
"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Nich sambil membaca dokumen. Padatnya jalanan kota itu membuat fokus Nicholas sedikit terganggu.
"Nona Kejora sudah sembuh. Dia juga sudah bekerja, Tuan."
Nicholas mengangguk. "Baguslah kalau begitu."
Hans mencuri-curi pandang kepada atasannya. "Tuan, apa Anda benar-benar akan menikahi Nona Kejora?"
"Kenapa? Dia berkata jujur dan aku yang bersalah karena telah memperkosanya," jawab Nicholas cepat.
"Berarti Anda memang setuju untuk menikah dengannya?" tanya Hans hati-hati.
Nicholas terkekeh sinis. Menatap Hans dengan tatapan yang sulit diartikan. Menikah? Sama sekali tidak terpikirkan dalam hidup Nicholas. Jika bukan karena suatu alasan, Nicholas bahkan tidak mau untuk berurusan dengan wanita itu.
"Cih, itu hanyalah alat saja agar dia tidak sembarangan membicarakan rahasia ini ke media. Kalaupun menikah, nikah siri juga bisa. Memangnya siapa juga yang akan tulus menikahinya?"
"Jadi, Anda mengajaknya menikah bukan karena tulus tanggung jawab?" Hans menatap tidak percaya.
"Tentu saja. Itu hanyalah rencanaku untuk membuatnya bungkam. Setidaknya jika menikah, aku bisa memperdayanya untuk tidak berbicara hal yang macam-macam," jawab Nicholas jujur.
"Tapi ... saya lihat Nona Kejora sudah memiliki kekasih," ujar Hans.
Nicholas menutup dokumen. Teringat bahwa pertemuannya di rumah sakit dengan Kejora juga kekasih wanita itu. Nicholas tersenyum sinis mengingatnya.
"Ya. Aku tahu kalau dia sudah punya kekasih." Nicholas kembali menatap dokumen yang ada di tangannya.
"Lalu bagaimana dengan rencana Anda ini? Dia sudah memiliki kekasih, otomatis pasti tidak akan menerima pertanggung jawaban Anda," jelas Hans.
"Baguslah. Jadi, aku tidak perlu repot bertanggung jawab. Hanya sedikit berjaga-jaga saja jika sewaktu-waktu dia mengatakan hal yang bukan-bukan ke media. Aku harus mengawasi setiap gerak-geriknya."
Hans memahami apa yang dikatakan atasannya itu. "Saya lihat juga Nona Kejora bukan tipe wanita matre seperti kebanyakan wanita lain. Dia sepertinya juga setia. Tapi, tidak tahu dengan kekasihnya apa masih bisa setia setelah tahu yang sebenarnya."
"Kita lihat saja berapa lama mereka akan bertahan!" Nicholas tertawa culas.
__ADS_1
Hans sekilas melirik ke spion. Lalu menghentikan laju mobilnya. "Tuan, kita sudah sampai."
Nicholas melangkahkan kaki tegas setelah pintu lift terbuka. Sang asisten juga beberapa pegawai di belakangnya siaga sambil menjelaskan rincian pekerjaan juga jadwal yang akan dilakukan hari ini. Nicholas mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali menimpali perkataan tersebut.
Nicholas membuka pintu ruangannya setelah tiba. Namun, satu pemandangan membuat Nicholas tersita. Seseorang berpakaian rapi tengah duduk di sofa dengan segelas kopi yang diminum dari cangkir. Asapnya masih mengepul, dan Nicholas perkirakan bahwa wanita itu masih belum lama di ruangannya.
"Kalian pergilah dulu," suruh Nicholas kepada karyawan-karyawan yang mengikutinya.
Nicholas berjalan mendekat ketika dirasa karyawannya sudah pergi. Tatapannya tidak pernah beralih pada sosok wanita yang masih bersikap santai seperti ruangan itu adalah milik dia sendiri. Nicholas berdecih, ia cukup tahu apa yang akan dilakukan Amor——istri baru ayahnya.
"Tidak biasanya Nyonya Amor datang ke ruanganku seperti ini," tegur Nicholas sambil menatap penuh bahagia kepada ibu tirinya.
"Hanya melihat-lihat calon ruangan putraku bekerja." Amor tersenyum manis. Menawarkan secangkir kopi hangat di meja yang sebelumnya sudah ia siapkan. "Duduklah. Aku sudah menyiapkan kopi spesial untukmu."
Nicholas menatap kopi yang masih mengepulkan asap itu di atas meja. Melihat sebelah alis ibu tirinya yang naik, seakan-akan mengajaknya untuk bergabung dalam acara minum-minumnya. Nicholas membalasnya dengan senyum sekilas, mengikuti alur sandiwara yang akan dilakukan ibu tirinya itu.
"Tentu saja aku akan meminumnya. Tidak biasa juga kan Nyonya Amor membuatkan kopi untukku?" Nicholas menatap dengan tatapan dingin tapi senyumnya tidak pernah luntur. Duduk di sofa sebelah ibu tirinya lalu menyeruput kopi yang dihidangkan untuknya itu.
"Takut? Kenapa aku harus takut? Anda kan wanita baik-baik yang tidak pernah merebut suami orang dan berlaku licik. Benar, kan?" Nicholas dengan hati-hati meletakkan gelas berisi kopi tersebut ke atas meja sambil menatap ibu tirinya dengan raut wajah mengejek.
Amor menyipitkan mata. Sedikit tersentil dengan ucapan anak tirinya itu. "Ternyata kepulanganmu dari luar negeri tidak merubah apa pun, ya? Tetap saja bermulut licin dan terlalu percaya diri."
"Mulut licinku ini hanya berbicara pada orang tertentu, Nyonya." Nicholas terkekeh.
"Dan tentang percaya diri, hal apa yang harus aku takutkan? Aku punya segalanya, uang, kuasa, dan juga ... perusahaan."
Nicholas sedikit berbisik di kata terakhir. Sengaja membuat wanita di depannya tersulut emosi. Lihat saja, sesuai rencananya, wajah Amor nampak memerah dan terlihat sangat kesal. Hal itu dimanfaatkan Nicholas untuk terus berlagak dan bersandiwara meremehkan wanita paruh baya itu.
"Jangan berbangga dulu, Nic. Posisi di perusahaan masih belum ditetapkan. Bersiap saja jika kau akan berada di bawah jabatan putraku," tekan Amor dengan wajah arogannya.
Nicholas tersenyum. "Anda terlalu serius, Nyonya. Aku hanya bercanda tentang ucapanku. Tidak perlu kalang kabut begitu, kan?"
"Kau——"
__ADS_1
"Lagipula aku juga akan ikut berbahagia jika Steve mendapatkan posisi di perusahaan. Setidaknya dia punya kesibukan selain bermain game dan bersantai di rumah. Tapi ... bukan posisi sebagai presiden direktur perusahaan," sambung Nicholas dengan tatapan meremehkan. Melihat wajah Amor yang memerah menahan marah membuat Nicholas malah semakin ingin memojokkannya.
Amor berdiri dari sofa. Membawa tas branded-nya lalu menatap Nicholas yang duduk dengan santai. "Nantikan saja kekalahanmu, Nich! Aku pastikan kesombonganmu itu akan kubalas setelah putraku berhasil merebut posisi presdir!"
Amor berlalu begitu saja dari ruangan Nicholas. Kala ia membuka pintu, tidak sengaja berpapasan dengan Hans yang baru saja menyelesaikan beberapa urusan.
"Nyonya," sapa Hans sambil membungkuk hormat. Namun, Amor berlalu saja tanpa menjawab apa pun. Hans menggarung tengkuk yang tidak gatal, lalu mendekat kepada atasannya yang duduk di sofa dengan santai.
"Bagaimana dia bisa masuk, Hans?" tanya Nicholas.
"Kata bagian depan, Nyonya bersikeras untuk masuk ke ruangan Anda dan mengatakan bahwa ingin menunggu saja di sini. Tidak ada yang bisa mencegah. Nyonya Amor mengancam."
Nicholas menghela napas. Memijit pelipisnya pusing. "Dia ke sini untuk memperingatiku agar menyerah dari posisi Presdir, tapi aku tidak semudah itu dikelabui."
"Apa perlu saya buatkan teh, Tuan?" tawar Hans. Melihat bagaimana kondisi atasannya yang nampak letih.
"Tidak perlu."
Hans mengangguk. Beralih menatap Arloji di tangannya yang menunjukkan waktu untuk pergantian jadwal atasannya. "Tuan, ada pertemuan dengan klien di restoran Everest lima belas menit lagi."
"Kita ke sana," putus Nicholas menyambar jasnya dan bergegas keluar dari ruangan.
Mobil yang dikendarai Nicholas berhenti tepat di depan restoran yang sebelumnya sudah dijanjikan. Nicholas memasuki restoran tersebut dan langsung menuju salah satu meja yang sudah terdapat seseorang yang diduga klien barunya. Nicholas berbincang dan bernegosiasi tentang masalah bisnis untuk menjalin kerja sama.
Nicholas mengantarkan kliennya sampai masuk ke mobil. Melambai tangan lalu menunduk hormat sebagai tanda terima kasih. Nicholas kembali ke dalam restoran untuk mengambil berkas di meja tempatnya tadi. Akan tetapi, ia secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang pernah ia temui.
"Bukankah dia kekasih wanita itu?" gumam Nicholas mengamati. Nicholas tidak salah duga, memang benar itu kekasih Kejora. Akan tetapi, bedanya dia bersama dengan seorang wanita.
"Dia ... bersama seorang wanita?"
**
Bersambung...
__ADS_1