
“Maaf, Nyonya siapa ya?”
Kejora mengikuti Amor yang menyelonong masuk dengan santainya lalu duduk di sofa dengan angkuh. Kejora tidak tahu siapa wanita paruh baya yang sombong itu. Tiba-tiba saja masuk ke rumah orang tanpa izin.
Amor menatap Kejora sinis. “Kau pembantunya, Nich? Buatkan aku minum.”
Kejora masih terdiam. Bingung lebih tepatnya. Melihat kebisuan itu membuat Amor kesal.
“Kenapa masih diam saja? Cepat buatkan!” sentak Amor membuat Kejora bergegas ke dapur untuk membuatkan minuman.
Beberapa menit kemudian, Kejora datang lagi sambil membawakan segelas minuman dan menghidangkannya kepada Amor. Sembari minum, Amor mengamati penampilan Kejora dari atas sampai bawah. Seperti tengah menyelidik sesuatu.
“Kau duduklah,” titahnya memerintah. “Kau siapa? Aku baru melihatmu.”
“Saya pembantu di rumah ini.”
Amor bersandar di bahu sofa. “Oh, hanya pembantu rupanya. Di mana, Nich?”
“Dia sedang bekerja di kantor. Memangnya Anda siapa dan apa hubungannya dengan Nich?”
“Aku ibunya.”
Kejora terkejut. “I-ibu?”
“Berhubung kau bekerja di sini, pastinya kau tahu sesuatu, kan?” tanya Amor.
“Sesuatu?” Dahi Kejora berkerut.
“Seperti apa yang tidak dia sukai, apa dia punya alergi atau sesuatu informasi yang sangat rahasia dari Nich.”
Kejora merassa janggal. Kenapa ia merasa sikap Amor bukan seperti seorang ibu tapi malah menjadi seorang musuh yang mengulik kelemahan mangsanya?
“Saya tidak tahu, Nyonya. Saya hanya bertugas membersihkan rumah, jadi tidak tahu mengenai rahasinya.”
Amor mengangguk. "Bagaimana kalau aku memberimu penawaran."
"Penawaran?"
"Benar. Aku akan memberikan kompensasi yang tidak tanggung-tanggung kepadamu tapi dengan syarat kau harus melaporkan semua gerak-gerik Nicholas," ucap Amor. Berbeda dengan Kejora yang mengamatinya penuh tanda tanya.
"Benar. Kau kan bekerja di sini, otomatis harusnya sedikit tahu tentang Nicholas. Aku akan memberikan uang yang tidak main-main asalkan kau juga memberikan sesuatu yang berguna untukku."
__ADS_1
Amor berdiri dari duduknya dan berjalan memeriksa setiap sudut rumah. Mengelus pinggiran lukisan sambil berjalan menuju ke kamar Nicholas. Sementara Kejora merasa kebingungan dengan maksudnya. Amor sempat berniat untuk membuka pintu, tapi dengan cepat Kejora menghalanginya.
“Maaf, Nyonya, tidak ada yang boleh masuk kecuali Tuan Nich sendiri.”
“Aku ibunya. Kenapa aku tidak boleh masuk ke kamar anakku sendiri, hah?” sewot Amor.
“Maaf, Nyonya. Ini perintah tuan. Saya tidak bisa membantah.”
Amor berdecak kesal. “Berani ya kau melarangku seperti ini.”
“Maaf, Nyonya. Ini sudah perintah untuk siapa pun tidak boleh masuk ke kamar tuan.”
“Menyingkir dari hadapanku!” perintah Amor kepada Kejora yang menghalanginya untuk membuka pintu.
“Maaf, Nyonya. Anda tidak boleh masuk.”
Amor bersikeras untuk masuk. Menarik tangan Kejora untuk pergi dari hadapannya. Kejora pun tidak mau kalah dengan terus menghadang di depan pintu. Keduanya terjebak dalam pertikaian, sampai pada akhirnya secara tidak sengaja Kejora mendorong tubuh Amor sampai terjerembab di lantai.
Amor mengaduh kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Menatap Kejora dengan nyalang.
“Kau!” geram Amor.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja.” Kejora merasa bersalah.
“Awas kau ya!” ancam Amor yang kemudian berbalik dan keluar dari rumah.
Kejora mengikuti Langkah wanita itu dari belakang. Melihat sampai mobil yang dikendarai lenyap dari gerbang. Kejora merasa bersalah, kali ini ia tidak akan dihukum lagi karena mendorong ibunya Nicholas, kan?
---
“Aku rasa penyakitku tidak sembuh, tapi malah semakin parah, Zang.”
Zang melirik Nicholas sambil menuangkan jus ke gelas. “Semakin parah bagaimana?”
“Aku rasa aku memiliki penyakit jantung,” kata Nicholas.
“Tidak ada riwayat seperti itu dalam catatan medismu, Nich. Sebenarnya apa yang kau katakan itu.” Zang duduk berhadapan dengan Nicholas. Bersulang minuman dengan pria yang selalu mengganggu jam kerjanya itu.
“Apa kau tahu, pagi ini jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Suhu tubuhku juga memanas. Kalau bukan penyakitku semakin parah, apalagi Namanya itu?”
“Memangnya sebelum itu kau melakukan apa?”
__ADS_1
Nicholas nampak sedikit berpikir.
“Sepertinya karena dia memegang wajahku.”
“Dia? Maksudmu Kejora yang melakukannya?” tanya Zang agak terkejut.
“Dia melakukan itu karena dia pikir aku sakit. Jadi tidak sengaja dia memegang wajahku untuk memastikan.”
Zang mengangguk. Setelah menganalisa, Zang malah tersenyum penuh arti.
“Aku tahu sekarang. Kau bukan sakit tapi kau menyukainya, Nich.”
“Menyukai wanita itu? Aku?” Nicholas menunjuk dirinya sendiri.
“Memang siapa lagi. Buktinnya kau tersipu dan jantungmu berdebar hanya karena sentuhannya. Kalau tidak suka memangnya apalagi.”
Nicholas merotasikan mata. Memang perasaannya waktu itu memang tidak karuan hanya karena Kejora memegang wajahnya. Akan tetapi, semudah itu dia suka dengan Kejora?
“Dekati saja dia. Bukankah aku menyuruhmu untuk mendekatinya? Ciptakan suatu momen indah dengannya. Dia tidak bisa kau lupakan, itu tandanya dia memang takdirmu, Nich.”
Nicholas meneguk minuman sambil mengeluh. “Bagaimana aku mendekatinya? Kau tahu kan aku bukan pria romantis yang fasih berkata manis.”
“Kalau soal itu, asistenmu yang cerdas ini bisa membantu, Tuan,” sela Hans masuk ke ruangan. Membawa beberapa buku dan memperlihatkannya kepada Nicholas. “Saya sudah membawakan beberapa buku dan ini adalah cara jitu menaklukan wanita."
Nicholas mengambil salah satu buku. "Kiat-kiat menaklukan hati wanita. Kau mau aku membaca buku seperti ini? Yang benar saja."
"Semua ini memuat informasi penting tentang wanita. Mulai dari cara memahami hati wanita, bagaimana cara mengikatnya, bahkan sampai rahasia-rahasia detail tentang wanita, Tuan.”
“Hans, waktuku tidak selonggar itu untuk membaca buku receh seperti ini,” sangkal Nicholas.
“Benar kata Hans, cobalah dulu. Wanita adalah mahluk yang sangat sulit dipahami. Bibirnya berkata tidak, tapi dalam hatinya sangat bertolak belakang. Mudah marah, mudah tersinggung, kadang juga suka menuduh yang tidak-tidak. Intinya, kita sebagai pria harus ekstra sabar dan memahami setiap kemauannya.” Zang berkata demikian sambil berjalan menghadap jendela ruang kerjanya mengamati pemandangan kota dari atas.
Hans menyahut. “Benar, wanita itu kadang seperti singa, kadang juga menjadi kucing. Dan saat itu juga kita harus bisa beradaptasi dengan dengan perubahan perasaannya.”
“Kalian sangat fasih bicara tentang wanita, tapi kenapa sampai sekarang kalian tidak punya kekasih?" sindir Nicholas membuat kedua pria yang memberikan petuah tadi menatap sinis.
Zang mencebikkan bibir dan duduk Kembali di sofa. “Itu karena aku terlalu sibuk sampai tidak ada waktu untuk berkencan. Makanya tidak punya kekasih.”
“Sama. Aku juga sibuk untuk melakukan hal seperti ini,” tukas Nicholas.
Hans pamit menerima panggilan. Setelah selesai mendapatkan informasi, ia Kembali menghadap atasannya.
__ADS_1
“Tuan, saya dapat informasi kalau Nyonya datang ke rumah Anda. Dan sepertinya dia bertemu dengan Nona Kejora.”
Nicholas spontan menegakkan tubuhnya setelah mendapat informasi tersebut. Pasti ada sesuatu yang akan direncanakan oleh ibu tirinya itu. “Apa?”