
"Kejora, ada apa? Tidak biasa-biasanya kau mau mengunjungiku," ucap Finn terkejut saat membuka pintu sudah ada kekasihnya.
Kejora mendongak, menatap kekasihnya dalam. Kejora sudah memutuskan untuk memberitahu semua rahasianya selama ini agar tidak terus-terusan merasa bersalah karena sudah membohongi Finn. Memang sulit, tapi Kejora berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa mengatakan ini semua.
"Sayang, kenapa? Sini, masuk dulu. Di luar dingin." Finn menarik tangan kekasihnya untuk masuk ke kosan-nya.
Kejora menurut saja. Duduk di salah satu kursi yang ditunjukkan oleh Finn. Tatapannya sama sekali tidak teralihkan, lebih tepatnya menunggu momen yang pas untuk mengatakannya. Lain halnya dengan Finn yang merasa kebingungan dengan raut wajah kekasihnya yang nampak berbeda.
"Sayang, ada apa? Kenapa raut wajahmu berbeda?" tanya Finn. "Aku buatkan minum dulu, ya?"
"Jangan, Finn. Aku tidak haus," sela Kejora menahan tangan Finn yang hendak beranjak.
Finn mengamati sorot mata Kejora yang redup. Ia duduk kembali dan mendekati kekasihnya mencoba untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Kejora tidak seperti biasanya. Seperti orang yang kehilangan semangat dan putus asa.
"Sebenarnya ada apa, Kejora? Aku lihat kau seperti tidak bersemangat. Kenapa, huum?"
Kejora mengamati kekasihnya. Mendekat lalu memegang kedua tangan Finn dengan erat. Perasaan berdebar yang Kejora rasakan malah semakin bertambah, padahal ia belum mengatakan sepatah kata apa pun.
Melihat wajah kebingungan kekasihnya membuat Kejora malah semakin merasa bersalah, apalagi jika nanti kebenarannya sudah terungkap, Kejora berharap saja Finn masih berada di pihaknya.
"Finn, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi dengarkan dulu dan menyela, oke?"
Finn mengerutkan kening. Dia jadi penasaran kenapa kekasihnya seperti sedang serius ingin mengatakan sesuatu. Tidak biasanya Kejora berekspresi seperti itu di hadapannya.
Finn dalam kegugupan menjawab,"o-oke."
Kejora menghela napas kasar sebelum mengatakan hal yang sangat berat untuk dikatakan. Manik matanya tidak pernah luput melihat Finn yang nampak kebingungan melihatnya. Kejora berusaha menegarkan hati untuk bicara terus terang daripada Finn mendengarnya dari orang lain.
"S-sebenarnya aku sudah tidak perawan, Finn," ucap Kejora sambil menunduk takut.
Finn melebarkan mata. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa yang ia dengar tadi adalah suatu kesalahan. Finn berdehem mencoba mendekati kekasihnya yang nampak muram dan menunduk itu.
"A-apa katamu? Katakan sekali lagi, Kejora. Aku rasa aku salah dengar," ungkap Finn mencoba menepis pikiran negatifnya.
__ADS_1
Kejora menggeleng. "Tidak, Finn. Aku berkata yang sebenarnya. Aku memang sudah tidak perawan."
Finn sontak langsung berdiri ketika mendengarkan pengakuan itu. Melepaskan cekalan tangan Kejora pada tangannya dan menatap sosok wanita di bawahnya yang nampak berkaca-kaca. Finn masih tidak bisa percaya atas perkataan Kejora. Dia kira kekasihnya adalah wanita baik-baik.
"A-apa? B-bagaimana bisa? Aku kira kau itu wanita baik-baik, Kejora. Tapi apa? Kau sudah tidur dengan pria lain?!" ujar Finn tidak percaya.
"Finn, jangan marah dulu. Aku akan jelaskan padamu." Kejora berusaha membujuk Finn yang sudah menyelanya dahulu.
"Tapi, Kejora. Aku sungguh——"
"Finn, aku mohon beri aku kesempatan bicara dulu."
Kejora ikut berdiri dan meraih tangan Finn untuk menarik pria itu kembali duduk di kursi dengan tenang. Finn yang tersihir menurut saja dan kembali duduk di kursi sambil mengamati lekat Kejora yang berada di dekatnya.
"Finn, dengarkan penjelasanku dulu. Aku tidak tidur dengannya. Aku dijebak. Aku diperkosa olehnya. Bukan kami sama-sama mau melakukannya," jelas Kejora berusaha menenangkan kekasihnya.
"Tapi bagaimana bisa? Jika kau tidak mendekat atau menggodanya, tidak mungkin dia melakukannya, Kejora."
"Aku tidak menggodanya, Finn. Waktu itu aku tengah mengantarkan koper ke kamarnya, tapi dia langsung menarikku masuk dan memperkosaku. Dia bau alkohol, mungkin saja dia habis minum-minum. Aku tidak bisa melakukan perlawanan karena dia mengikat tanganku menggunakan ikat pinggang."
"A-aku berkata jujur, Finn. Aku tidak selingkuh darimu. Aku diperkosa. Dia sudah merenggut kesucianku dengan paksa. Aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena takut kau akan meninggalkanku," sambung Kejora diiringi dengan isak tangis.
Kejadian kelam itu masih terbayang di pikiran Kejora. Dalam beberapa hari bahkan Kejora merasa trauma jika melihat pria yang merenggut kesuciannya.
Kehilangan mahkota yang selama ini dijaga adalah hal paling menyedihkan bagi seorang wanita. Apalagi stigma yang berkembang di masyarakat apabila seorang wanita yang sudah tidak perawan sebelum pernikahan ada dicap sebagai wanita murahan.
"M-maafkan aku. Aku juga trauma dengan ini. Aku sampai tidak keluar rumah karena terbayang dia memperkosaku. A-aku ...."
Gerakan cepat, Finn memeluk tubuh kekasihnya yang bergemetar dengan isak tangis yang kian mengeras. Tangan pria itu bergerak mengelus punggung wanita yang berstatus kekasihnya itu.
Kejora dalam pelukan itu menumpahkan segala kesakitan yang ia alami. Kian mempererat ketika bayang-bayang malam kelam itu kembali menghantuinya.
Sejujurnya, Finn juga masih terkejut dengan pengakuan Kejora. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri ia juga merasa kasihan dengan kekasihnya yang terlihat sangat trauma dengan kejadian itu.
__ADS_1
"Kejora, katakan siapa pelakunya. Aku akan mencarikan keadilan untukmu," ujar Finn sambil berusaha menenangkan.
Kejora yang berada dalam pelukan seketika terdiam. Lidahnya begitu kelu untuk mengatakan bahwa Nicholas lah yang telah melakukannya.
Orang yang sama dengan orang yang ditemui Finn, punya kantor yang Finn sangat ingin bekerja di sana, juga seseorang yang telah membantunya. Kejora merasa diambang kebingungan, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Finn menguraikan pelukan lalu menangkup kedua pipi Kejora yang basah dengan air mata lalu mengusapnya. Mencari jawaban atas pertanyaannya yang ia kemukakan tadi. Namun, hanya dibalas dengan linangan air mata Kejora yang terlihat pilu.
"Kejora, siapa pria itu? Jangan takut. Beritahu aku," ujar Finn. Menatap kedua bola mata Kejora yang berlinangan air mata.
Kejora gugup. "A-aku tidak tahu. Setelah dia memperkosaku dia meninggalkanku begitu saja. Jadi, aku tidak tahu namanya siapa."
"Apa tidak ada identitas apa pun tentang dia? Lalu bagaimana ciri-cirinya?"
"Ciri-cirinya ..." Kejora merotasikan mata. Bibirnya begitu kelu untuk mengatakan nama itu. "Aku tidak ingat, Finn. Aku terlalu takut malam itu sampai tidak bisa memandang wajahnya. Pencahayaannya juga gelap. Aku tidak tahu wajahnya bagaimana."
Finn mencari letak kebenaran perkataan Kejora tadi. Pria itu sama sekali tidak menemukan suatu kebohongan apa pun. Kejora bahkan bercerita sambil bergemetar, menandakan cerita itu memang kejadian yang sebenarnya.
"Baiklah aku tidak akan menanyakannya lagi." Finn mengelus tangan Kejora. Mencoba menahan diri untuk menanyakan perihal itu lagi meski ia sangat ingin.
Kejora memeluk Finn sekali lagi untuk menghilangkan segala ketakutannya. Kejora kira respon dari Finn akan marah bahkan memaki dan mengusirnya saat ini. Terbukti bahwa pria itu tidak melakukannya. Malahan memperlakukannya dengan sangat baik.
Berbeda dengan Finn yang nampak masih sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Susah-susah ia menjaga Kejora untuk tidak merusaknya, tapi malah orang lain yang merusak. Selama ini Finn pun berusaha menahan dirinya demi Kejora, tapi kenyataannya malah orang lain yang menikmatinya.
Finn merasa kecewa kenapa harus orang yang ia kasihi mengalami hal seperti ini. Bagaimanapun Kejora masih kekasihnya dan Finn merasa tidak terima dengan kenyataan itu. Timbul suatu pertanyaan di benak Finn. Ia menatap Kejora yang berada di sisinya dengan lekat.
"Tapi ... kau tidak hamil anaknya, kan?"
**
Penasaran nggak dengan jawaban Kejora?
Tunggu bab selanjutnya ya...
__ADS_1