Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Penasaran


__ADS_3

Naik turun emosi Kejora menghadapi situasi saat ini. Finn bukan menjawab pertanyaannya malah membahas hal-hal yang tidak penting. Kejora tidak peduli dengan berapa banyak pasang mata yang melihatnya, bahkan tanpa sadar di sebelah sana ada seseorang yang memperhatikannya dengan seksama.


“Kejora, pelankan suaramu. Tidak enak kalau didengar orang. Lihat, semua orang sedang memperhatikan kita sekarang. Kita bicarakan di tempat lain, oke?” ajak Finn langsung meraih tangan Kejora untuk di baawanya pergi dari ruangan. Namun, Kejora enggan menurut dan menepis tangan Finn dengan tegas.


“Kenapa? Apa kau takut semua orang tahu bahwa kau tukang selingkuh?” Remeh Kejora menatap kekasihnya.


Finn menggeleng telak. “Kejora, bukan seperti itu. Aku akan jelaskan tapi tidak di sini, oke?”


“Kenapa memang? Bukankah kau sendiri juga sama halnya berselingkuh? Malahan kau sudah tidur bersama dengannya. Bukankah kau terlihat naif jika menyalahkan Finn saja?” Mega menyahut ucapan Kejora dengan angkuh.


Kejora mengerutkan kening. Bagaimana wanita itu bisa tahu tentang kehidupannya. Sementara dirinya saja tidak mengatakan hal ini selain dengan Finn dan orang yang bersangkutan, bahkan keluarganya sendiri saja tidak tahu masalah ini. Akan tetpi, kenapa wanita itu bisa mengetahuinya?


“Kenapa? Apa kau mulai kehilangan muka?” Mega berjalan mendekati Kejora dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.


“Sebutan apa ya yang pas untuk wanita yang tidur bersama pria lain padahal masih punya kekasih? ******?”


Kejora tidak tahan, tanpa terduga tangannya melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Mega. Hal itu sontak membuat Mega mengaduh kesakitan. Finn yang melihat itu memegang kedua bahu Mega dan melihat bagaimana bekas tamparan dari Kejora.


“Kejora, apa kau sudah gila?!” sentak Finn.


“Ya, aku memang gila! Kenapa, apa kau malu berpacaran dengan orang gila sepertiku, hah? Itu sebabnya kau meninggalkanku, kan? Iya, kan?!”


“Jangan kekanakan, Kejora!”


Lagi dan lagi perkataan Finn membuat Kejora terpukul. Kejora hanya bisa menghela napas melihat semua pembelaan yang kekasihnya lakukan.


“Finn, apa kau tahu bagaimana raut wajahmu waktu aku menamparnya? Kau khawatir, kau takut kehilangannya. Lalu bagaimana denganku? Apa kau sama sekali tidak khawatir dan takut aku pergi?” tanya Kejora sendu.


Finn hanya terdiam, tanpa sepatah kata apa pun dia memalingkan muka. Hal itu sudah cukup jelas membuktikan bahwa Finn sudah menghapus dirinya dalam hatinya. Kejora tersenyum kecut, perih rasa hatinya menerima kebenaran ini. Bagaimana khawatirnya dan rangkulan hangat Finn pada wanita itu menjelaskan bahwa Kejora sudah tidak memiliki peran.


“Aku sudah tahu jawabannya sekarang. Terima kasih sudah mengisi kekosonganku selama ini. Aku tidak akan menyesali keputusanku ini. Kita berakhir, Finn.”


Kejora berjalan mundur dan secepat kilat pergi dari sana dengan rasa kekecewaan yang tinggi. Tidak menyangka jika seseorang yang sangat ia percaya, bahkan sampai menepis saran orang lain deminya ternyata malah sosok yang memiliki peran paling banyak dalam hal memberi luka.


Semua tidak luput dari pandangan Nicholas. Melihat Kejora yang pergi setelah membuat kekacauan membuat Nicholas menjadi tahu alasan apa yang menyebabkan wanita itu tampak murung dan terus bersikeras untuk pulang. Nicholas tersenyum culas, meneguk sisa minuman di gelasnya sambil menatap ke arah Finn dan Mega yang terlihat biasa-biasa saja.


Kejora berjalan tanpa arah menyusuri jalan. Ia tidak tahu akan ke mana dan melakukan apa. Semenjak hari itu Kejora berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menangisi pria seperti Finn. Akan tetapi, untuk kali ini Kejora mengkhianati janjinya.

__ADS_1


Kurang waspada dengan permukaan jalan yang kurang rata, kaki Kejora tergelincir sehingga menyebabkan dirinya terjatuh dengan keras. Kejora mengaduh kesakitan, ia melihat telapak tangannya yang tergores pinggiran jalan sampai terluka. Dia hendak bangkit, tapi sialnya kakinya terasa sakit dan bagian bawah heels yang dikenakannya patah. Kejora memukul keras bahu jalan menggunakan tangannya, marah dengan semua yang dia rasakan sekarang.


“Semakin kutahan, kenapa rasanya semakin sakit?” Kejora menunduk mengeluh. “Tidak, ini tidak sakit. Tapi sangat sakit.”


Kejora tidak bisa lagi menahan diri. Dia menangis.


Tangisan pilu dari wanita yang kehilangan satu pilar penyemangatnya di saat ia merasa bahwa hidup selalu tidak adil untuknya terdengar cukup menyesakkan. Kejora yang salah di sini, menutup telinga dari orang lain demi sesuatu yang sebenarnya tidak pasti.


Namun, apakah salah bagi Kejora berharap pada seseorang untuk membuat dirinya bahagia di saat semesta selalu menjejalinya dengan berbagai masalah?


“Sayang sekali. Padahal harga heels ini sangat mahal.”


Kejora menoleh, mendapati Nicholas berada di sisinya sambil memegang heels yang sudah rusak itu.


“Aku minta maaf. Aku tidak sengaja mematahkannya,” ucap Kejora penuh rasa bersalah.


Nicholas meletakkan heels itu Kembali, lalu berpaling menatap Kejora yang menunduk penuh rasa bersalah. “Dasar, bodoh.”


Kejora mendongak ketika melihat pria itu memakinya.


“Apa kau memang suka membohongi diri sendiri?” tanya Nicholas. “Untuk apa menahan diri? Apa kau pikir dengan berpura-pura seperti ini kau akan terlihat semakin kuat? Tidak, kau akan semakin rapuh.”


Nicholas diam sambil memperhatikan kebisuan dari wanita di depannya itu. Matanya tidak sengaja menangkap sebuah luka di telapak tangan Kejora. Nicholas juga tahu bahwa kaki Kejora terkilir akibat jatuh tadi, sebab dia mengikuti Kejora dari belakang seusai kepergiannya tadi.


Tanpa sepatah kata, Nicholas mendekat dan membopong tubuh Kejora dalam gendongannya. Hal itu membuat Kejora bingung sekaligus syok. Dia tidak tahu kenapa secara tiba-tiba Nicholas menggendongnya seperti ini.


“Kenapa kau melakukan ini?” tanya Kejora takut.


“Kau bisa jalan sendiri?”


Kejora menggeleng. “Kakiku sepertinya terkilir.”


“Lalu untuk apa kau masih bertanya?” sinis Nicholas.


Kejora terdiam. Diam dalam gendongan Nicholas sampai akhirnya dia dimasukkan ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Kejora hanya terdiam sambil sesekali melirik Nicholas yang nampak serius mengemudi. Aura pria itu membuat Kejora sedikit kehilangan nyali.


Setibanya di rumah, Nicholas Kembali membopong tubuh Kejora ke dalam rumah. Kala momen itu, Kejora tidak hentinya memandang wajah Nicholas dari bawah. Kejora merasakan kehangatan dari apa yang pria itu lakukan kepadanya. Untuk kali ini, Kejora merasa bahwa Nich sedikit lebih baik dari biasanya.

__ADS_1


Nicholas meletakkan tubuh Kejora di sofa, sementara dirinya mengambil kotak obat dan Kembali setelah mendapatkannya.


“Mana tanganmu?” Nicholas mengambil obat untuk mengobati luka di tangan Kejora. Berbeda dengan Kejora yang menatap Nicholas dengan lekat.


“Kau seharusnya bangga dengan lukamu.”


Kejora mendongak. “Kenapa?”


“Ini yang dinamakan luka kemenangan.” Nicholas menatap sekilas. “Kau menang atas dirimu sendiri. Kau sudah berhasil lepas dari kesakitan.”


Kejora semakin menatap Nicholas dalam. Sebelum Nicholas membalutkan kain kasa di tangannya dan membereskan kotak obat tersebut. Entah kenapa Kejora merasa perkataan Nicholas ada benarnya. Merasa sakit sejenak untuk menyambut cerita baru yang lebih baik, itu tidak ada salahnya.


“Terima kasih,” ucap Kejora.


“Ini tidak gratis. Aku akan menambahkan biaya jasa dan pengobatanku ini ke dalam tagihan hutangmu.”


Kejora tidak kesal, ia malah terkekeh.


“Ucapanmu benar. Aku terlalu membutakan mata dan telinga untuk orang yang tidak jelas. Kau benar, dia tidak sebaik yang aku bayangkan. Aku masih ingat bagaimana kau memakiku dulu. Bahkan setiap hari kau selalu memakiku,” ucap Kejora diiringi dengan senyuman.


Namun, sedetik kemudian dia teringat bahwa Nicholas kehilangan ingatan. “Ah, maaf. Aku lupa kalau kau kehilangan ingatan.”


Nicholas menatap secara intens. Di balik kesibukannya membereskan kotak obat ada senyum misterius yang terbit di bibirnya.


“Tapi aku masih bingung, kenapa kau bisa tiba-tiba hilang ingatan? Tubuhmu sehat, tidak kecelakaan. Kalau karena aku memukul kepalamu menggunakan lampu tidur rasanya tidak mungkin, itu sudah lama masa amnesianya baru sekarang.”


Nicholas menyipitkan mata. “Kau memukulku?”


Kejora gugup. “T-tidak. Maksudku kenapa hanya aku yang dilupakan? Kau masih ingat Hans, tapi lupa denganku. Kenapa? Apa kau berpura-pura amnesia di depanku?”


Nicholas menatap wanita di depannya yang sepertinya memiliki rasa penasaran yang tinggi dengan kehidupannya. Nicholas mendekat, mencondongkan tubunya lebih dekat dengan Kejora. Membuat Kejora membulatkan mata takut dengan senyuman misterius itu.


“Kenapa? Apa kau sangat ingin tahu tentangku? Kalau kau masuk dalam kehidupanku, aku tidak bisa memastikanmu untuk bisa kabur. Apa kau sanggup?”


Nicholas menyeringai.


**

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2