
“Jadi sekarang hanya dia yang kau ingat?”
Nicholas mengangguk sebagai jawaban. Malam ini ia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Nicholas tidak bisa melupakan Kejora dari ingatannya.
"Aneh. Setelah bertahun-tahun lamanya kita mencoba mengembalikan memorimu, baru sekarang hal itu bisa berhasil," kata Zang.
"Tapi bukankah kalian dulu juga pernah bersama? Waktu itu kau melupakannya. Kenapa sekarang kau tidak bisa melupakannya, Nich? Harusnya kalau memang dia wanita yang kita cari selama ini, bukankan harusnya dari dulu kau juga tidak melupakannya?"
Zang duduk di hadapannya menggeleng tidak percaya. Sebelum Nicholas Kembali ke rumah, ia mengantarkan dahulu Kejora sampai rumah dengan selamat. Baru setelahnya ia kembali dan berkonsultasi dengan dokter pribadinya mengenai amnesianya.
“Apa sebelumnya ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua? Misalnya sesuatu yang membuatmu berdebar atau kontak tubuh dengannya.”
"Kontak tubuh?"
"Benar, seperti kalian berpelukan atau bahkan mungkin ... berciuman?" Zang hati-hati pada kata terakhir.
Nicholas ingat, sebelumnya memang ia memeluk Kejora sebagai pelampiasan rasa kesalnya karena terus membuatnya terjerat masalah.
“Sebenarnya kami sempat berpelukan,” ucap Nicholas.
“Berpelukan?” Zang terkejut.
Nicholas mengangguk santai. Berbeda dengan Zang yang malah tampak antusias dengan cerita dari Nicholas.
“Apa mungkin dengan keintiman kalian itu membuatmu tidak bisa melupakannya?" tebak Zang.
Nicholas mengedikkan bahu. "Entahlah."
Zang mengelus rahangnya. Mencari solusi dari kasus yang ia hadapi sekarang.
"Kalau memang benar, sekarang aku sudah tahu obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan amnesiamu, Nich.”
Nicholas menaikkan sebelah alis. Belum paham dengan maksud perkataan Zang. “Apa?”
“Tentu saja wanita itu obatnya.” Zang mendekat. Mendekati Nicholas yang tampak bingung dengan perkataannya.
“Sekarang hanya dia yang tidak bisa kau lupakan. Bisa jadi kunci dari permasalahanmu adalah dia, Nich. Dia bisa menyembuhkanmu.”
“Dia? Apa kau bercanda?” remeh Nicholas. Wanita itu? Rasanya tidak mungkin.
“Kenapa tidak? Kalau bukan perasaanmu terikat terlalu jauh padanya, mana mungkin kau rela mengabaikan hujan dan memillih membantunya waktu kesulitan? Kau bukanlah Nich yang tidak peduli dengan orang lain lagi, kau berubah. Dan alasanmu berubah karena wanita itu, Nich.”
“Zang, aku membantunya karena dia hampir saja diperkosa oleh mantan pacarnya, bukan karena aku menyukainya.” Sangkal Nicholas menolak argumen dari Zang. Ia menyangkal dengan tegas apa yang diasumsikan kepadanya.
__ADS_1
“Kalau kau tidak menyukainya, untuk apa kau peduli dia diperkosa atau tidak? Nicholas yang dulu bukanlah orang yang rela membuang waktu demi ikut campur dengan urusan orang lain.”
Nicholas terdiam. Meresapi apa yang dikatakan oleh Zang kepadanya. Kalau dipikir lagi, Nicholas memang terlalu berlebihan. Secara tidak sadar dia rela tidak pergi dari kota dan mengabaikan hujan demi menyelamatkan seorang wanita yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Apa mungkin Nicholas memang benar-benar menyukainya?
“Dia bisa jadi kartu as kita, Nich.” Zang melirik Nicholas.
“Maksudmu?”
“Maksudku adalah mulai sekarang kau harus selalu melakukan kontak tubuh dengannya, menjalin keakraban untuk bisa lebih dekat dengannya. Intinya kau harus selalu bersamanya agar aku bisa tahu apakah memang dia orangnya. Kalau memang dia, bukankah itu menguntungkan bagi kita? Penawar dari penyakitmu sudah ada di depan mata, Nich.”
“Maksudmu … kau mau aku mendekatinya?”
Nicholas membulatkan mata ketika melihat Zang mengangguk. Tidak menyetujui saran yang diberikan untuknya. Lagipula, dia kan hanya tidak melupakannya, bukan berarti juga wanita itu adalah obat dari penyakitnya kan?
“Tidak, tidak. Bagaimana bisa aku melakukannya?” tolak Nicholas tegas.
“Kenapa tidak? Turunkan sifat gengsimu itu, Nich, kalau kau mau sembuh.”
“Tapi, Zang ….”
“Kenapa Anda tidak mencobanya, Tuan? Barangkali saran Dokter Zang kali ini berhasil,” sahut Hans dari dapur membawa segelas minuman hangat untuk diberikan kepada atasannya.
Zang membenarkan. “Benar. Kita tidak akan tahu kalua tidak mencoba, Nich. Untuk kali ini saja bisa tidak turunkan ego demi kesembuhanmu? Kau tidak mau terus melarikan diri seperti ini, kan?”
Nicholas memijit pelipisnya pelan. Haruskah dia mencobanya untuk kali ini?
Nicholas mengetuk-ketukan bolpoint yang sbeleumnya dia gunakan untuk menandatangani berkas ke meja. Hari sudah siang dan tidak ada tanda-tanda Kejora datang ke rumahnya lagi. Tidak ada pesan atau pemberitahuan apa pun, membuat Nicholas menjadi penasaran dengan bagaimana kondisi Kejora saat ini.
“Tuan, berkas Anda.” Hans memberikan dokumen penting. Setelah ditanda tangani dia hendak beranjak pergi.
“Tunggu, Hans.”
“Ada apa, Tuan?”
Nicholas berdehem. “Apa wanita itu sudah sampai di rumah?”
“Maksud Anda Nona Kejora? Dia hari ini izin tidak masuk kerja.”
“Izin? Izin kenapa?” Dahi Nicholas berkerut.
“Kalau soal itu saya tidak tahu, Tuan.”
Nicholas berdecak. “Berikan ponselmu.”
__ADS_1
Nicholas mencatat nomor ponsel Kejora di ponselnya. Setelah itu menyuruh asistennya untuk pergi. Nicholas berulang kali memandangi nomor tersebut, ragu untuk menelepon Kejora atau tidak. Akhir kata setelah memantapkan diri, Nicholas memanggil nomor tersebut.
“Halo, ini siapa?”
Suara dari seberang sana membuat Nicholas gugup.
“Halo? Kalau tidak bicara akan kumatikan.”
“Ini aku!” sergah Nicholas cepat.
“Aku siapa?” Kejora bingung.
“Siapa lagi kalau bukan atasanmu? Apa kau sudah lupa dengan hutangmu? Kenapa tidak masuk kerja?”
“Oh, ternyata kau. Aku sudah mengatakan pada Hans untuk tidak masuk hari ini.”
“Kenapa izin padanya? Memangnya atasanmu itu Hans?” sewot Nicholas.
“Aku izin padanya bukankah sama saja?”
“Sama darimananya? Jelas tidaklah. Kau izin padanya itu artinya dia yang kau anggap atasanmu.”
“Kalau begitu aku akan izin sekarang. Aku minta cuti hari ini,” jawab Kejora.
“Kenapa kau cuti?” tanya Nicholas penasaran.
“Aku ingin beristirahat, tubuhku sedikit tidak sehat.”
Nicholas tertegun. Kejora sakit?
“Baiklah kalau itu alasanmu. Akan kutolerir. Tapi mulai sekarang kalau ada apa pun bicarakan denganku, jangan orang lain. Dan juga cepatlah sembuh, hutangmu masih banyak yang belum terbayar.”
“Aku mengerti. Apa ada hal lain? Kalau tidak, aku tutup teleponnya.”
“Sebenarnya—”
Sambungan tiba-tiba terputus. Nicholas menyipitkan mata melihat wanita itu mematikan panggilan secara sepihak. Ia meletakkan ponsel di atas meja dengan kesal, merasa remeh karena panggilannya dimatikan begitu saja.
"Cih, dia pikir siapa sampai berani mematikan telepon sepihak seperti itu," gerutunya kesal.
Sedetik kemudian, Nicholas menopang dagu dengan sebelah tangan. Tiba-tiba teringat dengan kejadian malam itu.
“Apa dia masih trauma dengan kejadian kemarin malam?” gumam Nicholas.
__ADS_1
Nicholas ingat bahwa Kejora mengatakan tidak masuk kerja dikarenakan sakit. Apa yang dimaksud sakit adalah pengaruh dari kejadian malam itu bersama mantan kekasihnya? Dan Nicholas malah sibuk membahas hutang kepada Kejora, sementara tidak tahu saja bagaimana perasaan yang sedang dihadapi oleh Kejora.
“Apa aku sedikit keterlaluan?"