
"Kejora, apa kau sudah melihat videonya? Video itu viral di berbagai sosial media? Ah, aku juga merasa puas akhirnya si nenek lampir itu keluar dari sini. Sekarang sudah tidak ada lagi yang akan cerewet dan mau menangnya sendiri."
Kejora hanya terdiam. Tidak mendengarkan perkataan teman kerjanya. Pikirannya masih tertuju pada pria yang tempo hari mengungkap kejadian sebenarnya itu. Namun, hal yang berbeda adalah sikap pria itu. Dingin dan cuek, bukan seperti biasanya.
Kejora jadi berpikir, apakah kejadian di rumah sakit itu membuat Nicholas merasa sakit hati. Akan tetapi, bukankah dia hanya berkata tegas sedikit? Seharusnya dengan sikap Nicholas yang bebal dan keras itu tidak akan merasa sakit hati hanya dikatai seperti itu.
"Kejora!"
"Hah, apa?" Kejora linglung.
"Kau itu melamunkan apa, sih? Aku dari tadi berbicara panjang lebar kau malah asik melamun."
"Ada masalah di rumah," kilah Kejora.
"Eh, kau merasa tidak bahwa Tuan Nich sangat perhatian. Dia bahkan rela menyelidiki semua ini dan menegakkan keadilan untuk semua korbannya si nenek lampir itu. Bukankah itu sangat manis?" Teman kerjanya Kejora tadi menopang dagu dengan sebelah tangan.
"Manis? Lebih manisan pacarku." Kejora menyangkal.
"Ck, itu beda lagi. Tuan Nich yang ini, dia sangat ideal untuk dijadikan pasangan. Kaya, perhatian, ya meskipun kadang arogan dan bengis tapi aku yakin sebenarnya dia adalah pria baik. Aku bisa menebaknya waktu pertama kali melihatnya."
"Apa kau cenayang?" Kejora terkekeh menanggapi perkataan temannya itu.
"Aku bisa merasakannya. Lagipula apa kau tidak tertarik padanya? Kau tahu, semua karyawan wanita di sini semua mengidolakan Tuan Nich."
Kejora menggeleng cepat. "Aku lebih memilih Finn dari pada dia."
"Susah memang kalau orang jatuh cinta dibilangin." Teman Kejora tadi cemberut. "Hah, aku jadi berkhayal bisa memilikinya. Apa aku harus mencampurkan obat perangsang di minumannya lalu menyerahkan tubuhku dan meminta pertanggung jawaban seperti di film-film?"
Kejora membulatkan mata. Terkejut dengan celetukan temannya itu. Bahkan kotak tisu di tangannya sempat terjatuh akibat dari gerak reflek yang dilakukan. Kejora lekas mengambil kotak tisu tersebut dan memegangnya lebih erat.
"Kau kenapa?"
"Tidak. Aku hanya merasa bingung saja dengan rencanamu itu. Kau rela menyerahkan tubuh demi pria itu? Merusak diri sendiri demi dia?" tanya Kejora. Menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Merusak diri untuk mendapatkan ganjaran yang lebih besar, tidak masalah, kan?"
Kejora tidak habis pikir dengan jalan pikiran temannya itu. Mana mungkin bisa seperti itu. Kejora saja yang direnggut kesuciannya saja berharap masih bisa mengembalikan keperawanannya. Akan tetapi, temannya malah mau menyerahkan diri secara gratis.
"Kalau dia menolak tanggung jawab?" pancing Kejora.
"Mudah saja. Aku tinggal mengumumkan di media dan membuat isu tentangnya. Dia publik figur. Mudah saja membuatnya jadi perbincangan. Kalau masih tidak bisa, setidaknya aku masih mendapatkan uang sogokan darinya untuk bungkam mulut. Atau kalau tidak, aku bisa mengaku hamil anaknya."
Kejora sampai menganga mendengar penuturan temannya itu. Benar-benar tidak masuk akal. Apakah semua wanita akan rela menyerahkan tubuhnya sendiri hanya karena harta? Memangnya apa yang istimewa dari Nicholas? Kejora lebih memilih hidup sederhana saja dibandingkan bergelimang harta tapi tidak dicintai dengan tulus.
"Gila. Kau sudah gila," gumam Kejora.
"Ini bukan kegilaan, tapi aku hanya menjalankan sebuah realita kehidupan. Zaman sekarang hal apa yang tidak membutuhkan uang? Sekarang kalau tidak punya uang, tidak berguna, Kejora." Temannya Kejora menanggapi.
"Kalau dia tidak mencintaimu bagaimana? Hartanya bisa kau miliki tapi tidak dengan hatinya," sangkal Kejora.
"Cinta bisa dicari seiring berjalannya waktu. Lagipula apa kau tidak tertarik padanya? Ah, apa jangan-jangan kau memang tertarik tapi malu untuk mengatakannya, kan?"
Kejora menepis tangan temannya yang menunjuk dirinya. "Jangan berbicara sembarangan. Aku sudah punya Finn. Lagipula aku juga tidak suka pria pemaksa dan kasar seperti dia. Selalu menuntut apa pun untuk jadi miliknya. Aku tidak suka pria seperti itu."
"A-aku ...." Kejora merutuki dirinya sendiri. Hampir saja ia membongkar rahasianya.
"Hm, bagaimana kau tahu kalau Tuan Nich itu kasar? Kulihat dia orang yang baik, meskipun ya tampilannya dingin dan cuek. Tapi aku yakin sebenarnya dia itu pria yang manis, apalagi untuk mengasari seorang wanita, kurasa tidak mungkin."
Kejora menatap temannya dengan lekat. Andai saja dia tahu bagaimana sikap Nicholas kepadanya, mungkin pikiran itu tidak akan ada dalam benak temannya.
"Jadi, dari mana kau tahu kalau dia kasar, Kejora? Jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa. Kau terlalu berpikiran jauh," potong Kejora lebih dahulu.
"Aku belum mengatakan apa pun, kau sudah dulu menyelanya. Astaga, itu Tuan Nich!"
Pandangan Kejora teralihkan kepada sosok pria yang baru saja muncul dari pintu depan hotel. Aura tegas dan wibawanya sangat terasa. Membuat siapa pun pasti terkagum-kagum melihatnya. Kejora pun mengamati Nicholas yang lewat di depannya dengan wajah datar. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan Nich."
Nicholas terus berjalan tanpa mengindahkan sambutan-sambutan dari karyawan. Langkah tegapnya terus tertuju pada suatu tempat yang akan ia kunjungi bersama asistennya. Dari ekor mata Nicholas, ia melihat seseorang yang tengah memerhatikannya secara intens.
"Astaga, lihat wajah tampannya itu. Ah, aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini," ucap teman Kejora tadi.
Kejora berdehem menghilangkan kecanggungannya itu. "Aku ingat ada kamar yang belum dibersihkan. Aku pergi dulu."
Kejora segera berlalu dari sana. Ia tidak bisa berbohong. Memang ada kamar yang belum dibersihkan. Dengan segera ia naik ke lantai sepuluh untuk membersihkannya.
Tidak butuh waktu lama, Kejora sudah selesai membersihkannya. Ia menunggu lift terbuka untuk bisa datang di lantai bawah. Ketika lift terbuka, Kejora malah terkejut ketika melihat sosok Nicholas di dalam sana.
"Nona, apa kau tidak akan masuk?" tanya Hans memecah keheningan.
"Oh, iya, iya."
Kejora masuk ke lift. Berdiri mematung dan menjaga jarak tanpa ada pembicaraan apa pun. Nicholas di sebelahnya hanya menatap datar ke depan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Kejora merasa canggung. Ia seperti asing di dalam sana.
Lift pun terbuka, Nicholas bergegas pergi tanpa sepatah kata apapun. Hal itu membuat Kejora bingung dan berniat menanyakannya.
"Tunggu dulu," cegah Kejora melihat Nicholas yang sudah berlalu.
Hans menghadang langkah Kejora. "Maaf Nona, saat ini Tuan Nich sedang sibuk. Jika ada sesuatu, hubungi saja nomor ini. Permisi."
Kejora menerima kartu nama tersebut. Memerhatikan Nicholas yang sudah menghilang dari pandangannya. Kejora merasa aneh. Sebenarnya ada apa dengan pria itu. Kejora ingat hari itu, Nicholas masih mengganggu dan mengancamnya. Akan tetapi, akhir-akhir ini pria itu berperilaku dingin seakan-akan tidak mengenalnya lagi.
"Ada apa dengannya? Apa dia marah karena perkataanku waktu itu? Tapi dia yang memulainya duluan, kenapa dia juga yang merasa sakit hati?"
Kejora masih menatap jejak jalan yang dilalui Nicholas tadi. Tunggu, bukankah seharusnya ia senang karena tidak diganggu lagi? Bukankah selama ini Kejora selalu risih ketika melihat Nicholas terus saja mempengaruhi kehidupannya?
"Bukankah aku harus senang karena dia tidak memaksaku lagi? Benar, aku harus senang. Kau harus senang, Kejora. Kenapa aku malah repot-repot memikirkannya? Astaga, pasti aku sudah gila," gumam Kejora sambil terkekeh.
**
__ADS_1
Sampai jumpa di part selanjutnya...