Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Tersebarnya Rumor


__ADS_3

Pagi ini beredar di media masa mengenai berita skandal Nicholas yang bermalam dengan seorang karyawan di sebuah hotel. Ditambah dengan kata-kata yang menggiring opini public bahwa Nicholas adalah sosok pemain wanita. Berita cukup gembar dan memberikan pengaruh besar pada perusahaan. Seperti sekarang, Nicholas melemparkan ponsel ke sofa setelah tahu dirinya menjadi bahan perbincangan massa.


“Siapa yang membocorkan rahasia ini? Bukankah hanya kita yang tahu soal ini?” gusar Nicholas.


“Masalah ini hanya kita dan Nona Kejora yang tahu. Tapi tidak mungkin kan kalau dia yang membocorkannya?” Hans berasumsi.


Nicholas juga ikut nampak berpikir. "Kalau bukan dia siapa lagi? Hanya dia yang tahu."


“Mana mungkin, untuk apa juga Nona Kejora melakukannya? Kalau memang dia mau melakukannya, bukankah harusnya dari dulu saja? Kenapa harus menunggu sekarang?”


Nicholas membenarkan. Jika mau, sudah dari dulu Kejora melakukannya. Bukan waktu-waktu sekarang.


Nicholas menghela napas Panjang. Sesuai yang ia duga, ponselnya terus berbunyi setiap saat. Banyak panggilan dari orang-orang penting perusahaan untuk menanyakan kebenaran dari berita tersebut. Sepertinya kali ini Nicholas diserang secara halus oleh musuhnya.


“Bagaimana ini, Tuan? Mereka terus mempertanyakan kebenaran dari berita ini,” tutur Hans.


“Tidak ada pilihan. Kita selesaikan.” Nicholas beranjak dari sofa diikuti dengan Hans di belakangnya.


Nicholas menopang dagu dengan sebelah tangan sambil memikirkan kata apa yang akan ia sampaikan nanti untuk membersihkan namanya yang sudah tercoreng itu. Nicholas juga berpikir, siapa yang membocorkan hal ini kepada media sementara rahasia itu hanya diketahui olehnya.


“Dia sudah tahu hal ini?” tanya Nicholas.


“Maksud Anda Nona Kejora? Saya sudah memberitahunya dan menyuruhnya untuk tetap di rumah selama berita ini masih memanas.” Hans menatap atasannya dari kaca spion mobil.


“Baguslah. Beritahu dia untuk tidak keluar rumah selama berita ini belum reda. Takutnya dia mendapat penghakiman dari orang,” tambah Nicholas.


“Baik, Tuan. Saya dapat kabar lagi kalau banyak wartawan di depan perusahaan dan kemungkinan tantangan awal kita yang pertama adalah mereka, Tuan. Dan juga Nyonya Amor sudah berada di sana.”


"Apa jangan-jangan Nyonya yang membocorkannya? Tapi darimana dia tahu tentang ini?" sambung Hans.

__ADS_1


Nicholas menyeringai. Dia cukup tahu dari maksud kehadiran ibu tirinya itu. Pasti hanya akan memperkeruh suasana dan menyudutkannya. Nicholas cukup paham dengan trik itu.


“Terlepas dia atau bukan pelakunya, tidak ada waktu untuk mundur. Kita ikuti permainannya.”


Benar saja, setibanya di perusahaan mobil Nicholas sudah dikepung oleh puluhan wartawan dengan berbagai pertanyaan. Nicholas harus dikawal beberapa orang untuk bisa masuk ke perusahaan dengan aman. Sebelum masuk ke perusahaan, Nicholas berdiri di depan para wartawan yang saling berdesakan menyorotnya.


“Teman-teman wartawan semuanya, aku tahu kalian sangat ingin tahu tentang kebenarannya. Tapi untuk sekarang, beri kami waktu untuk menyelesaikan semuanya dan cepat memberikan informasi yang akurat kepada kalian.”


Nicholas langsung masuk ke perusahaan setelah mengatakan hal itu. Baru beberapa Langkah, dirinya sudah dihadang oleh Amor. Wajah wanita paruh baya itu terlihat meremehkan, merasa senang dengan pergolakan yang dihadapi Nicholas.


“Aku terkejut mendengar berita itu pagi ini. Bagaimana seorang presdir perusahaan punya skandal seperti itu?” sindir Amor. Kedua tangannya terlipat di atas dada dengan tatapan mengejek.


Nicholas menoleh ke arah Amor dengan senyum tipis.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi sepertinya ada hal yang lebih patut kau khawatirkan.” Nicholas menunjuk ke dahi. “Kerutanmu terlihat mengerikan.”


Steve yang sebelumnya dilanda kekhawatiran mengenai rumor itu, kini langsung menyergap Nicholas yang baru saja keluar dari lift.


“Kak, apa benar gosip itu? Jadi kalian itu sebenarnya punya kaitan? Jadi itu sebabnya kau mengizinkan kaka ipar berada di rumahmu karena kalian memang pernah punya masalah? Kau memanfaatkan ketakutannya, Kak?” cerca Steve berulang kali. Sementara Nicholas hanya terdiam menanggapi.


“Tuan, sebaiknya nanti saja ditanyakannya,” sahut Hans menghadang Steve yang terus-terusan mencerca pertanyaan.


Nicholas membuka pintu ruangan rapat di mana sudah ada orang penting perusahaan termasuk ayahnya sendiri melihatnya bak ingin menelan. Nicholas menarik napas dalam sebelum akhirnya duduk di hadapan para dewan. Di sebelah sana juga ternyata ibu tirinya juga ikut hadir dalam ruangan.


“Jelaskan tentang berita itu.” Edwin selaku ayahnya Nicholas melemparkan sebuah artikel mengenai berita itu ke hadapan Nicholas.


“Presdir Nich, apa benar rumor itu? Dalam video itu terpampang jelas wajah Anda dan hal ini menjadi topik panas dalam media.”


“Benar itu. Berita ini juga pasti berpengaruh terhadap citra perusahaan. Bagaimana Anda mengatasinya?”

__ADS_1


"Bagaimana bisa seorang presdir terlibat skandal seperti ini? Ini sangat memalukan. Suamiku, sepertinya kau harus mempertimbangkannya," sahut Amor meremehkan.


Suasana mendadak ricuh. Saling menyudutkan dan memperkeruh suasana. Edwin menggebrak meja dan bangkit dari kursi sambil menatap sang putra yang nampak diam menanggapi semuanya.


“Aku beri waktu kau satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tidak selesai, kau akan diberi peringatan,” kata Edwin sebelum dia meninggalkan ruangan.


Satu persatu orang pun meninggalkan ruangan. Tersisa Nicholas dan Hans saja di sana. Nicholas meraup wajahnya gusar. Masalah kali ini cukup membuatnya pusing. Dalam waktu satu minggu ia harus bisa menemukan orang yang menyebarkan rumor itu dan membalikkan keadaan.


Steve berjalan hati-hati mendekati Nicholas yang nampaknya sedang kesusahan. Duduk di sebelahnya dengan berbagai pertanyaan yang timbul.


"Kak, bagaimana bisa ini terjadi? Kau memang memaksa kakak ipar dan memperkosanya?" tanya Steve.


"Bukan seperti itu, Tuan. Tuan Nich hanya sedang dijebak oleh seseorang." Hans menyahut.


"Dijebak?" Steve menaikkan sebelah alis.


"Benar. Dan entah kenapa sekarang keadaannya seperti ini."


Steve menyandarkan tubuhnya di bahu kursi sambil memikirkan kasus kakaknya itu.


"Kalau seperti ini, bukankah kakak ipar sekarang dalam kondisi tidak aman? Pasti wartawan akan cepat menemukan rumahnya dan dia akan dikepung oleh wartawan. Kak, bukankah itu mengkhawatirkan?" tanya Steve.


Nicholas membalas tatapan Steve. Memang sedari tadi juga dia berpikir tentang bagaimana kondisi di sana. Takutnya hal yang tidak-tidak akan terjadi.


"Aku akan ke sana, Kak. Aku kan mengamankan kondisi di sana." Steve bergegas pergi dari ruangan dengan raut kekhawatiran.


Nicholas menatap bayang-bayang Steve meninggalkan ruangan. Betapa khawatirnya adiknya itu terlihat jelas. Nicholas jadi berasumsi bahwa perkataan Steve waktu itu memang tidak main-main.


"Hans, katakan pada departemen teknologi untuk menyelidiki siapa yang menyebarkan berita ini pertama kali. Setelah itu, ikut aku ke suatu tempat."

__ADS_1


__ADS_2