
“Kau sudah pulang,” ucap Kejora menyambut kedatangan Nicholas di depan pintu.
Hari-hari sudah berlalu dan kondisi kakinya sudah membaik.
Nicholas berdehem sekilas menjawab sapaan Kejora. Lelah dengan pekerjaannya seharian ini, dia duduk di sofa sambil melonggarkan dasi. Kejora sigap membawa jas dan tas kerja Nicholas untuk diletakkan di tempat biasa.
“Kau mau dibuatkan minum apa?” tanya Kejora.
Nicholas bangkit dari duduknya. “Aku akan mandi, sementara itu buatkan aku kopi.”
“Baik.”
Kejora bergegas membuatkan minuman sembari menunggu Nicholas yang tengah membersihkan diri. Kejora hendak mengambil gelas, akan tetapi dering dari ponsel miliknya mengganggu konsentrasinya.
Ternyata, panggilan tersebut berasal dari Finn. Kejora cepat mematikannya. Dia sudah memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengan Finn setelah tahu kebenarannya malam itu. Kejora tidak mau menjadi bodoh untuk kedua kalinya lagi.
Namun, sepertinya Finn tidak menyerah. Menelepon secara terus menerus juga mengiriminya pesan berkali-kali. Kejora sudah seperti diteror oleh Finn saja, membuat perasaannya tidak tenang.
“Siapa?” tanya Nicholas sambil mengeringkan rambutnya. Terganggu dengan panggilan berkali-kali itu.
Kejora mematikan sambungan. “Bukan siapa-siapa.”
Kejora membawa kopi tersebut dan memberikannya kepada Nicholas. “Aku sudah menyiapkan makanannya. Kau mau makan sekarang apa nanti?”
“Sekarang saja.”
Kejora mengikuti Langkah Nicholas yang menuju meja makan. Melayaninya dengan sepenuh hati. Melihat Nicholas yang makan dengan lahap membuatnya merasa bahagia.
“Kau tidak makan?” tegur Nicholas melihat Kejora hanya berdiam di sebelahnya.
“Aku sudah makan tadi.” Namun, nampaknya tubuhnya sendiri tidak mendukung kebohongan Kejora saat ini. Perutnya tiba-tiba berbunyi.
“Duduk dan makan. Aku tidak mau kau sakit dan merepotkanku lagi,” tukas Nicholas cepat.
Kejora menurut dan memposisikan dirinya untuk duduk di kursi dan ikut menyantap Bersama Nicholas. Sebenarnya agak canggung, apalagi makan dengan majikannya sendiri seperti ini membuatnya merasa malu.
Di sela-sela makan, ponsel Kejora Kembali berbunyi. Kejora mematikannya lagi, tapi masih dihubungi lagi. Berulang terus sampai menyita pandangan Nicholas yang mulai terganggu dengan suara nada panggilan itu.
"Ponselmu berdering setiap saat, apa kau tidak berniat mengangkatnya?”
“Tidak penting. Panggilan dari orang asing,” jawab Kejora.
“Orang asing mana yang menghubungi berkali-kali?” Nicholas menaikkan sebelah alis karena merasa curiga.
Kejora menggeleng. “Sudahlah, itu tidak penting.”
Nicholas enggan meneruskan kala mendapat jawaban itu. “Apa sup ini masih ada? Aku menginginkannya lagi.”
__ADS_1
“Ada. Akan aku ambilkan.”
Suara notifikasi ponsel Kejora yang ditinggalkan di atas meja membuat Nicholas terganggu. Ia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa orang yang sudah membuatnya terganggu itu. Nama Finn terpampang di sana dan mengirimi permintaan maaf.
Nicholas baru ingat bahwa nama pria malam itu sama, kemungkinan ini dari mantan kekasih Kejora. Melihat Kejora yang akan datang, Nicholas segera mengembalikan ponsel tersebut dan bersikap biasa.
“Ini supnya.” Nicholas berdehem.
Selepas menyelesaikan makan, ia segera masuk ke ruang kerja untuk meneruskan pekerjaannya yang belum selesai. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari ponselnya, rupanya panggilan tersebut berasal dari Zang.
“Ada apa?”
“Nich, bagaimana keadaanmu? Apa tubuhmu mulai menunjukkan reaksi yang berbeda dari biasanya?”
“Tidak. Aku biasa-biasa saja. Hanya sedikit senang. Memangnya kenapa?” tanya Nicholas yang bingung dengan arah pembicaraan Zang.
“Baguslah kalau tidak apa-apa. Tapi sepertinya kau harus pergi lagi Nich, malam ini akan turun hujan.”
Nicholas paham maksudnya. “Baiklah. Kau urus surat pemberangkatanku, aku akan berkemas.”
Bermain kucing-kucingan seperti ini, sebenarnya cukup melelahkan bagi Nicholas. Nicholas Lelah kala hujan tiba ia harus melarikan diri agar ingatannya tidak hilang. Namun, jika tidak dia lakukan kemungkinan penyakitnya akan semakin parah.
“Ini minumnya.” Kejora meletakkan minuman herbal di meja tempat Nicholas bekerja.
Nicholas meminumnya. Meletakkan gelas itu dengan hati-hati Ketika teringat dengan kepergiannya malam ini. “Kau pulanglah, aku akan pergi.”
“Aku ada perjalanan dinas dan akan berangkat sebentar lagi.”
“Dinas? Sekarang? Mendadak seperti ini?” heran Kejora. Dia melirik ke jam dinding di sebelah sana yang menunjukkan pukul lima sore. “Kalau begitu aku akan membantumu mengemasi barang.”
“Tidak usah, Hans sudah menyiapkannya.”
“Hah, sejak kapan?”
Nicholas mendongak menatap Kejora yang banyak bicara. “Kau banyak bicara, ya? Bukankah sudah kuperintahkan untuk pulang?”
Kejora mendelik. Mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih banyak. “Baiklah, kau hati-hati di jalan.”
“Hmmm.”
“Aku pergi dulu.” Kejora keluar dari ruangan itu dengan perasaan bingung. Sebelum ia benar-benar pergi, Kejora melihat Nicholas untuk terakhir kali sebelum pria itu akan pergi.
Kejora berjalan kaki menyusuri jalanan untuk kembali ke rumah seusai berhenti di toko untuk membeli barang kebutuhan. Kantong belanjaan berada di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk memegang ponsel untuk memastikan sampai mana ojek online yang sebelumnya sudah di pesan.
Kejora duduk di salah satu kursi sembari mengamati kondisi sekitar yang mulai sepi. Suasananya mulai mencekam dan Kejora merasa sedikit takut. Di kursi sebelahnya ada seorang pria yang seperti tengah menunggu sesuatu dan sesekali menatap ke arahnya. Kejora merasa tidak enak, apalagi ketika pria itu mulai berjalan ke arahnya.
Kejora cepat-cepat bangkit dan beranjak pergi. Semakin cepat jalannya, semakin cepat pula pria itu mengejarnya. Kejora memegang erat belanjaannya dan berlari. Akan tetapi, tangannya lebih dulu digapai oleh pria tersebut.
__ADS_1
“Siapa kau? Lepaskan aku!” berontak Kejora menatap pria bertopi itu.
“Kejora, ini aku.”
Kejora terkejut Ketika melihat siapa sosok di balik topi itu. “F-Finn?”
Finn membuka topinya, enggan melepaskan cekalan tangannya.
“Kau dari mana, Kejora? Katanya kau sudah resign dari hotel, sekarang kau bekerja di mana?”
Kejora melepas paksa cekalan Finn. “Untuk apa aku memberitahumu. Ini sama sekali bukan urusanmu.”
“Kejora, aku masih kekasihmu.” Finn terlihat kesal.
“Kekasih? Hubungan kita sudah berakhir malam itu, Finn. Tidak ada kaitan apa pun di antara kita lagi.”
“Tapi aku belum menyetujuinya. Itu sama saja kita belum putus,” ungkap Finn.
Kejora menaikkan sebelah alis. “Sebenarnya apa maumu? Bukankah kau juga sudah Bersama wanita lain? Lalu untuk apa menginginkanku lagi?”
“Kejora, itu semua salah paham. Aku sama sekali tidak berselingkuh dengannya.” Finn bersikeras menjelaskan.
“Apa kau pikir aku bodoh, Finn? Aku bisa membedakan mana yang berselingkuh mana yang bukan!”
Finn berusaha memegang tangan Kejora.
“Kejora, aku terpaksa melakukan itu. Aku terpaksa melakukannya. Aku mohon, aku tidak mau putus darimu.”
Kejora mengerutkan kening. Merasa tidak masuk akal dengan alas an yang Finn kemukakan.
“Finn, apa kau gila?” heran Kejora.
“Bagaimana bisa kau seperti ini? Apa menurutmu aku bisa menerima begitu saja kau selingkuhi?”
Kejora menarik napas dalam. “Aku memang bodoh dulu, tapi aku tidak mau bodoh untuk kedua kalinya. Benar kata seseorang, aku memang terlalu lugu dan polos untuk menyikapi semuanya. Bahkan aku juga rela menutup telinga demi membelamu, Finn, tapi apa? Ternyata kau sama sekali tidak pantas dibela!”
“Seseorang? Siapa yang mengatakan itu? Apa ada pria lain di hatimu?” tanya Finn.
“Itu sama sekali bukan urusanmu, Finn. Yang jelas aku sudah tidak mau bersama dengan pria bejat dan tukang selingkuh sepertimu!"
Kejora memaki Finn sebelum ia akhirnya membalik badan dan beranjak pergi. Wanita itu marah dengan semua omong kosong Finn selama ini. Sebelumnya Kejora sudah menaruh harapan yang besar kepada Finn, tapi dengan jahat dipatahkan begitu saja.
“Lalu apa bedanya denganmu? Bukankah kau juga sudah tidur dengan pria lain?”
--
tunggu eps selanjutnya, yaa...
__ADS_1