Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Dia Gila?


__ADS_3

"Aku hanya wanita miskin yang tidak ada harga dirinya."


Kejora tersenyum kecut mengatakannya. Memang tidak salah, Kejora yang mengatakannya sendiri kepada Nicholas untuk tidak memenuinya lagi. Akan tetapi, dia sendiri malah yang mencarinya.


Kejora menelan ludah sendiri.


"Minumannya, Dokter Zang," ucap Kejora masuk ke kamar dan berakting seolah tidak mendengar apa pun.


Zang mengangguk. Menerima minuman dari Kejora. "Ah, terima kasih."


"Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Kejora.


"Heh, wanita bodoh! Di mana minumanku? Kau hanya membawakan minuman untuknya saja?" sengit Nicholas.


Kejora tersentak. "Kata asisten Hans, Anda tidak boleh minum kopi malam-malam. Permisi."


"Hei!" sentak Nicholas.


Zang terkikik geli melihat wajah geram Nicholas. Berbeda dengan Nicholas yang merasa kesal dengan sikap Kejora kepadanya.


"Bisa-bisanya dia mulai mengaturku seperti itu. Ck!"


Nicholas kesal. Semakin kesal lagi ketika mengetahui Zang tengah menertawainya. Zang yang sudah mengetahui sedang diperhatikan segera menormalkan mimik wajahnya.


"Apa yang kau tertawakan?" ketus Nicholas.


"Kau lah. Apalagi memang."


"Tertawalah terus, Zang. Sebelum kau tidak bisa tertawa lagi," sinis Nicholas.


"Lagian kau itu Nich. Sudah tepat juga dia memperlakukanmu seperti itu. Bukankah aku bilang untuk mengurangi kadar kafeinmu, Nich?"


Nicholas mencibir. "Ya, ya, terserahmu."


"Eh, tapi apa kau tidak berpikir bahwa dia sedikit manis? Bersikaplah lembut sedikit, Nich. Apa kau tidak tersentuh melihat wajah murungnya itu?" Zang meminum minumannya sambil menatap Nicholas.


"Apa kau lupa dia yang membuatku seperti ini, Zang?" sinis Nicholas menjawab.

__ADS_1


"Benar juga. Eh, tapi apa kau tidak tahu seberapa khawatirnya dia waktu meneleponku? Suaranya saja sampai bergemetar, Nich. Dia khawatir terhadapmu."


Nicholas mendengus. "Huh, khawatir? Yang benar saja. Dia saja malah menambah masalahku. Bukannya menolong malah menimpa tubuhku."


"Benar." Zang mengangguk. "Eh, apa tadi? Kau bilang dia menimpa tubuhmu? Memangnya apa yang terjadi di antara kalian, hah? Ayo katakan, Nich."


Nicholas mengundurkan kening Zang menggunakan jari telunjuknya. "Tidak terjadi apa pun!"


"Bohong. Aku tidak percaya kalau tidak ada yang terjadi di antara kalian. Katakan, apa kalian ... seperti ini?" Zang mempraktekkan dengan jari-jari tangannya seolah-olah seperti orang yang sedang berciuman.


Nicholas menyipitkan mata. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian tadi di mana Kejora menimpa tepat di atas dada bidangnya. Jaraknya sangat dekat, sampai-sampai Nicholas bisa merasakan hawa napas wanita itu. Apalagi bibir plum merah muda yang berada tepat di depannya, menyita sedikit pandangan Nicholas.


"Hei, apa yang kau pikirkan, Nich? Astaga, apa benar kalian berdua sudah begini?"


Nicholas menepis tangan Yang yang mempraktekkan gerakan ciuman itu. "Jangan berpikir macam-macam."


"Kalau tidak, kenapa kau melamun? Aah, apa kau malu mengatakannya? Jadi benar, kan, dugaanku? Ayolah Nich, tidak usah sungkan begitu."


Nicholas menatap muak kepada Zang yang terus-terusan menggodanya. Menyenggol dan menepuk-nepuk bahu seolah-olah menyuruh untuk mengakuinya.


Zang buru-buru diam, mengambil minumannya dan meneguk hingga tandas. Sedikit tercekat ketika Nicholas masih menatapnya tajam.


Berbeda dengan Kejora, ia duduk di kursi dapur sambil mengamati room chatnya dengan Finn. Kekasihnya itu sama sekali belum membalas pesan yang ia kirim. Kejora merasa, akhir-akhir ini Finn berubah. Menjadi lebih cuek dan jarang memberikan kehangatan seperti dulu lagi.


Kejora berpikir untuk menyelidiki apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Ini sangat ganjal dan beberapa perkataan Nicholas dulu yang membuatnya semakin yakin bahwa ada yang tidak beres. Sebelum Nicholas akhirnya melupakannya.


Sebenarnya Kejora masih bingung, apa pria itu hanya mempermainkannya saja? Mengingat Nicholas selalu membuatnya merasa tidak nyaman dan membuatnya ragu dengan perasaan sendiri.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" tegur Zang berjalan menuju dapur.


Kejora meletakkan tangannya yang digunakan untuk bertopang dagu. Menjga sikap ketika Zang datang. "Eh, Dokter Zang."


"Kenapa? Aku merasa kau sedang banyak pikiran. Apa ini karena Nich?" tukas Zang sambil menarik kursi untuk diduduki sehingga sekarang posisinya mereka berdua berhadapan.


"Ah, bukan. Ngomong-ngomong dia baik-baik saja, kan? Aku takut ada sesuatu yang parah," ungkap Kejora.


"Hanya terkilir saja. Kenapa kau takut dia kenapa-napa? Apa kau mulai peduli kepadanya?" Zang memberikan tatapan selidik.

__ADS_1


"Peduli? Ya, tidaklah. Aku hanya takut aku semakin lama di sini karena dia menuntut jika terjadi hal yang serius. Otomatis aku di sini lebih lama lagi."


Zang mengangguk. Paham akan maksudnya. "Jadi bukan karena peduli?"


"Ya, bukanlah! Seperti katanya, aku hanya gadis miskin yang kebetulan terjerat dengannya, untuk apa peduli padanya. Lagipula dia pria jahat untuk apa aku pedulikan," jawab Kejora tanpa sadar. Setelah sadar, ia langsung membekap mulutnya sendiri di hadapan Zang.


"Haha, tidak apa. Jangan takut bila aku melaporkanmu pada Nich. Kau benar, dia memang jahat dan sedikit ... sombong," timpal Zang mencairkan ketegangan itu.


Kejora melebarkan mata. Ia kira pria di depannya itu berada di pihak Nicholas. Makanya tadi Kejora takut karena sudah keceplosan. Namun, ternyata sama saja dengannya.


"Mm, Dokter Zang. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" lirih Kejora.


"Tanyakan saja." Zang menyeruput kopinya sambil memperhatikan Kejora yang nampaknya serius.


Kejora mendekatkan wajahnya. Melirihkan perkataannya karena berjaga-jaga jika ada yang mendengarkan.


"Apa dia itu ada gangguan di sini?" tunjuk Kejora mengarah ke kepala.


"Maksudmu?"


"Itu, dia tidak mengingatku lagi. Apa dia terkena amnesia jangka panjang? Aku rasa, pukulanku waktu itu tidak terlalu kuat dan kejadiannya juga sudah lama. Masa amnesianya baru sekarang?" tanya Kejora tanpa sadar membuka rahasinya.


"Memukul? Kau memukul Nich?" heran Zang.


Kejora membulatkan mata. Ia mengumpat dalam hati kenapa bisa keceplosan lagi seperti ini.


Kejora melirik ke arah Zang yang menatapnya curiga. Lekas ia terkekeh dan bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Ah, bukan itu. Bukan aku yang memukulnya. Maksudku aku pernah melihat dia dipukuli oleh orang di bagian kepala makanya aku bilang seperti itu," kilah Kejora sambil tersenyum.


Zang mengangguk. "Oh seperti itu. Dia bukan amnesia, hanya saja dia sedikit ...."


"Gila?" tebak Kejora cepat.


"Hahah, tidaklah. Mana ada orang gila jadi CEO? Ada-ada saja kau ini. Maksudku dia sedikit berbeda kalau hatinya sudah tersakiti. Mungkin saja kau berbuat sesuatu yang membuat hatinya sakit makanya dia melupakanmu." Pria itu menjelaskan dengan rinci.


Kejora menopang dagu dengan sebelah tangan. Hal yang membuat sakit? Kejora jadi ingat kejadian di tangga darurat waktu itu. Apakah karena itu Nicholas menjadi asing kepadanya?

__ADS_1


__ADS_2