Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Sengaja Menggoda


__ADS_3

"Finn, kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah ini jam sibuk kerja?" tanya Kejora kaget.


Finn tersenyum dan mendekat. Meletakkan barang bawaannya di meja dan duduk berhadapan dengan Kejora.


"Ada acara kantor hari ini, jadi ada waktu senggang makanya aku bisa ke sini. Katanya kau ingin makan burger waktu itu. Jadi aku membelikannya," ucap Finn sambil membuka paperbag yang ia bawa tadi lalu menata semuanya di meja.


Kejora tersentuh. Memang malam itu ia bicara dengan Finn ingin mencoba merasakan burger di salah satu kedai. Akan tetapi, Kejora mengurungkan niat karena melihat harganya yang lumayan berat. Namun, tidak disangka kekasihnya malah membawakan kejutan seperti ini.


Finn adalah sosok pacar yang hangat dan pengertian. Finn adalah pria baik-baik yang menerima segala kekurangannya.


Begitupun alasan Kejora mencintainya. Hubungan mereka berdua sudah bertahan selama satu tahun dan berjalan penuh kebahagiaan. Finn sendiri sekarang bekerja di salah satu perusahaan. Meski hanya sebagai karyawan kecil, tapi Finn cukup mensyukuri pekerjannya.


"Terimakasih, Finn." Kejora tersenyum haru. "Pasti mahal, kan?"


Finn menggeleng. Mengelus kepala Kejora dengan lembut. "Selama kau bahagia, mahal pun akan kubeli, Kejora."


Kejora tersenyum bahagia. Ia menatap mata Finn penuh cinta. Kejora tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia mengkhianati kekasihnya. Pasti Finn akan sangat terluka karenanya.


"Karena kalian sudah bersama, aku akan pergi. Aku tidak mau jadi nyamuk," tukas teman Kejora yang langsung pergi karena tidak betah melihat kemesraan Kejora dengan pacarnya.


Kejora melihat sekilas, lalu kembali menatap Finn yang ada di depannya. Kejora menatap penuh senyuman sebuah burger di depannya yang nampak menggoda.


"Aku makan, ya?" Kejora mengambil burger itu. "Kau mau tidak?"


"Tidak. Aku tidak suka burger," tolak Finn.


Kejora mengangguk. Penuh keceriaan, Kejora memakan burger berukuran sedang itu dengan lahap. Sampai tidak sadar ada noda saur di bibirnya. Finn yang melihat itu hanya menggeleng sambil tersenyum lalu mengusap noda di bibir Kejora menggunakan tangannya.


"Kebiasaan kalau makan suka belepotan," tutur Finn sambil membersihkan noda saus itu.


Kejora tersenyum. Diam saja ketika Finn membersihkan noda di bibirnya. Perasaan ini yang membuat Kejora enggan untuk meninggalkan Finn. Kadang kala juga, Kejora merasa dirinya sangat jahat karena sudah berbohong kepada Finn soal masalahnya.


"Kau yang namanya Kejora, kan?" sahut seseorang berdiri di sebelah meja.


Kejora otomatis menoleh ke sumber suara. Matanya dengan cepat membulat. Tangannya mendadak bergemetar. Bahkan tanpa sadar ia menjatuhnya hamburger di tangannya karena terkejut dengan kedatangan pria pemaksa tadi. Yakni Nicholas.


"Sayang, ada apa?" tanya Finn khawatir.


Kejora menggeleng sebagai jawaban. Tenggorokannya serasa tercekat bahkan untuk mengatakan satu kata pun.

__ADS_1


Nicholas tersenyum dalam hati melihat tingkah Kejora yang terlihat gugup di dekatnya. Nicholas memang belum pulang dari hotel, ia masih ada urusan dengan seseorang. Sementara asistennya tadi sudah pulang lebih dulu dikarenakan ada sedikit masalah di kantor.


Secara tidak sengaja ketika akan pulang, Nicholas malah melihat Kejora tengah berbincang dengan seorang pria yang dia perkirakan itu adalah kekasihnya.


"Kartu kerjamu terjatuh waktu kita berdua bersama tadi," pungkas Nicholas santai.


Tanpa sadar mengundang tatapan mengancam dari Kejora. Nicholas menyodorkan kartu tanda pekerja milik Kejora ke meja, mendekatkannya kepada wanita itu.


Finn mengerutkan kening. "Berdua?"


"Tadi ada meeting mendadak dengan manager juga pegawai lainnya. Mungkin kartuku terjatuh di sana tapi aku tidak sadar," sela Kejora menjawab. Ia tidak mau membuat Finn salah paham dengan ucapan Nicholas. Meskipun Nicholas memang dengan sengaja memancing.


Nicholas tersenyum sinis. Pandangannya teralih kepada sosok pria yang bersama Kejora tadi.


"Kau ... kekasihnya wanita ini?" tanya Nicholas sambil menatap Finn.


"Aku Finn. Kami sudah bersama selama satu tahun. Benar, kan, Sayang?" Finn menatap Kejora lekat. "Bagaimana denganmu, Tuan? Siapa namamu?"


"Satu tahun? Cukup lama juga ternyata. Berarti kalian sudah cukup mengenal satu sama lain, ya?" tukas Nicholas.


Finn mengangguk membenarkan. "Kami memang sudah bersama lama dan saling mengenal satu sama lain. Aku juga sudah tahu semua hal tentang tentangnya."


"Apa maksud Anda, Tuan?" Finn menaikkan sebelah alis.


"Ah, jadi kau benar belum tahu. Jadi, kekasihmu itu sudah tidur——"


"Finn, bukankah katamu tadi mau kembali ke kantor? Nanti kena marah atasan, loh," potong Kejora sambil mengemasi makanan dan membuat Finn menatapnya.


"Ah, iya. Tapi ... tadi Anda berkata apa, Tuan?" tanya Finn.


"Bukan apa-apa. Aku hanya mau mengatakan, jaga baik kekasihmu." Nicholas mengelak. "Bukankah kau tadi bertanya siapa namaku?"


Nicholas tersenyum tipis, langsung memberikan sebuah kartu nama kepada Finn. Finn menerima kartu nama tersebut dan membaca siapa nama dari pria yang baru dikenalnya itu.


"Aku permisi dulu. Kalian ... nikmati sarapan paginya," pamit Nicholas sambil tersenyum. Di sela kepergiannya, ia masih sempat-sempatnya bermain mata dengan Kejora.


Kejora membulatkan mata sambil menggeleng. Apa-apaan itu? Pria itu benar-benar membuatnya kelabakan! Sengaja memancing keributan dan sengaja membuatnya tersiksa. Kejora membenci pria pemaksa seperti itu.


"Astaga, dia adalah Nicholas Maferik calon pewaris MP Corp?" Finn menutup mulutnya sendiri karena merasa terkejut dengan sebuah kartu nama yang dipegangnya.

__ADS_1


Kejora bingung. Ia menatap Finn yang nampak bahagia hanya karena sebuah kartu nama. Memang, apa istimewanya sebuah kartu nama?


"Ada apa? Kenapa kau sangat antusias sekali, Finn?" tanya Kejora.


Finn menatap Kejora. "Sayang, pria yang berbincang dengan kita tadi adalah calon pemilik perusahaan MP Corp. Kabarnya dia baru pulang dari Amerika dan akan mengambil alih kepemilikan perusahaan tersebut. Keberuntungan besar sekali aku bisa bertemu dengannya."


Kejora menyimak. Ternyata Nicholas baru saja datang dari luar negeri. Kejora mengangguk sebagai jawaban dari penjelasan Finn, tanpa tahu bahwa pria yang memaksanya tadi adalah seorang kaya raya dan calon pewaris perusahaan besar.


"Bahkan aku bisa menerima kartu namanya, Kejora," ucap Finn gembira. "Banyak orang yang ingin kartu namanya, tapi dia dengan sendiri memberikannya kepadaku. Bukankah itu suatu keberuntungan yang besar?"


"Iya. Kau beruntung Finn." Kejora tersenyum.


"Ah, aku tidak menyangka hari ini mendapatkan hal besar seperti ini. Apa karena aku bertemu denganmu? Kejora, aku yakin kau yang memberikan keberuntungan ini." Finn memegang tangan Kejora lalu mengecupinya dengan beruntun. Setelahnya tersenyum penuh kebahagiaan menatap Kejora.


Kejora mengerutkan kening. "Aku?"


"Iya. Kau tahu, dia adalah orang besar. Pebisnis hebat. Apalagi perusahaan yang dia naungi juga sangat terkenal. Persaingannya juga sangat ketat. Aku juga berharap bisa bekerja di sana suatu saat nanti," ucap Finn penuh harap.


"Apa sebesar itu kau menginginkan bekerja di sana?" Kejora menatap Finn yang nampak antusias memandangi kartu nama tersebut.


"Pastinya, Sayang. Orang mana yang tidak mau bekerja di perusahaan besar seperti itu? Kalaupun ada, dia pasti sudah gila. Telah membuang berlian yang ditawarkan di depan mata," jawab Finn.


Kejora mengangguk. Andai saja kekasihnya tahu bahwa orang yang diagung-agungkan itu adalah pria yang telah merenggut kesuciannya. Pasti Finn akan kecewa sekali mendengarnya. Kejora ingin mengatakan soal hal ini, tapi tidak tega melihat wajah semringah dari Finn saat ini mendadak pudar.


"Menurutmu dia memberikan ini kepadaku, apa menyuruhku untuk menghubunginya, Kejora?"


"Hah, apa?" Kejora gagap.


Finn menyipitkan mata. "Ada apa? Apa kau sakit? Aku lihat sejak tadi wajahmu sendu dan pucat. Kalau sakit tidak usah dipaksa kerja. Nanti tubuhmu malah semakin down."


"Tidak. Aku hanya kecapekan, nanti istirahat sebentar langsung bugar lagi, kok," jawab Kejora.


Kejora menggeleng. Mencoba memberikan ekspresi se-ceria mungkin agar kekasihnya tidak curiga dengan dirinya. Padahal sejak tadi Kejora memikirkan ancaman dari Nicholas yang tidak main-main untuk bertanggung jawab. Kejora bingung, tapi ia juga khawatir kalau malam itu membuahkan hasil seorang nyawa bersemayam di perutnya.


'Bagaimana kalau aku beneran hamil anaknya?' gumam Kejora dalam hati.


...


Sampai jumpa di bab selanjutnya...

__ADS_1


selamat membaca


__ADS_2