
"Finn," panggil Kejora.
Finn menoleh ketika namanya dipanggil. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang berstatus kekasihnya itu. Senyum Finn mengembang. Kekasihnya malam ini benar-benar sangat cantik. Bahkan membuat Finn takut jika ada pria yang menyukainya.
"Kenapa? Dandananku menor, ya? Pakaianku buruk, ya?" Kejora memegang wajah lalu memerhatikan bajunya barangkali ada yang salah karena Finn terus-terusan menatapnya.
"Iya," jawab Finn berbohong.
Kejora mengerucutkan bibir. Padahal tadi ia sudah berkaca dan menurutnya make up di wajahnya tidak terlalu menor. Akan tetapi, mendengar Finn berkata seperti itu membuatnya merasa kecewa.
Finn merasa gemas melihat wajah kecewa Kejora itu. Lantas tanpa sadar menarik hidung mancung milik Kejora sambil bergumam gemas.
"Pacarnya siapa, sih? Lucu banget."
Kejora menangkis tangan Finn. "Apaan, sih. Katamu make up-ku menor."
"Tidak, Sayang. Aku hanya bercanda, kok. Nih, pakai helm-nya. Ayo kita berangkat."
Kejora menerima helm tersebut dan memakainya. Naik ke sepeda motor milik Finn dan memeluk pria itu dengan tulus. Menyandarkan kepala di bahu kekasihnya.
Kejora merasa bahagia karena malam ini Finn mengajaknya pergi ke pasar malam. Meskipun tidak semewah pasangan yang pacaran di malam minggu yang datang ke restoran atau tempat-tempat yang bagus, Kejora sudah merasa bahagia. Menurutnya semua tempat sama saja. Yang terpenting adalah adanya inisiatif dari si pria yang mengajaknya.
Kejora turun dari motor setelah sampai di tempat tujuan. Menunggu Finn yang memarkirkan sepeda motor lalu menaruh helm yang digunakan tadi di atas jok motor. Finn kemudian menggandeng tangan Kejora dan masuk ke tempat permainan itu.
"Mau apa dulu?" tanya Finn.
"Aku ikut apa maumu."
"Oke, kalau gitu. Jangan menyesal dengan pilihanku." Finn menarik tangan Kejora dan membawanya menuju salah satu wahana.
Finn membawa Kejora untuk naik ke wahana rolercoaster untuk pilihan pertama. Finn tertawa keras ketika melihat Kejora yang nampak ketakutan bahkan menggenggam tangannya dengan erat. Kekasihnya itu benar-benar imut.
Wahana kedua adalah rumah hantu. Finn benar-benar mengajaknya ke tempat keramat penuh teriakan itu. Kejora pun nampak ketakutan, bahkan selalu menempel padanya sebab ada berbagai hantu yang menakutkan. Sementara Finn hanya tersenyum sambil mengelus tangan Kejora di lengannya.
Sepasang kekasih itu melewatkan malam indah ini dengan kebersamaan. Baik Finn maupun Kejora sama-sama tertawa bahagia. Sudah banyak wahana yang mereka mainkan. Sampai sekarang di dekapan Kejora sudah boneka sapi besar yang didapat dari hasil memasukkan gelang karet ke dalam botol.
"Suka?" Finn bertanya.
"Suka!" Kejora mengangguk. "Terima kasih, ya, Finn. Sudah membawaku ke sini. Aku bahagia."
"Maaf, ya, tidak bisa membawamu ke tempat-tempat mahal seperti pasangan lain. Aku hanya bisa membawamu ke tempat seperti ini." Finn memerhatikan area pasar malam yang dipadati pengunjung.
__ADS_1
Kejora menggeleng. Meletakkan boneka sapi di kursi kosong sebelahnya. Menangkup pipi Finn lalu berkata, "di sini pun aku sudah bahagia, kok. Lagipula tempat mahal atau tidak bukankah sama saja? Yang penting niat tulusnya."
Finn mengelus tangan Kejora di pipinya. "Kau itu pacar yang sangat pengertian, Kejora. Aku sangat beruntung memilikimu."
Kejora tersenyum sekilas. Membiarkan Finn mengelus tangannya. Perkataan Finn tadi seakan menamparnya. Kejora sangat merasa bersalah kepada Finn karena sudah berbohong selama ini. Finn yang sangat tulus seperti ini membuat Kejora semakin merasa bersalah.
"Finn, aku mau bicara sesuatu."
"Biar aku tebak. Kau akan bilang bahwa kau begitu mencintaiku, kan?" tebak Finn percaya diri.
Kejora mengerjapkan mata. Mengulum bibirnya gugup. "Hahah, iya. Maksudku itu tadi."
"Sudah kuduga."
Finn tersenyum. Pria itu sebenarnya beberapa hari ini memikirkan apa perkataan Samuel hari itu. Bagaimanapun Finn juga seorang pria. Ia menangkap adanya makna lain dari perkataan itu. Pikirannya malah tertuju pada Kejora. Khawatir bila kekasihnya itu akan meninggalkannya demi seorang pria kaya.
"Sayang, bagaimana kalau ada seorang pria kaya yang menyukaimu? Apakah kau akan meninggalkanku demi dia?" tanya Finn.
Kejora malah terkekeh. "Memangnya pria kaya mana yang menyukaiku? Aku tidak punya apa-apa. Kalaupun ada, pasti pria itu pasti sudah tidak waras."
"Misalnya, Kejora. Misalnya."
"Finn, aku tidak memandang seseorang dari hartanya. Aku sadar bahwa diriku sendiri juga seperti ini. Kalaupun ada pria kaya yang menawarkan diri untuk jadi penggantimu, aku menolaknya. Aneh sekali jika seorang pria yang kaya raya memilihku yang hanya remahan ini daripada wanita-wanita cantik di luar sana."
"Aku beruntung mengenalmu, Kejora."
"Aku juga." Kejora tersenyum lebar.
Finn membalas senyuman itu dengan sebuah cubitan di hidung Kejora. Kejora meringis dan berusaha melepaskan tangan Finn. Sepertinya hobi baru Finn sekarang adalah mencubit hidung kekasihnya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Lancar?"
"Lancar saja. Aku berharap bisa segera dapat promosi dan naik jabatan agar segera bisa dapat uang yang banyak dan segera menikahimu."
Kejora tersenyum tipis. "Semoga harapanmu tercapai, Finn. Aku selalu mendukungmu."
"Terima kasih, Sayang."
Kejora mengangguk. Mengambil boneka besar tadi dan menaruhnya di pangkuan. Kejora merasa gemas dengan boneka itu sampai-sampai tidak ingin melepaskannya sedetik pun.
"Sesuka itu?"
__ADS_1
"Ini lucu." Kejora mencubit hidung boneka itu. Terkekeh menatap kekasihnya.
"Sepertimu," tukas Finn.
Kejora menaikkan sebelah alis. Menatap Finn sinis. "Apa? Maksudmu aku mirip sapi, begitu?"
"Iya."
"Finn!" bentak Kejora.
"Bercanda, Sayang." Finn terkekeh. Berusaha memegang tangan kekasihnya yang selalu menghindar. "Lagipula aku belum mengatakan kata selanjutnya, kau sudah berprasangka buruk. Dasar."
"Aku kan jelek. Mana mungkin tidak berprasangka kau katai begitu," jawab Kejora sambil mengerucutkan bibir.
Finn melihat wajah kecewa wanita itu segera menangkup kedua pipi Kejora sambil mengejek raut wajah Kejora yang nampak masam itu.
"Kata siapa jelek? Cantik begini, kok. Yang mengatakan pacarku jelek siapa, hah? Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal. Kau itu cantik, Kejora," kata Finn.
"Benar?"
"Iya. Sampai-sampai aku takut kau disukai pria lain," gumam Finn sambil menatap wajah cantik Kejora. Cukup Finn akui bahwa Kejora itu manis.
Kejora memandang wajah Finn yang berada di dekatnya. Kejora merasa beruntung bisa dipertemukan dengan Finn yang menerima segala kekurangannya. Pria seperti Finn rasanya sulit sekali ditemukan. Tulus dan penyayang. Akan tetapi, Kejora merasa jahat karena membohongi Finn selama ini.
Kejora menutup matanya ketika Finn mendekatkan wajah dan hendak menciumnya. Sapuan napas hangat mulai terasa. Kejora berusaha meresapi momen itu, tapi bayangan seorang pria yang merenggut kesuciannya itu malah muncul dalam pikirannya.
"Ada apa?" tanya Finn yang melihat Kejora menghindar darinya.
Kejora merasa gugup. Lalu menggeleng keras. "A-aku sepertinya mau permen kapas, Finn."
"Oh. Baiklah, tunggu di sini. Aku akan membelikannya."
Kejora mengangguk. Mengamati Finn yang nampak sedang memilih permen kapas di salah satu penjual. Kejora bersandar di kursi sambil memegangi dadanya.
Perasaan aneh mendadak menyelimuti hatinya. Kejora merasa ketika memejamkan mata, bayangan dari sosok Nicholas hadir dalam pikirannya. Seakan dibawa kembali ke masa lalu di mana dia dan Nicholas berada dalam ruangan yang sama dengan jerit kesakitan di sana. Kejora merasa bahwa sedikit nyeri di ulu hatinya.
"Kenapa aku malah memikirkan dia?" gumam Kejora.
**
Hmm, ada yang tahu alasan kenapa Kejora malah teringat dengan Nich?
__ADS_1
Tulis di kolom komentar, ya..
Sampai jumpa di part selanjutnya..