
"Nona, kenapa Anda bisa ada di sini?"
Kejora terkejut ketika mendapati Hans berada di depannya. Sebelumnya, Kejora sempat melihat dari kejauhan ke arah kamar Nicholas untuk memastikan sesuatu. Ketika ia sampai di halaman rumah, tidak sengaja bertemu dengan Hans.
"Mmm, aku tadi mau meminta bantuannya. Tapi dia malah tidak mengenaliku. Apa ada yang salah dengan otaknya? Apa sebelumnya dia kecelakaan lalu amnesia? Tapi tadi dia masih berbicara denganku, masa secepat itu lupa denganku," celetuk Kejora mengemukakan isi hatinya.
Hans menanggapinya dengan senyuman. "Memangnya Anda mau meminta bantuan apa, Nona?"
"Nenekku ada di rumah sakit dan membutuhkan uang yang banyak untuk operasi. Aku sudah berusaha meminjam kepada orang lain tapi tidak ada yang bisa membantuku. Jadi, aku berniat untuk meminjam uang kepadanya," jawab Kejora.
"Oh, seperti itu. Kalau begitu, mari masuk dulu, Nona," ajak Hans sambil menarik tangan Kejora.
"Eh, eh?"
Kejora tidak punya pilihan selain mengikuti ajakan itu. Ia berjalan di belakang Hans untuk datang ke kamar Nicholas.
"Tuan," sapa Hans.
Nicholas tidak sengaja menangkap bayangan seorang wanita di belakang asistennya. "Kenapa kau membawa wanita itu lagi, Hans? Usir dia!"
"Tuan, Nona Kejora sedang dalam kesulitan. Dia butuh biaya besar untuk membayar operasi neneknya," sela Hans.
Nicholas menaikkan sebelah alis. "Lalu apa hubungannya denganku? Yang sakit kan keluarganya, kenapa aku yang diberi tahu?"
"Tuan, maaf lancang. Tapi saya kali ini benar-benar membutuhkan bantuan Anda untuk meminjam uang. Saya bersedia bekerja dengan Anda sebagai ganti ruginya." Kejora menyahut dari belakang.
"Meminjam uang?" Alis Nicholas terangkat.
"Tuan, sebelumnya ini adalah Nona Kejora yang akhir-akhir ini ada di samping Anda. Anda berhutang budi pada Nona ini dengan sebuah rahasia. Rasanya membantu Nona Kejora untuk meminjamkan uang tidak seberapa. Lalu dia bisa kerja di sini untuk mengurus rumah sebagai gantinya," tukas Hans.
Kejora menatap tidak percaya. Akan tetapi, dia langsung menyahut ucapan Hans.
"Benar, Tuan. Saya bisa bekerja di sini untuk Anda sebagai gantinya," timpal Kejora.
Nicholas menyipitkan mata. Merasa ragu dengan kemampuan wanita itu. Tadi saja dia dibuat kesakitan tanpa alasan, sekarang malah ingin bekerja di bersamanya. Nicholas sangat meragukan wanita itu bisa atau tidak.
"Berikan saja, Nich. Toh, di rumah ini tidak ada pembantu sama sekali. Kasihan juga jika Hans harus bekerja lembur untuk membersihkan rumah." Zang menambahkan. Menatap Nicholas yang masih ragu.
"Terserahlah. Terserah apa katamu. Aku sedang pusing sekarang dan jangan menggangguku lagi!" seru Nicholas menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Baik, Tuan." Hans mengode Kejora untuk mengikutinya dari pergi.
__ADS_1
Kejora paham. Ia mengikuti Hans pergi dari sana dan berhenti tepat di bagian ruang tamu.
"Anda jangan khawatir dengan biaya pengobatan operasi nenek Anda, Nona. Tuan Nich akan membantu Anda."
"Terima kasih, Hans. Terima kasih karena sudah membantuku," jawab Kejora sambil menatap Hans dengan manis.
"Jangan sungkan." Hans tersenyum. Melirik arloji di tangan. "Saya masih ada urusan. Sepertinya saya tidak bisa mengantar Anda, Nona."
"Ah, tidak apa. Aku bisa pulang sendiri, kok," tukas Kejora.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Kejora mengangguk. Melambaikan tangan melihat kepergian pria yang baru saja membantunya tadi. Ketika ia hendak beranjak, seseorang menegurnya dengan keras.
"Nona, di mana Hans?" tanya Zang menuruni anak tangga.
Kejora berbalik. "Dia sudah pergi katanya ada urusan. Mmm, jangan panggil nona. Itu terdengar menggelikan. Panggil aku Kejora saja."
"Baiklah, Kejora."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Urusanku sudah selesai," pungkas Kejora melangkah.
"Eh, tunggu dulu." Zang mendekat. "Apa tidak sebaiknya kau menginap saja di sini? Sudah tengah malam, tidak baik seorang wanita pergi sendirian."
"Aku sudah menyuruh Hans untuk mengirim orang ke rumah sakit. Jadi, kau tidak usah khawatir akan kondisinya. Bukankah katamu kau akan bekerja di sini sebagai maid? Katakan saja bahwa ini adalah tugas pertamamu."
Kejora mendongak. "Begitu, ya? Ya sudah, aku akan tidur di sofa saja sampai besok pagi."
"Eh, kenapa di sofa?" cegah Zang melihat Kejora yang hendak beranjak ke sofa. "Ada kamar tamu di sebelah sana. Kau bisa memakainya."
"Oh. Kalau begitu aku akan tidur di sana." Kejora tersenyum. Berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan tadi. Sebelum ia sampai, Kejora sempat berbalik dan menatap sosok pria di sana.
"Apa dia baik-baik saja? Maksudku, tidak ada yang fatal, kan? Aku benar-benar tidak mencelakainya. Aku berkata jujur," ungkap Kejora.
Zang terkekeh. "Dia baik. Aku baru saja memberinya obat. Kau jangan khawatir."
"Cih, siapa juga yang khawatir. Aku begini karena tidak mau dia mengancam dan menjadikanku mainannya lagi. Siapa juga yang khawatir pada pria seperti dia?" gumam Kejora.
Zang masih bisa mendengar gumaman itu. Dia tersenyum menanggapi ketika Kejora melambaikan tangan kepadanya. Setelah memastikan wanita itu telah masuk ke kamar, Zang bersedekap dada sambil menggelengkan kepalanya heran.
"Apa pun makanannya, minumnya tetap ludah sendiri," ucap Zang sinis.
__ADS_1
***
"Zang! Di mana kau?"
Pagi-pagi Nicholas sudah berteriak nyaring sambil menuruni anak tangga. Pakaian formalnya sudah lengkap untuk masuk kerja hari ini. Sejak tadi ia bangun, sama sekali belum melihat batang hidung dokter pribadinya itu.
"Dia sudah pergi tadi," sahut Kejora mendekat.
Nicholas menyipitkan mata. "Kau? Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah sudah kubilang untuk pergi?!"
"Eee, itu ...."
Kejora menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Bingung harus mengatakan apa. Namun, hanya dengan melihat sorot mata tajam dari Nicholas sudah bisa ditebak bahwa kehadiran Kejora sangat tidak diharapkan.
"Tuan, maaf sedikit terlambat," sela Hans berlari dari arah pintu.
Nicholas beralih menatap asistennya yang berjalan tergesa-gesa. Mengembuskan napasnya jengah.
"Sudahlah. Ayo berangkat," ajak Nicholas.
"Tunggu!"
Kejora mendekat ke arah dua orang pria di depannya. Tepatnya menghadap Nicholas untuk meminta sesuatu.
"Apa aku boleh ikut menumpang kalian? Aku akan ke rumah sakit dan melihat kalian yang mau berangkat bekerja aku berniat untuk ikut. Apa boleh?" tanya Kejora.
"Bo——"
"Tidak!" sela Nicholas memotong jawaban dari asistennya.
Kejora melebarkan matanya mendengar penolakan itu. Ia menatap Nicholas yang memalingkan muka kepadanya.
"Jalannya searah dengan rumah sakit, Tuan. Saya rasa mengajak Nona Kejora serta juga tidak masalah," ungkap Hans.
"Benar itu. Bukankah lebih mudah kalau searah? Lagipula kan satu jalur." Kejora mengangguk membenarkan.
Nicholas menatap sinis kedua orang di antara hadapannya itu. Melipat tangan di atas dada memperhatikan dua orang yang sepertinya sudah sepakat untuk menentangnya.
"Apa kalian bersekongkol untuk menentangku? Lagipula bukan urusanku dia mau ke rumah sakit atau tidak. Dan juga kau, kemarin kau datang ke sini sendiri, bukan? Maka pergi dari sini juga harus sendiri," sinis Nicholas. Pria itu segera berjalan ke luar rumah untuk berangkat kerja.
"Tuan!" panggil Hans menyusul atasannya itu.
__ADS_1
Kejora mengulum bibirnya. Menghela napas sambil melihat ke arah pintu. Mendengar deru mobil yang perlahan mulai menghilang, Kejora lagi dan lagi menghela napasnya. Nicholas sangat berbeda dari waktu itu. Seperti tidak mengenalnya dan tidak peduli lagi. Perubahan itu membuat Kejora kebingungan.
"Dia lupa segalanya? Apa jangan-jangan dia sedang membalas dendam kepadaku?" gumam Kejora.