Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Menduga-duga


__ADS_3

"Untuk sementara, kalian bisa tinggal di sini sampai keadaan membaik."


Nicholas mengarahkan keluarga Kejora untuk tinggal di salah satu vila miliknya. Tidak ada pilihan, itu adalah tempat paling aman untuk saat ini dari jangkauan para wartawan yang haus informasi.


"Tidak apa-apa. Ini sudah lebih dari cukup," kata Kejora sambil menatap Nicholas. Sementara Nicholas hanya tersenyum tipis.


Ratih menyenggol lengan Kejora, tidak suka melihat senyuman itu.


"Bukan berarti karena ini aku memaafkan perbuatanmu terhadapku cucuku," sinis Ratih.


Nicholas paham. "Hans, antarkan mereka ke kamar."


"Baik, Tuan. Mari." Hans membawakan tas dan menunjukkan di mana letak kamar.


Nicholas beralih duduk di sofa sambil memperhatikan berita dirinya di media massa. Dia masih berpikir, cara apa yang akan ia lakukan untuk mengatasi masalah ini.


Kejora menatap iba. Dia mendekat dan duduk di sebelah Nicholas. Wajah pria itu nampak kesusahan.


"Bagaimana caramu menyelesaikan ini? Sekarang semua orang sudah tahu tentang rahasia ini. Siapa juga yang membocorkannya ke media?"


Nicholas melirik. "Jangan-jangan kau yang membocorkannya."


"Tidak." Kejora menggeleng. "Kenapa aku? Kalau aku mau, bukankah harusnya dari dulu sudah kubocorkan? Kenapa harus sekarang baru kubocorkan?"


Nicholas terkekeh melihat wajah panik itu. "Entahlah. Aku juga tidak tahu siapa."


Kejora merenung. Tiba-tiba teringat dengan Finn. Kejora dulu juga sempat menceritakan hal ini kepada Finn. Kemungkinan, pria itu yang membocorkannya.


"Apa mungkin Finn yang melakukannya?" tanya Kejora hati-hati.


"Kenapa kau menebak dia?"


"Karena aku dulu pernah bercerita kepadanya. Apa jangan-jangan memang dia yang melakukannya?"


Nicholas merotasikan mata. "Kalau memang dia, dari mana dia dapat video itu? Aku sudah mengamankan rekaman CCTV itu sebelumnya. Mustahil jika dia memilikinya."


"Benar juga." Kejora mengeluh.


Nicholas nampak berpikir. Waktu itu memang dirinya sudah mengamankan rekaman CCTV pada saat malam dirinya bertemu dengan Kejora. Satu-satunya bukti hanya berasal dari CCTV tersebut, dan Nicholas juga sudah menghapusnya sesaat setelah dia menyalinnya.


"Bisa kau ceritakan sebelum kau mengantarkan koper ke kamarku kau bertemu siapa saja?" tanya Nicholas.


"Waktu itu aku mau membersihkan kamar, tapi ada karyawan lain yang memintaku mengantarkan kopermu, karena dia ada urusan mendesak makanya aku menyetujuinya. Lalu aku datang ke kamarmu dan kau menarikku."


Nicholas mengangguk. "Apa kau kenal siapa dia?"

__ADS_1


"Kami tidak terlalu akrab."


"Sebab malam itu ada yang memberiku minuman yang kemungkinan sudah dicampur dengan obat perangsang. Kemungkinan itu sudah direncanakan sebelumnya. Mereka memang menargetkanku."


Kejora menutup mulutnya rapat-rapat karena terkejut dengan apa yang dia dengar dari Nicholas.


"Jadi, kau dijebak?"


"Benar. Aku dijebak. Dan kebetulan kau yang masuk ke kamarku."


Kejora menggeleng tidak percaya. "Tapi kenapa mereka melakukan itu?"


"Apalagi, Nona, kalau tidak mencari keuntungan dari Tuan Nich? Mungkin saja setelah berhasil dengan rencananya, dia akan mengaku hamil lalu meminta pertanggung jawaban atau kompensasi yang besar. Jelas saja dia akan untung," sahut Hans.


Steve yang dari tadi menyimak, membenarkan. "Aku setuju. Tapi kenapa kakak ipar yang ada di sana kalau memang semua itu sudah direncanakan? Maksudku kan seharusnya bukan kakak ipar, melainkan orang yang merencanakan tersebut yang seharusnya tidur dengan kakak."


"Kemungkinan dia juga dijebak," tutur Nicholas.


"Dijebak?" ulang Kejora.


"Benar. Orang itu memanfaatkanmu untuk mengantarkan koper ke kamarku padahal dia sudah tahu jelas bahwa aku sedang di bawah kendali obat." Nicholas menambahkan.


"Itu sangat ambigu, Kak. Bagaimana maksudnya kakak ipar dijebak? Kalau menurutku, itu bukan jebakan tapi ada kesalahan dalam rencananya sehingga rencananya gagal total." Steve menolak argumen.


"Maksudku memang seharusnya orang yang tadi merencanakan yang datang ke kamarmu, tapi kakak ipar datang lebih dulu dan kau menariknya. Jadi, dia yang seharusnya tidur denganmu malah terganti oleh kakak ipar. Intinya, rencananya digagalkan oleh kakak ipar secara kebetulan."


Kejora semakin tidak paham dengan apa yang ketiga pria itu katakan. Kapasitas otaknya untuk menampung argumen-argumen itu tidak begitu besar. Kejora hanya bisa menyimak dengan seksama.


"Apa mungkin manager hotel yang membocorkannya, Tuan?" kata Hans tiba-tiba.


"Pak Zein?" tambah Kejora. "Memang dia tahu dari mana?"


"Bukankah aku menyuruhmu mengambil rekamannya diam-diam waktu itu tanpa diketahui olehnya?" sahut Nicholas.


Hans mengangguk. "Benar, waktu itu saya menyuruhnya mengambil beberapa berkas. Lalu saya mencari rekaman malam itu, menyalinnya dan menghapus rekaman CCTV itu setelah selesai memindahkannya. Seharusnya dia tidak bisa melihatnya lagi."


Nicholas meraup wajahnya. Menghela napas dan bersandar pada bahu sofa sambil memejam. Begitu banyak orang yang diduga tapi belum ada petunjuk yang kuat untuk membuktikan. Sementara itu masalah di kantor juga terus menodongnya.


"Sebenarnya siapa dalang semua ini?" tanya Steve kesal.


"Saya kira, dia adalah orang yang juga berada di hotel, kemungkinan bekerja juga di hotel. Sebab dia tahu, kapan Tuan Nich akan menginap di sana dan dia memanfaatkan peluang itu," sahut Hans.


Nicholas membuka matanya perlahan. Menumpukan kedua tangan di bawah dagunya. Menyimpulkan sesuatu.


"Dia menargetkanku, tapi rencananya gagal. Dan kemungkinan, ini adalah bentuk tidak terimanya, jadi dia menyebarkannya untuk membuatku hancur," ungkap Nicholas yakin.

__ADS_1


"Bisa jadi dia terobsesi denganmu, Kak, tapi dia tidak bisa mendapatkanmu," imbuh Steve.


Nicholas menatap Hans. "Hans, ada info terbaru apa dari departemen teknologi?"


Hans menyeluarkan ponsel. "Ini, saya dapat info bahwa yang menyebarkan berita itu pertama kali berasal dari sebuah website kecil. Mereka masih mencari info lebih lanjut tentang ini."


"Katakan pada mereka untuk melacak di mana alamat pengirim berita itu."


"Baik, Tuan."


Kejora mengamati betapa bingungnya mereka menghadapi situasi ini. Masalah juga menghampirinya. Semua orang juga memberinya cap sebagai wanita kotor yang tidak tahu malu. Dan itu, cukup memberikan dampak besar bagi Kejora.


***


Selama berita masih memanas, Kejora tidak keluar dari vila dua hari ini. Dia masih berada di sana dan berdiam diri di rumah. Semua kebutuhan juga sudah disediakan. Maka yang Kejora lakukan hanyalah melamun sambil memikirkan kapan masalah ini selesai.


Ponsel Kejora berdering, dia segera mengangkatnya. Ternyata berasal dari rekan satu kerjanya dulu.


"Kejora, kau di mana? Apa kau baik-baik saja? Aku khawatir dengan keadaanmu?" ucap Vio.


"Aku baik-baik saja dan berada di tempat yang aman."


"Kau tidak ada di rumahmu?"


"Tidak. Di sana tidak aman, jadi aku pindah."


"Pindah, pindah ke mana? Apa kau di sana aman?"


"Aku aman di sini. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


Terdengar helaan napas di sana.


"Aku terkejut mendengar berita itu, Kejora. Aku kasihan padamu. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?"


"Itu hanya kesalahan," jawab Kejora.


"Sudahlah, yang penting sekarang kau aman. Jadi, kau tidak berada di rumah? Di mana tempat tinggalmu sekarang? Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin mendengarkan ceritanya darimu langsung."


"Aku aman. Di sini jauh dari jangkauan orang, pasti wartawan tidak bisa menemukanku. Kau tidak usah khawatir. Aku di sini baik-baik saja."


"Baiklah, kalau kau tidak ingin mengatakannya tidak apa. Eh, sebentar ya Kejora, aku tiba-tiba dipanggil. Nanti kita sambung lagi."


"Baiklah."


Kejora mematikan sambungan. Ternyata masih ada yang mengkhawatirkannya di suasana seperti ini. Kejora kira, semua orang menghakiminya, ternyata masih ada orang yang peduli padanya.

__ADS_1


__ADS_2