
"Aku? Apa maksudnya ... aku siapa?"
Kejora menunjuk dirinya sendiri. Bingung dengan jawaban Nicholas yang membingungkan. Ia sudah berbicara panjang dan lebar supaya dimaafkan, tapi respon dari Nicholas seakan-akan tidak mengenalnya.
Nicholas menaikkan sebelah alis, melihat ke arah Kejora. "Siapa kau? Kenapa kau ada di rumahku, hah?"
Kejora mengerutkan kening. Tambah bingung dengan pertanyaannya. Kejora tidak tahu apa maksud dari perkataan Nicholas itu.
"Anda bergurau, Tuan?" Kejora terkekeh renyah. "Apa maksudnya siapa aku? Apa Anda pura-pura melupakanku karena sakit hati dengan perkataanku tadi?"
Mata Nicholas menyipit. Tidak paham dengan apa yang dikatakan wanita di depannya. Kekehan receh dari wanita itu menimbulkan kecurigaan dari hati Nicholas.
"Kau itu berbicara apa? Sudahlah, aku tidak punya waktu meladeni orang sepertimu. Pak, suruh wanita ini pergi," perintah Nicholas kepada satpam yang menjaga rumahnya.
"Eh, tunggu, tunggu," cegah Kejora memegang tangan Nicholas. "Apa kau benar-benar tidak mengenal siapa aku? Apa kau tidak mengingat apa yang terjadi di antara kita tadi?"
Nicholas menghempaskan tangan Kejora yang mencekal tangannya. Sinis tatapannya menusuk. Sejak tadi Nicholas tidak paham dengan perkataan wanita itu. Akan tetapi, wanita itu terus-terusan mencerca begitu banyak pertanyaan.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Tapi yang jelas aku tidak merasa pernah mengenalmu, Nona. Jadi berhenti merecokiku dan sekarang enyahlah dari rumahku!" tekan Nicholas.
"Tidak, tidak. Ini pasti bohong! Bagaimana kau bisa tidak mengenalku? Kita baru saja bertengkar tadi di tangga darurat hotel!" Kejora kebingungan. Masih tidak percaya bahwa Nicholas lupa pada dirinya.
"Jangan mengada-ada. Aku tidak mengenalmu untuk apa kita bertengkar? Sudahlah, pergilah saja. Pak, cepat usir dia!"
"Baik, Tuan."
Kedua tangan Kejora dipegang oleh satpam tersebut. Kejora terus memberontak dan berusaha mengejar Nicholas yang baru beberapa meter melangkah.
"Tunggu dulu!" Kejora mencegah. Menggapai tangan Nicholas dengan erat.
"Lepaskan!"
"Tidak! Aku mohon dengarkan aku dulu. Aku perlu berbicara sesuatu padamu! Akh, lepaskan tanganku!" Kejora sambil memberontak ketika satpam mulai menariknya menjauh dari Nicholas.
"Anda harus pergi, Nona!"
"Tidak! Lepaskan aku! Aku masih mau berbicara dengan dia!" berontak Kejora melepaskan diri. Tangan satunya masih memegang tangan Nicholas yang berada tidak jauh dari dirinya.
Tubuh Nicholas ikut bergoyang ketika Kejora menarik tangannya. Pria itu menarik napas lalu mencengkeram cekalan Kejora dan melepaskan dari tangannya.
Kejora meringis ketika tangannya berbalik dicengkeram lebih kuat oleh Nicholas. Celakan dari satpam saja sudah kuat, apalagi ditambah ini, Kejora bisa memastikan bahwa tangannya sebentar lagi akan memerah.
"Akh, tanganku," ringis Kejora.
"Lepaskan dia, Pak. Aku akan mengurusnya," perintah Nicholas. Satpam rumahnya mengangguk dan kembali ke pos untuk berjaga.
Nicholas melepaskan cengkeraman itu dengan kasar sampai-sampai Kejora hampir limbung akibat dari kuatnya tenaga itu. Nicholas merotasikan mata melihat wanita yang keras kepala tidak mau pergi dari rumahnya itu.
"Oh, ****! Sebenarnya apa maumu, Nona? Kenapa kau ingin sekali berbicara denganku, huh? Aku rasa, aku tidak pernah mengenal wanita sepertimu!" geram Nicholas menahan amarah.
__ADS_1
Kejora menunduk, lalu menatap Nicholas kembali. "Apa kau pura-pura melupakanku karena sakit hati dengan ucapanku tadi? Kalau begitu, aku minta maaf. Aku merasa bersalah karena sudah memakimu."
Alis Nicholas semakin berkerut. Bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kejora. Baru beberapa saat tadi menjejalinya dengan omong kosong, tapi kali ini malah meminta maaf.
"Apa kau bilang?"
"Aku akui, akui salah. Tapi aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Aku ... aku hanya kesal karena kau terus menggangguku sepanjang hari dan menekanku. Sebenarnya aku juga tidak bermaksud berbicara kasar kepadamu. Tolong, maafkan aku." Kejora memejamkan mata takut.
"Haha, aku mengganggumu?" Kekeh Nicholas.
Nicholas merotasikan mata. Meremehkan ucapan Kejora. Mengganggu? Kurang kerjaan sekali.
"Nona, sudah cukup kau membual tentangku. Sekarang aku sudah tidak ingin mendengar omong kosongmu itu lagi. Segeralah pergi dari rumahku atau aku tidak akan segan menyeretmu keluar dari sini!"
Kejora mendongak. Tatapannya begitu dalam. "Kau benar-benar tidak mengenaliku?"
"Ya! Aku tidak mengenalmu. Aku tidak tahu siapa kau dan darimana asalmu. Lebih baik kau pergi sendiri dari sini sebelum aku berbuat kasar kepadamu, Nona," tandas Nicholas berbalik melangkah memasuki rumah.
"Apa kau juga lupa bahwa kau yang memperkosaku malam itu?"
Langkah Nicholas terhenti. Telinganya berdengung ketika suara masuk lalu mengintrupsinya untuk berhenti. Nicholas membalik badannya dan menatap Kejora yang berdiri tegak tanpa ekspresi di belakangnya.
"Apa katamu?"
"Malam itu kau mabuk lalu memaksaku melayani nafsu bejatmu itu. Lalu kau menuduh bahwa aku yang sudah menjebakmu. Lalu kau mengancamku, menekanku, dan memaksaku untuk menikah denganmu. Apa kau tidak ingat semua itu?"
"Kau mempengaruhiku. Kau membuatku meragukan kesetiaan kekasihku. Kau juga yang mengantarkan aku pulang disaat kekasihku tidak bisa. Aku ... aku ...."
Kepala Nicholas mendadak pening. Kedua tangannya menutup telinganya yang berdengung, mengeluarkan suara-suara aneh yang membuatnya kesakitan. Tubuh Nicholas terhuyung seperti tidak punya kekuatan untuk menopang berat tubuhnya kembali.
"Akhh ...!"
Kejora mendekati Nicholas yang berteriak kesakitan. "A-apa? Kau kenapa? Apanya yang sakit?"
"Akhhh ... cukup! Hentikan!" teriak Nicholas kesakitan menutup kedua telinganya. Tubuh Nicholas limbung ke tanah seiring dengan rasa sakitnya yang kian menjadi.
Kejora membulatkan mata. Berjongkok di depan Nicholas yang menutup matanya. Kejora takut, ia lanta memanggil satpam rumah untuk membantunya.
"Pak Satpam, cepat ke sini! Tolong saya!" teriak Kejora.
Dengan gerakan cepat, satpam rumah tersebut membantu Nicholas untuk bangkit dan memasukkan Nicholas ke rumah. Kejora mengikutinya dari belakang sampai satpam itu membawa tubuh Nicholas ke kamarnya.
"Nona, tunggu lah di sini. Saya akan menelepon dokter!" ucap satpam itu.
Kejora mengangguk. Berdiri di sebelah ranjang di mana Nicholas juga berada di sana. Kejora perlahan mendekat untuk mencoba menyentuh Nicholas.
"Kau tidak apa-apa, kan? Aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku tadi hanya ...."
"Cukup! Jangan mengatakan apa pun," putus Nicholas lebih dulu.
__ADS_1
Kejora terdiam. Ia meremat jemarinya dengan kuat. Aura Nicholas kali ini terasa lebih menyeramkan dari sebelumnya. Kejora masih di sana sambil memerhatikan Nicholas yang memejamkan mata sambil memegangi kepalanya.
'Ada apa denganya? Kenapa mendadak seperti ini? Apa dia amnesia karena aku pukul waktu itu? Tapi itu kan lama, masa amnesianya baru sekarang?' gumam Kejora dalam hati.
"Nich! Di mana kau?" tanya seseorang yang masuk ke kamar dengan raut wajah khawatir.
Kejora menatapnya pria yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Kau siapa, Nona?" tanya pria itu.
"Aku ... aku Kejora. Tadi aku yang bersamanya. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatnya begitu."
"Akhhh!" ringis Nicholas terdengar pilu.
Zang di sana segera memeriksa kondisi Nicholas tanpa menjawab dulu pernyataan tadi. Kejora yang mendengar ringisan itu juga ikut mendekat dan melihat. Dia yakin bahwa pria itu adalah seorang dokter.
"Dia ... tidak apa-apa, kan? Aku bersumpah, aku tidak melukainya sedikitpun! Aku tidak berbuat apa pun yang membuatnya celaka." Kejora mengangkat tangannya untuk bersumpah.
"Dia tidak apa-apa, jangan khawatir. Sebelumnya terima kasih karena sudah menjaganya selama aku dalam perjalanan. Tapi, Nona, bisakah tinggalkan kami berdua? Nich butuh istirahat yang cukup agar kondisinya stabil." Zang menjawabnya dengan lembut.
Kejora menatap Nicholas. "Benar tidak apa-apa?"
"Benar, Nona. Kau jangan risau dengan kondisinya. Ada aku di sini yang akan merawatnya."
"Baiklah. Aku akan pergi."
Kejora menghela napas. Melangkah pergi dari kamar Nicholas untuk pulang.
Zang beranjak mendekati Nicholas ketika merasa wanita tadi sudah pergi.
"Nich, apa yang kau rasakan? Kepalamu masih sakit?"
Nicholas memejamkan mata. "Telingaku berdengung, suara-suara aneh muncul dan membuat kepalaku sakit."
"Sudah kubilang hari ini akan turun hujan. Kenapa kau nekat tidak mau pergi dari kota ini dan lebih memilih ke hotel, hah? Kalau sudah seperti ini, bagaimana? Apa ada seseorang yang masih kau ingat?" Zang geram.
Nicholas menggeleng. "Tidak."
Zang membuka tas dan memberikan sebuah foto ibu tirinya Nicholas. "Apa kau masih ingat ini? Siapa namanya?"
"Sudah kubilang aku tidak ingat, Zang," tekan Nicholas.
"Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Ee, wanita tadi. Apa kau mengingatnya? Kau terakhir kali bersamanya, kan?"
Nicholas menggeleng. Kepalanya terasa masih sangat pusing.
"Aku tidak ingat apa pun, oke? Berhenti mengoceh, Zang. Kepalaku semakin sakit mendengar ocehanmu itu," keluh Nicholas sambil memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit.
.
__ADS_1