
Jam pulang sekolah, Revia belum menjemput Arvian karena sedang rapat dengan para petinggi perusahaan membahas tentang peluncuran produk baru perusahaannya. Ia meminta Zayn untuk menjaga Arvian lebih dulu.
Di dalam ruangan guru, Zayn sedang mengerjakan laporan perkembangan para siswa didiknya. Arvian duduk di kursi di depan meja Zayn sambil menunggu Zayn selesai. Rencananya mereka mau jalan jalan ke time zone.
" Daddy kapan daddy selesainya? Apa masih lama?" Tanya Arvi menatap Zayn.
" Sebentar lagi sayang." Sahut Zayn.
" Kalau kamu bosan, kamu bisa mainan ponsel Daddy tapi jangan lama lama ya, cukup lima atau sepuluh menit saja." Ujar Zayn memberikan ponselnya kepada Arvi. Ada permainan menjumlah angka di sana.
" Oke Dad." Sahut Arvi mulai bermain.
Zayn melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Arvi bermain ponsel Zayn.
" Sayang, kamu di sini sebentar ya. Jangan kemana mana! Daddy mau ke kamar mandi sebentar. Daddy ingin buang air kecil dulu." Ucap Zayn mengelus kepala Arvian.
" Iya Dad." Sahut Arvian.
Zayn keluar ruangan menuju kamar mandi yang ada di samping lapangan. Arvian melongok keluar saat ia melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan pintu gerbang sambil terus menatap ke ruangan kelas. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan pria itu, pria itu melambaikan tangannya. Arvian yang berpikir jika pria itu membutuhkan bantuan, segera berlari menghampirinya di depan pintu gerbang yang sedikit terbuka.
" Hai adik kecil, apa kamu mengenal Arvi?" Tanyanya.
" Namaku Arvi Om, apa aku Arvi yang Om cari?" Tanya Arvi.
" Apa kamu Arvi anaknya mommy Revia?" Tanyanya memastikan.
" Iya Om. Kenapa Om mengenal mommy Arvi?" Tanya Arvi.
" Kenalkan nama Om Arnold, temannya mommy kamu." Ucap pria yang ternyata adalah Arnold.
" Wajahnya mirip sekali dengan Revia tidak ada mirip miripnya denganku ataupun Zayn. Apa benar dia bukan putraku? Kalau benar berarti aku harus meninggalkan mereka dan tidak boleh mengganggu kehidupan mereka. Aku harus mengikhlaskan Revia demi kebahagiaannya." Batinnya.
Beruntung wajah Arvi menuruni Revia, sehingga tidak mirip dengan Arnold dan mampu menghilangkan kecurigaannya.
" Oh.. " Arvi menganggukkan kepala.
Arnold menatap Arvi dengan seksama.
" Kenapa Om menatap Arvi seperti itu? Apa Om berniat menculik Arvi?"
Arnold tersenyum mendengar pertanyaan Arvi.
" Tidak sayang, Om orang baik baik kok. Dimana mommy kamu? Kenapa mommy kamu tidak menjemputmu? Bukankah sekarang sudah jam pulang?" Tanya Arnold.
" Mommy sedang rapat Om, Arvi sama daddy Zayn di sini." Sahut Arvi.
" Daddy kamu bekerja di sini?" Tanya Arnold lagi.
Belum juga Arvi menjawab tiba tiba..
" Arvi." Zayn berlari menghampiri Arvi dan Arnold.
" Arnold." Gumam Zayn.
" Kenapa kau terlihat kaget seperti itu?" Tanya Arnold menatap Zayn.
" Bukankah Revia melarangmu untuk menemui Arvi? Lalu kenapa kau berani menemui putraku sekarang tanpa sepengetahuan Revi hah." Ucap Zayn menatap tajam ke arah Arnold.
" Aku hanya ingin menemui Arvi sebelum aku pulang ke kotaku. Aku sudah terlalu lama meninggalkan putriku sendiri di rumah. Aku hanya ingin melihatnya untuk memastikan sesuatu, dan kau tahu pasti apa tujuanku itu." Ujar Arnold tanpa mau berdebat.
" Itu berarti Arnold tidak curiga setelah melihat Arvi. Syukurlah kalau begitu, Revia harus tahu ini." Batin Zayn lega.
" Syukurlah kalau begitu, apa kau sudah melihat putraku dengan baik? Kalau belum lihatlah dengan seksama! Setelah itu segeralah pergi dari sini." Ujar Zayn.
__ADS_1
" Baiklah aku pergi dulu." Sahut Arnold berlalu dari sana.
Arvi menatap Arnold yang menyeberang jalan dengan perasaan yang entah. Entah mengapa ia merasa begitu dekat dengan Arnold padahal mereka baru pertama bertemu.
" Om Arnold." Tiba tiba Arvi berlari menyeberang jalan menuju Arnold. Tanpa ia sadari sebuah mobil melaju kencang dari arah lawan.
" Arviiii...." Teriak Zayn.
Brak.....
Tubuh Arvi terpental di atas aspalan setelah tertabrak mobil yang melaju kencang. Tubuh Zayn menegang seketika, bahkan ia tidak mampu bergerak sedikitpun.
" Arvi." Arnold mendekati tubuh Arvi yang tergeletak di tengah jalan.
Melihat itu Zayn tersadar dari keterkejutannya ia berlari mendekati Arvi lalu segera membopongnya. Driver mobil yang mengemudikan mobil tersebut segera turun mendekati Zayn.
" Maaf Pak saya tidak tahu jika tiba tiba adiknya menyebrang jalan." Ucapnya.
" Tolong antar kami ke rumah sakit Pak, anak saya butuh pertolongan segera." Ucap Zayn.
" Baik Pak."
Driver membuka pintu mobil untuk Zayn. Melihat itu Arnold pun ikut masuk ke dalam.
" Aku ikut." Ucap Arnold.
Zayn sudah tidak bisa berbicara lagi, ia menatap wajah Arvi yang berlumuran darah.
" Sayang Daddy mohon bertahanlah! Daddy sangat menyayangimu Arvi." Zayn memeluk Arvi sambil mencium wajah Arvi. Tidak peduli darah menempel di hidungnya.
" Tenanglah Zayn! Berdoa saja semoga Arvi baik baik saja." Ucap Arnold mencoba menangkan Zayn.
" Bagaimana aku bisa tenang Arnold? Putraku dalam keadaan sekarat. Hiksss... " Isak Zayn tidak tega melihat kondisi Arvi.
" Ya Tuhan aku mohon selamatkan Arvi! Bagaimana aku bisa menghadapi Revi setelah ini? Dia pasti sangat membenciku karena aku tidak bisa menjaga Arvi dengan baik. Hiks.. Arvi sayang.. Bertahanlah demi Daddy dan mommy sayang." Ucap Zayn.
" Mana ponselmu." Ucap Arnold.
" Untuk apa?" Tanya Zayn.
" Kita harus segera mengabari Revi, kalau tidak dia pasti akan marah besar kepada kita." Ucap Arnold.
Zayn mengambil ponsel di saku celananya lalu memberikannya kepada Arnold. Arnold segera menelepon Revia.
Revia yang baru saja masuk ke ruangannya, segera mengambil ponselnya di atas meja yang terus berdering. Melihat Zayn yang menelepon, ia segera mengangkatanya.
" Halo Mas ada apa?" Tanya Revia. Arnold memejamkan matanya, ia menahan sakit di dalam hatinya mendengar Revia memanggil orang lain dengan sebutan Mas.
" Revi ini aku Arnold." Ucap Arnold.
" Arnold? Ada apa? Kenapa kau memakai ponsep Mas Zayn? Apa terjadi sesuatu dengan Mas Zayn?" Tanya Revia cemas membuat hati Arnold semakin sakit.
" Segeralah ke rumah sakit xx, kau akan tahu jawabannya." Ucap Arnold mematikan sambungan teleponnya.
" Halo.. Halo Arnold." Ucap Revia.
" Kenapa malah di matikan sih, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Arnold ada di sana? Mas Zayn dan Arvi... " Revia menjeda ucapannya.
" Ya Tuhan, pasti terjadi sesuatu dengan mereka. Tidak tidak.. Ini tidak boleh terjadi." Revia segera mengambil tas selempangnya lalu berlari keluar dari ruangannya.
Sonia yang melihatnya segera mengejar Revia.
" Revia tunggu!" Teriak Sonia.
__ADS_1
" Kenapa kau terburu buru? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sonia mensejajari Revia.
" Aku tidak tahu, aku harus segera tiba di rumah sakit." Sahut Revia.
" Biar aku yang mengemudi, kau duduk saja di belakang." Sonia merebut kunci mobil dari tangan Revia.
Setelah sampai di parkiran keduanya segera masuk ke dalam mobil. Sonia melajukan mobilnya menuju rumah sakit xx sesuai permintaan Revia.
Lima belas menit keduanya sampai di sana, Revia segera berlari masuk ke dalam. Ia mengedarkan pandangannya sampai tatapanjya tertuju pada Zayn dan Arnold yang duduk di kursi tunggu depan UGD.
" Arvi." Gumam Revia.
Revia segera berlari menghampiri keduanya.
" Mas apa yang terjadi? Arvi dimana?" Tanya Revia menatap Zayn.
Zayn beranjak, tiba tiba ia memeluk Revia dengan erat.
" Hiks.. Maafkan Mas sayang, Mas tidak bisa menjaga Arvi dengan baik. Arvi tertabrak mobil sayang."
Jeduarrrr....
Tubuh Revia terasa lemas seketika. Tiba tiba tubuhnya terhuyung ke belakang, beruntung Zayn segera menopangnya.
" Sayang duduklah dulu!" Ucap Zayn membantu Revia duduk.
" Dokter sedang memeriksa Arvi di dalam." Sambung Zayn.
" Kenapa ini bisa terjadi Mas? Aku memintamu untuk menjaga Arvi dengan baik, tapi kenapa dia bisa sampai di sini Mas?" Tanya Revia lirih.
" Maafkan aku Revi, ini semua salahku." Ucap Arnold.
Revia langsung menatap Arnold dengan tajam.
" Aku menemui Arvi di sekolah, saat aku pergi dia mengejarku. Dia menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri sampai dia tidak tahu jika ada mobil yang melintas dengan kencang. Maafkan aku!" Ucap Arnold.
Revia bangun dari duduknya, ia mendekati Arnold sambil menatapnya dengan tajam.
" Kau harus bertanggung jawab atas semua ini!!!" Teriak Revia menarik kerah leher Arnold.
" Jika sampai putraku kenapa napa, aku akan membuat perhitungan padamu. Aku akan mengambil putrimu darimu dan akan aku pastikan kau tidak akan pernah bisa bertemu dnrgannya selamanya. Aku akan membuatmu menjadi gelandangan seumur hidupmu. Ingat kata kataku ini Arnold." Ucap Revia kembali berteriak sambil mendorong tubuh Arnold dengan keras. Arnold hanya bisa memejamkan matanya menerima kemarahan Revia.
" Sayang kendalikan dirimu!" Ucap Zayn menyentuh bahu Revia. Revia langsung menepis tangan Zayn.
" Dan kau." Revia menunjuk wajah Zayn dengan jarinya.
" Jika sampai putraku kenapa napa, aku tidak akan mau menikah denganmu. Aku tidak membutuhkan suami maupun ayah yang tidak bisa menjaga putranya dengan baik. Camkan itu!" Ancam Revia.
Ceklek.....
Dokter pria keluar dari dalam ruangan, Revia segera menghampirinya.
" Keluarga Nak Arvian?"
" Saya ibunya Dok, bagaimana keadaan putra saya?" Tanya Revia dengan jantung yang berdebar kencang.
" Keadaan pasien saat ini kritis Nyonya, dia kehilangan banyak darah. Saat ini putra anda membutuhkan donor darah dengan segera. Dan yang lebih akurat, dia membutuhkan donor darah dari ayah kandungnya."
Jeduaarrr.....
Nah loh... Gimana nih? Kira kira ketahuan nggak nih Arvi anak siapa? Penasaran? Jangan lupa tinggalkan like, koment, vote dan mawar yang banyak untuk author...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....