
"Finn, kau di mana? Aku sudah selesai kerja."
"Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, Kejora. Aku masih lembur di kantor," jawab Finn di seberang sana.
"Baiklah, tidak apa. Kau baik-baik di sana. Jangan sampai kecapekan." Kejora mematikan sambungan telepon dari kekasihnya.
Malam tiba, Kejora berdiri di depan halaman hotel setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hawa dingin mulai menusuk kulit lengan Kejora yang hanya dibaluti oleh baju lengan pendek dari seragam kerjanya. Kejora berharap Finn dapat menjemputnya, tapi ternyata kekasihnya itu malah masih lembur di kantor.
Kejora bingung. Kondisi semalam ini lumayan sulit untuk mendapatkan kendaraan umum. Kendaraan yang biasanya Kejora tumpangi juga pasti sudah tidak ada jika malam selarut ini. Jalanan juga mulai senggang, membuat suasananya menjadi semakin mencekam.
Kejora menggosok-gosok tangannya untuk membuat hawa panas demi menghangatkan tubuh. Ia ingat masih ada nomor temannya yang bisa dimintai tolong. Kejora mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi nomor temannya. Namun, tidak lama datanglah sebuah mobil berhenti di depannya.
Kejora mengamati secara seksama. Menunggu detik-detik seseorang keluar dari mobil tersebut. Ketika menyadari siapa pemilik mobil tersebut, Kejora membulatkan mata. Berpikir kenapa bisa pria itu masih berada di sini selarut ini.
"Kenapa? Kekasihmu tidak menjemput?" sindir Nicholas sambil melipat tangan di atas dada.
Kejora merotasikan mata. "Dia sedang lembur, makanya tidak bisa datang. Bukan karena tidak mau menjemput, ya."
"Lembur apa melembur?" Nicholas menaikkan sebelah alis melihat raut kebingungan dari Kejora.
"Lembur! Dia bekerja di kantor," jawab Kejora.
"Kenapa harus berteriak? Aku hanya bertanya saja. Tidak menutup kemungkinan kan kalau dia selingkuh."
Kejora merotasikan mata. Memalingkan muka ke arah samping daripada meladeni pria yang terus-terusan mengganggunya itu.
"Masuklah ke mobil. Biar aku antar."
Kejora menoleh. "Apa? Naik ke mobilmu? Tidak usah, aku akan memesan ojek online saja."
"Aku menawarkan secara gratis, tapi kau menolaknya?" sengit Nicholas. Ia malah semakin kesal ketika Kejora menoleh ke samping dan tidak mendengarkannya.
Nicholas melepaskan jas di tubuhnya lalu dibalutkan ke tubuh Kejora yang kedinginan. Hal itu membuat Kejora merasa terkejut atas perlakuan Nicholas. Jarak di antara keduanya sangatlah dekat, bahkan Kejora langsung berhadapan dengan bibir Nicholas karena tinggi badannya lebih pendek dari pria itu.
"A-apa ini? Kenapa kau melepas jasmu?" Kejora bingung.
"Menurutmu untuk apa? Dasar, gadis bodoh! Masuk mobil," suruh Nicholas sambil menarik tangan Kejora untuk masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Eh?"
Kejora ditarik dan dimasukkan paksa oleh Nicholas. Kejora semua yang menolak tidak bisa berkutik ketika tubuhnya sudah paksa masuk ke mobil mewah itu.
"Pasang sabuk pengaman," suruh Nicholas.
"Tidak. Aku akan pulang sendiri. Kau tidak usah repot-repot membawaku."
Nicholas menarik sudut bibir. Lekas bergerak mendekati Kejora. Kejora seketika membulatkan mata gugup tatkala Nicholas mendekat kepadanya.
Namun, tidak bisa dipungkiri juga jika Kejora masih marah akibat paksaan itu. Wanita itu menatap dengan tatapan kesal pada pria yang saat ini tengah memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Kenapa kau memaksaku? Sudah kubilang aku tidak mau," tutur Kejora kesal.
Nicholas berdecak. "Ck, sudah diselamatkan tidak tahu terima kasih. Lihat, pria di sana sedari tadi mengintaimu, aku yakin dia sudah menargetkanmu."
Kejora melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Nicholas. Di sebelah sana memang ada dua orang pria yang berpakaian preman tengah berjaga-jaga. Kejora menjadi takut, takut bila saja tadi kedua preman itu berbuat jahat kepadanya.
Nicholas menghidupkan mesin dan menjalankan mobil tersebut untuk melesat menjauh. Sama sekali tidak ada pembicaraan selama perjalanan. Mereka berdua membisu. Sebelum akhirnya Kejora mencuri-curi pandang kepada Nicholas yang tengah menyetir.
"Kenapa kau selalu mengikatku seperti ini?"
Kejora berdehem menghilangkan kecanggungan. "Bukannya aku sudah mengatakan untuk melupakan malam itu saja? Aku tidak apa, aku tidak menuntutmu bertanggung jawab."
Nicholas mengerem mendadak membuat tubuh Kejora sampai terlunjak ke depan. Wanita itu menatap Nicholas yang nampak dingin dengan kedua tangan yang mencengkeram stir dengan kuat. Aura pria itu berubah menjadi bengis dan jahat.
"Sebenarnya kau itu wanita bukan? Bagaimana seorang wanita yang mahkotanya direnggut bisa sesantai dirimu? Apa kau tidak mencari keadilan atas hakmu?"
"Aku sudah——"
"Bodoh! Bodoh jika kau berpikir kekasihmu akan berlapang dada menerima. Aku pria, aku juga tahu pikiran sesama pria bagaimana. Mana ada seorang pria ikhlas pacarnya sendiri tidur dengan pria lain?" Nicholas menatap sengit Kejora yang mengerjapkan mata dalam kegugupan.
"T-tapi aku tidak tidur denganmu, kau yang memaksaku duluan!"
"Persetan dengan landasan apa awal mula itu terjadi! Yang jelas, di pikirannya sekarang adalah kau sudah tidur dengan pria lain!" bentak Nicholas.
"A-aku sudah mengatakan semuanya. Dia meresponku baik, bahkan dia masih menyayangiku. Buktinya aku masih diantarkan ke kantor tadi pagi."
__ADS_1
"Apa kau pikir dia benar-benar menyayangimu? Sifatmu yang lugu seperti ini yang mudah dimanfaatkan dan dimanipulasi orang lain. Dunia tidak akan memihak dengan keluguanmu itu! Jangan terlalu cinta sampai menatap semua layaknya emas, padahal hanya sampah!"
Kejora meremas ujung jas yang dikenakannya. Perkataan Nicholas membuatnya tertampar. Apa benar kekasihnya itu tidak menyayanginya lagi?
Argumen Kejora semakin diperkuat ketika ia menelepon tadi dan kekasihnya mengatakan lembur kerja di kantor. Setahu Kejora, Finn sangat jarang lembur. Malahan pria itu suka menjemputnya dari kerja dan membawanya jalan-jalan di malam hari.
"Dia tidak menjemputmu sekarang, bisa saja dia sedang berselingkuh dengan wanita lain," sengit Nicholas.
"Tidak mungkin dia berselingkuh. Aku kenal Finn, dia baik."
"Aku memergokinya bersama atasannya waktu itu. Makan siang berdua pula. Aku tidak yakin tidak ada hubungan di antara mereka." Nicholas menatap dingin Kejora yang terlihat tersudutkan.
"T-tapi dia tidak mungkin selingkuh. Dia sudah berjanji untuk setia padaku," cicit Kejora.
Nicholas memukul kaca mobil di sebelahnya karena tersulut amarah. Lekas mencengkeram kedua bahu Kejora dengan sorot mata yang tajam.
"Sadar, sialan! Jangan dibutakan oleh cinta! Dia bukan tidak akan meninggalkanmu, tapi belum meninggalkanmu! Dia bahkan tidak sebaik yang kau pikirkan! Bisa tidak gunakan otakmu sedikit?!" gertak Nicholas sambil menatap nyalang Kejora yang hanya diam membisu sambil mengerjap.
Nicholas masih menatap sengit. Cengkeramannya perlahan mengendur dan akhirnya memalingkan muka lalu menyalakan mobilnya lagi. Emosinya masih naik turun sebab wanita di sebelahnya itu sangat sulit dinasihati.
Sementara Kejora hanya terdiam sambil membatin. Perkataan Nicholas sedikit menyentil perasaanya. Apakah benar kekasihnya di sana berselingkuh? Apakah dia akan ditinggalkann setelah semua yang terungkap?
"Kenapa?" Kejora tersenyum getir. "Kenapa kau membuatku bingung dengan sikapmu? Kenapa kau seolah-olah peduli padaku padahal dulu kau bersikeras mengusirku? Sebenarnya apa rencanamu?"
Nicholas diam. Tanpa menoleh maupun menjawab sepatah kata apa pun. Tangannya mencengkeram erat stir kemudi tanpa melihat bagaimana Kejora menatapnya penuh selidik.
"Di mana rumahmu?" tanya Nicholas dingin.
Kejora terkekeh ketika pertanyaannya tidak dijawab. "Lurus saja lalu belok kanan."
Nicholas segera melajukan mobilnya cepat. Mengikuti intruksi Kejora untuk sampai ke rumah wanita tersebut. Setelah sampai, Nicholas menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil.
"Terima kasih sudah mengantarku," kata Kejora. Sementara Nicholas hanya berdehem sebagai balasan.
"Kalau begitu aku masuk dulu, kau segeralah pulang." Kejora lekas berlari dan segera membuka pintu rumah.
Nicholas masih menunggu sampai pintu itu tertutup. Pandangannya malah teralihkan kepada sepasang sepatu butut di depan rumah yang sudah tidak layak pakai.
__ADS_1
Nicholas mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah kontrakan Kejora yang sempit dan jauh dari perkotaan. Tiba-tiba saja sebuah panggilan berdering di ponsel Nicholas.
"Kerja bagus. Terus awasi dia. Aku akan ke sana sebentar lagi."