
“Eh, kau sudah pulang?” tanya Kejora keheranan melihat Nicholas sudah berdiri di hadapannya.
Nicholas berdehem. Mengamati Kejora dari atas sampai bawah untuk mengecek kondisi wanita tersebut. “Kau tidak apa-apa kan?”
“Tidak. Memangnya aku kenapa?”
Nicholas mengalihkan pembicaraan. “Ya sudah kalau tidak apa-apa.”
Kejora menatap bingung. Mengekori Langkah Nicholas yang berhenti di sofa ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sana. Tentunya Kejora merasa bingung, Nicholas baru pergi beberapa jam dan sekarang sudah kembali lagi ke rumah.
“Tadi apa ada orang yang ke sini?” tanya Nicholas.
“Ada. Katanya dia ibumu. Tapi aku tidak sengaja mendorongnya,” cicit Kejora. Takut jika Nicholas akan memarahinya.
Nicholas menaikkan sebelah alis.
“Mendorong?”
“Tapi aku bersumpah aku bukan sengaja melakukannya. Aku tadi hanya reflek karena dia mau masuk ke kamarmu. Kan sesuai perintah tidak boleh ada yang masuk.”
“Baguslah.”
Kejora bingung. “Bagus? Apa kau tidak marah karena aku mendorong ibumu?”
“Dia bukan ibu kandung Tuan Nich, Nona. Dia hanya ibu tiri, ibu dari Tuan Steve.” Hans menyahut dari belakang.
“Bukan ibu kandung?” ulang Kejora. “Pantas saja sikapnya tadi seperti itu.”
“Seperti apa?” Penasaran Nicholas bertanya.
“Dia bertanya kepadaku apa aku tahu sesuatu tentangmu. Kelemahan atau rahasia tersembunyi milikmu. Bahkan dia juga menawariku sejumlah uang asal mau bekerja sama dengannya.”
Mendengar itu Nicholas dan Hans saling berpandangan.
“Begini, Nona. Sebaiknya kalau Nyonya Amor menemui Anda, bilang saja kalau Anda tidak tahu apa pun tentang Tuan. Sebab dia punya niat jahat untuk menghancurkan karir Tuan Nich. Dia menginginkan Tuan Steve menggantikan posisi presdir di perusahaan. Secara tidak langsung, mereka adalah orang jahat. Jadi sebaiknya Anda juga menjaga jarak dengan Tuan Steve,” petuah Hans.
Kejora mencuri pandang kepada Nicholas.
“Jahat? Tapi Steve sepertinya tidak jahat. Dia baik dan lucu. Dia bahkan mengantarkan makanan untukku tadi. Orang yang bebas seperti dia apa benar orang jahat?”
Nicholas menegakkan tubuh mendengar sangkalan dari Kejora. Terlihat jelas bahwa wanita itu sangat membela adiknya.
“Kau pikir orang yang kelihatannya baik tidak akan berbuat jahat?” sinis Nicholas.
__ADS_1
“Bukan begitu. Aku hanya merasa Steve bukan orang yang bisa melakukan hal seperti itu.”
Nicholas berdiri dari sofa. Menatap Kejora jengah. “Apa kau sangat memahaminya? Bagaimana kau bisa yakin bahwa dia tidak akan berbuat jahat?”
“Aku hanya berbicara sesuai yang aku lihat. Lagipula dia bilang juga tidak tertarik dengan dunia bisnis, jadi tidak mungkin kalau dia mau mau berbuat seperti itu.”
“Hah, kau bahkan sampai tahu apa yang dia sukai maupun tidak. Sejauh mana hubungan kalian? Apa kalian memang sudah berpacaran?” sengit Nicholas.
“Kami hanya teman dan selayaknya teman kami berbagi cerita. Bukannya kami punya hubungan,” jawab Kejora sedikit kesal.
“Teman? Teman mana yang sedekat itu. Aku tidak percaya. Hans, menurutmu apa logis seorang teman sampai rela bolos kuliah demi seorang wanita, saling menggoda bahkan sampai mabuk-mabukan bersama?” tanyanya kepada Hans.
“Sebenarnya—”
“Kenapa tidak logis? Itu sah-sah saja. Teman memang seperti itu.” Kejora menyahut dengan kesal. Berkacak pinggang di hadapan Nicholas.
“Kau sedari tadi membelanya, apa kau memang menyukainya, hah?” balas Nicholas sambil menatap sinis.
"Aku tidak menyukainya. Dia hanya teman yang baik!"
"Halah, omong kosong! Aku bisa ingat dengan jelas bagaimana kau menatap wajahnya dengan mata berbinar. Kau bercanda dengan bebas dengannya, berbeda jika denganku. Apa itu tidak cukup. jelas bahwa kau menyukainya?" sinis Nicholas.
“Kalian—” Hans menyahut, tapi lebih dulu disentak.
Hans mengurungkan niatnya untuk berbicara. Seperti tikus kecil, dia duduk kembali dengan tenang.
Berbeda dengan Nicholas dan Kejora yang masih bertatapan sengit. Pertarungan batin di antara mereka masih kuat. Akhir kata, Kejora memutuskan untuk Kembali ke dapur sementara Nicholas masuk ke dalam kamar. Sementara Hans hanya tersenyum tipis melihat keduanya.
“Bagaimana bisa dekat kalau seperti ini?” gumam Hans sendiri.
***
Malam tiba, Kejora mengemasi barang-barangnya dan berniat untuk pulang ke rumah. Sebelum itu ia mengantarkan minuman ke ruang kerja Nicholas. Kejora meletakkan dengan hati-hati minuman di meja sambil melirik Nicholas yang sepertinya sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku sudah membereskan semuanya. Aku izin pulang," kata Kejora. Tidak mendapatkan jawaban, Kejora segera berlalu saja.
"Tunggu."
Nicholas bangkit dari kursi kerjanya. Berjalan mendekati Kejora yang mematung di tempat.
"Aku akan ke rumah Zang, jadi sekalian saja kau ikut." Nicholas berbohong. Lagipula ke rumah Zang juga tidak searah dengan rumahnya Kejora.
Kejora mengangguk. "Baiklah."
__ADS_1
Terjadi keheningan di antara keduanya. Baik Nicholas maupun Kejora saling sibuk dengan pikirannya masing-masing. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Kejora. Kejora turun hendak berterima kasih kepada Nicholas.
"Terima kasih sudah mengantarku," kata Kejora.
"Hmm, lagipula se arah juga dari rumah Zang. Kalau begitu aku pergi dulu." Nicholas hendak masuk ke mobil lagi sebelum suara seseorang memanggilnya.
"Kakak baik?!" Suara Bimo memanggil.
"Kakak siapa, Bimo?" tanya Kejora bingung.
"Itu, Kakak Baik. Dia yang Bimo bicarakan waktu itu, Kak. Dia yang mengusir orang yang membuly Bimo dan membelikan Bimo es krim." Bimo menunjuk ke arah Nicholas.
Nicholas nampak mengingat sesuatu. Sesaat kemudian dia baru ingat bahwa anak kecil itu memang orang yang dia tolong waktu dirundung di gang sempit. Benar, Nicholas mengingatnya.
"Jadi, dia adikmu?" tanya Nicholas.
Kejora kebingungan. "Benar."
"Astaga, dunia sesempit ini ternyata."
Bimo mendekat ke arah Nicholas dan memegang tangannya. "Kakak, ayo main sebentar ke rumah. Bukankah dulu kalau aku kesulitan, harus memanggilmu? Sekarang aku kesulitan mengerjakan tugas."
Nicholas menganguk dan berniat masuk ke rumah. Namun, suara Kejora menghentikannya.
"Bimo, jangan bersikap tidak sopan seperti itu. Dia masih banyak kesibukan, jangan memaksanya seperti itu," tegur Kejora.
"Apa Kakak sibuk?" Kedua mata Bimo meredup.
Nicholas menggeleng. "Tidak."
"Bukankah kau tadi bilang akan ke rumah Dokter Zang?" sahut Kejora.
"Mampir sebentar tidak apa. Apa kau tidak lihat bagaimana adikmu menginginkanku?" Nicholas memperlihatkan tangan Bimo yang memegang erat tangannya.
"Benar. Sebentar saja kok, Kak. Ayo, Kakak Baik kita masuk ke rumah," ajak Bimo.
Kejora melihat keduanya masuk ke rumah. Bingung dirinya. Bukankah tadi pria itu bilang akan pergi ke rumah dokter pribadinya, kenapa malah mau saja diajak masuk ke rumah?
Entahlah, Kejora tidak mau ambil pusing lagi. Dia ikut masuk ke rumah.
Sementara di balik pohon, seseorang tengah mengintai dengan seringaian licik di bibirnya.
"Kita lihat, setelah ini apakah kau masih bisa hidup tenang, Kejora."
__ADS_1