
“Kenapa? Apa kau sangat ingin tahu tentangku? Kalau kau masuk dalam kehidupanku, aku tidak bisa memastikanmu untuk bisa kabur. Apa kau sanggup?”
Kejora semalaman memikirkan apa maksud dari perkataan Nicholas kepadanya. Ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak akibat memikirkan makna dari kata tersebut. Terlebih bagaimana Nicholas menatapnya dengan begitu intens dan penuh misteri semakin memperkuat rasa penasaran Kejora.
“Kakak ipar! Bagaimana kau bisa seperti ini, hah?”
Baru datang dan Steve sudah membuat keributan di pagi buta. Awalnya Steve akan pergi ke kampus, tapi Ketika mendengar kabar bahwa Kejora sakit dia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Kejora duduk bersandar di ranjang, sambil memperhatikan napas Steve yang seperti orang dikejar hutang.
“Kak, katanya kau sakit. Mana yang sakit?” tanya Steve khawatir.
Kejora tersenyum. “Kakiku hanya terkilir saja. Kenapa kau bisa ada di sini? Apa tidak ada jadwal di kampus?”
“Sebenarnya aku ada jadwal, tapi ketika mendengar kabar bahwa kau sakit, aku tidak tahan untuk mengunjungimu, hehe.” Steve terkekeh, lalu mengangkat parcel buah yang sebelumnya dia bawa. “Taraaa, aku membawakanmu buah.”
Kejora menerima pemberian Steve tersebut dengan tulus.
“Terima kasih. Sebenarnya tidak usah repot-repot seperti ini.”
“Tidak apa. Itu tidak ada apa-apanya.” Steve mendekat ke arah Kejora.
“Ngomong-ngomong, bajingan mana yang membuatmu terluka seperti ini, hah? Aku akan menghajarnya sampai babak belur.”
“Dia …” Kejora tidak sengaja menatap ke arah pintu dan mendapati Nicholas berada di sana sehingga ucapannya terhenti.
Steve mengikuti arah pandang Kejora. Di ambang pintu, kakaknya yang sangar dan menakutkan itu sudah berdiri gagah di sana. Nyalinya mendadak menciut, ia mendekat dan berbisik kepada Kejora.
“Apa bajingan yang itu, Kak? Kalau itu, aku tidak berani menghajarnya. Aku cinta kedamaian.” Steve terkekeh sambil melambaikan tangan tanda tidak berani untuk berkutik.
Kejora mengulas senyum. Tadi saja sudah bersikap seperti pangeran ingin membelanya, giliran tahu siapa musuhnya malah mendadak nyalinya menciut.
“Apa kau tidak memiliki kegiatan? Sepagi ini sudah berada di rumahku.” Nicholas berkata sinis.
Steve berdiri dari duduknya. “Kak, pria mana yang tidak khawatir jika kekasihnya sedang sakit?”
__ADS_1
Nicholas menaikkan sebelah alis. “Kekasih?”
Steve menatap Kejora penuh senyuman manis. “Calon maksudnya, Kak.”
Nicholas beralih menatap Kejora yang nampaknya kebingungan dengan napa yang dikatakan Steve. Senyuman tulus dari adiknya itu seperti mengandung maksud tersembunyi.
Apalagi Ketika melihat Steve berlari dengan penuh kekhawatiran karena mendapat kabar bahwa Kejora mengalami cidera, membuat Nicholas yakin bahwa ucapan adiknya waktu itu memang tidak main-main.
“Kak, bukankah kau akan pergi ke kantor? Pergilah, aku akan menemani kakak ipar di rumah. Kau jangan khawatir. Benar kan kakak ipar?” Steve kembali duduk di sisi ranjang dan mendekat kepada Kejora.
Kejora menatap Steve. “Aku sudah sembuh, tidak usah dijaga segala. Lagipula kakiku hanya terkilir. Bukankah kau juga ada pekerjaan?”
“Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari menjagamu, Kak.” Steve memegang tangan Kejora dan tersenyum manis,
Nicholas melihatnya. Bagaimana senyuman tulus itu diberikan. Kejora pun juga sama. Wanita itu seperti sangat berbeda dibanding waktu bersama dengannya. Jika Bersama Steve, wanitu itu lebih nyaman dan bisa tertawa lepas, sementara jika bersamanya Nicholas merasa wanitu itu selalu dalam posisi terkekang dan ketakutan.
“Tuan,” panggil Hans berdiri di sebelah Nicholas. Ikut melihat pemandanngan di depannya di mana Steve dan Kejora tersenyum bersama.
“Mereka terlihat serasi.”
Nicholas menatap penuh tatapan mengintimidasi. Hans yang sadar akan tatapan itu segera meralat ucapannya.
“Entahlah bocah itu,” tukas Nicholas.
“Tapi dilihat-lihat Tuan Steve seperti memiliki perasaan kepada Nona Kejora.”
Hans secara tidak sadar mengucapkan hal itu. Yang mana malah mendapat lirikan tajam dari atasannya yang membuat Hans meneguk ludah dengan kasar.
“Hans, katakan pada departemen pemasaran untuk bersiap karena kita akan mengadakan rapat mendadak,” putus Nicholas cepat dan langsung bergerak menjauh dari ambang pintu.
Hans kebingungan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukankah tadi dia bilang tidak ingin masuk kerja? Tapi … rapat mendadak?! Astaga, kenapa dia selalu membuat kejutan yang bisa membunuhku seperti ini, hah?”
Hans kelimpungan menghubungi staff kantor untuk melakukan persiapan. Dengan mendadak seperti ini sudah pasti akan menimbulkan keributan di kantor. Atasannya itu memang suka memberikan kejutan yang luar biasa sampai Hans setiap harinya tidak bisa bernapas dengan lega.
Bosan dengan suasana kamar, Steve mengajak Kejora untuk duduk di kursi dekat kolam renang untuk merasakan sesuatu yang berbeda. Steve memang sudah seperti seorang kekasih saja, membantu dan melayani Kejora yang sedang sakit.
__ADS_1
“Jadi kau bolos kuliah hanya karenaku?” Kejora terkejut ketika mendengar pengakuan Steve.
Steve mengangguk. “Tapi kau jangan katakan hal ini kepada kakak, ya. Nanti dia bisa mengurungku seharian di kamar.”
“Memang pantas jika kau dikurung! Kau melewatkan kesempatanmu demi mengunjungiku? Demi aku yang tidak penting?” Kejora membalas sengit.
“Kak, bagaimana tidak penting? Aku khawatir denganmu.”
“Tapi pendidikanmu lebih penting dariku. Banyak yang ingin menempuh pendidikan tinggi sepertimu, tapi mereka tidak memiliki kesempatan. Jadi kau yang punya kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kakakmu menyuruhmu begitu mungkin khawatir jika kau nantinya kehilangan arah.” Jelas Kejora panjang dan lebar membuat Steve malah menatapnya lekat.
“Kak, kenapa aku merasa bahwa kau sekarang ada di pihak pria jahat itu? Bukankah dulu kau begitu takut kepadanya?” selidik Steve.
Kejora menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di bahu kursi panjang. “Aku pikir, dia tidak semenakutkan itu.”
Steve merasakan kejanggalan dalam kalimat Kejora. “Aneh. Dulu kau begitu membencinya, kenapa sekarang malah mendukungnya?”
Kejora terdiam, sebab dirinya juga bingung dengan jawabannya.
“Apa jangan-jangan kau sudah mulai jatuh cinta kepadanya?”
Kejora membulatkan mata. Sedetik kemudia dia terkekeh renyah menanggapi dugaan Steve.
“Tidaklah. Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya?” Kejora tertawa.
“Kenapa tidak bisa? Kalian selalu bersama, pasti ada momen di mana kalian saling terikat.”
Kejora kembali dibuat diam. Ia jadi ingat di mana momen kebersamaannya dengan Nicholas. Apalagi dengan perlakuan Nicholas tadi malam kepadanya, membuat Kejora merasa tidak aman.
“Kau sedang melamunkan apa, hah? Apa jangan-jangan sedang memikirkan kakak?” goda Steve.
“Tidaklah. Aku tidak memikirkannya atau jatuh cinta kepadanya. Ini murni karena perasaan terima kasihku kepadanya karena dia selama ini dia sudah membantuku dari belakang.”
Kejora menatap Steve di depannya dengan senyuman. Berbeda dengan Steve yang mengangguk menanggapi jawaban itu.
Benar, Kejora hanya merasa berterima kasih saja. Tanpa ada perasaan tambahan apa pun.
__ADS_1
**
bersambung...