
"Sudah puas pacarannya?"
Kejora membulatkan mata ketika mendengar suara seseorang menegurnya dari arah belakang. Dengan penuh kegugupan, Kejora membalikkan badan untuk melihat siapa yang sudah menegurnya tadi.
Kejora merasa terkejut ketika dua orang pria sudah berada di pintu depan hotel dengan sebuah tatapan tajam. Manager hotel dan satu pria yang beberapa hari ini bersikap dingin dan cuek, Nicholas.
"Pak Zein," sapa Kejora sambil menunduk.
"Kenapa kau bisa terlambat, Kejora?" Sebagai manager, Zein juga tidak bisa pilih kasih. Ia harus bijaksana menangani setiap karyawan.
"Apalagi kalau bukan sibuk berpacaran," celetuk Nicholas menyahut pertanyaan Zein tadi. Kedua tangannya terlipat di depan dada sambil menatap sengit Kejora yang nampak menunduk.
"Kejora, ikut ke ruanganku segera." Zein berjalan lebih dulu diikuti oleh Nicholas di sebelahnya.
Kejora tidak punya pilihan lain. Ini memang sepenuhnya salahnya juga kenapa bisa terlambat bekerja. Lunglai Kejora berjalan mengikuti kedua pria itu menuju lantai atas tempat di mana ruangan manager berada.
Kejora hanya meremas kedua tangannya sedari tadi semenjak datang ke ruangan beraura mencekam ini. Kejora disidang atas kesalahannya saat ini oleh Zein. Bukan sekali dua kali Kejora melakukan ini dan anehnya Zein terus mengampuninya. Akan tetapi sekarang Kejora merasa Zein sedikit berbeda.
"Kejora, apa kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Zein sengit.
"Terlambat masuk kerja." Kejora menunduk.
"Bagus kalau kau sudah tahu. Kalau kau sudah tahu, harusnya kau juga tahu hal apa yang akan kau lakukan."
Kejora mendongak dan menatap manager hotel dengan penuh penyesalan. "Maafkan saya, Pak. Saya mengaku salah. Saya salah karena datang terlambat bekerja. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Nicholas yang duduk dengan arogan di kursi dekat Zein mengamati Kejora yang nampak merasa ketakutan. Nicholas berdecih melihat wanita di depannya yang sama sekali tidak tahu berterima kasih itu. Apalagi ketika Nicholas tadi melihat bagaimana romantisnya Kejora dengan kekasihnya membuat Nicholas mual sendiri.
"Tidak satu dua kali kau melakukan ini, Kejora. Bahkan berkali-kali. Apa kau mau dipecat?"
Kejora menggeleng telak. "Tidak, Pak. Jangan pecat saya. Saya mohon. Saya hanya punya pekerjaan ini untuk membiayai hidup. Jangan pecat saya."
__ADS_1
"Pecat saja. Karyawan tidak disiplin seperti dia tidak pantas dipertahankan," sela Nicholas dengan nada dinginnya.
Kejora membulatkan mata ketika Nicholas mengatakan hal itu. Ia menatap sengit ke arah pria yang ikut campur dalam urusannya.
"Benar kata Tuan Nich, Kejora. Karyawan yang tidak disiplin tidak pantas dipertahankan." Zein menyetujui membuat Nicholas tersenyum culas.
Kejora beralih menatap Zein. "Jangan, Pak. Tolong jangan pecat saya. Saya mohon kasih saya kesempatan satu kali lagi. Saya akan bekerja dengan baik dan tidak akan terlambat bekerja."
"Pecat saja. Janji hanya janji, kesalahannya sekarang pasti akan dilakukan lagi," sela Nicholas semakin memperkeruh suasana. Nicholas melihat bahwa Kejora sampai membulatkan mata kaget dan ia malah menikmati momen itu.
Baru saja Zein hendak angkat bicara, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ia bergegas pergi dari ruangan untuk menjawab panggilan tersebut. Kini di dalam ruangan hanya ada Nicholas dan Kejora yang sama-sama terdiam.
Kejora menatap Nicholas dengan perasaan kesal. Pria itu sudah memprovokasi manager hotel untuk menuntutnya diberhentikan dari kerja. Kejora merasa marah sekaligus jengkel, bisa-bisanya pria itu ikut campur dalam urusannya.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Kenapa kau terus saja ikut campur dalam masalahku?" Kejora kesal.
"Aku seorang presdir, tidak sepantasnya kau memanggilku dengan sebutan 'kau'. Panggil aku Tuan atau Pak," jawab Nicholas santai.
"Aku memiliki sejumlah dana di hotel ini. Aku juga berhak memutuskan siapa yang berhak di sini dan siapa yang bukan." Nicholas menatap penuh arogan Kejora di hadapannya.
Kejora menaikkan sebelah alis. "A-apa? S-sejak kapan?"
"Sejak kapan pun juga bukan urusanmu. Kenapa kau juga malah ikut campur dengan urusanku?" sengit Nicholas membalikkan keadaan.
Kejora sampai menghela napas. Nasib sial terus saja menimpanya. Dan sejak kapan juga pria itu menanamkan modal ke hotel, Kejora bahkan baru mendengarnya hari ini.
"Jujur, saya suka Anda yang dingin dan cuek seperti beberapa hari lalu dibandingkan dengan sekarang yang arogan dan berkuasa seperti ini," tukas Kejora.
Nicholas menaikkan sebelah alis. "Kau mengaku menyukaiku?"
"A-apa? Tidak! Bukan itu maksud saya. Saya lebih suka hidup damai tanpa kehadiran Anda di sini. Bukanya menyukai Anda, Tuan." Kejora mencoba menjelaskan secara detail. Ia tidak mau adanya salah paham.
__ADS_1
"Karena kau tidak menyukaiku, maka aku putuskan untuk memecatmu," ungkap Nicholas singkat.
Kejora membulatkan mata. Ia sampai berdiri dari duduknya dan mendekati Nicholas yang duduk tenang di sana.
"A-apa? Anda tidak bisa memutuskan begitu saja. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Pak Zein!" Kejora berkilah.
"Kenapa aku tidak bisa? Dia posisinya berada di bawahku. Aku memecatnya saja bisa, apalagi memecatmu." Nicholas tersenyum seringai. "Jadi, kau masih mau dipecat?"
Kejora merasa terdesak. Bagaimana kalau dia memang dipecat dari pekerjaanya?
"Maafkan saya, Tuan. Tolong jangan pecat saya. Saya berjanji akan bekerja dengan baik," ucap Kejora penuh rasa bersalah.
"Kurang tulus. Permohonan macam apa itu. Aku berkuasa di sini, aku bisa memerintah apa saja sesukaku." Nicholas bersikap dingin dan mencoba memengaruhi Kejora. Padahal pria itu hanya berniat menguji kesabaran Kejora.
Kejora menghela napas. Ia harus sabar menghadapi pria di depannya sekarang. Kejora tidak bisa kehilangan pekerjaannya begitu saja setelah susah payah masuk ke tempat ini. Lagipula ada keluarga di rumah yang harus ia nafkahi. Meskipun sedikit menurunkan rasa egonya agar bisa mendapatkan simpati dari Nicholas.
"Tuan, Nich. Saya mohon beri saya kesempatan lagi. Saya berjanji akan bekerja dengan baik dan tidak akan membolos lagi. Saya mohon," ucap Kejora tulus.
Nicholas tersenyum culas melihat Kejora tunduk padanya. Diam-diam Nicholas tersenyum dalam hati melihat bagaimana ekspresi memohon wanita itu kepadanya. Nicholas kira wanita itu akan menolak, tapi ternyata rela melakukan apa yang ia suruh.
Nicholas menyeringai melihat wanita itu memohon kepadanya. "Aku bisa tidak memecatmu, tapi dengan satu syarat."
"A-apa?"
Seringaian Nicholas semakin tajam. Tanpa diduga, Nicholas menarik tangan Kejora cepat sehingga tubuh wanita itu berada di atas pangkuannya. Kejora memelototkan matanya ketika jarak wajahnya dengan Nicholas sangatlah dekat. Apalagi embusan napas pria itu terasa sangat panas menerpa wajahnya.
Kejora tentu terkejut atas perlakuan itu. Tubuhnya berada di atas paha Nicholas. Dekat, bahkan sangat dekat. Kejora bahkan bisa merasakan hawa panas milik pria itu. Matanya kian membulat ketika pria itu mencondongkan kepalanya untuk membisikkan sesuatu di telinga.
"Berikan aku tanda terima kasihmu, baru aku akan melepaskanmu," bisik Nicholas.
...
__ADS_1
Gimana sih perasaan kalian baca cerita ini? Tulis di kolom komentar, ya..