
"Saya sudah siap, Tuan.”
Nicholas mengakhiri panggilan. Membalik badan dan menghadap ke sumber suara. Di depannya sudah berdiri sesosok wanita memakai dress putih sebatas paha dengan bagian punggung yang terbuka. Kejora menautkan kedua tangan di depan paha, menarik ujung-ujung bajunya karena merasa tidak nyaman dengan gaun yang dikenakan.
“Kenapa Anda melihat seperti itu?” tanya Kejora gugup.
Nicholas menelisik. “Kau yang membeli baju itu?”
“Bukan. Sebenarnya dress ini pemberian dari seseorang. Memangnya kenapa?”
“Dari Steve?” Kejora langsung mendongak dan itu sudah cukup jelas bagi Nicholas.
“Norak. Kau terlihat seperti gembel.”
Kejora menunduk, entah kenapa hatinya sakit mendengar perkataan Nicholas.
Nicholas memandang arloji Ketika paham dengan perubahan ekspresi itu. Masih ada waktu untuk menyelesaikan masalah yang ada.
“Masih ada waktu. Sekarang kau ikut denganku,” ujar Nicholas.
“Ke mana?”
“Ikut saja tanpa banyak bicara.”
Kejora mengikuti Langkah Nicholas menuju mobil. Nicholas berniat membawa Kejora ke sebuah butik langganan keluarga untuk merubah penampilan Kejora menjadi lebih layak.
Kejora mengedarkan pandangan setelah tiba di butik besar dan ternama itu. Dahulu ia bermimpi bisa menyambahi butik ini untuk memilih gaun pengantin untuk pernikahannya nanti. Secara tidak terduga saat ini dia bisa berada di tempat ini dengan orang yang berbeda.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Tolong carikan wanita ini gaun yang sesuai. Dan juga, rias wajahnya supaya lebih layak.”
“Baik, Tuan. Mari ikut saya, Nona.” Kejora di bawa ke sebuah ruangan untuk memilih beberapa dress dan mencobanya.
Kejora menunjukkan beberapa dress kepada Nicholas untuk meminta pendapatnya. Namun sampai beberapa kali, Nicholas masih belum suka dengan desain dressnya. Kali ini Nicholas sendiri yang memilihkan dress berwarna hitam dengan dengan bagian bahu yang tidak terlalu terbuka sehingga masih bisa menunjukkan kesan elegan.
“Ganti dengan ini,” titah Nicholas.
Kejora dengan lapang dada menerima dress tersebut dan mulai berganti. Setelah selesai mengganti dengan dress pilihan Nicholas, sekarang Kejora dibantu dengan beberapa orang untuk merias wajah dan menata penampilannya.
“Bagaimana?” Kejora berdiri di hadapan Nicholas dengan senyuman merekah.
Nicholas mendongak. Wanita di depannya nampak cantik dengan dress berwarna hitam selutut, rambut yang sebelumnya panjang terurai kini sudah diikat ke atas lalu dihiasi dengan aksesoris mutiara. Setelah mengamati dari atas sampai bawah, cukup Nicholas akui bahwa penampilan Kejora saat ini sangat cantik.
“Kenapa? Apa ada yang salah?” Kejora bingung. Pasalnya Nicholas seperti tidak berhenti memandangnya.
“Tidak. Penampilanmu sudah lumayan daripada yang tadi. Meskipun tidak cantik, tapi setidaknya tidak membuatku malu.”
__ADS_1
Nicholas menambahkan. “Cepat pakai heelsmu. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Kejora berjalan mengikuti Nicholas yang berjalan lebih dulu darinya. Langkahnya sedikit lamban akibat heels yang dikenakan terlalu tinggi. Lagipula Kejora tidak pernah memakai sepatu hak tinggi seperti ini, dia paling suka memakai sepatu agar mudah bergerak. Jadi untuk kali ini, ia perlu penyesuaian yang besar.
Beberapa menit dalam perjalanan, keduanya tiba di salah satu Kawasan hotel tempat diadakannya pesta. Kejora sedikit kesusahan untuk mengimbangi Langkah Nicholas yang Panjang. Dia selalu tertinggal dan membuat Nicholas menghela napas berkali-kali.
“Apa kau tidak bisa cepat sedikit?” sewot Nicholas.
“Aku tidak biasa memakai heels.” Kejora merasa bersalah.
Nicholas menghela napas kesekian kalinya.Bergerak mendekati Kejora dan membuka sedikit lengan tangan sebagai tanda Kejora harus memegang lengannya.
“Ingat, kau harus berperilaku layaknya kekasih terhadapku. Nanti jangan melakukan apa-apa tanpa seizinku.”
Nicholas memberikan sebuah topeng yang hanya menutupi bagian mata saja. “Pakailah. Hanya para wanita yang mengenakannya.”
Kejora mengangguk, memakai topeng tersebut. Memeluk lengan Nicholas dan bertindak layaknya sepasang kekasih memasuki ruangan. Di dalam ruangan sudah banyak orang yang berkumpul dan bercengkerama.
Kejora mengikuti ke mana Nicholas pergi dan berhenti di salah satu meja yang terdapat beberapa orang yang sepertinya merupakan kolega bisnis dari Nicholas.
“Nich, kau sangat tampan dan berkarisma. Aku bahkan sampai tidak mengenalimu.”
“Anda bisa saja, Tuan.” Nicholas tersenyum.
“Aku tidak berbohong. Eh, siapa wanita di sampingmu ini? Cantik sekali.”
“Memang sesuai tipeku, Nich. Tapi aku tidak berani merebut wanitamu.”
Nicholas terkekeh geli. Meneruskan perbincangannya dengan para koleganya. Sementara Kejora hanya tersenyum sambil sesekali menjawab pertanyaan.
Kejora berdiri sendirian dengan segelas minuman di tangan. Nicholas belum Kembali semenjak berpamitan untuk bertemu dengan orang-orang penting.
Kejora sendiri hanya bisa menunggu dan mengamati orang yang berlalu lalang. Namun, alangkah terkejutnya ketika dia melihat seseorang yang tidak asing baginya. Finn kekasihnya, tapi datang Bersama seorang wanita yang sama dengan yang ia lihat di pusat perbelanjaan dulu.
“Finn,” gumam Kejora.
Tanpa sadar tangannya mencengkeram gelas di tangannya dengan kuat. Pandangannya sama sekali tidak beralih pada seseorang yang nampak mesra memegang pinggang wanita lain.
Nicholas sudah berdiri di sebelah Kejora selama beberapa menit, melirik kearah pandangan Kejora yang sampai membuat sapaannya diabaikan itu. Nicholas bisa menyimpulkan mungkin ada sesuatu di antara kedua orang tersebut.
“Apa yang sedang kau perhatikan?” bisik Nicholas.
Kejora tersentak. “Astaga, Tuan.”
“Jangan memanggilku seperti itu. Ingat, kau partnerku sekarang.”
“Ah, maaf.” Kejora bersalah. “Apa kau sudah selesai? Boleh tidak kalau aku pulang lebih dulu?”
__ADS_1
“Tidak bisa. Bagaimana caranya pulang lebih awal sebelum pesta selesai?” Kejora menghela napas mendengar jawaban itu.
“Sudahlah, acara inti akan dimulai. Jangan merengek untuk pulang sebelum pekerjaanmu selesai.”
Kejora mengangguk, mengikuti Nicholas menuju ke sumber suara. Berdansa berpasangan memeriahkan jalannya pesta malam ini. Namun, Kejora hanya berdiri pasrah dan menerima kepahitan Ketika melihat kekasihnya bersama dengan wanita lain. Berdansa dengan mesranya padahal Kejora yang harusnya berada dalam posisi wanita itu.
Mata Kejora membulat ketika melihat kekasihnya berpelukan mesra dengan wanita itu. Tidak tahan, Kejora mengambil gelas berisi jus dan berjalan mendekati Finn lalu mengguyurkan minuman itu tepat di wajah kekasihnya.
“Sial, apa yang kau lakukan, hah?!” seru Finn marah.
Tak tanggung-tanggung, Kejora malah memberikan tamparan yang sangat keras di pipi Finn. Sontak kejadian itu menjadi pusat perhatian orang-orang dalam ruangan.
“Siapa kau? Berani-beraninya kau menampar kekasihku, hah?” Mega berseru lantang.
Kejora membuka topengnya, menatap datar kepada Finn yang terkejut dengan kehadirannya.
“Aku? Harusnya aku yang bertanya, siapa kau?” sinis Kejora.
“K-Kejora?” Finn tercengang.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh ada di sini dan melihatmu selingkuh dengan wanita lain?”
“Kejora … bukan seperti itu,” rajuk Finn mencoba memegang tangan Nicholas. Namun, dengan tegas menolaknya.
Kejora menatap lamat-lamat kekasihnya.
“Jadi, ini alasan atas kehilanganmu, Finn? Kau bersama dengan wanita lain?”
“Kejora, dengarkan aku dulu—”
“Aku kira kau serius bekerja, Finn. Aku kira kau sama sekali tidak bisa melakukan hal. Tapi ternyata—” Kejora tersendat. “Kau jahat, Finn. Kau pengkhianat!”
Finn berusaha untuk memegang tangan Kejora, tapi dengan tegas Kejora menghindar.
“Bukan seperti itu, Kejora. Kenapa kau bisa ada di sini. Kau pergi bersama siapa Kejora?”
Kejora menghela napas gusar. “Finn apa penting membahas itu sekarang? Kenapa kau malah menanyakan hal yang tidak penting daripada menjawab pertanyaanku?”
“Kejora, rasanya tidak mungkin jika kau pergi sendiri ke pesta ini. Ini acara orang besar dan kau seharusnya tidak bisa ke sini. Katakan, kau bersama siapa? Seorang pria?” cerca Finn membuat Kejora naik pitam.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh berselingkuh sama seperti dirimu?” tantang Kejora.
“Kejora, aku tidak berselingkuh.”
“Kau selingkuh, Finn!”
...
__ADS_1
Bersambung..