
"Kakak ipar apa? Jangan berbicara sembarangan!" sangkal Nicholas.
Steve berdecak, menatap kakaknya yang seperti tidak terima dengan apa yang dia katakan. "Ya, terus apa? Jarang-jarang loh ada wanita di rumah ini. Apalagi kalian juga terlihat sangat serasi. Kalau dia bukan calon kakak iparku lalu apa?"
"Sudah kubilang dia bekerja di sini. Kenapa kau begitu keras kepala ketika diberitahu, hah?" Nicholas menyentil kening Steve yang mendekat padanya. Sementara Steve meringis mengelus keningnya.
"Ayolah, Kak. Jangan malu-malu begitu. Katakan saja bahwa dia itu adalah wanitamu, alias calon kakak iparku. Benar, kan?"
Nicholas merotasikan mata kesal. Terlebih ketika Steve menggodanya dengan menaik turunkan alis seraya merangkul bahunya akrab. Nicholas segera melepaskan rangkulan itu karena risih dengan kelakuan adik tirinya itu.
"Ck, sudah kukatakan bukan. Kenapa kau begitu memaksa, huh? Sudahlah, aku tidak mau meladeni omong kosongmu itu." Raut wajah Nicholas masam. Tidak suka dengan tuduhan Steve padanya.
"Astaga, Kak. Kau menolak tapi lihat, pipimu saja memerah malu. Kak, apa kau sedang salah tingkah?" goda Steve.
Kejora diam-diam mencuri pandang kepada Nicholas yang berada di sisinya. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu salah tingkah. Kejora pastikan bahwa pria itu hanya menggoda saja.
Nicholas menyipitkan mata. "Kau mau kuseret apa jalan sendiri?"
"Ow, ow, sabar dulu lah. Kenapa buru-buru begitu. Apa kau tidak sabar untuk berduaan dengan kakak ipar?"
Nicholas melipat tangan di atas dada sambil memalingkan wajahnya. Steve tidak ada habis-habisnya untuk menggoda dirinya. Sudah kebiasaan, tapi kali ini Nicholas merasa risih saja.
"Aku saja belum berkenalan dengan kakak ipar. Hai, kakak ipar. Namaku Steve, adiknya Kak Nich. Namamu siapa?" Steve menjulurkan tangan kepada Kejora.
Kejora menatap uluran tangan itu. Dirinya saja masih syok akan tindakan Steve kepadanya. Kejora merasa dibawa ke kejadian di masa lalu yang masih membekas dalam ingatannya.
Nicholas melirik. Hanya bungkaman yang dilakukan Kejora membuat Nicholas akhirnya menyahut uluran tangan Nicholas. Menggantikannya untuk bersalaman lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Sudah, kan? Pergilah," ketus Nicholas.
"Astaga, Kak, aku hanya mau berkenalan dengannya. Masa tidak boleh? Ck, tak kusangka pria kaku sepertimu bisa posesif seperti ini." Steve tersenyum menggoda.
"Kakak ipar, maaf tadi kalau perbuatanku membuatmu takut. Tapi percayalah, aku tadi tidak sungguhan, hanya mengetesmu saja. Apalagi setelah tahu bahwa kau wanitanya kakak, mana mungkin aku berani menyentuhmu."
Kejora mendongak ragu. Lalu menggeleng. "Iya, tidak apa-apa."
"Siapa namamu, Kakak Ipar?"
__ADS_1
"Namaku Kejora. Dan jangan memanggilku seperti itu. Sungguh, aku bukan kekasih kakakmu, aku hanya bekerja di sini." Kejora berusaha menjelaskan.
Steve mengangguk. "Maaf kalau awal pertemuan kita tidak menyenangkan seperti ini. Aku mana tahu kalau kakak menyembunyikan seorang wanita di rumahnya."
"Sudah kan berkenalannya? Sekarang pergi dari sini, Steve," usir Nicholas menarik tangan adiknya.
"Kenapa harus buru-buru, sih, Kak? Aku masih mau main di rumahmu. Memangnya ada masalah apa sampai-sampai tidak mau aku kunjungi, hah?"
"Masalahnya adalah kau sendiri!" sentak Nicholas. "Apa kau ingat waktu kau mengacaukan desain proyekku yang aku kerjakan selama tiga hari, hah? Bahkan aku sampai tidak tidur hanya demi menyelesaikannya!"
Malu, tapi Steve menutupinya dengan kekehan. "Ah, itu karena aku tidak sengaja menyentuhnya. Aish, kan itu sudah lama, Kak. Lagipula aku juga sudah membuatkanmu ulang proyekmu."
"Tetap saja, selama kau ada di sini aku merasa tidak aman. Tidak bisa, kau harus cepat pergi dari sini."
Nicholas berusaha menarik tangan Steve untuk dibawanya ke luar rumah. Akan tetapi, hal yang mengejutkan terjadi ketika Steve memberontak dan malah duduk di lantai sambil menahan kaki Nicholas untuk bergerak.
"Aaaa, Kak! Jangan mengusirku. Apa kau tidak merasa kasihan pada adikmu yang tampan ini, huum?" Steve mengedipkan matanya berulang kali sambil memanyunkan bibir.
Kejora yang masih hadir dan menyaksikan kejadian itu hanya merasa terkejut sekaligus tidak percaya. Pria yang tadinya membuatnya takut kini bertekuk lutut dan merengek layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
Nicholas bukannya luluh, malah menatap jijik tingkah adiknya itu. Lekas Nicholas menggerakkan kakinya supaya Steve menyingkir dari hadapannya.
"Kak ...! Izinkan aku di sini lebih lama lagi. Aku habis dimarahi mama, Kak. Aku butuh merefresh pikiran dan hanya rumahmu yang bisa menenangkanku. Please, Kak. Boleh, ya? Ya, ya?" rajuk Steve.
"Tidak akan, Steve! Cepat lepaskan kakiku!" Nicholas berusaha menarik kakinya yang dipeluk erat oleh Steve.
"Aaaa ... tidak, mau, Kak! Aku tidak mau melepaskan kakimu sebelum kau setujui aku ada di rumah ini!"
Semakin kuat tenaga untuk melepaskan, semakin kuat juga Steve memeluk kakinya Nicholas. Nicholas yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya menyetujui permintaan adiknya.
"Baiklah, kau boleh di sini."
Steve melepaskan pelukannya di kaki Nicholas. Menatap sang kakak penuh binar di mata. "Benar, Kak? Yes, akhirnya! Tapi aku pulangnya besok, ya?"
"Apa? Tidak bisa. Aku mengijinkanmu untuk sekedar main di sini bukan untuk tidur di sini," tolak Nicholas.
"Ayolah, Kak. Izinkan aku kali ini saja. Aku berjanji tidak akan merusak atau menyentuh barang apa pun di rumahmu. Aku bersumpah." Steve mengangkat satu tangannya seakan meyakinkan janjinya itu.
__ADS_1
Nicholas mengembuskan napas pelan. Malas berdebat lagi dengan adik tirinya. Sebagai jawaban ia hanya mengangguk sementara Steve sudah berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Benar, Kak? Yes! Akhirnya aku bisa menginap di sini!" sorak Steve bahagia.
"Ingat, jangan menyentuh barang apa pun milikku."
"Siap, Bos!" Steve memberikan hormat kepada kakaknya.
Nicholas menggelengkan kepala jengah. Pandangannya beralih kepada Kejora yang nampak masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Kalian berdua jangan membuat kekacauan di rumahku atau kalian tanggung sendiri akibatnya," tutur Nicholas sengit.
Steve tersenyum mendekati Kejora lalu merangkul bahu Kejora dengan akrab. Hal itu membuat Kejora sontak membulatkan mata kaget tapi tidak melakukan apa-apa untuk menghindar.
"Tenang saja, Kak. Aku berjanji tidak akan merusak apa pun barang milikmu. Kami akan berperilaku baik di sini. Kau bekerja saja di kantor dengan tenang. Tidak usah mengkhawatirkan kami. Benar begitu, kan, Kakak Ipar?" tanya Steve kepada Kejora.
Kejora hanya mengangguk sebagai jawaban. Beralih menatap Nicholas yang menatapnya dengan intens.
"Kan, kakak ipar saja sudah menyetujuinya. Kau jangan khawatir, Kak. Kami tidak akan membuat kekacauan."
Nicholas menatap sengit kepada adiknya yang sudah sok akrab itu. Terlebih dengan Kejora yang diam-diam saja ketika dirangkul seperti itu. Bukankah tadi wanita itu sangat ketakutan, tapi kenapa sekarang malah menerima rangkulan Steve begitu saja?
"Terserah," putus Nicholas beranjak dari sana untuk berangkat ke kantor.
Steve melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada Nicholas. "Da-da, Kak! Semangat kerjanya!"
Steve memastikan kakaknya itu pergi atau belum dari balik pintu. Setelah tahu sudah pergi ia kembali mendatangi Kejora yang masih berdiam di sana.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, kakak ipar?" tanya Steve.
"A-aku bukan kakak iparmu."
"Ck, iya atau bukan sama saja. Aku tidak peduli. Jadi, kita akan melakukan apa? Ee, bermain game apa menonton film saja?"
"Hah? A-apa?"
Kejora memandang tidak percaya. Namun, ketidakpercayaannya itu tidak ada gunanya ketika tangannya sudah ditarik lebih dahulu oleh Steve menuju ruang santai untuk menonton sebuah film.
__ADS_1
.