
"T-tanda terimakasih?" gugup Kejora menjawab. Ia masih tersihir dengan pesona wajah Nicholas dari dekat.
Nicholas menyeringai. Tanpa memutuskan kontak mata dengan Kejora, sebelah tangannya sudah merayap ke pinggang wanita itu lalu mengelusnya dengan perlahan.
Elusan itu bahkan terasa sangat lembut sampai-sampai Kejora tidak bisa merasakan pinggangnya sudah digerayangi oleh pria yang sudah memangkunya itu.
"Hmm, tanda terima kasih. Apa kau tidak mengingatnya? Apa perlu aku contohkan?" tanya Nicholas dengan suara serak.
Kejora masih tersihir dengan mata berwarna abu-abu milik Nicholas yang terlihat indah. Antara pikiran dan hatinya tidak sinkron. Kejora berpikir apa maksud dari permintaan Nicholas tadi yang sangat aneh. Tanda terima kasih apa?
"Tanda terima kasih apa?"
Nicholas tersenyum tipis. "Sama seperti yang kau berikan pada kekasihmu tadi."
Kejora sedikit lama mencerna ucapan itu. Akan tetapi setelah tahu maksud dari perkataan itu, Kejora langsung membulatkan mata kaget dan berusaha menjaga jarak dari Nicholas yang terus saja memegangi pinggangnya.
Kejora terus memberontak untuk bisa lepas dari cengkeraman itu, tapi kedua tangan Nicholas malah semakin mengukungnya.
"A-apa-apaan ini! Lepaskan!" bentak Kejora menggeliat ingin meloloskan diri.
"Aku belum menerima tanda terima kasihnya." Nicholas tersenyum culas.
"T-tanda terima kasih apa? Aku tidak mengerti! Lepaskan aku! Cepat lepaskan aku!"
Nicholas menolak. "Tadi saja kau menikmatinya, sekarang malah berlagak tidak mau. Aku jadi yakin di lubuk hatimu paling dalam, kau menyukaiku."
Kejora sampai tidak habis pikir dengan pria di depannya ini. Bagaimana bisa terlalu percaya diri bahwa Kejora menyukainya? Kejora sampai tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
"Aku tidak menyukaimu. Lepaskan aku!"
"Pilih kulepaskan dipecat, apa tetap di pangkuanku masih bekerja?" tawar Nicholas.
Kejora kehabisan akal. Kedua pilihan itu sangat sulit baginya. Bagaimana bisa dia memenuhi permintaan pria gila yang sekarang mengukungnya itu. Akan tetapi, ancaman itu terdengar mengerikan bagi Kejora.
"Lepaskan aku!"
"Berikan aku tanda terima kasihnya," desak Nicholas.
"Aku tidak tahu apa maksudmu!"
"Aku melihatnya waktu itu. Jangan berlagak tidak tahu." Nicholas menjawab dengan santai, tapi penuh penekanan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud! Cepat lepaskan aku! Lepas!"
Nicholas terus saja memperkuat tangannya yang memegang tubuh Kejora supaya tidak terjatuh dari pangkuan. Berbeda dengan Kejora yang berusaha melepaskan diri dari genggaman Nicholas. Nicholas sedikit meringis menahan sakit ketika tidak sengaja Kejora menyentuh adik kecilnya.
"Sial, kau membangunkannya," desis Nicholas.
Kejora mengerjap. "Membangunkan apa?"
"Adik kecilku."
"Adik? Tidak ada siapa pun di sini. Siapa yang bangun?" tanya Kejora polos.
Nicholas berdesis. "Pantas saja kau gampang dikelabuhi, ternyata kau sepolos ini."
"Aku tidak tahu maksudmu! Lepaskan aku, cepat! Lepas!" berontak Kejora lagi dalam pangkuan Nicholas.
"Jangan bergerak, sialan! Kau semakin membangunkannya!" Nicholas malah terfokus pada adik kecilnya.
"Makanya lepaskan aku sekarang!"
Pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba. Hans membulatkan mata ketika tidak sengaja menyaksikan adegan tidak senonoh yang dilakukan atasannya. Dia hanya berdiam diri sambil membisu melihat Nicholas yang memangku seorang wanita.
"Keterlaluan! Dasar, tidak sopan!" bentak Kejora. Menatap Nicholas dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Kau berteriak kepadaku, kupecat kau sekarang juga!" Nicholas tidak mau kalah.
"Aku rasanya ingin ... arghhh, terserah!" Kejora akhirnya berlari dari ruangan sana dan pergi sejauh mungkin. Malu dengan momen intim bersama Nicholas tadi.
Nicholas merapikan jasnya dan berdiri dari kursi. Mengamati wanita yang sudah berlari terbirit-birit dari ruangan. Nicholas berdecih, ia begitu muak berpura-pura seperti itu. Apa wanita itu pikir, dia benar-benar tertarik padanya? Yang benar saja.
Hans menahan senyumannya melihat ekspresi kesal dari Nicholas. Nicholas yang sadar sedang ditertawakan, langsung menoleh dengan cepat. Tatapannya terlihat sinis ketika Hans diam-diam menertawainya.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" sengit Nicholas bertanya.
Hans berdehem. Menggeleng. "Tidak, Tuan."
"Jika bukan karena saran Zang mana mungkin aku sudi berubah seperti ini. Apalagi kepada seorang wanita. Melakukan saja aku sudah merasa jijik!" keluh Nicholas sambil merapikan penampilannya. Seolah membersihkan noda dari wanita yang baru dipangkunya tadi.
"Anda harus sedikit bersabar, Tuan. Barangkali saran dari Dokter Zang bisa membantu memecahkan masalah yang bertahun-tahun ini belum menemukan solusinya. Anda harus bersabar sedikit lagi."
Nicholas berdecak. "Sabar? Hahah, sabar kau bilang? Aku harus bersabar dengan sikap tengil wanita itu? Ck, dia saja tidak mau tanggung jawabku untuk apa aku repot-repot mengejarnya?"
__ADS_1
"Tuan, ingat rencana awal kita. Jangan sampai karena ketidaksabaran Anda saat ini bisa merusak rencana yang sudah kita buat," cegah Hans.
"Hahah, aku tidak peduli! Terserah mau berhasil atau tidak yang jelas aku tidak mau lagi melakukan ini!" Nicholas bersitegas. Ia melangkah pergi setelah mengatakan hal itu kepada asistennya.
"Tuan! Tunggu, dulu! Anda harus bersabar sedikit lagi!"
"Tidak, Hans! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu! Katakan pada Zang, aku tidak sudi melakukannya lagi!" teriak Nicholas tegas. Ia tidak mau melakukan hal bodoh itu lagi.
***
Finn sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Masih terbayang dengan perkataan Kejora malam itu. Bagaimanapun Finn merasa kecewa karena kekasihnya diperkosa pria lain, sekaligus merasa kesal karena wanita yang ia jaga harus dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Finn berbohong dengan mengatakan akan membeli bahan makanan malam itu. Nyatanya, Finn pergi untuk menenangkan diri dari kenyataan yang ia terima. Finn menenangkan diri di sebuah taman kota dan kembali ke rumah hampir tengah malam.
Setibanya di rumah, dia sudah mendapati Kejora tertidur dengan pulas. Tidak tega ia menyelimuti tubuh kekasihnya dengan selimut yang masih tertata rapi di ranjang. Finn diam-diam mengamati wajah Kejora yang nampak lelah itu. Ada sedikit rasa di dada yang membuat Finn kecewa sekaligus sesak.
"Finn, dipanggil Bu Mega."
Finn mendongak. Ia segera bangkit dari kursinya dan menuju ruangan HRD tersebut. Sebelumnya ia mengetuk pintu untuk meminta izin.
Setelah mendapatkan sahutan dari sana, Finn segera membuka pintu ruangan. Disambut dengan Mega yang nampak sibuk dengan komputer dan beberapa berkas. Finn perlahan melangkah, menghadap wanita tersebut.
"Ada apa, Bu?"
"Duduklah," suruh Mega.
Finn duduk di kursi dengan kedua tangan yang bertaut di depan paha. Tidak biasanya ia dipanggil bagian HRD seperti ini.
Mega berjalan dari kursi kebesarannya dan mendekat ke arah pintu lalu menguncinya. Tersenyum tipis melangkah, lalu berjalan mendekati Finn dari belakang dan meraba dada pria itu dengan sensual.
Finn tentunya terkejut dan segera berdiri dari kursi. Menatap sosok wanita yang berani merabanya itu.
"Apa yang Anda lakukan?!"
Mega tersenyum seringai. Mendekati Finn dan menarik dasi pria itu sampai wajah Finn menunduk sejajar dengan wajah Mega. Bibir merah terang milik Mega menjadi pandangan pertama Finn setelah dirinya ditarik dengan paksa.
Finn terkejut. Ia tidak tahu apa maksud dari perbuatan ini. Akan tetapi sebagai pria, Finn cukup akui bahwa Mega memang menggoda.
Finn hanya bisa terdiam sambil menatap wajah wanita di depannya yang berulang kali bermain mata dengannya.
"Apa kau tidak mau naik jabatan, Finn? Aku bisa membantumu lebih cepat naik jabatan dengan mudah."
__ADS_1