
"Aaaaa! Astaga, kenapa kau duduk di sana tanpa mengenakan baju?!"
Kejora menutup matanya erat-erat. Di depan sana Nicholas hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dengan bagian dada yang terekspos bebas. Kejora tidak bisa melihat pemandangan tidak lazim di depannya itu.
"Duduk?" sahut Nicholas heran. "Aku terjatuh, sialan!"
Kejora dengan cepat membuka matanya. Matanya menyipit tatkala melihat cairan pembersih lantai berceceran di lantai dan membuatnya licin. Kejora beralih mengamati Nicholas yang berulang kali meringis memegangi kakinya.
"Terjatuh?" ulang Kejora.
"Ya! Dan ini semua karena ulahmu! Apa kau tidak bisa becus sedikit dalam melakukan pekerjaan? Melakukan hal sepele seperti ini saja sudah membuat masalah!" bentak Nicholas dengan marah. Ringisannya kian lantam ketika kakinya sulit untuk digerakkan.
Kejora menjadi khawatir ketika ringisan Nicholas terdengar keras. Namun, Kejora juga tidak tahu harus melakukan apa. Mau membantu nanti dimarahi juga. Akhir kata dia hanya berdiri mematung sambil melihat Nicholas yang memegangi kakinya.
"Untuk apa diam di situ? Cepat ke mari! Bantu aku berdiri!" sentak Nicholas.
"Eh, iya, iya."
Kejora mendekat lalu meraih tangan Nicholas untuk ia bantu berdiri. Kejora mengeluarkan sekuat tenaga untuk menarik tubuh pria itu namun tenaganya tidak bisa membuat gerakan sedikit pun.
"Bisa tidak?!" geram Nicholas.
"Ini berat."
"Apa?! Jadi maksudmu aku berat begitu? Tubuhmu saja yang kecil! Pakai segala menyalahkanku!" Nicholas menatap sengit.
Kejora mencebikkan bibir kesal. Lekas ia mencoba menarik tangan Nicholas dengan sekuat tenaga. Namun, yang terjadi bukanlah bisa membuat Nicholas berdiri melainkan tubuh Kejora yang ikut limbung karena terpeleset sehingga terjatuh di atas dada bidang milik Nicholas.
Kejora menahan napas dengan kedua mata yang membulat sempurna. Berdekatan dengan jarak yang sedekat ini membuat jantungnya berdegup kencang. Lama tenggelam dalam pikiran itu, akhirnya Kejora tersadar dan memalingkan muka sembari berusaha untuk bangun.
"Ah, maaf. Aku tidak——"
__ADS_1
"Akhhh!"
Nicholas menjerit kesakitan tatkala kakinya yang sakit malah terinjak oleh Kejora. Kejora menjadi semakin bingung ketika pria itu semakin berteriak. Nicholas yang sudah merasa geram, mendorong tubuh Kejora dari sisinya dan langsung memegangi kakinya.
"Akh, sakit sekali. ****, apa kau tidak bisa becus sedikit, hah? Selalu saja membuatku sial!" gertak Nicholas.
"A-aku tidak tahu. Aku minta maaf karena sudah membuatmu terjatuh." Kejora menunduk takut. "Ee, aku harus membantu apa?"
"Eh, eh, tidak usah mendekat! Jangan menyentuhku lagi. Bisa-bisa aku malah tambah sakit karena dirimu. Panggilkan dokter saja ke rumah!" titah Nicholas.
Kejora mengangguk. Bergegas menelepon dokter yang biasa menangani Nicholas.
Tidak lama kemudian datanglah Zang ke mansion atas panggilan darurat tersebut. Zang segera memeriksa kaki Nicholas yang sepertinya nampak terkilir itu.
"Dokter Zang, dia tidak akan lumpuh, kan?" cicit Kejora.
"Kau!" Nicholas menatap sengit.
"Awhh, sialan! Kenapa kau memukulnya, hah?" ringis Nicholas. "Ini juga akibat dari ulahnya itu. Pekerjaan sepele saja dia sudah teledor, apalagi nanti. Bisa-bisa aku mati di tangan dia!"
Kejora menunduk mendengar pernyataan itu. Dia akui, kali ini memang murni kesalahannya. Jika saja dia tadi tidak teledor dan menumpahkan cairan pel ke lantai, mungkin saja Nicholas tidak akan sampai terjatuh seperti itu.
Melihat wajah murung dari Kejora, Zang berinisiatif untuk mencairkan suasana.
"Astaga, Nich. Ini hanya terkilir sedikit. Tidak usah lebay, oke?"
"Lebay kau bilang? Kakiku sakit karena terkilir belum lagi pinggangku nyeri karena terkena pinggiran pintu ini kau katai lebay? Zang, aku merasa kau sedang membela wanita itu di hadapanku sekarang," balas Nicholas tidak percaya.
"Ee, Kejora. Bisa tolong ambilkan minum? Tenggorokanku terasa terbakar setelah banyak mengoceh." Zang mengalihkan pembicaraan dengan menatap Kejora.
Kejora mengangguk. "Baik, Dok. Tunggu sebentar."
__ADS_1
Zang mengintip untuk memastikan bahwa wanita itu sudah pergi. Setelah merasa aman, Zang duduk di sebelah Nicholas sambil memperhatikan dengan lekat.
"Bisa tidak bicaramu itu lembut sedikit? Dia seorang wanita dan baru pertama kerja di tempat ini. Ya, maklum kalau dia berbuat salah. Mungkin saja karena takut padamu yang super-super sarkas ini," tutur Zang menjelaskan.
"Bicaraku harus lembut? Dia saja yang membuat masalah. Untuk apa aku harus melembutinya segala? Bukankah dia di sini hanya karena sebuah hutang? Biarkan saja lah, entah dia tahan atau tidak dengan sikapku sudah jadi urusannya dia. Suruh siapa meminjam uang ke sini." Nicholas membalas.
"Tapi aku yakin dia adalah wanita yang bisa membantumu, Nich. Aku merasa bahwa dia adalah satu-satunya orang yang bisa membantumu."
"Bukankah aku tetap melupakannya waktu hujan malam itu? Sudahlah, Zang. Aku lelah mencoba sesuatu tanpa hasil yang jelas. Biarkan saja amnesiaku ini. Lagipula hidup tanpa wanita juga tidak masalah," jawab Nicholas tanpa beban.
"Yang ada amnesiamu malah semakin parah kalau tidak segera diobati, Nich. Kali ini kau melupakan lawan jenismu, tapi bagaimana kalau di lain waktu kau juga mulai melupakan sesama jenismu? Apa kau tidak berpikir sejauh itu?"
Nicholas menatap dalam. Sejujurnya Nicholas juga sudah muak dengan penyakitnya. Setiap kali akan turun hujan, ia harus pindah kota untuk menghindari hujan supaya ingatannya masih tetap ada.
Di masa lalu, Nicholas merasakan perasaan kehilangan yang luar biasa. Sosok orang yang dia cintai, sekaligus cinta pertamanya terlibat kecelakaan mobil dan meninggal di tempat.
Nicholas merasa gagal, menyalahkan dirinya sendiri sebagai alasan kecelakaan tersebut. Malam itu juga bertepatan dengan hujan yang sangat deras, Nicholas duduk bersimpuh memangku sosok yang sangat ia cintai kehilangan nyawa dalam pangkuannya.
Mulai dari situ, akibat dari trauma yang diderita, Nicholas mulai melupakan setiap wanita yang hadir dalam hidupnya ketika hujan tiba. Setiap turun hujan, Nicholas selalu teringat kejadian memilukan itu hingga berakhir kehilangan ingatannya terhadap lawan jenisnya.
Ada beberapa pengobatan yang dilakukan salah satunya adalah menemukan wanita yang sama sekali tidak bisa dia lupakan untuk bisa menyembuhkan penyakitnya. Namun, sampai sekarang belum ada yang bisa melakukannya.
"Jadi inti dari perkataanmu ini adalah kau menyuruhku berkencan dengan wanita itu? Zang, yang benar saja. Dia hanyalah wanita miskin yang kebetulan terikat denganku," ungkap Nicholas.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara aku dan dia di masa lalu. Yang jelas aku merasa tidak ada ikatan dengannya dan dia tidak akan bisa membantuku. Mungkin saja dia bekerja di sini penuh dengan akal licik untuk mengelabuhiku. Kau tahu sendiri kan aku sudah memberikan tanggung jawab, tapi dia tolak secara mentah-mentah? Dia hanya wanita yang tidak tahu diri."
Tanpa mereka sadari, wanita di depan pintu mendengarkan semua percakapan itu. Kejora menyekal erat nampan berisi air dalam genggamannya mendengar pernyataan Nicholas. Kejora merasa nyeri di ulu hatinya.
"Aku hanya wanita miskin yang tidak ada harga dirinya," kekeh Kejora pahit.
.
__ADS_1