
Nicholas membanting pintu mobil keras seusai menemui Kejora di tangga darurat tadi. Nicholas merasa sakit hati karena sudah dihina dan diperlakukan seperti tadi. Baru kali ini Nicholas ditolak oleh seorang wanita.
"Tuan, bagaimana? Apakah ada kemajuan?" tanya Hans penasaran.
"Kemajuan apanya? Yang ada dia malah membuatku naik darah!"
"Bagaimana bisa? Tadi saja Nona Kejora mencari Anda. Artinya pasti dia ada sedikit rasa untuk Tuan, makanya menanyakan keberadaan Anda."
"Jika kau mengira dia berubah, maka kau salah besar! Apa kau tahu, dia bahkan memaki dan menghinaku tadi. Dia juga mengataiku penjahat dan menyuruhku pergi dari hidupnya. Cuih, lagipula siapa juga yang mau jadi bagian hidupnya!" sentak Nicholas kesal.
Hans terdiam.
Nicholas menggeram marah. Kepalanya mendidih marah dengan perkataan Kejora tadi.
"Katakan juga pada Zang bahwa aku tidak mau menerima sarannya lagi. Aku akan menghentikan semua pengobatannya. Tidak akan ada yang berhasil. Toh, aku akan tetap melupakan semuanya. Aku tidak mau terlibat apa pun dengan wanita itu lagi!"
"B-baik, Tuan." Hans mengangguk. Bergegas mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di sana. Berbincang-bincang singkat di sana.
Sementara Nicholas nampak memejam dengan kepala yang disandarkan. Sudah cukup ia membuang-buang waktu seperti ini tanpa ada hasil yang memuaskan.
"Tapi, Tuan. Bagaimana dengan bukti kekasih Nona Kejora yang keluar dari hotel itu? Bukankah Anda bilang akan mengirimkannya?"
Mata Nicholas membuka. "Hapus saja! Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Lagipula wanita itu juga tidak peduli dengan perkataanku. Biarkan saja. Aku tidak peduli!"
"Baik, Tuan."
Nicholas kembali memejamkan mata. Menenangkan pikirannya. Namun, tetap saja Nicholas merasa tidak terima dengan sikap Kejora yang begitu arogan kepadanya. Begitu banyak wanita yang menginginkannya, tapi hanya wanita itu yang berani menolaknya dengan terang-terangan.
"Tuan, sebelumnya saya sudah memberi tahu Anda mengenai cuaca malam ini. Dan sepertinya ... akan turun hujan."
Nicholas menatap ke luar jendela di mana awan hitam berkumpul menyimpan genangan air yang sebentar lagi akan meledak.
"Sial," umpat Nicholas. "Aku benci hujan."
Sementara di sisi lain, Kejora tengah berjalan dari koridor rumah sakit menuju ruang UGD tempat di mana neneknya berada. Kejora mendapatkan panggilan mendadak dari rumah sakit yang mengatakan bahwa neneknya berada di rumah sakit.
"Bimo, apa yang terjadi pada nenek?" tanya Kejora khawatir.
"Aku tidak tahu, Kak. Tadi waktu aku mau ambil minum, nenek sudah pingsan di dapur."
Kejora memeluk tubuh adiknya yang bergemetar. Tidak tega melihat raut ketakutan adiknya itu.
"Dok, bagaimana keadaan nenek saya? Dia baik-baik saja, kan?" Kejora gugup.
__ADS_1
"Ada penyumbatan di kepalanya sehingga membutuhkan tindakan operasi. Jika tidak segera dioperasi, maka kemungkinan terburuknya bisa menyebabkan kematian."
Jantung Kejora serasa berhenti berdetak. Tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangan mendengarkan bagaimana kondisi neneknya. Biaya operasi pasti sangat mahal dan Kejora tidak yakin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam.
"Apa ... tidak ada jalan lain selain operasi, Dok?"
"Itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawanya."
Kejora mengeluh. Memikirkan darimana ia akan mendapatkan uang untuk mengoperasi neneknya. Sementara uang miliknya tidak bisa membayar setengah dari biaya operasi itu.
"Kak, bagaimana ini? Kita kan tidak punya uang untuk biaya operasi," tukas Bimo memandang wajah kakaknya.
Kejora berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bimo. "Kamu tidak usah khawatir, kakak akan mencarikan uangnya. Tugas kamu hanya mendampingi nenek. Oke?"
Bimo mengangguk paham. Kejora bangkit dan mengambil ponselnya untuk menghubungi salah satu temannya untuk meminta bantuan.
"Halo Gita, apa kau sedang sibuk?" tanya Kejora.
"Tidak. Ada apa memangnya?"
"Jadi begini. Nenekku masuk rumah sakit dan perlu biaya untuk operasi. Bisa tidak kalau aku pinjam uangmu dulu? Aku janji, kok, bakal balikin uangmu lagi."
"Astaga, kenapa bisa masuk rumah sakit, Kejora? Apa keadaannya baik-baik saja?" jawab seseorang di seberang sana.
"Tapi maaf, Kejora. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Ini saja aku belum bayar uang kos. Aku benar-benar tidak bisa membantumu kali ini."
Kejora kecewa. "Ya sudah. Tidak apa."
Kejora menutup telepon dan sekarang bergantian untuk menelepon kekasihnya. Barangkali Finn punya uang cadangan untuk membantunya.
"Aku sedang sibuk, Kejora! Jangan hubungi aku dulu!"
Belum sempat bicara, telepon Kejora sudah dimatikan lebih dulu. Kejora mengeluh, tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Kekasihnya saja sangat sulit diajak komunikasi.
Tidak mau menyerah, Kejora berusaha mencari bantuan dari teman-temannya yang lain, tapi tidak ada satupun yang bisa membantunya.
'Ke mana lagi aku harus mencari bantuan, Tuhan?' gumam Kejora dalam hati.
Kejora meraba dalam tasnya. Tidak sengaja ia menemukan kartu nama milik Nicholas yang entah sejak kapan berada di dalam tas. Kejora menghela napas, tidak ada yang bisa membantunya meminjami uang lagi.
"Apa aku meminjam pada dia saja?" gumam Kejora. Merasa sedikit ragu jika meminjam uang kepada Nicholas.
"Tidak .... tidak! Bagaimana bisa aku meminjam uang padanya? Jelas-jelas tadi aku memakinya dengan kasar. Apa dia masih bersedia membantuku?"
__ADS_1
Namun, sepertinya tidak ada harapan lagi. Harapan satu-satunya ada pada Nicholas. Kejora merasa sedikit bimbang akan langkah apa yang harus dia ambil. Jika tidak segera operasi, neneknya akan semakin merasakan sakit.
Kejora menjilat ludahnya sendiri. Itulah perumpamaan yang pas. Kejora tidak bisa berkilah bahwa tidak membutuhkan bantuan Nicholas kali ini. Kejora harus sedikit tebal muka demi kesembuhan neneknya.
"Bimo, kamu tunggu di sini dulu. Kakak akan meminjam uang. Jangan ke mana-mana sebelum kakak kembali, oke?"
Bimo menggangguk paham. Melihat itu Kejora segera bergegas pergi untuk menuju rumah Nicholas.
Kejora memesan ojek online untuk mengantarkannya ke rumah Nicholas untuk meminta bantuan.
Keberuntungan sepertinya tidak berpihak padanya, tiba-tiba saja turun hujan deras yang membuatnya harus berteduh di halte bus dahulu. Kejora menepuk-nepuk bajunya yang basah akibat terkena rintik hujan tadi.
Selama satu jam penuh, Kejora berteduh dalam derasnya hujan, akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah Nicholas setelah hujan reda. Kejora segera bergegas pergi sebelum tengah malam datang.
Kejora menatap sebuah rumah di hadapannya. Ia memastikan alamatnya lagi. Setelah dirasa benar, Kejora segera berbicara pada satpam yang berjaga di sana untuk bisa masuk ke dalam rumah.
"Tidak bisa, Nona. Tidak boleh ada yang datang bertamu di jam malam seperti ini. Ini perintah dari tuan rumah," ujar satpam tersebut.
"Saya mohon sekali saja, Pak. Ini penting. Biarkan saya masuk. Saya mohon," pinta Kejora.
"Tidak bisa. Sekali tidak bisa ya tetap bisa. Nona bisa datang ke sini besok pagi saja."
"Saya mohon izinkan saya masuk, Pak. Saya bahkan punya kartu namanya, Pak. Saya ada urusan penting dengannya. Tolong bantu saya kali ini." Kejora bahkan menunjukkan kartu nama Nicholas kepada satpam tersebut.
"Kalau tidak, tolong panggilkan dia saja. Telepon dia sebentar, Pak. Ini benar-benar darurat!"
Satpam yang berjaga tadi nampak berpikir. Akhirnya ia mengambil telepon dan memanggil tuan rumah.
Kejora berharap semoga saja bisa bertemu Nicholas kali ini. Ia bahkan memejamkan mata semoga saja pria itu bersedia menemuinya lagi.
"Ada apa ini?" tanya Nicholas yang sudah sampai di gerbang.
"Nona ini bersikeras untuk menemui Anda. Sudah saya larang, tapi dia terus saja merengek."
Nicholas menatap Kejora sekilas. "Bukakan gerbangnya."
Kejora senang bukan main. Dia langsung masuk setelah gerbangnya di buka. Menghadap ke arah Nicholas yang nampak mengamatinya lekat. Kejora menarik napas dalam sebelum akhirnya ia berkata.
"Tuan Nich, saya minta maaf atas kelancangan saya tadi. Saya minta maaf atas kecerobohan saya dalam berucap. Saya berharap Anda masih mau membantu saya yang kesulitan ini. Saya bersedia melakukan apa pun asal Anda mau membantu saya," ujar Kejora bertubi-tubi sambil menunduk takut akan dimarahi.
Berbeda dengan Nicholas, pria itu hanya menatap Kejora dengan perasaan bingung. Wanita di depannya sangat asing. Apalagi dengan perkataan wanita itu, sama sekali tidak dia mengerti. Nicholas benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
"Kau ... siapa?"
__ADS_1
.