
"Kenapa? Apa kau takut aku memperkosamu lagi?" tanya Nicholas dengan seringai licik di bibirnya.
Kejora mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya. Ditatap seperti itu membuat nyali Kejora menciut. Apalagi dengan kondisinya yang seperti itu, dia tidak bisa kabur ke mana pun.
"Tenang. Aku tidak sebejat itu," pungkas Nicholas menatap Kejora. "Tapi di brankar rumah sakit sepertinya lumayan juga."
Kejora membulatkan mata. Gila, benar-benar gila. Rasanya Kejora ingin segera kabur dari ruangan ini daripada terus berlama-lama dengan seseorang yang sangat mengerikan seperti Nicholas. Nyawa Kejora sangat terancam jika terus berdekatan seperti ini.
Nicholas tersenyum sekilas. Ia menarik kursi dan mendudukinya. Mengambil apel di nakas lalu mengupas habis kulitnya. Nicholas menawarkan apel tersebut kepada Kejora yang memalingkan muka saja kepadanya.
"Tidak mau? Ya sudah." Nicholas menggigit apel tadi dengan antusias. Sementara Kejora hanya memalingkan muka saja sambil berwajah cemberut.
Disela-sela gigitannya pada apel, Nicholas sempat melirik Kejora yang sepertinya tengah menggerutu. Hal itu mengundang tatapan aneh dari Nicholas. Menurutnya, wanita itu sedikit lucu.
"Bibirmu seperti itu membuatku ingin mengecupnya," tutur Nicholas sangat santai.
Kejora membulatkan matanya. Apa-apaan itu. Apa tidak bisa sedikit saja pria itu tidak membahas hal berbau sensitif?
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Bisakah berhenti mengumpatiku sekarang? Aku tahu aku ini tampan," tutur Nicholas dengan penuh kesombongan.
Kejora menatap Nicholas dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa pria itu percaya diri sekali dengan pendapatnya? Meskipun Kejora memang tengah membatin, tapi bukan suatu pujian untuk Nicholas, melainkan harapan semoga pria itu segera pergi dari hadapannya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa perutmu baik-baik saja?" tanya Nicholas mengalihkan pembicaraan.
"P-perut?"
"Ya. Aku takut saja jika anak dalam kandunganmu terluka."
"Aku tidak hamil!" sentak Kejora cepat. Menatap dengan nyalang sosok pria di sebelahnya.
"Mungkin saja, kan?" Nicholas menjawab.
"Aku tidak akan hamil hanya dengan satu kali berhubungan," sangkal Kejora.
__ADS_1
Nicholas menyipitkan mata lalu menatap Kejora tanpa berkedip. "Apa kau mau mau melakukannya lagi? Dua kali, tiga kali juga tidak masalah."
"Kau!" sentak Kejora. Dada wanita itu naik turun karena tersulut emosi atas pernyataan pria di sebelahnya.
"Kenapa? Katamu kan tidak mungkin satu kali jadi, maka kita harus melakukan berkali-kali," tutur Nicholas diiringi dengan kekehan.
"Aku tidak mau!"
"Aku bisa memaksa. Seperti malam itu," bisik Nicholas intens.
Kejora melebarkan mata lalu memukul kuat bahu Nicholas. "Kau sudah gila! Tidak waras! Pergi sana! Aku tidak butuh kehadiranmu di sini!"
"Tidak bisa. Amanah dari pacarmu itu harus kujalankan. Lagipula anggap saja sebagai latihan menjaga calon istri," tukas Nicholas santai. Lain halnya dengan Kejora yang nampak masih lama menangkap dari maksud itu.
"Calon istri? Aku tidak pernah menyetujui tawaranmu. Lagipula aku juga punya pacar. Kau tidak bisa merebut pacar orang lain!"
Nicholas tersenyum tipis. "Bisa. Aku merebut istri orang saja bisa, apalagi masih pacar."
"Makan saja daripada banyak berpikir. Tapi, memikirkanku sedikit juga tidak apa-apa," kata Nicholas dengan sedikit keercayaan diri.
Kejora memalingkan muka. Muak jika melihat Nicholas yang sering sekali menggodanya. Membatin jika waktu ini cepat berlalu saja sebelum Kejora benar-benar tertekan satu ruangan dengan pria pemaksa itu.
"Melihatmu dengan kekasihmu tadi ... lumayan romantis," tukas Nicholas. "Tapi apa kalian masih bisa romantis jika dia tahu yang sebenarnya?"
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau mau merusak hubunganku dengannya?" Emosi Kejora membludak. Ia begitu kesal dengan Nicholas yang terus-terusan memojokkan dan memprovokasi kekasihnya hal yang bukan-bukan.
"Aku tidak berniat merusak," jawab Nicholas santai.
"Jangan lupa bahwa kau yang merusakku!" Kejora membentak. "Dia sama sekali berbeda denganmu! Dia baik, perhatian dan menerima segala kekuranganku. Dia tidak seperti dirimu yang pemaksa dan kurang ajar!"
"Apa kau pikir semua hal harus berpihak kepadamu? Tidak! Tidak semua hal bisa kau genggam! Jangan egois dan percaya diri bahwa semua akan memilih dirimu!"
Nicholas hanya diam saja sambil mengamati Kejora yang nampaknya sedang marah. Dia hanya mendengar sambil memandang wajah merah lucu milik Kejora.
__ADS_1
"Finn itu pria baik. Dia bahkan rela bolos kantor dan membelikan apa yang aku mau meski kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Dia memperlakukanku layaknya seorang ratu. Tidak pernah mengasariku sama sekali. Aku begitu mencintainya. Jadi, jangan sesekali kau berani mengusik hubungan kami!"
Nicholas berdecih sambil memalingkan muka. Tangannya menepuk paha lalu bangkit dari kursi yang ia duduki. Menatap Kejora yang nampak masih tersulut emosi. Bukan kemarahan yang Nicholas balaskan, melainkan sebuah senyum misterius yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa merinding.
"Kau tahu, pria yang semakin manis akan semakin mencurigakan," kata Nicholas terdengar seram. Setelah mengatakan kata misterius itu, Nicholas segera melangkahkan kaki untuk pergi dari ruangan.
Kejora mengamati pintu yang perlahan menutup. Ia sedikit tersentil ketika mendengar perkataan itu. Namun, Kejora tidak akan terpengaruh. Kejora percaya kepada pacarnya bahwa Finn akan tetap setia padanya dan tidak akan meninggalkannya. Benar, Finn tidak akan berselingkuh. Pasti pria itu hanya menakut-nakutinya saja.
Finn membuka pintu setelah selesai dari lobi rumah sakit. Ia bingung karena tidak mendapati sosok Nicholas lagi di ruangan. Lantas ia segera mendekat ke arah Kejora yang nampak sedang kebingungan.
"Kejora, di mana Tuan Nich?" tanya Finn.
Kejora menggenggam tangan Finn. "Finn, kau tidak akan meninggalkanku, kan?"
"Sayang, kau itu kenapa? Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Memangnya aku mau meninggalkanmu ke mana?" Finn merasa bingung dengan sikap Kejora yang tidak biasa itu.
Kejora segera memeluk tubuh Finn dari samping. Berusaha membuang pikiran buruknya mengenai Finn. Kejora hanya merasa takut jika suatu saat ia akan ditinggalkan.
"Aku takut, Finn. Aku takut kau meninggalkanku," lirih Kejora. Kejora memejamkan mata ketika mendapatkan elusan lembut di kepalanya.
"Tidak akan, Kejora."
Kejora semakin mempererat pelukannya. Benar, Finn adalah pacar yang baik dan ideal. Pria pemaksa tadi hanya mensugesti Kejora dan berpikiran yang tidak-tidak kepada Finn. Akan tetapi, Kejora akan tetap teguh pada pendiriannya. Sama sekali tidak akan terpengaruh.
"Sayang, tadi aku mau bayar tagihan rumah sakit. Katanya sudah dibayar lunas. Tapi siapa yang sudah membayarnya?"
Kejora membuka mata mendengar hal itu. Siapa yang membayar? Dirinya saja belum melakukan apa pun, apalagi keluarganya. Pikiran Kejora tertuju pada seseorang yang ia curigai. Apakah Nicholas yang melunasinya?
***
Kalau kalian pilih Nicholas atau Finn nih untuk jadi pasangan?
Tulis di kolom komentar, ya...
__ADS_1