
"Hans, antarkan pekerjaanku hari ini ke rumah. Aku tidak masuk kantor hari ini."
Nicholas mematikan sambungan dari bawahannya lalu lekas mengamati laptop yang berisikan pekerjaannya. Kakinya masih terasa sakit sampai susah untuk digunakan berjalan, karena itu ia memutuskan untuk bekerja di rumah hari ini.
Berbicara tentang Nicholas, pria itu masih kesal dan menyalahkan Kejora atas kejadian itu. Kejora pun merasa takut dan tidak enak, apalagi ketika dipandangi sinis oleh Nicholas seperti saat ini membuat nyalinya menciut.
"I-ini kopinya, Tuan," ujar Kejora bergemetar.
Nicholas diam saja. Sibuk berkutat dengan pekerjaanya. Hal itu dimanfaatkan Kejora untuk menatap wajah Nicholas yang nampak serius itu. Masih meragukan akan kehilangan ingatan Nicholas.
"Untuk apa menatapku seperti itu? Pergi sana!" sentak Nicholas.
Kejora terkejut. Akan tetapi, Kejora tidak bergeser sedikitpun menjauhi Nicholas. "Apa Anda benar-benar lupa segalanya?"
"Maksudmu?" Sebelah alis Nicholas terangkat.
"Rasanya malam itu kita masih bertengkar di tangga darurat, tapi semenjak aku mengusirmu kau langsung tidak ingat aku. Apa semua ini karena kau mau membalaskan dendam kepadaku?"
Nicholas menatap intens. Mengamati Kejora yang berada di sisinya dengan tatapan penuh tanya.
"Aku akui, waktu itu aku salah. Tapi ... rasanya sangat aneh kenapa kau mendadak hilang ingatan." Kejora memilin ujung bajunya, gugup.
"Lalu kenapa kau terlihat kecewa kalau aku hilang ingatan? Bukankah kau harusnya senang?"
Kejora langsung mendongak, lekat tatapannya menjurus kepada Nicholas. Nicholas hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi tapi sebenarnya ada perasaan terselubung di dalamnya.
"Bukankah kau juga menolak tanggung jawabku waktu itu? Kau juga mengatakan kalau tidak mau bertemu denganku lagi. Lalu kenapa kau ada di sini sekarang?" sindir Nicholas.
"A-aku ...."
"Oh, aku tahu sekarang. Kau sudah berubah pikiran setelah tahu harta kekayaanku. Begitu, kan? Cih, semua wanita sama saja! Mata duitan!"
Kejora menggeleng. Tidak membenarkan perkataan itu. "Bukan seperti itu. A-aku ke sini karena nenekku sakit dan membutuhkan biaya untuk pengobatan. Makanya aku meminjam uang darimu, bukan karena ingin kembali padamu."
"Kenapa kau tidak pinjam saja pada kekasihmu itu? Bukankah dia sudah di atas segalanya?" sinis Nicholas. Wajah Kejora yang bimbang membuat Nicholas tersenyum culas.
Kejora jadi mengingatnya. Sampai hari ini Finn mengabaikan semua pesan dan selalu beralasan ketika diajak bertemu. Bahkan neneknya sakit pun, Finn tidak menjenguknya sama sekali. Bisa dikatakan Finn berubah seratus delapan puluh derajat sekarang.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak bisa menjawab?" sela Nicholas.
"Aku dengar-dengar dulu kau sangat mengagung-agukan kekasihmu? Kenapa waktu kau kesulitan tidak meminta bantuannya saja? Kenapa malah berbalik meminta bantuan pada orang yang tidak mau kau temui ini?"
Kejora merasa tertampar dengan kata-kata itu. Ia masih ingat bahwa ia tidak mau bertemu Nicholas lagi, tapi malah Kejora sendiri yang melanggar dan menemuinya. Dan sekarang, Kejora sedang diintimidasi oleh Nicholas.
"Maaf," jawab Kejora tertunduk.
Nicholas menaikkan sebelah alis. Bukan itu jawaban yang ia inginkan. Lirikan Nicholas kian intens ketika Kejora pergi dari sisinya dan kembali menuju ke dapur.
"Tuan, maaf terlambat."
Tidak lama Hans datang membawa beberapa dokumen berisi pekerjaannya Nicholas. Pandangan Nicholas teralihkan kepada setumpuk berkas yang sudah siap dikerjakan. Tanpa peduli lagi apa yang dilakukan Kejora.
Malam tiba, Kejora meregangkan tangannya yang pegal setelah melakukan pekerjaan rumah sampai selesai. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam itu artinya malam sudah hampir larut. Kejora bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat, tapi tidak sengaja dia melihat lampu ruang kerja Nicholas masih menyala.
"Apa dia masih bekerja?" gumam Kejora. Saking penasarannya, ia mendekat untuk memastikan.
Benar saja, Nicholas masih berada di ruangan itu. Namun, nampaknya pria itu terlelap nyaman di atas meja kerja. Kejora perlahan-lahan melangkah mendekat untuk memastikan.
"Dia tertidur dengan posisi seperti ini? Pasti besok pagi badannya pegal-pegal. Tuan, Tuan bangun," ujar Kejora berusaha membangunkan. Namun, hanya lenguhan yang Nicholas keluarkan.
"Dia masih sakit, tapi memaksa untuk bekerja."
Kejora memiringkan wajah dan ikut menumpukkan wajah ke meja yang sama dengan Nicholas sehingga wajah mereka saling berhadapan. Sejujurnya Kejora masih merasa trauma akan kejadian itu, tapi kenapa semesta seolah-olah mengikat dirinya dengan Nicholas?
Di saat kekasihnya tidak bisa, Nicholas bisa melakukannya. Ketika Finn tidak bisa mengantarkannya pulang, Nicholas juga yang membantunya. Kejora merasa dejavu, ini benar-benar membingungkan.
"Sudah puas menatapku?" tegur Nicholas tiba-tiba.
Kejora sontak membulatkan mata kaget. Dengan gerakan cepat ia menarik wajah dan tidak sengaja menyampar gelas kosong di atas meja sampai terjatuh dan terpecah belah-belah.
Nicholas menyipitkan mata melihat wanita yang tengah gugup menghadapinya. Nicholas semakin melihat dengan lekat untuk memastikan. Sebenarnya dia tadi sudah sadar, hanya saja tadi berpura-pura untuk tahu apa yang akan dilakukan oleh Kejora.
"A-aku ... maaf, Tuan. Aku tidak sengaja." Dalam kegugupan, Kejora lekas berjongkok dan mengumpulkan pecahan gelas itu.
Namun, tidak sengaja pecahan gelas itu malah mengenai jarinya sampai mengeluarkan darah. Kejora lekas menyembunyikan jarinya yang terluka dan bergegas pergi dari ruang kerja Nicholas sambil membawa pecahan gelas lainnya.
__ADS_1
Kejora meniup-niup lukanya setelah membasuhnya dengan air di wastafel. Entah kenapa Kejora rasanya ingin menangis, padahal hanya goresan kecil saja. Tidak, Kejora harus tetap kuat. Lekas ia berbalik dari sana tapi malah mendapati Nicholas di belakangnya.
"T-Tuan," cicit Kejora. Menyembunyikan jarinya di belakang tubuh.
"Aku membutuhkan bantuanmu untuk mencucikan benda kesayanganku."
Kejora tanpa sadar langsung menengadahkan kedua tangan, meminta benda itu. "Mana yang harus dicuci?"
Nicholas melirik pada jari Kejora yang terluka. Lekas ia memberikan kotak obat yang sebelumnya sudah ia pegang dengan satu tangan di belakang punggung.
"Obati lukamu. Jangan sampai kau tidak bisa bekerja dan malah menyusahkanku," ujar Nicholas sesaat sebelum ia pergi dari area dapur.
Kejora mengamati kotak obat di tangannya. Kejora dibohongi lagi. Tidak ada barang yang dicuci, melainkan hanya untuk mengetahui apa yang sedang dia sembunyikan. Kejora diam-diam menatap jejak langkah Nicholas yang sempat memberinya kotak obat dengan senyum tipis.
***
Pagi-pagi Kejora sudah sibuk membersihkan area ruang santai. Menatap bantal-bantal di sofa dan menyusun pada tempatnya. Namun, suara hentakan sepatu menginterupsinya membuat Kejora secara spontak membalikkan tubuh.
"Aku akan bekerja. Urus rumah dengan baik," ungkap Nicholas sambil mengancingkan kancing jasnya.
Kejora mendekat. Menatap Nicholas dari atas sampai bawah. "Anda akan bekerja? Bukankah kakimu masih sakit?"
"Aku terkilir, bukan lumpuh." Nicholas menatap sinis.
Kejora tertunduk, merasa bersalah. Apalagi tatapan Nicholas yang mengintimidasi itu. Padahal dia tadi kan hanya menanyakan keadaannya saja.
Kejora mengantarkan Nicholas sampai depan rumah. Di sana sudah ada sang asisten yang siap siaga menjemputnya. Kejora melambaikan tangan ketika mobil yang ditumpangi Nicholas melesat pergi dari sana.
Kejora berbalik untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Terbesit di pikirannya untuk menelepon Finn dan menanyakan kabar kekasihnya itu. Namun, hanya suara nada tunggu sebagai balasannya.
"Apa Finn sesibuk itu sampai tidak mengabariku?" gumam Kejora.
Lama Kejora merenung, ia tersadarkan dengan suara ketukan pintu dari depan. Lekas ia berjalan menuju depan untuk membukakan pintu. Nicholas belum lama pergi, tapi sudah ada yang mengetuk pintu membuat Kejora bingung.
Kejora membukakan pintu dengan cepat. Namun, bukan Nicholas yang datang. Seorang pria yang mungkin usianya tidak jauh dengan dirinya. Tinggi dan pakaiannya terlihat misterius. Serba hitam, memakai masker dan topi hitam juga di atas kepala.
Pria itu mendongak. Menghunuskan tatapan sengit kepada sosok wanita yang asing di depannya. Namun, tidak lama kemudian senyum seringai timbul di bibirnya yang mana menambah suasana menjadi mencekam.
__ADS_1
Kejora merasa ketakutan. Tangannya memegang erat gagang pintu seiring tatapan mengintimidasi dari pria di depannya.
"S-Siapa kau?"