
"Katakan Kejora, apa benar berita itu? Banyak orang yang menanyakannya pada nenek hari ini, mereka semua mengolokmu. Apa benar itu kamu?" tanya Ratih begitu penasaran.
Kejora meneguk ludahnya kasar. Takut dirinya menjawab. Dia berjongkok di hadapan neneknya yang duduk di kursi, memegang kedua tangan renta itu.
"Maaf, Nek," jawabnya pilu.
"Bukan permintaan maaf yang nenek minta, Kejora. Tapi kejelasan tentang berita itu!"
Kejora mengangguk. "Benar, Nek. Kejora memang diperkosa."
Ratih langsung bangkit dari kursi dengan perasaan terkejut. Menatap Kejora yang masih bersimpuh di depannya.
"Apa? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya kepada nenek, Kejora? Apa kamu sudah tidak menganggap nenek bagian dari keluargamu lagi?" Amarah Ratih menggebu-gebu.
"B-bukan begitu, Nek. Hanya saja waktu itu Kejora takut untuk mengatakannya. Kejora takut nenek sakit mendengarnya," jawab Kejora sambil menatap lekat.
"Apa kamu pikir sekarang nenek tidak sakit? Apalagi sekarang semua orang sudah tahu tentang aibmu dan mereka mencelamu, Kejora. Apa kamu tidak memikirkan sampai situ?"
Kejora menunduk sambil terisak. Sudah terlambat. Semuanya sudah terbongkar. Berita tentang dirinya dan Nicholas di hotel sudah tersebar di mana-mana. Dan entah siapa yang menyebarkan rahasia itu.
"Maaf, Nek." Kejora terisak, mencoba memegang tangan Ratih, tapi dilepaskan begitu saja.
Ratih memalingkan muka, membelakangi Kejora. Pikirannya begitu kacau dan masih tidak percaya dengan berita buruk tentang cucunya itu. Diam-diam ia meneteskan air mata.
"Apa kau sampai hamil anaknya?"
Kejora menggeleng cepat. "Tidak, Nek. Aku tidak hamil anak pria itu."
"Apa jangan-jangan kau sudah menggugurkannya?" sambung Ratih.
"Tidak, Nek. Aku bersumpah tidak melakukan hal itu. Aku benar-benar tidak hamil."
Ratih memijit pelipisnya. "Lalu bagaimana dengan pria itu? Apa dia memberimu pertanggung jawaban? Apa kau kenal siapa pria itu?"
"Dia orang yang sama dengan orang yang membiayai biaya pengobatan nenek selama ini."
Ratih spontan membulatkan matanya. Kaget. Benar-benar tidak percaya. Jadi, selama ini uang itu dari hasil meminjam dari seorang pria yang sudah memperkosa cucunya sendiri?
"J-jadi selama ini kamu meminjam uang kepadanya? Pria yang memperkosamu?"
Kejora mengangguk. "Tidak ada jalan lain, Nek. Aku meminjamnya waktu itu karena tidak ada orang lain yang bisa membantu."
"Astaga, Kejora," keluh Ratih. Mendekati Kejora, memegang pundaknya. "Selama ini kamu bekerja dengan pria yang membuatmu hancur? Demi nenek?"
__ADS_1
Kejora lagi dan lagi hanya bisa mengangguk. Ratih tidak bisa lagi membendung air matanya. Memeluk Kejora dengan erat. Merasa bersalah karena dirinya semua masalah ini bermula.
"Maafkan nenek, Kejora. Gara-gara nenek kamu harus berhadapan dengan pria itu lagi. Pasti kamu sakit selama ini," ungkap Ratih.
"Tidak apa-apa, Nek. Dia juga tidak terlalu jahat, dia sudah membantu kita."
Ratih menguraikan pelukan. "Tidak jahat bagaimana? Orang kaya seperti dia memangnya mau memberi pertanggung jawaban? Tidak akan. Kita tidak sederajat dengan mereka, Kejora. Apa dia memiliki rasa bersalah sudah memperkosamu? Apa dia mau bertanggung jawab?"
Kejora diam saja. Lebih tepatnya teringat Nicholas.
"Orang kaya seperti mereka hanya akan menganggap kita sampah, Kejora. Mereka tidak akan peduli pada debu kecil seperti kita. Sebelum semua ini semakin parah, ayo kita pergi dari kota ini dan semuanya akan selesai. Nenek tidak mau kamu terus-terusan dipermainkan oleh mereka." Ratih menarik tangan Kejora. Kejora menahannya.
"Pergi? Pergi ke mana, Nek?" tanya Kejora bingung.
"Yang jelas pergi dari sini sebelum semua semakin keruh. Cepat kemasi barang-barangmu dan kita pergi." Ratih bersikeras. Sedang Kejora malah diam mematung.
"Kejora, kenapa diam saja? Ayo kita bersiap-siap."
"Tapi, Nek ..."
"Pergi ke mana? Kalian mau ke mana?" sahut seseorang yang tidak lain adalah Steve. Setibanya dia di rumah Kejora, dia terkejut mendengar pembicaraan Kejora dengan neneknya yang mengatakan akan pergi dari rumah.
"Kau siapa? Kenapa kau ada di sini?" tanya Ratih.
"Jadi kau adiknya pria bajingan itu? Katakan pada kakakmu bahwa jangan mengganggu cucuku lagi, aku akan membawa Kejora pergi dari kota ini," jawab Ratih sengit.
Steve langsung membulatkan mata. Mencari akal untuk menghentikan rencana itu.
"Tunggu dulu, Nek. Ke mana kalian akan pergi dalam keadaan genting seperti ini? Kalian tidak boleh pergi. Di luar tidak aman," cegah Steve.
"Nek, aku masih punya hutang padanya. Kejora tidak bisa pergi. Dan juga, bagaimana dengan sekolahnya Bimo?" Kejora menimpali.
"Biar nenek yang mengurus semuanya, yang terpenting sekarang kita harus pergi dari sini sebelum dihakimi warga." Ratih terus bersikeras untuk pergi. Menarik tangan Kejora untuk mengemasi barang-barangnya di dalam kamar.
Steve kebingungan. Dengan panik, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi kakaknya untuk segera ke rumah Kejora.
"Kak, cepat ke sini. Kakak ipar berniat pergi dari kota. Kau harus segera ke sini!"
Steve kalut, bingung mau melakukan apa untuk menghentikan Kejora pergi dari rumah sebelum kakaknya datang. Lebih kalut lagi ketika neneknya Kejora mulai mengeluarkan satu koper dari dalam kamar.
"Nek, tolong dengarkan saya dulu. Ini ada kesalah pahaman," tutur Steve.
"Sudah, jangan menggangguku. Cepat pergi dari sini!" Ratih masuk ke kamar lagi. "Kejora, cepat kemasi barangmu! Bimo, kemasi barangmu juga!"
__ADS_1
Steve gusar. "Astaga, Kak. Kapan kau akan sampai, hah?"
Semua tas sudah terkumpul di depan kamar. Steve sudah melakukan berbagai cara untuk menghadang mereka, tapi tetap saja dia kalah.
"Ayo, Kejora," ajak Ratih.
"Tapi, Nek..."
"Tidak ada tapi-tapi, ayo kita pergi."
Steve menahan tas yang akan dibawa oleh Ratih. "Tunggu dulu, Nek. Sebentar saja. Kalian jangan pergi."
"Lepaskan tanganmu! Bukankah sudah kubilang untuk pergi, hah?!" Ratih murka.
"Semenit, Nek!" ulang Steve.
"Kalian mau pergi ke mana?" sahut Nicholas yang mendengar suara keributan dari dalam. Setelah dikabari, ia langsung bergegas ke rumah Kejora.
Ratih menaikkan sebelah alis. "Kau yang memperkosa cucuku?"
Nicholas merendahkan tatapannya. Mendekat dengan pelan. "Saya minta maaf."
"Hhh, minta maaf? Kau pikir minta maaf bisa mengembalikan kehormatan cucuku?" tolak Ratih mentah-mentah.
"Saya mengaku, semua ini murni kesalahan saya sendiri. Tapi dengan keadaan sekarang, kalian akan pergi ke mana? Di depan ada banyak wartawan dan kalian hanya akan dikepung pertanyaan oleh mereka. Apa kalian bisa menghadapinya? Apa kalian sanggup? Pergi dari kota bukanlah jalan satu-satunya." Nicholas menambahkan.
Steve yang sudah mengintip dari jendela membenarkan. "Benar. Di depan sudah banyak wartawan. Bagaimana ini?"
"Kita pergi lewat jalur belakang. Kau Steve, bimbing mereka keluar lewat pintu belakang. Di sana sudah ada mobilku yang siap membawa kalian. Sementara itu aku akan mengalihkan atensi wartawan dan kalian bisa pergi diam-diam," tutur Nicholas.
Steve mengangguk. "Baiklah. Ayo, Nek, kakak ipar kita pergi."
Ratih masih ragu.
"Nek, kita ikuti saja mereka," sahut Kejora.
"Benar, Nek. Kakak itu baik. Dia menolong Bimo juga." Bimo menambahkan.
"Kali ini saja, ijinkan saya membantu." Nicholas juga ikut menyahut. Mencoba memberikan kepercayaan kepada neneknya Kejora.
Ratih terpaksa untuk ikut. Dimbimbing Steve mereka keluar lewat pintu belakang rumah dan diam-diam masuk mobil yang dikendarai oleh Hans. Sementara Nicholas sibuk mengalihkan atensi wartawan supaya tidak menghambat rencananya. Sebelum itu dirinya sudah menelepon Zang untuk menjemputnya dan keluar dari lautan manusia yang menudingnya itu.
Nicholas membelah kerumunan dan masuk ke mobil Zang dengan napas lega.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga, Zang. Aku sesak napas menghadapi mereka. Sekarang, ayo kita ikuti Hans."