Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Tidak Akan Melepaskanmu


__ADS_3

"Jahat!" Kejora memukul dada bidang milik Nicholas dengan mata terpejam.


Nicholas yang berada di atas tubuh Kejora hanya diam terpaku ketika dadanya dipukul begitu kuat. Dirinya masih terkejut dengan gerakan tiba-tiba tersebut yang membuat tubuhnya limbung di atas wanita itu.


"Dasar, pria brengsek!" umpat Kejora.


Nicholas mengerutkan kening. "Kau memakiku?"


"Kenapa kau sama saja dengan pria itu, hah? Kenapa kau sama jahatnya dengan dia!"


"Ck, lepaskan genggamanmu di dasiku, sialan!" geram Nicholas berusaha meloloskan diri dari atas tubuh wanita itu.


Kejora menggeleng telak. "Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum menghajar wajahmu sampai babak belur!"


Nicholas berusaha menarik dasi yang digenggam oleh Kejora. Semakin tercekat napasnya ketika Kejora malah semakin kuat menariknya. Tanpa terkendali, dasinya kian ditarik sampai bibir Nicholas menempel di kening Kejora.


Nicholas seketika membulatkan mata. Segera menarik wajahnya sambil mengamati Kejora yang masih terpejam. Nicholas melepaskan dasi di lehernya dan lekas bangkit dari atas tubuh Kejora lalu mengusap kasar bibirnya yang menempel tadi.


"Kau!" sentak Nicholas. "Apa kau pura-pura mabuk untuk mengambil kesempatan, hah?"


Kejora tetap diam saja, tidak mengetahui bahwasannya Nicholas tengah syok sudah mencium keningnya.


"Bisa-bisanya aku mau membantumu. Kalau aku tahu modusmu sejak dulu, aku tidak akan sudi melakukan ini!" geram Nicholas yang segera berjalan meninggalkankan kamar.


Kejora tiba-tiba terduduk di ranjang dan menangis dengan kencang. Memang matanya masih terpejam, tapi Kejora masih ingat kejadian yang membuatnya sakit hati.


Tangisan itu membuat langkah Nicholas terhenti. Apalagi ketika mendengar curahan hati wanita yang sedang mabuk itu membuatnya terdiam.


"Kenapa kau sangat brengsek, huh?" gumam Kejora.


"Apa kau bilang?" Sebelah alis Nicholas terangkat.


Kejora bangkit dari ranjang dengan sempoyongan mendekati Nicholas yang berdiri di sana. Redup tatapannya tapi sebenarnya Kejora ingin memarahi pria di depannya yang ia kira adalah Finn.


"Kau itu sama saja dengan pria-pria lain di luar sana! Jahat dan tidak punya hati!" teriak Kejora.


"Apa kau tahu, aku sudah sangat mempercayaimu daripada orang lain. Tapi kenapa kau malah menyakitiku, hah? Kenapa?! Kenapa?!" Kejora memukul berulang kali dada Nicholas sambil terisak.


Nicholas menahan kedua tangan Kejora yang terus-terusan memukulnya. Menahan tubuh wanita yang terus menyerangnya itu. Perlahan-lahan tubuh Kejora merosot ke bawah masih dengan kedua tangan yang dipegang oleh Nicholas.


Kejora melanjutkan tangisannya. Ia begitu ingat dengan jelas bagaimana kekasihnya berjalan bersama wanita lain waktu di pusat perbelanjaan. Hati Kejora terasa sakit, bahkan rasa sakitnya sampai ke relung paling dalam.

__ADS_1


Nicholas memutarkan bola mata malas mendengar tangisan Kejora. Tidak mau mendengarkan lebih lama, Nicholas mengangkat tubuh Kejora dan membawanya ke atas ranjang lagi. Sewaktu Nicholas akan beranjak, tangannya lebih dulu dicekal sehingga dirinya terduduk di sebelah Kejora.


"Kenapa kau mengkhianatiku? Apa ini karena aku sudah tidak suci? Tapi bukankah waktu itu kau bilang tidak apa-apa meski aku sudah tidak perawan?" tanya Kejora.


Nicholas menatapnya singkat. Sementara Kejora nampak duduk dan menghadap ke arah Nicholas dengan wajah marahnya.


"Ternyata alasan dari hilangnya kabar darimu itu karena kau berselingkuh. Dasar, pria jahat! Aku membencimu!"


"Ternyata kau sama saja seperti si Nich Nich itu. Pria seperti kalian itu memang brengsek!"


"Apa?"


Nicholas menatapnya dengan sengit. Dirinya begitu tidak terima dikatai oleh Kejora. Mana ada orang yang bisa disamakan dengannya, tidak mungkin.


"Ya! Kau sama dengannya! Dia juga memaksaku dan mengusik kehidupanku! Dia merenggut mahkotaku! Dia ... dia ...."


Kejora tiba-tiba saja limbung ke depan dan dengan sigap mencegahnya. Kejora yang merasa bahwa dirinya sedang dipegang, secara tidak sadar malah mendekatkan diri dan menyandarkan kepala di dada bidang milik Nicholas.


"Apa kau ingin tahu siapa yang memperkosaku, Finn? Dia adalah Nich, pria yang kau temui waktu itu, pria yang kau agung-agungkan itu. Aku berbohong tidak mengenalnya waktu itu sebenarnya aku hanya berpura-pura tidak tahu. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak mengatakan nama Nich waktu itu."


Nicholas masih terdiam. Mencoba memahami kalimat rumit itu.


"Dia jahat, tapi dia selalu membantuku di saat kau tiada. Dia juga membantu pengobatan nenekku, dia juga membelikan sepatu kepada adikku, dia itu sebenarnya baik tapi jahat," sambung Kejora.


"Ya! Dia waktu itu memaksaku di tangga darurat, tapi sedetik kemudian dia lupa ingatan. Tapi untungnya dia mau membantuku meminjami uang, meskipun aku harus bekerja dengannya."


"Apa kau menyesal?"


"Menyesal?" Kejora membuka mata. Lalu menggeleng menatap Nicholas.


Nicholas hanya menatap datar wanita dalam pelukannya yang memejam itu. Tidak menyangka bahwa mabuk seperti ini juga ada gunanya. Ya meskipun tadi Nicholas sempat dimaki juga.


"Apa kau menyukainya?" tanya Nich penasaran.


"Menyukai siapa? Nich?"


Nicholas mengangguk. Dengan segera Kejora terkekeh.


"Tidak, aku tidak menyukainya sama sekali. Setelah hutangku lunas, aku akan pergi dari sini," balas Kejora.


Nicholas menyipitkan mata. Bergerak cepat mendorong tubuh Kejora di dadanya sampai Kejora terbaring di ranjang. Nicholas menepuk-nepuk bajunya yang kusut dan menatap sinis kepada wanita yang sempat bersandar di dadanya itu.

__ADS_1


"Dasar wanita tidak tahu diuntung. Sudah dibantu saja, masih berani memakiku," desis Nicholas. Segera mungkin ia pergi dari sana, meninggalkan Kejora yang tertidur di sana.


***


"Kakak ipar!" teriak Steve bangkit dari tidurnya.


Steve baru ingat semalam dia mabuk-mabuk bersama Kejora sampai habis tiga botol di ruang tamu. Pagi ini tiba-tiba dia teringat dengan Kejora, berpikir bagaimana nasib wanita itu sementara dirinya saja secara tidak terduga sudah berada di dalam kamar.


"Mau ke mana kau?" sahut Nicholas yang bekerja di dekat meja dapur.


Steve menghampiri kakaknya. "Kak, di mana kakak ipar?"


"Dia masih tidur," jawab Nicholas.


"Baiklah."


Steve segera bergegas menuju kamar Kejora tanpa sadar bahwa Nicholas ikut serta membuntutinya. Steve berdiri di sebelah ranjang sambil mengamati wajah Kejora yang nampak damai dalam tidurnya.


"Syukurlah kalau dia baik-baik saja," tukas Steve.


"Baik? Mabuk kau bilang baik? Katakan, kenapa kau bisa minum-minum kemarin malam, mengajak wanita itu lagi. Apa kau pikir itu perbuatan baik?" Nicholas menyahut.


Steve terkekeh pelan. "Kak, aku hanya membantu kakak ipar untuk tenang. Dia habis saja memergoki pacarnya berselingkuh di mall, ya wajar saja jika dia sakit hati."


"Lalu kau memilih mabuk sebagai jalan keluar?" sinis Nicholas.


"Ya, itu adalah salah satu cara untuk mengurangi rasa sakit. Lagipula aku tidak menyuruhnya minum, kok, dia saja yang memaksa."


Nicholas melipat tangan di atas dada. "Apa kau tidak berpikir seberapa bahayanya alkohol untuk tubuh?"


"Kak ... ah, sudahlah." Steve memilih menatap Kejora yang tertidur saja.


Nicholas pun sama menatap wajah damai wanita itu. Entah kenapa pagi ini belum ada tanda-tanda wanita itu akan bangun. Sementara rumah masih berantakan, perlu segera dibersihkan.


"Dia sakit hati melihat pacarnya berselingkuh, dan mungkin sebentar lagi akan putus. Aku kira dia punya hubungan denganmu, Kak. Padahal dia wanita yang imut dan tulus, tapi masih saja pria brengsek itu menyakitinya. Aku merasa dia sangat ideal untuk dijadikan pasangan," tutur Steve.


"Maksudmu?"


Steve menatap Nicholas dalam dengan senyuman manisnya. Sementara Nicholas nampak masih bingung menafsirkan makna dari senyuman itu.


"Kak, aku menyukainya. Bukankah kau tidak ada hubungan dengannya, berarti aku bebas dong kalau mau mengejarnya?"

__ADS_1


...


Baru bisa up satu hari satu bab doang 😭


__ADS_2