? Kenapa kau terus mendekat padahal aku sudah membangun benteng di antara kita berdua, kau bahkan menerobos masuk ke dalam, tapi setelah kau berhasil menerobosnya kau pergi begitu saja. Apa arti kedekatan kita selama ini? Apa maksud sikapmu yang menunjukkan ketertarikan padaku selama ini Sera? Aku mohon beritahu aku agar pria tidak tahu diri ini bisa memahami semua alasanmu. Katakan Sera!" Ucap Arnold mengguncang kedua bahu Sera.
Sera tak mampu berkata apa apa, memang salahnya. Salahnya telah menyimpan perasaan pada orang yang salah. Kenapa ia tidak berpikir sebelumnya? Itulah yang Sera sesalkan saat ini. Pertemuan dan perpisahan yang menyesakkan jiwa. Sera mengusap air mata yang dengan sialnya menetea begitu saja di pipinya. Ia menepis tangan Arnold lalu menatap Arnold dengan tajam.
" Aku menunjukkan sikap ketertarikanku padamu karena memang aku tertarik padamu. Aku menyukaimu dan aku menginginkan kamu menjadi kekasihku." Ucap Sera membuat semua orang terkejut.
" Tapi apa yang kau lakukan padaku?" Sera menunjukkan wajah Arnold dan dirinya sendiri.
" Setiap saat aku memancingmu agar aku tahu perasaanmu padaku, tapi apa? Kau tidak pernah menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan perasaanmu padaku Mas. Jika aku menebaknya kau selalu menyangkalnya. Kau bilang kau hanya ini, kau hanya ini dan ini ini dan ini lagi. Bahkan saat aku pergi dari rumah nenek, aku berharap kau akan menghentikan aku dan memintaku untuk tetap tinggal dengan alasan kau akan menjadikan aku sebagai istrimu. Tapi apa mas Arnold? Kau bahkan tidak menampakkan batang hidungmu. Kau seolah tidak peduli dengan ada dan tidak adanya diriku. Ku membuatku sadar akan posisiku yang tidak begitu berarti untukmu. Lalu apa yang bisa aku lakukan saat kedua orang tuaku meminta aku untuk menikahi Raksa? Aku memang tidak mencintai Raksa, tapi aku juga tidak punya orang yang mencintaiku ataupun yang aku cintai. Aku tidak punya keberanian untuk berharap kepadamu, itu sebabnya aku menerima perjodohan ini." Ucap Sera panjang lebar.
" Maafkan aku Sera!" Ucap Arnold menggenggam tangan Sera.
__ADS_1
" Aku memang laki laki yang tidak peka, bukan tidak peka. Tapi aku tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Aku bukan orang yang baik Sera, tapi sekarang aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu. Aku akan memperjuangkan cinta kita." Ujar Arnold.
" Aku tidak akan membiarkan putriku menikah dengan pria sepertimu, pergilah dari sini agar kami bisa melanjutkan acara pertunangan ini!" Ucap nyonya Wijaya menatap Arnold.
" Aku tidak akan pergi tanpa membawa Sera bersamaku. Kami saling mencintai, untuk itu anda harus memberikan restu untuk kami berdua." Ucap Arnold tanpa takut sambil menggenggam tangan Sera.
" Heh benar benar tidak tahu malu." Sinis nyonya Wijaya.
Arnold tidak peduli, ia akan memperjuangkan cintanya kepada Sera. Ia tidak mau kehilangan sosok calon pendamping sebaik Sera.
" Pergilah dari sini sebelum aku berbuat kasar padamu!" Titah nyonya Wijaya mulai kehilangan kesabarannya. Ia tidak mau menanggung malu jika placara ini sampai batal. Apalagi jika Sera lebih memilih Arnold daripada Raksa.
" Tidak ada bedanya Sera bertunangan denganku atau dengan pria lain. Untuk itu ijinkan aku melamar putri anda Tuan. Saya berjanji tidak akan menyusahkan Tuan kedepannya. Saya akan membawa putri anda hidup bersama saya. Saya tidak akan menjadi beban untuk keluarga kalian." Arnold menghiba di depan calon ayah mertuanya sambil mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
Tuan Wijaya menatap istrinya di balas gelengan kepala.
" Maaf Nak, saya tidak bisa melakukannya. Kembalikan putriku kepadaku dan biarkan dia bertunangan dengan Raksa. Semua orang sudah menunggu." Ujar tuan Wijaya mengedarkan pandangannya menatap para tamu yang saat ini melihat ke arahnya.
Arnold menarik Sera lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Sera benar benar terkejut dengan sikap Arnold yang berani menurutnya.
__ADS_1
" Aku tidak akan melepaskan putrimu, putrimu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan padaku. Dia menarikku ke arahnya dan dia tidak bisa membuangku begitu saja." Ujar Arnold.
Nyonya Wijaya memberi kode kepada Sera dengan matanya. Sera segera melepas genggaman tangan Arnold. Arnold merasa terkejut dengan sikap Sera.
" Maaf Mas aku tidak bisa ikut bersamamu, aku harus melanjutkan pertunangan ini." Ucap Sera menatap Arnold.
" Perlu kau tahu, perasaanku padamu telah mati setelah aku kembali ke sini. Sekarang jangan ganggu hidup aku lagi ataupun sekedar menemuiku untuk meminta penjelasanku. Pergilah dari sini! Mia menunggumu di rumah." Ucap Sera melangkah menjauh dari Arnold.
Arnold menatap Sera yang berdiri di samping Raksa sambil mengapit lengan Raksa. Hatinya hancur, ia merasa hidupnya telah kehilangan arah. Sera menarik Raksa menuju kursi yang telah di dekor untuk mereka berdua melakukan pertunangan. Sera menyodorkan tangannya kepada Raksa, entah dapat darimana kini cincin yang seharusnya di pasangkan di jari manis Sera sejak tadi telah berada di tangan Raksa. Raksa memasukkan cincin itu pada jari Sera membuat cincin itu melingkar dengan sempurna di jari manisnya. Suara tepuk tangan menandakan jika mulai detik ini Sera telah menjadi tunangan Raksa.
Sekarang giliran Sera yang memasangkan cincin pertunangan ke jari manis Raksa. Keduanya nampak sangat serasi dengan saling menunjukkan jari mereka kepada para tamu yang ada di depan sana. Hati Arnold kembali merasakan sakit yang teramat dalam melihat Sera telah resmi terikat dengan pria lain. Dengan lunglai ia meninggalkan ruangan itu di ikuti oleh Revia dari belakang. Sera menatap kepergiannya dengan perasaan entah.
" Maafkan aku Mas! Aku terpaksa melakukan semua ini demi kebaikan kita bersama. Aku..... "
Hayooo kira kira ada apa nih dengan Sera? Tunggu di bab di selanjutnya ya.. sebelum itu Sera minta dukungan donk dengan tekan like koment vote dan hadiahnya biar dia semangat menceritakan apa yang terjadi padanya.
Miss U All...
TBC...
__ADS_1