Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Hukuman


__ADS_3

"Apa maksud perkataanmu itu? Kenapa juga harus meminta pendapatku? Kalau mau, ambil saja. Aku tidak peduli," sinis Nicholas menjawab.


Steve berdehem sejenak. Memandang kakaknya. "Ya ... barangkali kau juga menyukainya, Kak. Bisa saja, kan?"


"Jika kau berpikiran bahwa aku menyukainya itu adalah kesalahan yang besar. Apa kau pikir tidak ada wanita yang lebih baik daripada dia yang menyukaiku?" Nicholas melirik Kejora yang masih terlelap dengan tatapan jijik.


Steve mengangguk. Melihat kakaknya yang menatap jijik tidak membuatnya marah. Malahan Steve merasa sesuatu yang berbeda ia tangkap dari tatapan jijik dan penolakan itu.


"Kau tahu, Kak, kadangkala hal yang sering kali coba kau tolak, bisa jadi dialah yang jadi takdirmu sebenarnya." Steve menatap penuh makna kepada kakaknya yang sama halnya membalas tatapan itu.


Kedua pria itu nampak tengah beradu lewat tatapan mata. Sebelum suara lenguhan membuyarkan lamunan mereka. Kejora nampak meringis sambil memegangi kepala dan mencoba bangkit dari ranjang dengan kondisi yang masih belum stabil.


"Kalian kenapa?" Lesu Kejora bertanya. Kehilangan keseimbangan, Kejora tersungkur di lantai membuat Steve bergerak cepat menolongnya.


Langkah kaki Nicholas yang semula hendak beranjak seketika berhenti di udara. Tangannya yang hendak meraih kini ditariknya ke samping badan ketika melihat adiknya bergegas mendekati Kejora. Tatapan matanya begitu intens melihat dua orang di depannya.


"Astaga, Kak. Kondisi tubuhmu belum stabil, untuk apa segera bangun, hah? Memangnya kau itu mau ke mana?" cerca Steve geram melihat Kejora yang baru saja jatuh itu.


"Aku baru ingat, ini sudah siang dan aku harus bekerja. Akhhh." Ringisan Kejora diakhir membuat Steve sontak duduk di samping ranjang.


"Kan, sudah kubilang. Kau itu masih sakit, untuk apa bekerja segala. Sudahlah, kau hari ini libur saja bekerjanya. Istirahatlah saja dulu."


Kejora menggeleng. "Tidak bisa. Ini sudah kewajibanku. Aku harus bekerja dan membayar hutangku pada kakakmu."


"Kak ... bisa tidak jangan keras kepala?" tutur Steve.


"Benar apa katanya. Tidak ada cuti bekerja. Kerja ya kerja. Dia punya hutang dan harus bekerja sebagai gantinya. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan!" sahut Nicholas terkesan sarkas. Tatapan arogannya begitu menambah kesan jahat pada dirinya.


Kejora menoleh ke sumber suara. Menatap Nicholas yang berdiri dengan kedua tangan menyilang di atas dada. Menatapnya begitu sinis dan dalam.


"Kak! Bukannya ini keterlaluan?"


Steve berdiri dari duduknya sembari menatap kesal kepada kakaknya. Menurutnya, kakaknya itu terlalu kejam dan tidak berperikemanusiaan.

__ADS_1


Nicholas menaikkan sebelah alis. "Keterlaluan? Bukankah dia sendiri yang membuat dirinya sakit?"


Jawaban Steve nyaris keluar sebelum akhirnya Kejora menarik tangan Steve untuk diam. Sementara itu di sebelah sana Nicholas melihat dengan jelas bagaimana wanita itu memegang tangan adiknya.


"Aku akan bekerja. Kalian jangan bertengkar, oke?" sahut Kejora sambil melihat dua bersaudara itu.


"Segeralah keluar. Ada sesuatu yang ingin kukatakan." Nicholas lekas pergi dari kamar setelah mengatakan itu.


Kejora menatap kepergian pria itu dari kamarnya. Tatapan itu begitu berbeda dan Steve merasa ada sesuatu dari tatapan itu.


"Kenapa tidak dibicarakan di sini saja? Kenapa harus menyuruh kita keluar? Menyebalkan," gerutu Steve.


Kejora tersenyum. "Aku akan ke toilet sebentar."


Steve mengangguk. Setelah lima menit di kamar mandi kini Kejora keluar dari wajah yang sudah lebih segar dari sebelumnya. Mereka berdua menghadap kepada Nicholas yang nampak berdiri menghadap jendela dekat kolam rumahnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Steve.


"Karena kalian membuat ulah di rumahku, aku akan memberikan hukuman," jelas Nicholas.


"Hukuman?! Kak, yang benar saja. Kami tidak melakukan apa pun!" berontak Steve.


"Mabuk-mabukan di rumahku adalah masalah yang besar. Kau jelas tahu aku sangat tidak suka dengan sesuatu yang berbau alkohol." Nicholas menjawab sengit.


"Jadi sebagai hukuman, kau bersihkan rumput liar di taman dekat kolam sampai bersih. Cabut satu per satu menggunakan tangan kosong." Nicholas menatap Steve remeh.


Sementara Steve nampak terkejut mendengar hukuman untuknya. "Kak, kau waras? Mencabut rumput? Aku?"


"Memang siapa lagi? Dan kau, bersihkan area kolam renang sampai bersih. Jangan sampai ada kotoran yang tersisa sedikitpun," jelas Nicholas sambil menatap Kejora.


Kejora menunduk patuh. "Baik."


Steve menatap kelas kepada Kejora yang langsung menyetujui perintah kakaknya itu.

__ADS_1


"Kak, kau langsung mau saja disuruh olehnya? Ini bukan hukuman tapi penindasan! Dia mempermainkan kita. Apa dia pikir karena dia punya banyak uang, dia bisa menyuruh kita seenaknya?" Steve merasa tidak adil diberikan hukuman seperti itu.


"Penindasan? Apa perlu kutambahi hukumanmu dengan menyikat halaman depan rumah sampai bersih, Steve?"


Steve sontak membulatkan mata. Tatapan dari kakaknya kepadanya sungguh mengerikan.


"Rupanya kau sudah cerdas ya sekarang, buktinya sudah tidak membutuhkanku lagi. Baiklah, sepertinya kau sudah tidak membutuhkan uangku lagi sekarang. Padahal aku tadi berniat memberikanmu uang, tapi tidak apa aku akan menghubungi Hans dan membatalkan transaksi itu."


Nicholas mengambil ponsel untuk menghubungi asistennya. Akan tetapi, secepat kilat Steve menyambarnya dan mematikan sambungan. Mengamankan ponsel di saku celana kakaknya sambil tersenyum lebar.


"Santai, Kak. Aku tadi cuma bercanda. Untuk apa serius-serius, huh?" Steve terkekeh sambil mengusap baju kakaknya. Melihat tatapan tidak bersahabat, Steve segera menghentikan gerakannya.


"Hahah, tadi disuruh cabut rumput, kan? Ck, itu hanya pekerjaan sepele. Tidak cuman rumput, pohon saja bisa kucabut masa rumput sekecil itu tidak bisa. Ayo, kakak ipar, kita segera bekerja," ajak Steve sambil menarik tangan Kejora untuk berjalan keluar rumah.


Sesampainya di sana, Steve hanya bisa melongo melihat apa yang akan ia bersihkan. Ternyata lumayan banyak juga rumput liar yang harus ia cabut.


"Apa rumputnya ini berkeluarga? Kenapa menggerombol seperti ini? Banyak pula," gerutu Steve. Kejora terkekeh mendengar perkataan Steve.


"Hahah, rumput berkeluarga? Ada-ada saja."


"Lihat." Steve menunjuk rumput yang seperti baru tumbuh. "Ini pasti anaknya, soalnya masih kecil. Astaga, kalau dibiarkan lama pasti kakak bisa ternak kambing di sini."


"Hahah, anak?" Kejora tergelak. Kemudian menggeleng pelan mendengar perkataan itu.


Sementara itu di dekat jendela ada seseorang yang mengintip dengan raut wajah datar tapi menusuk. Nicholas berniat mengawasi pekerjaan kedua orang itu, tapi malah mendengar suara gelak tawa yang menggema.


Padahal Nicholas sudah memberinya hukuman, tapi kedua orang itu malah nampak menikmatinya dengan penug canda tawa. Seperti tidak ada beban sedikit pun menjalani hukuman. Membuat Nicholas berulang kali mengelus dagunya.


"Apa sebahagia itu mendapatkan hukuman?" batin Nicholas.


***


Insyaallah, bulan Desember ini akan rutin update ya. terima kasih yang masih berkenan menunggu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2