
"Bagaimana? Apa sudah ada solusi?" tanya Kejora mendekati Nicholas yang sedang duduk di sofa.
Nicholas menggeleng. "Belum ada kejelasan."
"Kenapa susah sekali mencari orang yang menyebarkannya?"
"Kemungkinan dia bermain halus," jawab Nicholas.
"Kenapa juga harus tersebar seperti ini. Kalau sudah seperti ini, semua pihak jadi kesulitan. Kau juga gusar menghadapi masalah di perusahaan. Image-mu di publik juga sudah buruk. Bagaimana caranya bisa membalikkan keadaan?" keluh Kejora menatap kosong ke depan.
Nicholas menatap kekosongan itu. Dia berpikir kenapa wanita itu malah sibuk memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Sementara di sini, Kejora juga orang yang lebih dirugikan.
"Apa kau tidak khawatir pada dirimu sendiri?" tanya Nicholas.
"Khawatir? Entahlah. Kadang kala aku merasa dihakimi orang sudah menjadi hal yang biasa. Dipandang rendah, dibicarakan banyak orang, diinjak-injak, sudah seperti alur lumrah dalam hidupku. Jadi aku bingung harus sekhawatir bagaimana lagi."
Nicholas menatap dalam-dalam. Melihat senyuman getir Kejora yang ditampilkan, membuat Nicholas sedikit merasa teriris. Nicholas memang tidak tahu apa yang dialami Kejora, tapi hanya dengan melihat bagaimana ungkapan kepasrahan itu membuat dirinya bisa masuk setengah dalam momennya.
"Kau tidak menyesal?" Penasaran Nicholas bertanya.
"Disesali pun, hal yang sudah terjadi tidak akan kembali seperti sebelumnya." Kejora kembali menjawab.
Nicholas masih diam memperhatikan. Menyelami kedua mata redup tersebut. Sebelum akhirnya pandangannya teralih ketika mendengar suara Hans menginterupsi.
"Tuan," panggil Hans.
Nicholas menoleh. "Duduk, Hans. Ada informasi apa?"
"Saya sudah dapat alamat pengirim rumor itu pertama kali, Tuan. Sebuah kantor redaksi kecil di pinggir kota."
"Benarkah? Kita harus segera ke sana, Hans." Nicholas bangkit dari sofa.
Hans mengikuti langkah Nicholas yang hendak keluar dari rumah. Sebelum itu Kejora mengikuti langkah mereka dari belakang dan memberikan ungkapan.
"Kalian hati-hati," peringat Kejora.
Nicholas mengangguk. Dengan segera ia keluar dari rumah untuk pergi menuju lokasi orang yang menyebarkan berita itu.
Butuh beberapa waktu untuknya sampai di tempat sesuai dengan alamat tadi. Nicholas turun dari mobil dan masuk ke kantor redaksi. Sebelum itu terdapat beberapa percakapan yang sudah diselesaikan oleh Hans, setelahnya Nicholas menuju ke lantai atas untuk bertemu dengan seseorang.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan dikemukakan oleh Nicholas kepada pimpinan redaksi tersebut. Masih belum ada kejelasan. Nicholas tidak mendapatkan apa pun.
Mereka hanya mengatakan bahwa mendapatkan kabar itu dari nomor asing dan langsung memasukkan ke dalam media. Tapi tidak tahu jelas siapa pemilik nomor asing tersebut.
Nicholas pulang dengan tangan kosong. Tidak mendapatkan kejelasan apa pun. Sekarang ia sedang menuju ke rumah karena sebelumnya mendapatkan telepon dari ayahnya.
"Bagaimana perkembangannya? Apa kau sudah tahu caranya membalikkan keadaan?" tanya Edwin berdiri menghadap ke depan jendela.
Nicholas baru saja sampai sudah dihadang pertanyaan seperti ini. "Belum."
"Bagaimana kau bisa seceroboh itu, Nich? Apa kau tidak memikirkan bagaimana dampaknya bagi perusahaan?"
"Pa, ini kecelakaan. Bukan murni aku mau melakukannya," sangkal Nicholas.
Edwin menoleh ke belakang. "Kecelakaan? Bagaimana bisa?"
"Aku dijebak oleh orang malam itu. Maka dari itu aku tidak sengaja meniduri wanita itu." Nicholas menjelaskan.
"Dijebak? Tapi siapa yang menjebakmu sampai seperti ini?"
"Untuk itu aku tidak tahu."
"Perusahaan sedang tidak kondusif. Selesaikan masalah ini secara cepat. Waktumu hanya tinggal beberapa hari lagi."
"Baik," jawab Nicholas.
"Dan wanita itu, apa dia menuntut pertanggung jawaban?"
Nicholas mendongak. "Tidak. Dia tidak meminta apa pun."
"Bagaimana dia akan meminta tanggung jawab, jika dia saja tinggal bersama Nicholas, Suamiku?" sahut Amor datang sambil membawa teh herbal untuk suaminya. Duduk di sofa sebelahnya sambil menatap remeh Nicholas.
Edwin tentunya merasa marah. "Apa? Tinggal bersama?"
"Benar. Wanita itu sekarang jadi pembantu di rumah Nicholas. Bagaimana dia mau meminta tanggung jawab, kalau tinggal dengan Nicholas saja semua sudah tercukupi?" Amor menambahkan.
"Nicholas, apa maksud semua ini?!" murka Edwin. "Usir dia. Beri dia sejumlah dan dan tinggalkan dia sekarang."
Nicholas menyipitkan mata. Menatap ayahnya yang berada di depannya. Bagaimana bisa Nicholas meninggalkan Kejora, sementara hanya wanita itu yang tidak bisa Nicholas lupakan. Nicholas masih membutuhkan Kejora untuk membantu penyembuhan dari penyakitnya.
__ADS_1
"Untuk kali ini tidak bisa." Nicholas menolak.
"Apa? Jadi kau lebih memilih tinggal bersama wanita itu?" Edwin berdiri mendekati putranya.
"Ada beberapa alasan, aku tidak bisa menyuruhnya pergi," jawab Nicholas tegas.
"Alasan apa lagi, Nich? Bukankah dia akar dari semua masalah ini? Kenapa kau malah mempertahankan orang yang sama sekali tidak menguntungkan bagimu?"
Nicholas menatap dalam. Tidak membenarkan. "Bukan salahnya, Pa. Kami dijebak. Tidak ada yang benar-benar salah di sini."
"Apa kau mulai menyukainya?" tebak Edwin tiba-tiba.
Nicholas terdiam ketika ditanya seperti itu. Ia menatap kedua mata ayahnya. Tidak memberikan jawaban apa pun.
"Perlu kau ketahui bahwa aku tidak akan merestuimu dengannya. Tidak peduli seberapa besar cintamu padanya, aku tetap tidak akan mengizinkan," tegas Edwin.
Nicholas masih membisu. Sebelum akhirnya ia memalingkan muka ke arah lain.
"Sekarang pikirkan saja cara menyelesaikan masalah ini sebelum waktunya berakhir." Edwin menatap putranya lekat.
"Saya tahu caranya, Om. Itu sangat mudah," sahut seseorang tiba-tiba datang dan bergabung di ruangan tersebut. Wanita tersebut bernama Rosea, wanita yang sebelumnya menjadi partner di pesta topeng Nicholas dulu tapi ternyata tidak bisa hadir.
Wanita bernampilan modis, tubuh bak seorang model berjalan memasuki ruangan. Kacamata hitam bertengger hidung mancungnya. Rosea baru saja kembali dari luar negeri dan mendapat kabar bahwa Nicholas terjerat skandal. Tentunya Rosea tidak begitu percaya dengan berita bodong itu makanya ia pergi ke rumah itu untuk meminta penjelasan.
"Rosea, sejak kapan kau kembali ke sini?" tanya Edwin terkejut.
Rosea membuka kacamata hitamnya. Berdiri bersejajar dengan Nicholas, meliriknya sekilas, lalu kembali menghadap Edwin yang bertanya kepadanya.
"Lama tidak berjumpa, Om," sapa Rosea. "Dan kau Nich, apa kau tidak mau memberikan sambutan kepadaku?"
Nicholas hanya merotasikan mata. Malas menanggapi. Rosea berdecak kesal menanggapi abaian itu. Nicholas masih saja sama, selalu dingin kepadanya.
"Saya punya sebuah rencana untuk menghentikan berita itu, Om. Dengan cara menghentikan isu dengan membuat isu baru," ungkap Rosea yakin.
"Maksudmu?" Edwin tidak tahu apa yang dikatakan oleh Rosea.
Rosea tersenyum. Menatap Nicholas di sebelahnya dengan tatapan dalam dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, senyum miring tidak pudar dari bibirnya.
"Bagaimana kalau kita umumkan saja ke media bahwa aku dan Nicholas sudah bertunangan?"
__ADS_1