
Kak?! Bagaimana kau bisa ada di sini?" Steve mendekat ke arah sosok orang tersebut. Terkejut ketika kakaknya sudah ada di sana.
Nicholas melepaskan penutup mata yang ia gunakan ke atas meja. Tatapannya sinis melihat ke arah adik tirinya yang selalu menyusahkannya itu. Steve selalu bermain-main seperti anak kecil, dan tidak pernah serius untuk masuk ke perusahaan. Maka dari itu Nicholas terus berusaha membimbingnya, meskipun kadangkala kesal juga.
"Katakan, berapa wanita yang kau tiduri semalam?" selidik Nicholas dengan tatapan tajam.
Steve terkekeh, menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Tiduri apa, Kak? Aku tidak meniduri wanita mana pun."
Nicholas terdiam. Lantas menunjuk bekas kemasan alat kontrasepsi yang tergeletak di bawah sofa. "Lalu itu apa? Bungkus permen?"
"Hehe." Steve menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Hanya satu, Kak."
"Sikapmu yang seperti ini yang harus kau ubah. Kau itu sudah dewasa dan bukan saatnya untuk bermain-main seperti ini. Bermain wanita, bermain game, melakukan hal yang tidak penting seperti ini sangat merugikan," jelas Nicholas panjang lebar.
Steve berdecak. Bersandar pada bahu sofa sambil satu kaki di angkat ke atas meja. Merentangkan tangan lalu melihat kakaknya yang sangat serius itu.
"Kak, aku hanya menikmati masa mudaku saja," sangkal Steve.
"Nikmat yang akan membunuhmu di masa depan adalah akibat dari tingkah lakumu sekarang." Nicholas tidak kalah membalas dengan sengit.
"Ck, apa kau itu tidak pernah muda, Kak? Jiwa muda itu bergairah dan penuh kebebasan. Ah, pasti kau tidak pernah merasakannya kan? Kau kan orangnya kaku." Steve menyindir. Mengambil sebuah apel di meja lalu menggigitnya santai.
Nicholas memincingkan mata. Tatapannya tidak beralih kepada pria yang duduk di sebelahnya. Nicholas yang geram lantas mengambil apel yang dimakan oleh Steve dan meletakkanya di meja kembali.
"Kak ...!"
Nicholas berkata, "berhenti bermain-main, Steve. Apa kau tidak mau bekerja di perusahaan?"
"Sudah kukatakan aku tidak mau bekerja di perusahaan, Kak. Aku tidak suka dalam bidang itu. Aku ini ingin jadi pelukis yang terkenal. Bukan seorang pekerja kantoran kaku seperti Kakak," jawab Steve sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau begitu katakan pada ibumu kalau kau tidak mau bekerja di perusahaan." Nicholas menjawab dengan tegas.
Steve terkekeh. "Hehe, kalau itu aku tidak berani."
"Ibumu terus saja mendesakku kalau kau tahu. Dia bersikeras untuk memberimu posisi presdir. Apa kau tidak berani menolak permintaannya itu?"
Steve berubah posisi. Bersila di atas sofa sambil menghadap ke arah Nicholas.
"Kau tahu kan, Kak, kalau mama seperti apa. Aku juga sudah berulang kali mengatakannya, tapi dia masih saja ingin aku di perusahaan. Aku sudah berusaha, tapi ya tetap saja."
"Kalau begitu bicara yang tegas padanya, biar dia paham. Aku tidak bisa mentolerir tindakannya yang sudah mulai tidak tahu batasan," sinis Nicholas.
__ADS_1
"Iya, iya. Aku akan bilang lagi."
Steve mencuri-curi pandang kepada kakaknya yang nampak memakan apel bekas gigitannya tadi. Steve berusaha bersikap seimut mungkin untuk mendapatkan restu kakaknya. Satu tangan Nicholas yang menganggur Steve genggam, mengundang tatapan aneh dari Nicholas.
"Kak, boleh tidak kalau aku ganti mobil?"
Nicholas membulatkan mata kaget. "Apa? Bukannya mobil itu baru saja kau beli?"
"Ada versi lebih baru lagi, Kak. Kualitasnya jauh lebih baik dari yang sekarang. Boleh, ya? Bolehlah." Steve merengek seperti anak kecil dihadapan Nicholas. Berharap saja kakaknya bisa mewujudkan harapannya itu.
"Tidak," tolak Nicholas keras.
"Yah, Kak? Teman-temanku saja sudah semua punya mobil itu. Hanya aku saja yang belum punya. Kakak kan kaya, uang segitu saja pasti tidak ada apa-apanya. Bagaimana kalau aku direndahkan dan dibuang dari circle pertemannku?"
Nicholas menatap datar. "Biarkan saja. Sekalian dibuang ke sungai juga tidak apa-apa."
"Kak ...!"
Nicholas menatap aneh adik tirinya yang bertingkah layaknya anak kecil. "Lagipula kau itu, meskipun banyak uang pun harus bisa hemat. Jangan gunakan untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Mobil sebagus itu masih mau beli baru lagi. Utamakan fungsi bukan gengsi."
Steve berdecak. Lantas memalingkan muka merajuk ketika permintaannya tidak dituruti. Steve sebenarnya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas ternama. Meskipun begitu, sifat Steve yang kekanakan seperti itu tidak pernah hilang.
"Terserahku lah. Memangnya kau yang tidak pernah punya kekasih. Kak, aku katakan, ya, bahwa hidupmu itu sangat monoton. Tidak menyenangkan. Kau juga membutuhkan seorang wanita untuk menghidupimu, untuk melengkapi hidupmu. Apa kau tidak tertarik untuk memilih salah satu saja untuk dijadikan kekasih? Apa kau tidak punya nafsu atau semacamnya pada wanita?"
Nicholas menatap dengan seksama sosok adik tirinya yang berkata seperti itu. Tatapannya begitu dingin. Kedua alisnya saling berkerut memperhatikan bagaimana Steve berbicara. Nicholas sendiri hanya diam, sambil menunggu sekiranya kalimat apa yang akan keluar dari mulut adiknya.
"Tuan Muda," tegur Hans memecah keheningan. Ia tahu situasi ini sangat tidak baik.
"Kenapa? Bukankah aku benar? Kita kan hidup juga harus membutuhkan wanita," kata Steve masih bersikap biasa.
Nicholas duduk dari sofa dan menatap adiknya yang masih duduk di sana. "Baiklah, kalau kau sangat membutuhkan wanita. Hidup dengan wanitamu saja, tanpa meminta uang dariku lagi."
Setelah Nicholas mengatakan, ia langsung pergi dari kamar hotel itu tanpa kalimat tambahan lagi. Hal itu membuat Steve bingung sekaligus merasa curiga kepada kakaknya yang berkelakuan aneh itu. Steve lantas menatap Hans yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Kakak kenapa? Kenapa dia terlihat marah? Padahal kan aku hanya membahas soal wanita," tukas Steve.
"Ada baiknya Anda tidak membahas tentang wanita untuk sekarang. Tuan Nich sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk mengurusi hal sepele itu. Saya permisi," pamit Hans langsung melangkahkan kaki meninggalkan kamar hotel.
Steve menggaruk tengkuknya yang tidak gatal akibat bingung dengan sikap kedua pria yang sangat membingungkan itu. Dua pria yang sama-sama kaku dan tidak menyenangkan. Steve mengedikkan bahu acuh, lalu merebahkan diri di sofa dan melanjutkan gamenya yang tadi sempat tertunda.
"Lebih baik main game daripada pusing," gumam Steve sambil tersenyum.
__ADS_1
***
"Kak, terima kasih, ya, sepatunya! Bimo suka!" teriak Bimo antusias sambil memamerkan sepatu baru kepada Kejora.
Kejora yang waktu itu tengah mencuci piring di dapur langsung menghadap ke arah Bimo yang berada di dekat meja. Kejora bingung, pasalnya ia tidak merasa membelikan Bimo sepatu baru. Uang gajiannya belum turun dan rasanya Kejora tidak akan sanggup untuk membeli sepatu semahal itu.
"Kakak tidak membelikannya. Kakak belum gajian, Bimo. Lagipula ini pasti sepatu mahal dan kakak tidak akan mampu membelinya," tukas Kejora sambil membalik-balikkan sepatu itu mengecek.
Bimo tersenyum. "Ini pasti Kakak lagi pura-pura, kan? Bimo tahu. Pasti kakak mau memberikan Bimo surprise kan? Ayo, mengaku saja, Kak."
"Benar, Bimo. Kakak tidak berbohong. Kakak tidak membelikanmu sepatu."
"Lalu siapa? Apa nenek? Tidak mungkin kalau nenek, nenek tidak punya uang."
Kejora menghela napas. "Kamu menemukannya di mana sepatu ini?"
"Aku menemukannya di depan pintu waktu mau keluar tadi. Tadi aku dengar ada yang mengetuk pintu, tapi waktu itu aku buka tidak ada orangnya. Hanya ada sepatu ini," jelas Bimo.
Kejora merasa bingung. Siapa yang mengirimkan sepatu untuk adiknya? Misterius sekali.
Namun, melihat wajah sumringah dari adiknya membuat Kejora mengurungkan diri untuk mengatakan bahwa sepatu itu bukan dari dirinya.
"Tapi sepatu ini bagus, Kak. Sangat pas dengan kakiku. Aku yakin kalau pakai sepatu ini pasti tidak akan diolok-olok oleh temanku lagi." Bimo tersenyum antusias sambil mencoba sepatu baru yang sangat pas dengan ukuran kakinya.
Kejora mengangguk. "Benar, sangat pas dan sangat mahal."
"Jika seperti ini aku akan lebih semangat sekolah, Kak. Aku tidak akan dijauhi oleh teman lagi," kata Bimo sambil tersenyum dan akhirnya berlari dari arah dapur sambil memakai sepatu itu.
Kejora tanpa sadar menitikkan air mata. Ia tidak tega melihat antusias adiknya yang besar. Dia merasa tidak berguna karena menjadi kakak yang gagal.
Kejora masih memikirkan siapa yang mengirimkan sepatu tadi. Apakah Finn kekasihnya?
Kejora mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Finn. Namun, sama sekali tidak diangkat oleh pria itu.
"Sebenarnya kau itu ke mana, Finn? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Apa kau yang mengirimkan sepatu itu?"
..
Siapa nih kira-kira yang kirimin sepatu buat adiknya Kejora?
Tulis di komentar, ya..
__ADS_1