
“Pagi. Aku sudah menyiapkan sarapan.”
Kejora berdiri di sebelah meja makan. Pagi-pagi ia sudah datang dan menyiapkan makanan untuk Nicholas.
Nicholas berdehem. Mengambil sepotong roti sebagai sarapannya. Kejora menunggu Nicholas sampai sarapannya selesai dengan penuh senyuman. Teringat bagaimana Nicholas menyelamatkannya malam itu sungguhlah hebat.
“Apa kau tidak lelah berdiri saja?”
Nicholas mengamati Kejora yang hanya berdiri saja. Teringat dengan perkataan Zang yang menyuruhnya untuk mendekati Kejora. Nicholas jadi ragu, apa memang wanita itu bisa menyembuhkannya.
Kejora menggeleng. “Aku akan menunggumu sampai selesai sarapan. Tunggu, aku juga punya sesuatu untukmu.”
Nicholas melihat Kejora yang berlari kecil ke dapur dan membawa semangkok sup yang dihidangkan kepadanya. Kejora menatap masakannya penuh percaya diri, berharap semoga Nicholas akan menyukainya.
“Meski kau tidak suka masakan rumah, tapi kali ini aku membawakan sup kesukaanku. Resep ini sudah turun temurun dan rasanya tidak akan mengecewakan. Cobalah.”
Nicholas mencicipi sup tersebut dan menilai akan rasanya. Tidak buruk.
“Bagaimana? Bukankah rasanya sangat lezat?” tanya Kejora antusias.
“Hmm, lumayan.”
Kejora murung. “Apa kau tidak menyukainya? Kalau tidak, aku akan mengambilnya.”
Nicholas mencegah tangan Kejora yang hendak mengambil mangkok tersebut. “Tidak perlu. Aku akan menghabiskannya.”
Kejora mengangguk. Menatap Nicholas yang lahap memakan sup buatannya. Nicholas merasa dipandangi sedari tadi membuatnya kini menatap Kejora yang tersenyum melihatnya.
“Kenapa?”
Kejora duduk di kursi sebelah sambil menatap lekat lawan bicaranya. “Aku hanya berterimakasih kepadamu karena sudah menyelamatkanku malam itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang menyelamatkanku."
Nicholas hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Tapi kau bilang akan pergi dinas malam itu. Apa kau tidak jadi pergi karena aku?” tanya Kejora hati-hati.
“Masalahnya sudah selesai dan tidak perlu pergi.”
Kejora mengangguk. “Oh, syukurlah kalau begitu. Aku kira kau membatalkan pekerjaanmu demi aku. Kalau misal benar seperti itu, aku merasa sedikit bersalah.”
__ADS_1
“Kenapa?” Nicholas menaikkan sebelah alis.
“Ya, karena aku mengacau lagi. Aku selalu membuatmu kesusahan,” lirih Kejora.
“Sebenarnya sedikit membuat susah juga tidak apa,” gumam Nicholas memalingkan muka meminum gelas berisi susu.
“Apa?” ulang Kejora.
“Maksudku kalau kau sudah sadar kau sering menyulitkanku maka kurangi sikap cerobohmu itu. Apa kau pikir aku tidak Lelah menghadapi masalah yang kau perbuat?”
Kejora membenarkan. Selama ini memang ia merasa menjadi beban terhadap Nicholas yang selalu membantunya. Bahkan saat tak berdaya pun, Nicholas diam-diam memberinya pertolongan.
“Kau benar. Selama ini aku selalu membuat masalah dan menyulitkanmu. Maka mulai sekarang aku berjanji akan bersungguh-sungguh bekerja dan segera melunasi hutangku.”
Kejora menatap dalam Nicholas di depannya dengan senyuman. Nicholas merasa ada sesuatu yang berbeda terjadi pada dirinya ketika dia ditatap seperti itu, maka ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
“Tolong ambilkan minum,” pintanya.
Kejora heran. “Tunggu sebentar.”
Peluang itu dimanfaatkan Nicholas untuk menarik napas sedalam mungkin. Suhu tubuhnya mendadak meningkat Ketika Kejora menatapnya penuh makna. Nicholas sampai melonggarkan dasinya akibat merasa sesak. Namun, ia tidak tahu apa yang membuat tubuhnya merasa tidak enak seperti ini.
Kejora mengerutkan kening. Merasa ada sesuatu yang aneh dari Nicholas. Kejora memiringkan kepala untuk melihat apa terjadi sesuatu. Nicholas tanpa sadar menolehkan wajahnya dan keduanya bertatapan secara intens.
Nicholas membisu. Dalam jarak sedekat ini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik Kejora berada di depannya. Diam, meresapi apa yang ada di hadapannya.
Berbeda dengan Kejora yang nampak khawatir dengan keadaan Nicholas. Pasalnya wajah pria itu memerah dan bulir-bulir keringat mengalir di dahinya. Kejora panik, khawatir jika saja Nicholas terserang penyakit.
“Hmm, kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?” tanya Kejora sambil memegang pipi Nicholas.
Nicholas membulatkan mata. Merasakan sentuhan halus di pipinya. Sedetik kemudian ia tersadar dan langsung menepis tangan Kejora di pipinya dengan kasar. Kejora tentu saja terkejut. Memandangi Nicholas dengan aneh.
“K-kenapa?” Kejora heran.
“Tidak. Bukan apa-apa.”
Kejora merunduk lagi dan mengamati wajah Nicholas. Menunjuk pipi Nicholas yang sudah memerah seperti tomat. “Tapi wajahmu memerah. Apa kau sakit lagi? Seperti malam itu.”
Kejora menatap dengan lekat kedua mata Nicholas. Bingung dan khawatir jika saja Nicholas kesakitan seperti malam itu.
__ADS_1
Nicholas berdehem keras. Menggeser kursi yang ia duduki ke belakang lalu dia berdiri sambil menepuk jasnya yang lumayan kusut. Sebenarnya itu hanya pengalihan saja sebab kegugupan Nicholas sudah tidak terkendali.
“Kau, bisa tidak jaga jarak denganku?” sewot Nicholas.
"Kenapa?" Kejora bingung.
"Kau, wajahmu terlalu dekat denganku. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar karena kau menatapku sedekat itu," gugup Nicholas menjelaskan.
Kejora mengerjap. “Oh, maaf. Aku hanya khawatir saja kenapa wajahmu pucat. Aku pikir kau sakit.”
“Aku tidak sakit, oke. Dan jaga jarak denganku mulai dari sekarang,” pinta Nicholas sambil berkeringat dingin.
Kejora mengerjap bingung. Sebenarnya ia tidak paham dengan apa yang terjadi sekarang. Fokusnya masih terbagi Ketika melihat wajah Nicholas yang memucat. Kejora khawatir jika Nicholas sakit seperti malam itu.
“Tuan,” sela Hans.
Nicholas berdehem dan bergegas mendekati Hans. “Kenapa, Hans? Apa semua sudah siap? Kalau sudah ayo kita berangkat.”
“Berangkat ke mana, Tuan? Ini berkasnya sudah saya bawa. Bukankah tadi Anda minta semua berkas dikerjakan di rumah saja?”
Hans keheranan. Ia mendengar dengan jelas bahwa Nicholas memberinya tugas untuk membawa berkas ke rumah, tapi sekarang malah mengajaknya pergi.
“Berangkat ke mana saja. Aku tidak peduli. Pokoknya harus berangkat,” putus Nicholas yang langsung pergi dari sana.
Hans menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Ada apa dengannya? Bukannya tadi tidak mau ke kantor. Aneh.”
“Aku juga merasa seperti itu. Tiba-tiba wajahnya memucat. Waktu aku mau memeriksa dia malah marah-marah. Sepertinya dia sakit, Hans. Kau harus mengawasinya.” Kejora menyahut.
Hans mengangguk. “Tentu. Kalau begitu saya pergi dulu, Nona.”
Kejora mengangguk. Mengetahui Nicholas yang sudah pergi, ia membereskan sisa makanan dan mencuci peralatan dapur. Membersihkan rumah dan menata semuanya sampai rapi. Namun, tidak lama kemudian terdengar bel rumah berbunyi. Kejora bergegas membuka pintu dan mengamati wanita paruh baya dengan gaya sosialita berada di depannya.
“Permisi, Nyonya. Mau mencari siapa, ya?” tanya Kejora lembut.
Kacamata hitam yang bertengger di hidung wanita itu diturunkan. Rambut bersanggul tinggi dengan tas branded di tangan semakin menambah kesan arogannya. Wanita paruh baya itu beralih mengamati Kejora di depannya. Perempuan itu ternyata Amor, ibu tiri dari Nicholas.
“Siapa kau? Di mana Nicholas?”
..
__ADS_1