
"Bersama seorang wanita?"
Nicholas memperhatikan dari kejauhan, semula ia tidak begitu penasaran, tapi ketika melihat ada seorang wanita bersama dengan Finn rasa penasarannya malah timbul. Sayangnya, kehadiran Nicholas diketahui oleh Finn. Finn dengan segera menghampiri sambil menatap keheranan kepada Nicholas.
"Tuan Nich, kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini," sapa Finn sambil tersenyum.
"Ada rapat dengan klien." Nicholas tersenyum. "Kau sendiri? Kenapa ada di sini?"
Belum sempat Finn menjawab, wanita yang bersama Finn tadi datang dan menyela ucapan.
"Finn, kau mau makan apa?" tanya wanita itu.
Nicholas beralih menatap wanita di sebelah Finn. "Dia ...."
"Dia Bu Mega, Pak. Bagian HRD di tempat perusahaanku bekerja. Kebetulan kami bertemu di sini dan berniat makan siang bersama. Kalau tidak keberatan, apakah Anda bersedia makan bersama kami?"
"Tentu," jawab Nicholas tanpa berpikir lagi. Nicholas dengan senang hati berjalan menuju salah satu meja tempat Finn memesan tadi.
Nicholas membuka kancing bawah jasnya agar tubuhnya tidak merasa sesak. Nicholas bukan tipe orang yang mudah diajak makan bersama, tapi untuk kali ini ia begitu tertarik untuk menyetujuinya.
"Dia itu Tuan Nicholas, presdir dari perusahaan Maferik Grup. Pengusaha kondang yang terkenal," ucap Finn menjelaskan kepada Mega dengan logat bicara penuh antusias. Sementara Nicholas tersenyum tipis menanggapi.
Mega tersenyum ramah. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Nicholas."
"Kehormatan juga bisa bertemu denganmu." Nicholas menanggapi dengan senyuman tipis.
"Rasanya masih seperti mimpi bisa makan bersama dengan Anda, Tuan." Finn dengan wajah berseri-serinya memuja Nicholas.
Nicholas terkekeh. Ia bersikap seramah mungkin menanggapi. Nicholas bisa melihat tadi waktu ia akan duduk di sebelah Finn, wanita itu lebih dulu menyela dan duduk di kursi dekat jendela. Nicholas mau tidak mau memilih kursi lain berhadapan dengan Finn.
"Tapi sepertinya kehadiranku di sini sangat kurang tepat. Mengganggu momen indah waktu makan kalian berdua." Nicholas terkekeh setelah mengatakan itu, memandang Finn yang nampak bingung dengan ucapannya.
"Maksud Anda?" Finn menatap bingung.
"Tidak, Tuan. Lagipula bukankah banyak orang semakin bagus? Apalagi seorang pengusaha kondang seperti Anda jarang sekali bisa diajak makan bersama dengan orang rendah seperti kami," sela Mega sambil memberikan senyuman indah.
__ADS_1
"Kau terlalu memujaku." Nicholas tersenyum sekilas. "Lagipula aku juga senang bisa menemani kalian yang datang untuk makan berdua."
Mega membalasnya dengan senyuman. Berdiri dari kursi sambil membawa tas yang sebelumnya ia taruh di kursi. "Saya izin ke kamar mandi dulu."
Nicholas melirik wanita yang sudah berjalan menjauh untuk pergi ke kamar mandi itu. Ujung bibirnya sedikit berkedut. Nicholas cukup tahu apa yang ada di pikiran wanita itu.
Finn heran, tapi ia kembali menatap Nicholas di depannya. "Saya juga ingin berterima kasih kepada Anda waktu itu karena sudah menjaga Kejora. Waktu itu saya kembali ke ruangan, Anda sudah tidak ada."
Nicholas tersenyum. "Waktu itu ada panggilan mendadak jadi aku harus segera ke kantor."
"Susah, ya, kalau jadi presdir. Mau ke mana-mana saja pasti melibatkan pekerjaan."
"Masalah selalu saja ada, jadi mau tidak mau, ya, harus siaga." Nicholas menjawab dengan santai.
Finn mengangguk membenarkan. "Tapi pria yang sempurna seperti Anda pasti sudah memiliki kekasih, bukan?"
"Aku tidak punya kekasih," jawab Nicholas tenang.
"Anda bercanda, Tuan? Apa jangan-jangan Anda sudah memiliki istri?" Finn melirihkan suaranya di kata terakhir. Takut bila ada yang mendengar.
"Kekasih tidak, istri juga tidak? Pria se-sempurna Anda tidak memiliki wanita satupun? Aneh sekali," tutur Finn sambil mengerutkan kening.
"Aku berkata jujur." Nicholas memajukan wajahnya dan berkata lirih kepada Finn. "Aku menyukai pacar orang."
Finn menaikkan sebelah alis. Tidak menangkap maksud dari Nicholas. Nicholas menarik diri sambil tersenyum melihat wajah kebingungan dari Finn itu. Pria di depannya sungguhlah lucu, padahal Nicholas hanya mengeluarkan jurus pertama saja.
"Anda menyukai pacar orang?"
"Kenapa? Masih pacar, kan? Orang yang sudah menikah saja masih bisa berselingkuh, apalagi pacaran?" Nicholas tersenyum culas.
Finn tidak habis pikir dengan pria di depannya itu. Bagaimana bisa seorang pengusaha kondang rela mencintai kekasih orang lain padahal banyak wanita yang mengantre untuk menjadi pasangannya?
"Ah, mungkin maksud Anda tipe wanita milik pacar orang tersebut sesuai dengan kriteria Anda. Jadi, tipe wanita bagaimana yang Anda sukai?" Finn mencoba berpikir positif dan menjabarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Sangat sulit mempercayai jika Nicholas serendah itu untuk merebut kekasih orang lain.
"Seperti kekasihmu," jawab Nicholas dengan senyum tipis.
__ADS_1
Finn sontak membulatkan mata. Napasnya sempat terhenti beberapa saat ketika Nicholas dengan jelas menjawab pertanyaannya tadi. Finn tidak habis pikir sekaligus tidak percaya kepada pria yang ada di depannya tadi. Tipe wanita idamannya adalah Kejora?
"A-apa? Anda menyukai Kejora? Kekasihku?" tanya Finn terbata-bata sambil menunjuk dirinya sendiri.
Nicholas tersenyum tipis, lalu beberapa saat terkekeh karena melihat ekspresi mengejutkan Finn. "Bukankah tadi kau bertanya bagaimana tipe wanita yang kusukai? Aku sudah menjawabnya. Yang seperti pacarmu. Bukan berarti juga aku menyukai pacarmu."
Finn juga ikut terkekeh. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia malu karena sudah menduga yang tidak-tidak kepada Nicholas.
"Ah, maaf. Sudah menduga Anda sembarangan. Haha, benar juga, Anda bisa memilih wanita-wanita sukses di luar sana yang punya keluarga kaya dan background pendidikan tinggi dibandingkan dengan Kejora," sahut Finn merasa tidak enak.
Nicholas menaikkan sebelah alis mendengar pernyataan Finn. Namun, dia hanya menanggapinya dengan senyuman supaya tidak kentara bahwa sedikit terkejut mendengar jawaban itu.
"Memangnya kenapa dengannya? Aku lihat dia wanita yang baik dan setia. Zaman sekarang setia lebih mahal daripada wanita yang bermodalkan paras." Nicholas menjawab.
"Anda benar. Maka dari itu aku memilih Kejora," jawab Finn.
"Tapi apa kau tidak khawatir dia akan berselingkuh?" Nicholas menaikkan sebelah alis menatap Finn yang nampak terkejut.
"Selingkuh? Kejora? Rasanya tidak mungkin. Kejora gadis yang lugu dan setia pada pasangan. Aku yakin dia tidak akan selingkuh dariku."
Nicholas mengangguk, mencermati jawaban itu. Menepuk paha lalu berdiri ketika sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Nicholas berdiri sambil mengamati Finn yang ikut berdiri juga.
"Aku masih ada rapat. Terima kasih atas tawarannya. Mungkin lain kali kita bisa makan bersama lagi," tukas Nicholas.
"Tapi, Tuan, makanannya sebentar lagi akan siap." Finn berusaha mencegah.
"Lain kali saja." Nicholas tersenyum lalu segera berjalan menjauh dari sana. Menghiraukan tatapan aneh dari Finn di sana.
Nicholas segera memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari restoran. Tidak lama dia masuk mobil, wanita yang bersama Finn tadi sudah kembali dan duduk di kursi sambil menyantap makanan yang baru saja datang. Apalagi pakaian wanita itu sangat terbuka sampai menampakkan belahan dada.
Nicholas mengerti apa yang ada di pikiran pria ketika melihat pemandangan itu, ia tidak percaya jika Finn tidak akan tertarik dengan pemandangan gratis itu. Nicholas menyeringai, menatap kedua insan itu dengan tatapan tak biasa.
"Tuan, bukankah itu kekasihnya Nona Kejora?" Hans menyeletuk.
Nicholas menyeringai. Seringai di bibirnya cukup menjelaskan akan hal apa yang akan dilakukan olehnya.
__ADS_1
"Sepertinya ... akan ada permainan yang sangat seru, Hans."