
Ah, capek sekali."
Kejora melemparkan tasnya sembarangan. Merebahkan diri di ranjang untuk menghilangkan penatnya setelah satu hari penuh bekerja. Hari ini begitu banyak kejadian yang membuatnya pening.
Mulai dari sindiran orang-orang, masalahnya dengan pria pemaksa itu sampai pertemuannya dengan Finn yang dibimbui dengan Nicholas. Kejora tidak habis pikir, ada saja masalah yang menimpanya.
Kejora mengambil tas yang ia lemparkan tadi untuk mengambil ponsel dan mengabari Finn bahwasannya dirinya sudah selamat sampai di rumah. Namun, tiba-tiba saja sebuah kartu kecil ikut jatuh bersamaan waktu dia mengambil ponsel. Kejora mengangkat kartu nama tersebut, ternyata adalah milik pria pemaksa tadi.
"Kapan dia memasukkannya?" tanya Kejora heran. Ia baru ingat waktu di ruangan, Kejora dipojokkan dan kemungkinan besar waktu itu Nicholas memasukkan kartu nama tersebut.
Kejora berniat menyobek kartu nama tersebut. Namun, niat itu diurungkan. Entah perasaan apa yang hinggap di hatinya membuat tidak tega jika merobek kartu nama tersebut. Kejora menggeleng, lalu menarik laci dan menyimpan kartu nama tersebut.
Kejora berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Memikirkan tentang perkataan Nicholas pagi tadi. Kejora sendiri tidak memberitahu siapa pun tentang masalah dirinya yang diperkosa. Kejora terlalu takut untuk mengatakan hal itu.
"Tidak mungkin aku hamil, kan? Hanya satu kali pasti tidak akan berhasil." Kejora tanpa sadar mengelus perutnya sendiri. "Tapi kalau aku hamil ...."
"Tidak! Aku tidak mau hamil anaknya. Haha, yang benar saja. Masa hanya satu kali langsung jadi? Mustahil sekali." Kejora tertawa hambar meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan mengandung anak pria pemaksa itu.
"Haha, benar. Tidak mungkin aku hamil anaknya. Ayo Kejora, lupakan itu. Kau tidak mungkin mengandung anak pria itu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak," pungkas Kejora sambil menggelengkan kepala.
Kejora membuang jauh pikiran buruknya. Lekas ia menarik selimut dan terbang ke alam mimpi sebelum besok bertempur lagi dengan pekerjaannya.
Keesokan harinya Kejora sudah bersiap-siap untuk bekerja. Memakai seragam kerja juga tanda pekerjanya. Mengenai tanda pekerjanya Kejora jadi ingat bagaimana Nicholas mengembalikannya. Gara-gara pria itu juga Kejora harus merasa kewalahan karena kecurigaan Finn padanya.
"Nek, aku berangkat kerja dulu," pamit Kejora sambil meminum kopi hangat di atas meja.
"Eh, kamu belum sarapan sudah mau berangkat?"
__ADS_1
"Aku sarapan nanti, Nek!" teriak Kejora yang sudah memakai sepatu di depan pintu rumah lalu bergegas untuk berangkat kerja.
Kejora mulai cekatan setelah sampai di tempat kerjanya. Mulai merapikan kamar-kamar yang sebelumnya sudah dipakai dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Kejora bersemangat melakukan tugasnya hari ini, seakan tidak ada beban yang menghalanginya.
Namun, kebahagiaan Kejora sirna setelah ember yang digunakan untuk mengepel lantai kamar mandi ditendang dengan kasar oleh seseorang.
Kejora mendongak, di belakangnya ada seorang wanita yang juga seniornya menatapnya dengan tatapan nyalang. Wanita itu bernama Agnes, senior galak yang suka menindas Kejora.
"K-kenapa?" tanya Kejora bergemetar. Agnes di depannya tengah menatap dengan sinis.
"Kenapa?" Agnes terkekeh. "Aku yang seharusnya bertanya padamu, Kejora!"
Kejora mengerjapkan matanya bingung. "A-aku? Aku kenapa?"
"Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Tuan Nich sampai dia memilihmu? Apa kau menggodanya?" Agnes melipat tangan di atas dada sambil mengamati penampilan Kejora dari atas sampai bawah.
"A-aku tidak menggodanya," jawab Kejora jujur. Kejora memang tidak berniat mencari muka dengan siapa pun.
"Bohong! Jelas-jelas aku melihat dia memilihmu waktu itu. Sebenarnya apa yang dia lihat dari dirimu? Jelas-jelas aku lebih cantik, mantap, dan menggoda dibanding denganmu. Tapi kenapa dia malah memilih wanita kucel sepertimu?" Agnes tertawa mengejek. Ia merasa tinggi dibanding dengan Kejora yang tidak punya apa-apa itu.
Agnes melangkah mendekat. Menghunus tatapan tajam kepada Kejora yang nampak ketakutan. Tangannya mencengkeram kedua rahang Kejora dengan kuat sehingga menimbulkan bekas kemerahan di sana.
"Kau pasti menjual tubuhmu padanya, kan?" tekan Agnes sambil mencengkeram lebih kuat.
"A-aku tidak menjual tubuhku," jawab Kejora. Menggeleng kuat ketika cengkeraman di dagunya perlahan menguat.
"Mana ada maling yang mengaku, Kejora! Aku pernah lihat dia menghampirimu dan tunduk padamu. Apalagi kalau bukan kau menyerahkan diri kepadanya?!" Agnes melepaskan cengkeraman itu dan menampar keras pipi Kejora sampai Kejora memalingkan muka akibat tamparan itu.
__ADS_1
"Apa kau belum puas menggoda manager hotel sekarang pindah menggoda Tuan Nich? Seleramu tinggi juga ternyata. Kukira orang sepertimu tidak akan berpikir sejauh itu. Tapi ternyata ..." Agnes mengangkat dagu Kejora. "Kau lebih busuk dari perkiraanku!"
Agnes menghempaskan dagu Kejora. Mengambil shower yang tertata rapi lalu menyiramkannya kepada Kejora. Agnes tertawa sumbang, semakin gencar membasahi tubuh Kejora dengan air. Sementara Kejora hanya merunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis merasakan tubuhnya terkena air dingin.
"Menangislah yang kencang, Kejora! Menangislah! Biar semua tahu bagaimana wanita lemah sepertimu ternyata lebih busuk daripada sampah! Tukang penggoda pria orang!" bentak Agnes penuh dengan tertawaan senang. Setelah puas menyiram Kejora dengan shower, Agnes menyiramkan air bekas pel itu kepada Kejora lalu menaruh ember itu di kepala Kejora.
"Itu balasan karena kau sudah berani-beraninya menggoda pria incaranku!"
Agnes tertawa penuh kebahagiaan. Membiarkan Kejora terisak dalam kedinginan. Lekas dia keluar dari kamar mandi dan menguncinya dari luar. Agnes menaruh kunci tersebut di meja sebelahnya lalu mengucapkan salam perpisahan pada Kejora.
"Selamat bersenang-senang di dalam, Kejora!" teriak Agnes sambil tertawa. Lekas meninggalkan Kejora di dalam sana sendirian.
Kejora membuang ember di kepalanya. Mendekat ke arah pintu dan mencoba membukanya. Namun, naas pintu sudah terkunci dari luar. Berulang kali Kejora menggedor-gedor dan berteriak meminta untuk dibukakan pintu. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali dari luar.
"Tolong buka pintunya! Siapa pun buka!" teriak Kejora sambil menggedor pintu dengan keras.
"Siapapun, buka! Buka pintunya!"
"Akh, perutku ... sakit." Kejora terduduk sambil memegang perutnya yang terasa kram. Kejora tidak tahu entah karena apa, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit.
Tidak ada yang bisa Kejora lakukan. Ponselnya tadi ia tinggalkan di atas meja sebelum membersihkan toilet tadi. Nasib sial selalu menghampirinya. Kejora meringis, menangis. Kejora merutuki diri sendiri. Kenapa ia harus selalu terlibat masalah seperti ini.
Kejora merasa sia-sia. Ia terduduk di depan pintu kamar mandi sambil memeluk lututnya sendiri. Kejora menangis, memukul dadanya sendiri yang terasa sesak akibat menangis.
Secara tidak terduga, tiba-tiba perutnya terasa nyeri yang semakin lama semakin sakit. Kejora meringis, menangis. Kejora merutuki diri sendiri. Kenapa ia harus selalu terlibat masalah seperti ini.
"Cobaan apalagi ini, Tuhan?" batin Kejora menjerit.
__ADS_1