
"Siapa aku? Harusnya aku yang bertanya padamu. Siapa kau?"
Pria bertopeng hitam itu membalas perkataan Kejora. Sementara Kejora mencengkeram gagang pintu dengan kuat. Terlampau takut dengan pria di depannya yang terlihat misterius.
"A-aku siapa juga tidak ada urusannya denganmu! Katakan dulu, kau siapa dan mau apa datang ke sini!" sentak Kejora.
Pria itu semakin menyeringai. "Aku siapa juga tidak ada urusannya denganmu. Sekarang yang aku tanyakan kenapa kau bisa ada di sini? Di mana dia?"
"Di-dia siapa? Aku tidak tahu apa maksudmu." Kejora menatap gugup.
"Apa jangan-jangan kau wanita pemuasnya Nich?"
Kejora menggeleng keras. Kejora berpikir keras kenapa pria di hadapannya itu sampai bisa mengetahui rumah ini milik Nicholas. Jangan-jangan pria itu hendak berbuat sesuatu yang jahat, pikir Kejora.
"B-bukan. Aku tidak tahu siapa Nich dan kau salah orang. Sekarang, kau pergi saja," usir Kejora.
"Kau berani mengusirku?" Pria itu menaikkan sebelah alis.
"Kenapa tidak?" Kejora bergerak untuk menutup pintu dengan cepat.
Namun, tenaganya tidak kalah kuat dibanding pria bertopi itu yang lebih dulu menghentikannya. Kejora masih berusaha untuk menutup pintu, tapi pria itu lebih dulu menghadangnya dan akhirnya pria itu bisa masuk ke dalam rumah.
"K-kenapa kau masuk! Pergi!" usir Kejora.
"Oh, my. Kau berani mengusirku, huh? Aku jadi penasaran siapa kau sebenarnya." Pria itu melangkah mendekati Kejora yang berjalan mundur menghindari.
"Jangan mendekat! A-aku akan berteriak kalau kau berani-berani mendekatiku!" teriak Kejora.
"Teriak? Ini kawasan sepi, kau mau berteriak? Siapa yang akan mendengarkanmu, Gadis Manis?"
Terlalu takut, Kejora secara diam-diam menghidupkan ponsel dan menghubungi secara acak nomor di teleponnya. Sementara langkahnya kian mundur seiring dengan pria misterius itu mendekatinya.
"J-jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!"
"Kenapa kau begitu takut? Bukannya kau di sini juga untuk menjual diri?" tukas pria itu.
"A-aku tidak seperti yang kau katakan! Berhenti!" Kejora semakin mundur sampai-sampai ia membentur meja belakangnya.
"Lalu apa gunanya kau di sini jika tidak melayani Nich? Nich bukanlah sekelas pria yang suka membawa wanita ke rumahnya dan kau adalah wanita yang bisa menginjakkan kaki di sini. Katakan, siapa kau sebenarnya," desak pria itu semakin mendekat.
__ADS_1
"Aku bekerja di sini. Bukan menjadi simpanannnya Nich!"
"Bekerja?" Pria itu terkekeh. "Bekerja apa? Melayani nafsunya begitu?"
Kejora menggeleng telak. Pegangannya pada ujung meja kian kuat tatkala pria itu semakin berjarak dekat dengannya.
"Aku jadi yakin bahwa kau memang ada apa-apanya dengan Nich. Bagaimana kalau kita sedikit bermain-main?"
Seringaian pria itu membuat Kejora semakin dilanda ketakutan. Lekas ia bergerak untuk menjauh dari sana untuk melarikan diri. Akan tetapi, gerakannya tidak kalah cepat dengan pria yang sekarang mencekal tangannya dan menyeret lalu menghempaskan tubuh Kejora di atas sofa.
"Akh!" jerit Kejora setelah tubuhnya dihempaskan dengan keras.
Pria itu berjongkok untuk menyamaratakan wajahnya dengan Kejora. Intens tatapannya sembari bergerak untuk mencengkeram dagu Kejora dengan kuat.
"Sepertinya kau masih muda, bisa jadi usiamu juga masih di bawahku. Hmm, ternyata seleranya lumayan juga," ujar pria itu.
"Lepaskan aku!" sentak Kejora.
"Hei, hei, calm girl. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya penasaran kenapa kau bisa meluluhkan hati pria kaku itu. Apa kau menggodanya dengan tubuhmu, huum?" Pria itu bergerak mengelus pipi Kejora dengan lembut yang langsung ditepis kasar oleh Kejora.
Kejora hendak bangun, tapi ditahan oleh pria itu. "Lepas! Menyingkir dari hadapanku!"
"Tidak akan." Pria itu mendesis. "Aku juga ingin mencicipimu sama seperti dia. Aku penasaran bagaimana rasa tubuhmu."
"Sombong sekali kau. Berani-beraninya menolakku si pria tampan ini. Tapi perlu kau ingat, aku tidak akan pernah melepaskanmu walau hanya sedetik! Ayolah, cantik. Menurut saja denganku."
Kejora menggeleng menghindari bibir pria itu yang hendak berlabuh di bibirnya. Kejora sekuat tenaga melawan pria itu namun pria itu mengangkat kedua tangan di atas kepala sehingga posisi Kejora semakin terhimpit.
"Berlagak sok jual mahal! Dasar! Pasti kau di sini juga sudah dijamah kakakku, kan? Kalau begitu aku juga mau menjamahmu!"
"Tidak! Aku mohon lepaskan aku! Aku tidak seperti yang kau bicarakan!" berontak Kejora.
"Omong kosong!"
Pria itu bergerak cepat mendekatkan wajah untuk mencium bibir merah milik Kejora. Kejora tidak mau kalah untuk meloloskan diri dari cengkeraman itu. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan pria yang ada di atas tubuhnya.
"Hentikan perbuatan kotormu itu, Steve!"
Kerasnya teguran itu sampai membuat Steve urung melakukan tindakannya. Ia melepaskan cekalannya di tangan Kejora lalu berbalik setelah tahu siapa yang tengah meneriakinya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, hah?" geram Nicholas memperhatikan Steve yang sebelumnya mengukung tubuh Kejora.
Steve melepaskan topi, lalu menatap kakaknya. "Aku ... hanya bercengkerama dengan wanitamu, Kak."
"Kenapa kau bisa ada di sini? Dan kenapa juga kau berpakaian serba hitam seperti ini, hah?" Nicholas menjinjing ujung baju Steve sambil berkata sengit.
"Ah, aku hanya tidak mau orang lain tahu saja kalau mau datang ke sini. Dan ternyata setelah sampai aku malah bertemu dengan wanitamu."
Nicholas menghela napas kasar. Beralih memperhatikan Kejora yang nampak ketakutan di sisinya. Kening Nicholas berkerut, menyadari adanya sesuatu yang tidak beres.
"Apa kau bilang tadi? Wanitaku?" ulang Nicholas.
"Iya. Dia di sini jadi simpananmu, kan? Tak kusangka ternyata seleramu lumayan juga, Kak." Steve terkekeh sambil merangkul bahu kakaknya.
Nicholas menepis tangan Steve di bahunya. "Singkirkan tanganmu. Dan perlu kau ingat bahwa dia bukan wanitaku."
"Bagaimana bukan? Lalu kenapa dia bisa di sini sementara kau saja tidak suka pada wanita? Aneh sekali." Steve tidak mempercayai ucapan kakaknya itu.
Nicholas merotasikan mata. Kembali menatap Kejora yang nampak tertunduk ketakutan. Sebenarnya tadi Nicholas sudah berada di kantor membahas masalah pekerjaan dengan Hans. Namun, secara tiba-tiba asistennya itu mendapatkan panggilan dari Kejora yang mencurigakan. Apalagi mendengar teriakan dan suara seorang pria.
Nicholas memutuskan untuk segera kembali ke rumah setelah mengetahui ada yang tidak beres. Dan pandangan pertama kali yang ia tangkap setelah datang ke rumah adalah Kejora yang sedang dikungkung oleh seseorang.
Awalnya Nicholas juga bingung siapa pelakunya, tapi setelah mendapatkan informasi dari satpam depan bahwa Steve sedang berkunjung maka Nicholas mengurungkan niat untuk menghajarnya.
"Dia bekerja di sini," tukas Nicholas. "Dan kedatanganmu seperti ini membuatnya ketakutan."
Steve menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Ah, jadi benar dia bekerja di sini. Eh, tapi bukankah waktu itu tidak akan mau membawa wanita lain ke rumah ini, tapi sekarang ...."
"Hentikan asumsimu itu. Katakan, untuk apa kau datang ke rumahku," ujar Nicholas.
"Hanya merindukan kakak sendiri masa tidak boleh?"
Kejora tidak tuli. Ia mendengar semua itu. Jadi, pria yang sudah membuatnya ketakutan itu adalah adik dari Nicholas?
"Rindu? Omong kosong. Pasti ada sesuatu yang lebih mendesak daripada rindumu itu. Aku tidak akan percaya," desis Nicholas meragukan.
"Hehe, jahat sekali kau, Kak. Sampai meragukan adikmu sendiri. Aku masih bingung, kalau bukan wanitamu lalu apa?" Steve memperhatikan Kejora dan Nicholas secara bergantian.
Setelah tahu, Steve segera menutup mulutnya histeris. "Astaga, apa jangan-jangan dia calon kakak ipar?!"
__ADS_1
.
Bersambung...