
"Jam berapa managermu akan datang?" tanya Nicholas sambil melihat arloji di tangannya. Waktu sudah berlalu begitu cepat, tapi orang yang dia cari belum datang sampai saat ini.
Agnes tersenyum sambil membawa sebuah minuman dan meletakkan di atas meja di depan Nicholas. Bergelagat menggoda bermaksud menarik perhatian pria di depannya.
"Mungkin sebentar lagi, Tuan. Anda minum dulu untuk melepaskan dahaga."
Nicholas mengamati seorang wanita di dekatnya. Kancing kemeja di bagian atas dibuka sampai menampakkan belahan dada. Rok ketat di atas paha menunjukkan kaki jenjang nan mulusnya. Nicholas merasa gerak-gerik dari wanita itu sangat mencurigakan.
Agnes menatap Nicholas dengan tatapan menggoda. Dengan tatapan genitnya, ia perlahan-lahan meletakkan gelas di meja. Namun, Agnes berpura-pura menjatuhkannya sehingga air dalam gelas itu mengenai kemeja Nicholas.
"Astaga maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Agnes dengan sedikit kegugupan. Namun, terselip seribu akal licik yang sebelumnya sudah dia susun sedemikian rupa.
"Tidak apa."
"Astaga. Jas Anda jadi kotor. Mari saya bantu bersihkan." Agnes meraih tisu di meja lalu berusaha membersihkan jas Nicholas yang terkena tumpahan minuman tersebut. Mengusap dengan pelan, tapi lama kelamaan usapan itu semakin turun menuju ke bagian celana Samuel.
Nicholas mencegah tangan Agnes yang hendak meraih bagian celananya. Ia cukup tahu dengan pikiran dan arah rencana wanita itu. Nicholas mencekal tangan Agnes dengan kuat lalu berdiri menghadap wanita yang tidak sopan itu.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Nicholas.
"Saya hanya membantu Anda membersihkan noda, Tuan."
"Hentikan akting burukmu itu. Kau tidak cukup cerdas berpura-pura di hadapanku," sengit Nicholas.
Agnes tersenyum. Memegang tangan Nicholas yang memegang tangan kanannya lalu menaruh di pinggangnya. Sementara tangan kiri Agnes mengalung di leher Nicholas.
"Tuan, aku bisa menjadi wanitamu kalau kau mau. Aku bisa melakukan apa pun. Apalagi memuaskanmu," bisik Agnes di telinga Nicholas.
Nicholas menatap ke arah kiri ketika wanita itu berbisik di telinganya. Nicholas beralih menatap Agnes yang tersenyum menggoda. Nicholas menanggapinya dengan senyuman, seolah-olah menerima godaan itu.
"Kau bisa memuaskanku?" tanya Nicholas datar.
"Tentu saja, Tuan. Aku bisa memuaskan Anda sampai Anda ketagihan dengan pelayananku." Agnes semakin menggoda. Membelai mesra dada Nicholas sambil memainkan mata genit.
"Menarik." Nicholas tersenyum, membuat Agnes senang bukan main. "Tapi sayangnya aku tidak sedang membutuhkan wanita panggilan."
__ADS_1
Nicholas melepaskan tangan Agnes yang berada di lehernya juga melepaskan tangan wanita yang ia pegang tadi. Ia menatap penuh aura bengis kepada sosok wanita yang menggodanya sedari tadi.
"Kuakui kau cukup menarik, tapi tidak untukku. Apa kau pikir belahan dadamu itu membuatku tertarik? Rok pendekmu itu membuatku tergoda? Aku tidak semudah itu untuk kau taklukkan."
"A-apa?" Agnes bingung. Tidak tahu apa jalan pikiran Nicholas.
"Jalan pikiran wanita sepertimu sudah bisa aku baca. Kau mendekatiku karena aku kaya, kan? Kalau aku tidak kaya, pasti kutebak. Kau akan merendahkanku meskipun aku menyukaimu lebih dulu," jawab Nicholas.
Agnes terkekeh. "Apa maksud Anda?"
"Agnes Sisilia. Seorang karyawan senior yang juga punya kerja sampingan melayani tamu hotel. Tempo hari baru saja pergi dengan seorang pria beristri kaya raya tapi ketahuan oleh istrinya." Nicholas tersenyum culas mengatakannya.
Agnes membulatkan mata. Wanita itu nampak khawatir dengan perkataan pria di depannya. "Kau menyelidikiku?!"
"Mencoba mendekati manager hotel, tapi tidak bisa. Melimpahkan semuanya dengan seorang junior lugu yang tidak tahu apa-apa. Aku juga tahu bahwa kau yang sudah mengunci Kejora waktu itu," tutur Nicholas semakin memperjelas.
Agnes meneguk ludah kasar. Akan tetapi, ia terkekeh sambil melihat Nicholas. "Jadi ini karena dia? Sebenarnya apa istimewanya wanita itu? Dia bahkan tidak lebih cantik dari diriku."
"Kuakui kau cukup cantik, tapi di sini ..." Nicholas menunjuk kepala Agnes dengan kasar. "Kosong!"
"Kau mau meminta maaf sendiri atau aku melaporkan tindakanmu ke polisi? Meskipun kasusmu sangat ringan untuk dijebloskan ke penjara, tapi aku punya cukup uang untuk melakukannya." Nicholas menyeringai. Senyum liciknya cukup membuat wanita di depannya itu berpikir seribu kali.
"Kau! Aku tidak mau minta maaf padanya! Apa-apaan itu. Dia sudah sepantasnya mendapatkan hal itu. Biar dia sadar diri dan tidak usah sok kecentilan!" teriak Agnes tidak terima.
Nicholas mengangguk. "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menelepon polisi sekarang dan meminta mereka membawamu ke penjara."
"Halo. Saya ingin melaporkan——"
"Tidak usah! Aku akan meminta maaf padanya! Jangan panggil polisi." Agnes merebut ponsel Nicholas dan mematikan sambungannya.
Nicholas tersenyum sinis. Kemudian ia menarik dengan kasar tangan wanita itu untuk dibawa ke lantai bawah dan meminta maaf kepada Kejora. Agnes tidak bisa melawan, ia hanya bisa merintih ketika pria itu mencekalnya dengan sangat erat.
Tubuh Agnes didorong sampai duduk bersimpuh di hadapan Kejora yang waktu itu posisinya berbicara dengan rekan kerjanya. Kejora pun terkejut, ia merasa bingung kenapa seniornya itu tiba-tiba saja duduk bersimpuh di depannya.
"Kejora, aku minta maaf atas perilakuku waktu itu," ucap Agnes asal.
__ADS_1
Terpaksa melakukannya demi mempertahankan pekerjaannya.
"Kurang tulus," sahut Nicholas. "Ucapkan lebih tulus atau ...."
"Kejora, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja menguncimu. Tolong maafkan aku." Agnes bahkan bersujud di kaki Kejora.
Kejora merasa bingung. Ia bahkan menarik kakinya ketika akan diraih oleh Agnes. Kejora tidak tahu apa yang terjadi. Apalagi seniornya seperti ini membuat Kejora semakin merasa tersudutkan.
Nicholas mengambil air mineral yang kebetulan ada di meja lalu membuka tutupnya dan memberikannya pada Kejora. "Siramkan padanya."
"S-siram?"
"Iya. Seperti dia menyirammu dengan shower waktu itu," jawab Nicholas datar.
"T-tapi ...."
"Lama!" Nicholas meraih tangan Kejora dan mengajarkan wanita itu untuk menyiramkan air ke kepala Agnes. Kejora bahkan sampai membuka mulutnya kaget ketika air tersebut perlahan demi perlahan habis mengguyur kepala seniornya.
"Ada apa ini?" sahut seseorang dari belakang. Pria itu adalah Zein yang terkejut karena mendapatkan berita bahwa ada kerusuhan di hotel.
Nicholas melepaskan tangannya, lalu menatap Zein yang berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Karyawan seniormu ini jelas-jelas suka menindas karyawan lain. Dia juga yang mengurung Kejora di kamar mandi. Bukan hanya Kejora, bahkan karyawan lain juga sering dirundung oleh dia. Aku sudah mengirimkan semua bukti ke emailmu. Harusnya kau tahu apa yang harus dilakukan sekarang," jelas Nicholas.
"Agnes, mulai sekarang kau dipecat."
Agnes berdiri dan menghadap Zein. "Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya berjanji akan bekerja lebih baik."
"Keputusan tidak bisa diganggu gugat. Sekarang pergilah." Zein memalingkan muka. Ketika Agnes memberontak, Zein memanggil satpam dan menyuruhnya untuk membawa mantan karyawannya itu untuk pergi. Ia juga ikut serta untuk memperingatinya lebih jelas di luar hotel.
Kejora mengamati semua kejadian itu. Pandangannya beralih kepada Nicholas yang nampak berdiri tegak di sebelahnya. Kejora merasa bahwa semua ini terjadi secara aneh. Kejora juga bingung kenapa Samuel tahu siapa yang menguncinya hari itu.
"Aku ...," kata Kejora ingin meminta penjelasan tapi Nicholas lebih dulu pergi dari hadapannya.
Kejora melihat kepergian pria itu. Baru saja Kejora ingin menanyakan tentang perihal hari ini, malahan lebih dulu ditinggal pergi. Kejora jadi ingat kejadian waktu di rumah sakit waktu ia memaki dan menghinanya.
__ADS_1
'Apa dia marah karena perkataanku waktu itu?' batin Kejora dalam hati.