Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Partner Ranjang


__ADS_3

"Aku merasa sedikit bersalah karena telah membohonginya," ucap seorang pria yang terduduk di atas ranjang sambil menatap ponsel yang berada di atas nakas.


Wanita yang tengah memakai bathrobe baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai melaksanakan ritual mandinya. Mega merotasikan mata mendengar pernyataan Finn yang terdengar sangat plin plan.


Wanita itu baru saja membersihkan diri setelah pertempurannya dengan berondong menggoda seperti Finn. Bagaimana tidak dikatakan berondong, usia Mega jauh lebih tua terpaut lima tahun dari Finn.


"Apa kau baru saja menyesal membohongi pacarmu?" tanya Mega.


Finn menatap ke arah Mega. "Seperti ada yang mengganjal saja."


Mega berdecak. Mendekat ke arah ranjang dan duduk berhadapan dengan seorang pria yang nampak seperti orang linglung itu.


"Apa kau tidak ingat perbuatannya? Dia sudah tidur dengan pria lain, Finn. Apa kau ikhlas begitu saja dia bergumul dengan pria lain padahal kau saja belum melakukannya?" pancing Mega membangunkan pikiran negatif Finn.


"Aku tidak ikhlas. Tentu saja tidak terima. Tapi dia mengatakan bahwa dia diperkosa oleh seseorang bukan secara sukarela," jawab Finn.


Mega menghela napas. "Lalu kenapa dia tidak meminta pertanggung jawaban pada orang yang memperkosa dia? Kenapa malah masih berpacaran denganmu? Apalagi namanya kalau bukan mau memanfaatkanmu, Finn. Ingat, wanita seperti dia akal liciknya banyak."


Finn menatap lawan bicaranya dengan seksama. Benar juga apa yang dikatakan. Kenapa Kejora tidak meminta pertanggung jawaban? Kenapa malah memilih dirinya sebagai kekasih? Apa benar Finn dia hanya akan dimanfaatkan dan dipermainkan oleh Kejora?


"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Segeralah mandi dan kita berangkat kerja."


Finn melihat Mega yang berjalan menuju meja rias untuk menyisir rambut dan memakai make up ke wajahnya. Wanita di depannya itu sudah mendominasi dirinya, bahkan bila dikatakan orang yang berinisiatif sendiri.


Bentuk tubuh yang menggoda dengan belahan dada yang menyembul indah membuat hasrat dalam diri Finn meningkat. Finn hanyalah seorang pria biasa yang bisa tergoda kapan saja.


Jika dibandingkan dengan Kejora, Mega sangat berbeda jauh. Kejora selalu mengenakan pakaian tertutup di tubuhnya, sementara Mega suka memakai pakaian ketat dan menunjukkan bagian tubuhnya untuk menarik perhatian lelaki. Cukup Finn aku bahwa Mega memang sudah profesional dalam hal pelayanan, mengingat wanita itu memang sudah menikah lama.


"Apa kau setiap hari tidur dengan pria yang berbeda?" tanya Finn penasaran.


"Tidak. Hanya kau," jawab Mega.


Finn mengulum bibir. "Apa suamimu tidak tahu kelakuanmu di belakang seperti ini?"

__ADS_1


Gerakan brush yang memoleskan blush on di pipi Mega terhenti. Wanita itu menatap ke arah Finn lewat kaca besar di hadapannya dengan tatapan datar.


"Tentu tidak. Dia sering dinas ke luar kota bahkan luar negeri. Makanya kami jarang bertemu."


"Lalu kau memutuskan untuk tidur dengan pria lain sebagai pengganti suamimu?" Finn semakin penasaran dengan seluk beluk wanita di depannya itu.


Mega berdecak. "Ck, pengganti? Aku saja tidak yakin kalau dia di sana juga tidak tidur dengan wanita lain. Pria seperti kalian pasti tidak akan puas dengan satu wanita."


Finn mengangguk penuh keraguan mendengarkan jawaban itu. Ternyata alasan di balik perlakuan Mega adalah suaminya yang selalu jarang pulang karena kesibukan kerja.


"Kenapa? Kau menyesal sudah tidur denganku?"


Finn mendongak, tanpa menjawab apa pun.


"Tenang saja. Aku akan menaikkan jabatanmu sesuai janjiku kemarin. Tentunya posisi dan gajinya juga akan tinggi. Aku tidak pernah mengingkari janjiku," ucap Mega menjelaskan. Ia selesai dengan riasannya dan berjalan mendekati Finn yang masih duduk di atas ranjang.


"Karena kau sudah memuaskanku, aku akan memberikan imbalan," bisik Mega sambil mengelus dagu Finn.


Finn mencekal tangan Mega yang mengelus dagunya. "Imbalanmu harus setimpal."


Finn tersenyum tipis. Tanpa menjawab ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia mengambil baju baru untuk dipakai lalu bersiap keluar dari kamar hotel untuk berangkat ke kantor.


Finn dan Mega berjalan beriringan menaiki lift untuk sampai di lantai bawah. Keduanya saling mengumbar senyum dan berbincang dengan akrab di sana. Di sela-sela berbicara, tiba-tiba saja ada seseorang yang menabrak Mega dan menumpahkan sebuah minuman ke baju kerja wanita itu.


"Bisa jalan tidak?! Kau mengotori bajuku!" sentak Mega.


Pria yang tidak sengaja menabrak itu hanya menaikkan sebelah alis. "Aku tidak sengaja. Lagipula ini juga bukan sepenuhnya salahku. Kau sendiri yang terlalu asik dengan pacarmu sampai tidak melihat jalan."


Mega tersulut emosi. "Berani-beraninya kau menyalahkanku! Sudah salah tapi melimpahkannya kepada orang lain! Astaga, aku harus ganti baju kalau seperti ini. Finn, tunggu sebentar di sini aku akan ganti baju sebentar."


Finn mengangguk. Melihat Mega yang sudah berbelok ke kamar mandi untuk membersihkan noda di bajunya akibat guyuran tidak sengaja pria asing tersebut.


"Jadi simpanannya, ya?" celetuk pria asing tersebut memecahkan keheningan Finn.

__ADS_1


Finn menaikkan sebelah alis. Menatap aneh kepada pria di depannya itu.


"Eh, jangan marah dulu. Aku hanya menduga. Kulihat sepertinya usia kita tidak terpaut lama. Siapa namamu? Namaku Steve."


Steve mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Pria itu terlihat sangat antusias dan bersemangat. Menatap pria di depannya yang sama sekali tidak merespon ajakan perkenalannya itu. Akhir kata, Steve menarik tangannya lagi dan memasukkannya ke saku celana.


"Tidak apa kalau kau tidak mau menyebutkan namamu. Aku hanya mau memberikan pujian. Kau sungguh hebat bisa mengaet wanita seperti dia. Jaman sekarang memang lebih enak yang tua-tua dibandingkan yang gadis. Lebih berpengalaman," bisik Steve sambil menaik turunkan alisnya menggoda.


"Apa kau bilang?" Finn menyipitkan matanya.


"Haha, tidak usah malu, Bro. Aku tahu latar belakangmu melakukan ini. Sudahlah, tidak usah malu-malu mengatakannya. Aku juga punya banyak teman yang bekerja sampingan sepertimu," ujar Steve terlihat akrab.


Menepuk bahu Finn sebelum akhirnya ia pergi sambil memakan snack di tangannya.


Finn hanya menaikkan sebelah alis melihat kelakuan pria asing tersebut. Finn hanya merasa tidak terima jika dia disebutkan menjadi simpanan seorang wanita tua. Rasanya tadi ia akan memukul pria itu, tapi diurungkan melihat bahwa sedang di lobi hotel.


Mega sudah selesai berganti baju dan menghampiri Finn. "Pria sombong itu sudah pergi?"


"Sudah," jawab Finn.


"Tidak tahu malu memang. Sudah menabrak malah kabur begitu saja. Sudahlah, ayo kita kita pergi." Mega menggandeng tangan Finn dan mengajaknya keluar dari hotel.


Berbeda dengan Steve yang nampak santai di dalam lift sambil menunggu untuk sampai di lantai lima. Steve masih terbayang dengan kejadian di lobi hotel tadi.


Tidak bisa disangkal juga, Steve juga sering memergoki teman-temannya menjadi simpanan seorang tante-tante yang kaya raya. Makanya ia tadi langsung berasumsi begitu setelah bertemu dengan Finn tadi.


"Cari uang susah, tante-tante pun jadi," gumam Steve sambil menggeleng terkekeh mengingatnya. Ketika lift terbuka, Steve segera berjalan menuju kamarnya. Memencet tombol kunci di pintu dan memutar knop sampai pintunya terbuka lalu memasukinya.


"Tidur dengan wanita mana lagi kau?" tanya seseorang.


Steve tertegun. Belum sempat melepas sendal, senyum Steve meluntur ketika melihat sosok seseorang tengah duduk di sofa dengan aura arogan.


"Kak?!"

__ADS_1


.


__ADS_2