
“Tuan, semua sudah siap.”
Nicholas menyandarkan tubuh, menatap ke luar kaca mobil, memandang rumahnya yang akan ia tinggal. Kali ini ia merasa berat untuk pergi, seperti ada sesuatu yang membuatnya enggan untuk pergi.
“Ada apa? Apa ada sesuatu, Tuan?”
“Tidak.” Nicholas menghela napas. “Jalan, Hans.”
Mobil yang dikemudikan Hans mulai berjalan meninggalkan halaman. Nicholas masih saja berkecamuk dengan perasaannya yang tak tentu. Kepergiannya terasa berat, seperti sesuatu tengah terjadi dan hanya dia yang bisa membantunya. Berbicara tentang itu, Nicholas jadi berpikir apakah saat ini Kejora sudah sampai di rumah.
Panggilan dari ponsel Hans membangunkan Nicholas yang memejam. Tidak salah dengar, beberapa kali Hans memanggil nama Kejora dengan khawatir. Nicholas yang mengerti itu menjadi penasaran.
“Ada apa, Hans?”
“Ini, Tuan, Nona Kejora memanggil tapi hanya suara berisik yang terdengar.”
Nicholas menegadahkan tangan. “Berikan ponselmu padaku.”
Nicholas mengambil alih ponsel dan berusaha mendengarkan apa yang terjadi sana. Baru saja hendak berbicara, suara dari seberang sana membuatnya terdiam.
“Apa kau pikir semudah itu? Aku masih belum merasakanmu, Kejora. Aku menginginkanmu sekarang."
"Finn, lepas!"
"Tidak akan. Jangan harap kau bisa lepas begitu saja sebelum memuaskanku. Menurutlah, Kejora. Maka kau tidak akan sakit.”
“Aku tidak mau! Lepas, Finn! Aku tidak mau ikut denganmu!”
“Jangan memberontak, Kejora! Atau aku akan menyeretmu sekarang!”
Seusai kalimat itu, tiba-tiba sambungan terputus. Nicholas mencoba menghubunginya lagi, namun sialnya tidak ada jawaban.
“Hans, turun,” titahnya.
“Tapi, Tuan …”
“Turun, Hans.” Nicholas mengambil alih kemudi. Memerintah Hans yang berdiri di pinggir jalan. “Lacak lokasi wanita itu dan kirimkan kepadaku secepatnya.”
“Baik, Tuan. Tapi bagaimana dengan—”
__ADS_1
“Maaf merepotkanmu lagi, tapi kali ini lakukan dengan segera, Hans.”
Nicholas melesat membelah jalanan kota tempat Kejora melewatinya untuk pulang ke rumah. Sebelum mendapatkan lokasi, Nicholas berpikir pasti tidak jauh dari jalan yang biasa dilewati dan ternyata ia tidak menemukan Kejora sama sekali.
Nicholas memukul keras kemudi. Gusar mencari letak keberadaan wanita yang kemungkinan berada dalam bahaya itu.
Nicholas ingat sebelumnya mantan kekasih wanita itu tampak menghubungi dan memberikan pesan berkali-kali. Nicholas menduga bahwa kejadian ini pasti ada kaitannya dengan pria itu. Namun, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk melesat menuju lokasi setelah mendapatkan pesan dari asistennya.
Sebuah gedung yang terbengkalai menjadi tujuannya sekarang. Nicholas memandang keadaan sekitar sambil memastikan apakah memang benar ini tempatnya. Memang sedikit jauh dari jalanan kota dan ia mulai meragukan apakah Kejora ada di tempat ini sebelum suara teriakan menusuk telinganya.
“Berhenti …!”
Nicholas menoleh ke sumber suara. Sambil berjalan, ia mencari di mana arah suara itu berasal. Tiba di salah satu ruangan, ia menempelkan telinga ke daun pintu dan meyakini suara itu memang berasal dari sana. Cepat Nicholas membuka pintu itu dan melihat bagaimana seorang pria tengah berada di atas tubuh Kejora.
Nicholas dengan cepat menarik tubuh Finn, melayangkan sebuah pukulan keras pada wajahnya sampai membuat pria itu tersungkur. Pandangan Nicholas beralih kepada kondisi baju Kejora yang sudah tidak beraturan dan sobek-sobek. Ia segera melepaskan jaketnya dan menutup bagian tubuh Kejora yang terekspos.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Nicholas.
Sementara Kejora hanya menggeleng.
Finn bangkit dari peraduan sambil meringis merasa sakit memegang sudut bibirnya yang terluka. Pria itu menyipitkan mata melihat seseorang yang nampak tidak asing tengah menyelimuti Kejora.
Finn menghentikan ucapannya sebelum akhirnya ia menyadari suatu hal.
“Oh, jadi ternyata kau pria itu? Aku tidak menyangka jika kau pria itu. Pantas saja setiap kali melihat dia, kau terlihat aneh, Kejora. Ternyata dia yang memperkosamu?”
Nicholas diam. Ia baru tahu jika pria di depannya itu mengenal dirinya. Kemungkinan di masa lalu terjadi suatu hal.
“Hahah, hebat juga ya kau ternyata. Mencari mangsa kelas atas. Katakan, berapa banyak uang yang kau dapatkan darinya, Kejora? Tidur dengan pria kaya raya seperti dia seharusnya punya banyak keuntungan, kan? Menjajakan diri hanya untuk mendapatkan sejumlah uang itu terlihat sangat menjijikkan, Kejora.”
Sementara Kejora hanya terdiam, merapatkan jaket Nicholas di tubuhnya.
“Bukankah kau sama saja? Tidur dengan atasan hanya demi sebuah jabatan?” sahut Nicholas cepat. “Bukankah itu sangat menjijikkan?”
“Kau!” sergah Finn tidak terima.
“Kenapa? Apa kau mulai kehilangan muka?”
Finn terkekeh sinis. Memandang Nicholas remeh.
__ADS_1
“Hahah, tidak juga. Aku hanya heran kenapa kau malah memilihnya di antara sekian banyak wanita. Ternyata ucapanmu waktu itu memang benar bahwa kau menyukai Kejora. Tapi kenapa harus dia, apa tidak ada ****** yang lebih bagus daripada dia?”
Nicholas masih berusaha menahan diri untuk tidak menggunakan otot tangannya untuk menghantam mulut bajingan itu.
“Dan kenapa aku tidak boleh tidur dengan wanita lain, sementara dia saja sudah kau nikmati? Aku hanya membalas apa yang ****** itu lakukan!”
Nicholas tidak bisa lagi memendam amarahnya mendengar sebutan apa yang diberikan kepada Kejora dari Finn. Ia memukul Finn dengan membabi buta, tanpa memberikan jeda bagi Finn untuk memberikan perlawanan. Akibat dari pukulan itu, wajah Finn babak belur, penuh luka di mana-mana. Dia tersungkur di sudut meja dengan kondisi yang mengenaskan.
Puas dengan pukulannya, Nicholas berbalik menuju tempat di mana Kejora. Membimbing wanita itu untuk pergi dari sana. Nicholas dengan cepat mengemudikan mobilnya menjauhi gedung tua itu tanpa berbicara sepatah kata apa pun.
Berbeda dengan Kejora yang masih syok denga napa yang Finn lakukan kepadanya. Ditambah dengan kedatangan Nicholas yang menyelamatkannya dan menghajar Finn habis-habisan. Kejora ketakutan. Terlebih lagi Ketika Nicholas mengerem mendadak dan berhenti di jalanan yang sepi.
Kejora melirik ke arah Nicholas yang masih memegang erat kemudi. Auranya sangat mencekam, membuat Kejora ketakutan. Sedetik kemudian tubuh Kejora membeku Ketika Nicholas memeluknya secara mendadak.
“Apa kau tidak bisa sedetik saja membuatku tenang, hah?!” marah Nicholas.
Kejora membisu. Sama sekali tidak merespon sebab bingung denga napa yang dilakukan Nicholas padanya. Nicholas memeluknya. Pria yang selalu memaki dan memarahinya itu sekarang tengah memeluknya dengan erat.
Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan deras. Seolah-olah rintikan hujan itu mengiringi momen intens kedua insan di dalam mobil itu. Kejora masih mematung dengan pikirannya yang berkecamuk. Entah apa dan kenapa, ia tidak tahu jelas penyebabnya.
Nicholas mulai merasakan sakit di kepalanya. Kejora menguraikan pelukan Ketika mendengar suara rintihan. Raut wajahnya sekarang tidak bisa berbohong bahwa Kejora sedang khawatir melihat Nicholas yang kesakitan.
“K-kenapa? Kau kenapa?” tanya Kejora bingung.
“Akhhh!”
“Apa yang sakit? Kau sebenarnya kenapa?” Kejora memegang bahu Nicholas. Melihat pria itu bersandar di bahu kursi kemudi sambil memegang kepala.
Bayangan masa lalu menyeramkan itu mulai menyerang ingatannya lagi. Nicholas meringis, berusaha menghalau rasa sakit itu. Keringat dingin mulai turun dari pelipisnya, seiring dengan rintik hujan yang mulai mereda. Nicholas mulai membuka mata Ketika merasa sedikit tenang. Dia melihat ke arah wanita di sebelahnya yang nampak khawatir. Namun, kali ini terasa berbeda.
“Kenapa?”
“Kenapa apanya? Kau yang kenapa? Apa yang sakit? Tunggu, aku akan menelepon Hans untuk menjemputmu ke sini.” Kejora memutarbalikkan pembicaraan.
Tangan Nicholas mencegah Kejora yang akan menghubungi Hans. Kejora menoleh penuh kebingungan tatkala Nicholas memandanginya lekat.
“Kenapa aku masih mengingatmu?”
**
__ADS_1
agak lambat updatenya. tunggu eps selanjutnya...