Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Terbongkar


__ADS_3

"Pagi, Kak!"


Selesai membersihkan diri, Steve segera bergabung di meja makan untuk menyantap sarapan. Sapaan darinya sama sekali tidak diindahkan oleh Nicholas yang nampak nikmat menyantap makanannya.


"Astaga, kakak ipar, kenapa kau rajin sekali, hah? Pagi-pagi sudah menyiapkan sarapan," ujar Steve sambil merangkul akrab bahu Kejora.


Seketika pandangan Nicholas tersita kepada dua orang di sebelahnya itu. Apalagi melihat tangan Steve yang nampak mengelus bahu Kejora pelan. Nicholas jadi berpikir, kenapa wanita itu menjadi gampang dipegang sana-sini, sangat berbeda dengan cerita Hans kepadanya.


"Pantas saja kakak betah di rumah, ternyata ada kakak ipar yang super rajin sepertimu. Rasanya sudah seperti melayani suami sendiri, hah. Kan, kan?" goda Steve. Lekas melepaskan rangkulan dan segera duduk di kursi dekat Nicholas.


"Aku akan mencoba masakan kakak iparku. Hmm, mana yang harus kucoba dulu, hah? Astaga, aku sampai bingung mau makan yang mana dulu karena semua terlihat enak."


Setelah melewati beberapa pertimbagan, akhirnya Steve memilih satu masakan yang menurutnya menarik. Memakan satu suap dan menilai bagaimana rasa di lidahnya.


Kejora tersenyum menanggapi. Ia melihat ke arah Steve yang sedang merasakan masakan yang dia pesan sebelumnya.


"Astaga, rasanya lezat sekali, Kak. Pintar juga kau memasaknya. Ah, aku yakin. Pasti Kak Nich semakin betah di rumah karena masakanmu yang nikmat ini. Kak, pintar juga kau mencari calon istri." Steve menyenggol lengan kakaknya sambil tersenyum nakal.


Nicholas sinis. "Bisa tidak, tidak usah berisik?"


"Wow, jangan marah-marah dong, Kak. Ini masih pagi dan tidak baik di awali dengan marah-marah. Aku hanya memuji masakan kakak ipar saja, kenapa kau sangat sinis seperti itu?"


"Ee, tapi aku tidak memasaknya. Aku memesan dari restoran biasannya," sahut Kejora membuat Steve terdiam.


"Oh, jadi hanya pesan. Kukira masak sendiri."


Kejora hanya tersenyum sekilas. Menunggu mereka berdua selesai sarapan. Pagi-pagi tadi Kejora memesan makanan untuk sarapan di restoran tempat Hans memberitahunya dulu. Sesuai dengan peraturann, Kejora melakukannya.


"Kak, mama menyuruhmu untuk datang ke rumah."


"Untuk apa aku ke sana? Tidak ada hal yang mendesak," jawab Nicholas.


Steve mengurungkan niatnya untuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Lantas memandang sang kakak yang menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi.


"Astaga, Kak, apa kau tidak merindukan rumah? Kau tidak merindukan papa? Apa kau tidak rindu pada keluargamu?" tanya Steve tidak percaya.


Nicholas melirik. "Keluarga apa yang kau maksud? Keluargamu?"


"Ee, bukan begitu, Kak. Maksudku, kemarin saja kondisi papa sempat drop dan ya dokter ke rumah untuk memeriksanya. Mungkin dengan kehadiranmu papa menjadi sehat kembali," sahut Steve.

__ADS_1


"Bukankah sudah ada dokter yang membuatnya sehat?"


Steve meneguk ludah kasar. Susah sekali membujuk kakaknya untuk pulang ke rumah. Entah harus menggunakan cara apalagi supaya bisa membawa Nicholas berkunjung ke rumah, sementara sang kakak terus beralasan saja setiap diajak pulang.


"Haha, benar juga. Kan sudah ada dokter. Untuk apa membutuhkanmu," kekeh Steve hambar seraya memalingkan muka.


"Kak, aku boleh tidak pergi ke luar?" tanya Steve sambil menyumpalkan makanan ke mulutnya.


Sendok Nicholas yang hendak menyuap terhenti sejenak. "Mau pergi ya pergi saja. Untuk apa bertanya padaku segala?"


"Tapi aku akan mengajak——"


"Terserah apa katamu. Aku tidak peduli, Steve. Berhentilah bicara. Aku sama sekali tidak bisa menikmati sarapanku dengan baik," ketus Nicholas menjawab adiknya. Steve terlalu banyak bertanya, sampai-sampai membuatnya kehilangan nafsu makan.


Steve langsung terdiam. Ia dengan segera menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum kakaknya untuk mengeluarkan tenaga dalam untuk memukulnya.


Seusai sarapan, Nicholas segera bergegas berangkat ke kantor mengingat adanya rapat dengan klien untuk bekerja sama. Tidak butuh waktu lama Nicholas dengan gesit menyelesaikan pekerjaannya. Dan sekarang, ia berada di dalam mobil untuk kembali lagi ke kantor utama.


"Apa agendaku selanjutnya, Hans?"


"Ada pertemuan dengan ketua tim pemasaran kita, Tuan. Ada hal yang perlu dibahas."


Nicholas mengangguk. Kembali ia memeriksa gadgetnya untuk update mengenai informasi terbaru.


"Hans, katakan pada wanita itu bahwa tidak usah menungguku karena nanti malam aku tidak akan kembali ke rumah," ungkap Nicholas.


"Baik, Tuan. Tapi sepertinya Nona Kejora tidak sedang berada di rumah saat ini."


Alis Nicholas bertaut. "Ke mana wanita itu pergi?"


"Tuan Steve mengajaknya pergi, tapi dia tidak menjelaskan secara spesifik akan pergi ke mana, Tuan."


Pantas saja tadi waktu sarapan Steve sempat meminta izin untuk pergi, ternyata mengajak Kejora juga. Nicholas mengedikkan bahu acuh tak acuh, tidak mau memusingkan diri dengan ke mana dua orang itu pergi.


"Apa perlu saya menanyakannya, Tuan?"


"Tidak usah. Mereka sudah besar pasti tahu arah jalan pulang," ketus Nicholas.


Sementara di sisi lain, tepatnya di pusat perbelanjaan Steve nampak sedang memilah baju wanita bersama Kejora. Semenjak menapakkan kaki di sini, Kejora sudah merasa sukar tapi terpaksa karena Steve mengajaknya.

__ADS_1


"Menurutmu ini bagus tidak?" tanya Steve memperlihatkan dua gaun berbeda untuk dinilai.


"Tergantung mau diberikan kepada siapa, Tuan. Kalau orang tua agar terlihat elegan pilih yang hitam, kalau untuk pasangan bisa pilih yang warna putih agar terlihat cantik."


"Baiklah kalau menurutnya yang putih cocok. Mmm, akan kuberikan untuk kekasihku sebenarnya." Steve mengembalikan satu baju ke tempatnya. "Eh, jangan memanggilku Tuan, ya. Aku bukan tuanmu. Panggil aku Steve saja atau tidak panggil aku si tampan."


Kejora tersenyum kaku. "Haha, baik. Tuan——eh, maksudnya Steve, bagaimana kalau kita pulang saja? Aku masih ada pekerjaan di rumah."


"Ck, baru saja sampai masa mau pulang. Tenangkan pikiranmu. Kakak hari ini bekerja dan tidak akan pulang ke rumah. Jadi, hari ini kita bisa bermain sepuasnya."


Kejora menggeleng. "Tidak bisa, aku harus bekerja. Aku takut nanti dimarahi Tuan Nich. Ee, kalau tidak biarkan aku pulang dahulu dan kau bisa bermain di sini sepuasnya."


"Eh, eh, jangan pulang dulu lah. Kan aku mengajakmu untuk menemaniku. Urusan kakakku, nanti akan aku izinkan dengan asistennya. Kau tenang saja. Permisi, tolong carikan baju untuk nona ini!" Steve menyuruh pegawai toko untuk membawanya.


"Astaga, tidak usah. Tidak perlu." Kejora merasa tidak enak.


"Hustt, diamlah kakak ipar. Jangan banyak bicara dan ikuti saja rencanaku." Steve mengajak Kejora untuk berkeliling memilih makanan, sementara Kejora berulang kali menolaknya.


Kini keduanya berjalan beriringan dengan beberapa kantong belanja di tangan. Sedari tadi Kejora sudah merasa tidak enak mendapatkan perlakuan itu. Apalagi posisinya di sana dia hanya bekerja bersama Nicholas.


"Kak, apa kau mau mencoba permainan di sini?"


"Astaga, tidak usah. Aku tidak bisa."


"Ck, jangan malu-malu segala. Anggap saja ini hadiah karena sudah berhasil menerobos pertahanan kakakku. Apa kau masih mau baju? Atau sepatu?" sahut Steve.


Kejora menggeleng. "Tidak perlu. Tidak perlu lagi, sungguh."


"Jangan malu-malu kepadaku, kakak ipar. Anggap saja hari ini suasana hatiku sedang baik dan memberikan sedikit hadiah untukmu."


Kejora tidak bisa menerimanya lagi. Tadi saja dia sudah dibelikan sepasang baju dan beberapa tas. Kejora merasa tidak enak sudah merepotkan seperti ini.


Langkah Kejora seketika terhenti ketika melihat seseorang di seberang sana tengah merangkul seorang wanita. Kejora merasa sakit, apalagi melihat bagaimana mereka dengan romantisnya berjalan bersama.


"Kak, apa kau mau makan di restoran sana? Restoran itu sangat rekomendasi, ada berbagai macam seafood di sana. Kau——"


Perkataan Steve terhenti ketika Kejora tidak berada di sisinya. Ia berbalik dan mendapati Kejora hanya diam mematung sambil meratapi sesuatu di seberang sana.


"Kak? Ada apa denganmu?"

__ADS_1


**


Huu, maap baru bisa update, soalnya lagi sibuk di real life😭


__ADS_2