Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Peran Pengganti


__ADS_3

“Sampai jumpa kakak ipar. Aku sebenarnya masih ingin berlama-lama di sini, tapi sepertinya manusia di seberang sana tidak mengharapkan kehadiranku lagi,” bisik Steve sambil melirik seseorang yang mengintainya di balik kaca bertirai itu.


Kejora penasaran dan berniat menoleh untuk memastikan apa yang sedang dibicarakan oleh Steve. Akan tetapi, pria itu mencegah dengan memegang bahu Kejora.


“Kenapa?” tanya Kejora bingung.


“Tidak. Oh, iya jangan lagi memikirkan pria brengsek seperti dia. Dia tidak pantas mendapatkan air matamu, Kak.”


Kejora tersenyum sekilas.


“Kalau begitu aku pulang dulu, Kak. Jaga dirimu baik-baik dan jangan merindukanku, oke?” Kerlingan nakal dari Steve membuat Kejora terkekeh.


Kejora melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai Steve menghilang dari pandangan. Kejora merasa bahwa sikap Steve sangat berbeda dengan Nicholas.


Dia cenderung hangat dan manis, sementara Nicholas sudah seperti monster yang membuat perasaannya naik turun. Kejora seperti dibawa naik ke wahana rollercoaster, setiap hari perasaannya tidak karuan. Selalu saja membuatnya kewalahan.


“Sebahagia itukah hidupmu?” tegur Nicholas sinis. Kedua tangannya tetap berada di depan dada dengan tatapan menyelidiknya. Tatapan itu membuat nyali Kejora menciut.


“Buatkan aku minuman.”


Kejora mengikuti Langkah Nicholas dari belakang, lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman. Selesai dengan pekerjaannya, Kejora mengantarkan minumannya tersebut ke hadapan Nicholas.


“Ini, Tuan.”


Nicholas berdehem sebagai jawaban. Meminum teh yang sebelumnya ia pesan kepada Kejora. Akan tetapi ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam minumannya, minuman tersebut terasa asin.


Sontak saja Nicolas menyemburkan minuman dari mulutnya karena tidak kuat dengan rasa asinnya. Beralih menatap Kejora yang nampak sedang memainkan ponsel di area dapur.


“Apa kau tidak bisa membuat teh dengan benar?” sarkas Nicholas. Akan tetapi, Kejora malah tersenyum sambil mengirimkan pesan di ponselnya tanpa mendengar ucapan dari Nicholas.


Nicholas tentu saja merasa kesal karena diacuhkan. Lekas ia bangkit dari kursi dan berjalan mendekat untuk mengamati apa yang sedang Wanita itu lakukan. Nicholas menyipitkan mata tatkala melihat nama adiknya di atas room chat wanita itu.


“Jadi ini alasanmu tidak membuat teh dengan benar?”


Kejora terkejut, sontak ia berbalik dan menyembunyikan ponselnya di belakang badan. “T-Tuan, kenapa Anda bisa ada di sini?”


“Kenapa? Harusnya aku yang tanya kenapa padamu,” sinis Nicholas. “Apa kau tidak merasa berbuat kesalahan?”


“Kesalahan?” Kejora tidak mengerti sebelum Nicholas memberikan gelas yang sama dengan minuman yang dia buatkan tadi. “Ada apa, Tuan?”


“Minum.”

__ADS_1


Kejora menurut dan langsung meminum teh tersebut. Rasa asin langsung menyergap lidah, membuat Kejora secara spontan menyemburkannya tepat di hadapan Nicholas.


“Astaga, maaf, Tuan,” ujar Kejora sambil berusaha mengelap wajah Nicholas.


Nicholas mengangkat tangan sebagai tanda tidak membutuhkan bantuan. Tanpa sepatah kata apa pun, dia pergi untuk membersihkan wajahnya dengan air. Kejora yang merasa tidak enak menyusul ke kamar Nicholas dan berniat untuk meminta maaf.


“Tuan, maaf aku tidak sengaja. A-aku tadi tidak berniat untuk menyemburmu.”


Kejora bereskpresi lesu Ketika Nicholas masih membisu dan berlalu dari kamar menuju ruang depan lagi. Wanita itu masih setia mengikuti dari belakang sampai tidak sadar bahwa Nicholas telah berhenti sehingga dirinya menabrak punggung Nicholas.


“Aduh!”


Nicholas menarik napas dalam. Kesabarannya sudah habis untuknmenghadapi wanita itu.


“Apa kau tidak bisa becus sedikit? Membuat teh saja rasanya asin. Apa kau berniat meracuniku?”


Kejora menggeleng telak. “B-bukan seperti itu.”


“Lalu apa?” Nicholas bergerak maju dengan alis yang terangkat sadis. “Oh, apa karena Steve? Apa kau begitu menyukainya?”


“B-bukan,” jawab Kejora sambil menggeleng.


“Bukankah kemarin kau pergi dengannya lalu mabuk-mabukan bersama? Kau juga tadi sibuk berkirim pesan dengannya. Steve juga punya segalanya. Bukankah itu sudah cukup ideal untuk kau incar?”


“T-tidak! Aku tidak ada niat seperti itu.”


Nicholas bergerak maju, mengintimidasi dengan tatapan. Sedang wanita yang sedang ia interogasi bergerak mundur untuk menghindar.


“Tidak? Kau pergi bersama, bercanda dengannya, bahkan kau bisa sampai tertawa lepas dengannya, apa itu tidak cukup bukti bahwa kau menyukainya? Tapi perlu kukatakan dengan tegas, bahwa sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan Steve memiliki pasangan sepertimu!” sentak Nicholas sambil terus melangkah.


Kejora terus mundur tanpa tahu di belakangnya ada sofa. Kejora spontan menarik dasi Nicholas sehingga keduanya terjatuh di sofa dengan posisi Kejora di bawah.


Kejora menelan ludahnya dengan kasar. Bertatapan dengan jarak sedekat ini membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Bagaimana pahatan wajah sempurna yang terpampang jelas di depan matanya begitu membuat Kejora sedetik melupakan hal lain dan terpusat padanya saja.


Mereka berdua sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada kata pembuka dalam momen itu. Hanya sama-sama memandang sudut wajah keduanya.


Hans yang baru saja datang dikejutkan dengan pemandangan di depannya. Merasa tidak pantas ia membalikkan badan sambil menegur,“Tuan.”


Keduanya langsung tersadar. Nicholas segera bangkit dan merapikan baju, sementara Kejora duduk di sofa sambil bergerak canggung.


“Kemarilah, Hans.”

__ADS_1


Hans masih memungggungi. “Apa Anda sudah selesai?”


“Selesai apanya? Cepat ke mari!” sewot Nicholas.


Kejora bergegas pergi menuju dapur. Dia begitu malu untuk berhadapan dengan Hans atas insiden itu.


“Tuan, saya dapat kabar bahwa Tuan Wong sedang tidak enak badan dan dia mengundurkan jadwalnya untuk bertemu dengan Anda.”


Nicholas bersandar di sofa. “Ck, sia-sia aku berpakaian rapi seperti ini.”


“Dan ada satu hal lagi, Nona Rosea mengatakan bahwa tidak bisa menemani Anda untuk pergi ke pesta perayaan nanti karena ada keperluan.”


“Baguslah. Aku juga tidak perlu repot-repot bersandiwara di depannya. Aku juga lelah dijodohkan terus dengannya. Aku bisa menggunakannya sebagai alasan untuk menolak.”


Nicholas memang dikenalkan dengan anak rekan bisnis ayahnya bermaksud untuk dijodohkan. Sebenarnya ia merasa terpaksa dan Lelah berpura-pura menerima di hadapan semua orang. Apalagi wanita itu begitu manja dan boros, Nicholas tidak menyukai kepribadian itu.


“Tapi, Tuan, pesta itu mengharuskan untuk membawa pasangan. Jika seperti ini bersama dengan siapa Anda akan datang?” ujar Hans.


“Aku akan datang sendiri.”


“Saya rasa itu kurang tepat, Tuan. Pimpinan Kim mengundang Anda secara terhormat dan saya rasa tidak memenuhi persyaratannya dapat mempengaruhi penilainnya terhadap perusahaan kita. Anda tenang saja, saya akan membantu mencarikan partner untuk menemani Anda ke pesta.” Hans membuka tablet dan memilih siapa yang akan ia pilihkan untuk atasannya.


“Terserah apa katamu,” putus Nicholas. Memang dia diundang secara khusus ke pesta bertpeng yang diadakan oleh salah satu target sasarannya. Mau tidak mau dia harus melakukkannya.


Terbesit di pikiran Hans secara tiba-tiba.


“Eh, kenapa tidak Nona Kejora saja yang menggantikannya?”


Kejora baru saja meletakkan minuman untuk Hans langsung dibuat kaget. “Aku? Bagaimana bisa? Aku tidak pantas untuk datang ke tempat seperti itu.”


“Benar. Memangya tidak ada pilihan apa?” sahut Nicholas cepat.


“Tuan, acara nanti malam dan di sini sudah ada yang bersedia untuk menggantikan Nona Rosea. Lebih baik kita mempersingkat waktu saja. Nona Kejora juga punya waktu untuk menemani Anda ke pesta. Lumayan sulit untuk menemukan wanita yang tepat bagi Anda. Jadi kenapa kita tidak memanfaatkan peluang saja?”


Nicholas menatap dengan gusar. “Ah, sudahlah. Terserah apa katamu.”


“Tapi Hans …."


“Anda tidak usah khawatir, Nona. Saya akan membantu Anda.”


Kejora menunduk lesu. Bagaimana dia menghadapi situasi di pesta nanti?

__ADS_1


...


__ADS_2