
"Kak?"
Tidak mendapatkan jawaban, Steve memutuskan untuk mengikuti arah pandang Kejora. Di seberang sana ia melihat sepasang kekasih yang nampak mesra sedang berbelanja. Steve menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa bingung kenapa Kejora tampak tidak mengalihkan pandangan dari sana.
"Kak? Ada apa? Kenapa kau——"
"Aku mau pulang," putus Kejora berjalan mendahului.
"Tapi, Kak! Tunggu dulu!"
Steve mengejar Kejora yang lebih dahulu berjalan di depannya.
Keheningan terjadi di dalam mobil, Kejora hanya duduk bersandar dan melihat ke luar jendela semetara Steve tidak berani untuk menanyakan alasan wanita itu diam. Steve hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di sana.
Kejora bergegas keluar dari mobil dan masuk ke rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya tidak salah menangkap bayangan Finn sedang bersama wanita lain di pusat perbelanjaan. Pantas saja kekasihnya itu sulit sekali dihubungi, ternyata malah bermain api di belakangnya.
"Kak, berhenti dulu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, hah?" tanya Steve kebingungan.
Kejora berbalik. "Apa kau mau kubuatkan kopi? Tunggu di sini sebentar, aku akan membuatkan kopi untukmu."
Belum sempat Steve menjawab, Kejora lebih dulu pergi ke dapur dan mengisi air untuk dipanaskan. Hal itulah yang membuat Steve yang masih membawa kantong belanjaan keheranan dibuatnya.
Tidak fokus melakukan pekerjaan, Kejora secara tidak sengaja mengangkat sebuah pemanas air membuatnya tangannya terasa terbakar. Kejora mengaduh kesakitan, meniup-niup tangannya supaya meringankan rasa sakitnya.
"Akhh!" jerit Kejora.
Steve terkejut dan bergegas menghampiri Kejora yang tengah memegangi tangan. Pria itu segera meraih tangan Kejora yang nampak memerah yang bisa dipastikan bahwa itu karena memegang pemanas air yang panas.
"Astaga, tanganmu melepuh!" tukas Steve. Segera mungkin ia membawa Kejora menjauh dari kawasan dapur.
Steve meniup tangan Kejora yang memerah tersebut, merasa perlu membutuhkan penanganan lebih lanjut, Steve segera mengambil kotak obat di laci meja.
"Astaga, kenapa bisa seperti ini, hah? Apa yang sedang kau pikirkan, kakak ipar?" Sebelah tangannya mengobati, sementara pandangan Steve terlihat bingung melihat semua ini.
"Tidak usah diobati," balas Kejora.
"Tidak usah bagaimana? Tanganmu melepuh." Steve tidak terima. "Tahan sedikit, mungkin ini akan sedikit sakit."
Kejora meringis ketika bekas luka bakarnya itu diberikan obat. Ia menggigit bibir dan menahan air matanya untuk tidak turun. Akan tetapi, semakin ditahan, semakin tidak terkendalikan.
Steve mendongak ketika mendengar suara isak tangis. Kejora menangis tanpa suara, menggigit bibir bawah seraya menatap luka bakar di tangannya. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah air mata itu karena lukanya atau karena masalah lain.
"Astaga, aku minta maaf kalau aku menyakitimu, kakak ipar," ujar Steve merasa tangisan Kejora karena ulahnya.
Kejora menggeleng. "Bukan, aku bukan menangis karenamu, sungguh."
__ADS_1
"Lalu kau menangis karena apa? Aku tadi lihat waktu di pusat perbelanjaan kau menatap ke arah lain, apa ada sesuatu yang membuatmu begini?"
Kejora menatap manik mata Steve di depannya. Sebenarnya Kejora bukan menangis karena luka di tangannya, melainkan luka di hatinya. Kejora masih tidak menyangka bahwa Finn yang sudah dia percayai itu dengan tega-teganya mengkhianatinya.
"Menurutmu, apa jika ada dua orang yang berbeda gender pergi bersama dan terlihat romantis apa mereka tidak punya hubungan?"
Steve nampak berpikir. "Menurutku, mereka ada hubungan. Mana mungkin orang yang berbeda gender melakukan hal yang romantis tanpa ada hubungan yang jelas?"
"Berarti dia selingkuh." Kejora tersenyum kecut.
"Ya jelas saja——eh, apa? Siapa yang berselingkuh?"
"Kekasihku."
"Oh, kekasihmu. Hah, kekasih?!" Mata Steve seketika melebar menyadari suatu hal. Melihat anggukan dari Kejora, membuat Steve semakin terkejut. Ia kira, ada hubungan spesial antara kakaknya dengan Kejora.
"Pantas saja dia tidak bisa dihubungi, ternyata dia pergi bersama wanita lain. Aku melihatnya di sana tadi," ungkap Kejora sambil melirik sosok pria di depannya. Kemudian terisak kuat setelahnya.
Steve yang ada di sana ikut merasakan perasaan itu. Lekas ia mendekat dan mengelus bahu Kejora lembut, berusaha untuk memberikannya ketenangan. Sementara Kejora semakin kuat tangisannya.
"Jangan menangis, kakak ipar. Kalau kau menangis, rasanya aku juga mau menangis," tutur Steve sambil mencemberutkan bibirnya.
Kejora tidak mengindahkan. Ia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan, untuk menutupi kesedihannya. Sama halnya dengan Steve yang mulai larut dalam suasana dan ikut menangis di sebelahnya.
"Sudah, jangan tangisi pria brengsek seperti dia, kakak ipar. Dia tidak pantas ditangisi," gumam Steve sambil ikut terisak.
Bukannya Kejora yang menangis keras, melainkan Steve lah yang malah seperti yang mengalami pengkhianatan tersebut. Tepatnya kedua orang itu saling menangis dan membagi kesedihan, tapi Steve lah yang lebih mendominasi.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku punya solusi agar kesakitanmu berkurang. Tunggu sebentar." Steve berjalan menjauh untuk mengambil sesuatu setelah selesai dengan tangisannya.
Steve kembali dengan dua botol minuman beralkohol di tangannya. Meletakkan di atas meja lalu memperlihatkannya kepada Kejora. Kejora yang tahu minuman apa itu menatap Steve penuh kebingungan.
"Apa ini?" tanya Kejora.
"Ini adalah cara menghilangkan kesedihanmu, kakak ipar. Kau harus mencobanya agar pikiranmu tenang."
Sementara di tempat lain, Nicholas tengah duduk di mobil dengan berkas di tangannya. Hari sudah mulai menggelap, jalanan juga sudah mulai lenggang bebas dari kemacetan. Dia melirik arloji di tangannya, sudah menunjukkan pukul 8 malam dan itu tandanya ia harus segera pulang ke apartemen.
"Baik, urus saja dulu, nanti aku akan ke sana."
Nicholas menurunkan kacamata, melihat Hans yang nampak gusar. "Ada apa, Hans?"
"Itu, Tuan, saya dapat laporan dari satpam rumah bahwa Nona Kejora dan Tuan Steve tengah mabuk-mabukan di rumah."
"Apa?!" Kening Nicholas berkerut. "Kenapa mereka bisa mabuk? Dari mana juga mereka mendapatkan bir, bukankah tidak ada stok di rumah?"
__ADS_1
"Kemungkinan Tuan Steve yang membelinya, Tuan. Lalu satpam mengatakan bahwa mereka berdua membuat ulah di rumah. Rencana nanti setelah mengantar Anda, saya berniat untuk mengurus mereka berdua."
Nicholas merotasikan mata. "Ck, mereka itu apa tidak bisa sehari saja tidak membuat masalah? Hans, putar balik saja ke rumah, aku akan memberikan mereka pelajaran yang setimpal."
"Baik, Tuan."
Nicholas berdecak kesal. Amarahnya sering kali dipancing. Entah karena Kejora ataupun Steve yang membuatnya naik darah. Seperti malam ini, mereka mabuk di rumahnya? Nicholas geram mendengarnya.
Nicholas segera masuk ke rumah untuk mengecek kondisi di dalam. Pandangannya pertama kali adalah meja berserakan dengan makanan ringan dan botol alkohol yang kosong. Keduanya sudah tumbang dan menumpukan wajah di atas meja sambil memejamkan mata.
"Tuan," sapa satpam rumah.
"Habis berapa botol mereka?"
"Kemungkinan tiga botol, Tuan."
Nicholas memijit pelipisnya pening. Ada-ada saja yang membuatnya naik pitam.
Hans segera mendekati Steve dan mencoba memindahkan pria itu ke dalam kamar.
"Siapa kau, hah? Jangan memegangku! Bukankah itu si pria kaku, kenapa dia membawa kakak ipar? Kakak ipar!" teriak Steve yang tidak mau dipindah dari area sana. Akhir kata Hans dibantu oleh satpam untuk membawa Steve masuk ke kamar.
Nicholas menatap datar ke arah Kejora yang memejamkan mata. Awal mula dia mencoba membangunkan Kejora menggunakan kakinya, tapi sama sekali tidak ada balasan. Mau tidak mau, Nicholas berjongkok dan menyentuh bahu Kejora.
"Heh, bangun!"
"Ck, bangun sialan! Heh, bangun!" ulang Nicholas yang melihat tidak adanya respon dari Kejora.
Nicholas berdecak kesal. "Kenapa kau senang sekali membuatku kesusahan, hah? Apa hobimu itu membuatku susah?"
Kejora masih tidak merespon. Membuat Nicholas tidak ada pilihan lain selain membawa paksa tubuh Kejora dalam gendongannya untuk dimasukkan ke dalam kamar. Kejora tiba-tiba tersadar ketika dirinya sudah berada dalam gendongan Nicholas.
"Hmm, aku mau dibawa ke mana? Kau siapa? Jangan membawaku ke mana-mana. Aku masih mau minum," gumam Kejora. Menolak gendongan Nicholas.
"Dasar sok kuat!" hardik Nicholas sambil membawa Kejora ke kamar.
Nicholas meletakkan secara hati-hati tubuh Kejora di atas ranjang dan hendak meninggalkannya setelah selesai, sebelum tangan Kejora menahan lengannya. Kejora bangkit sambil memejam, menggoyangkan lengan Nicholas lesu.
"Ke mana kau akan pergi? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" gumam Kejora.
"Ck, apa yang kau bicarakan. Lepaskan tanganku."
Kejora menggeleng. "Aku tidak mau melepaskanmu lagi. Tidak akan!"
Tangan Kejora beralih menarik dasi yang dikenakan oleh Nicholas, sehingga tubuh pria itu ikut tertarik dan jatuh di atas tubuh Kejora. Kejora di bawah sambil memilin dasi tersebut sementara Nicholas melebarkan matanya kaget.
__ADS_1
"Apa yang––"