Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Ajakan untuk Menikah


__ADS_3

"Apa kau pikir dia akan menerima wanita bekas sepertimu?" ucap Nicholas sinis. Seringai di bibirnya semakin terlihat sadis meremehkan Kejora yang diam tidak berkutik di depannya.


Wajah Kejora memerah. Terpancing emosi membuatnya secara tidak sengaja menampar dengan keras pipi kanan Nicholas. Kejora merasa direndahkan dengan perkataan Nicholas yang menamainya sebagai wanita bekas.


"Saya bukan wanita bekas!" sentak Kejora nyaring. Dadanya naik turun tersulut emosi.


Nicholas berdesis karena pipinya berdenyut nyeri. Sekali lagi ia menatap wajah Kejora yang nampak marah akibat perkataannya tadi. "Kau bekasku. Aku adalah orang yang mencicipimu pertama kali. Bahkan disaat kekasihmu belum menyentuhmu."


"Diam ...!" gertak Kejora sambil menutup kedua telinganya.


Nicholas menarik tangan yang mengukung tubuh Kejora. Melihat Kejora yang gusar sambil menutup telinga membuat Nicholas menatapnya dengan tatapan aneh.


"Jahat memang. Tapi pria brengsek pun pasti mengharapkan seorang wanita baik-baik untuk dijadikan istri. Dan kekasihmu ... aku tidak yakin dia akan menerima calon istrinya yang sudah tidak perawan," tukas Nicholas sambil tersenyum sinis.


Kejora menarik tangannya dari telinga, lalu menatap Nicholas dengan sinis. "Dia tidak sebrengsek Anda. Dia menerima segala kekuranganku! Jangan samakan kekasihku dengan pria brengsek seperti Anda!"


Nicholas tertawa sumbang. "Apa kau sudah mengatakan padanya bahwa keperawananmu sudah hilang?"


Kejora terdiam. Diam-diam kedua tangannya mengepal di samping badan. Sinis menatap Nicholas yang secara terang-terangan menghina kekasihnya.


"Tidak, kan? Bagaimana, ya, kalau dia tahu ternyata kekasihnya tidur dengan pria lain?" goda Nicholas memandang Kejora dengan raut wajah mengejek. Tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Kejora mulai terpancing dengan perkataannya.


Kejora berdecak. "Sebenarnya apa yang Anda mau? Kenapa Anda memeras saya seperti ini?"


"Terima pertanggung jawabanku dan kita menikah."


Kejora membulatkan mata cepat. Ia menolak keras keputusan itu. Bagaimana mungkin dia menikah dengan pria lain sementara dirinya masih memiliki hubungan dengan kekasihnya?


"Anda gila!" sentak Kejora.


"Aku yang bertanggung jawab ini kau katai gila?" desis Nicholas. "Sebenarnya yang gila di sini itu kau, bukan aku. Aku secara gentle mau bertanggung jawab, kau malah menolakku dengan tegas."


"Saya punya kekasih! Saya tidak mungkin menikah dengan Anda!" Kejora berteriak keras di hadapan Nicholas.


"Kau punya kekasih, tapi aku punya benih di rahimmu." Nicholas menunjuk perut rata milik Kejora yang berbalut kaos putih. Menyeringai lalu menatap Kejora dengan wajah liciknya.

__ADS_1


"A-apa?"


Nicholas mendekatkan bibir ke telinga Kejora lalu berbisik, "aku mengeluarkannya di dalam waktu itu."


Sejenak napas Kejora sempat terhenti mendengar bisikan Nicholas yang berhasil menghentikan detak jantungnya. Nicholas menarik diri dari telinga Kejora lalu mengamati wajah Kejora yang nampak menegang dengan mata melotot.


"Aku akan bertanggung jawab atas benihku di perutmu. Aku tidak mau anakku tidak memiliki seorang ayah," pungkas Nicholas.


"Saya tidak hamil!" sentak Kejora.


"Aku mengeluarkannya di dalam. Risiko untuk hamil lebih besar." Nicholas menjawab lebih sengit.


"Saya akan menggugurkannya! Anda tidak perlu repot-repot untuk bertanggung jawab," jawab Kejora sambil memalingkan muka.


Kejora terdongak ketika tiba-tiba rahangnya kembali dicengkeram dengan kuat oleh Nicholas. Tatapan sadis itu kembali ke wajah seorang pria yang sejak tadi mempermainkannya itu. Desisan Kejora yang kesakitan sama sekali tidak diindahkan, Nicholas malah semakin kuat menekan cengkeramannya di rahang Kejora.


"Sampai kau berani menggugurkannya, aku juga akan mengugurkan nyawamu juga," ancam Nicholas keji. Kian mencengkeram rahang Kejora tanpa memedulikan suara ringisan itu.


Nicholas menekan dengan kuat rahang Kejora. Kejora bahkan sampai meneteskan air matanya. Nicholas malah tertawa melihat air mata itu, bukannya malah iba atau merasa kasihan. Cengkeraman Nicholas semakin mengendur ketika suara derap langkah mendekati ruangan. Dia sudah memperkirakan bahwa itu adalah manager hotel dan asistennya.


Nicholas melepaskan cengkeraman ketika pintu ruangan terbuka. Kejora langsung bernapas lega sambil memegangi rahangnya yang sakit.


Nicholas berbalik lalu menjawab, "ah, ini. Aku melihat bahwa ada debu di atas meja ini. Jadi, aku menyuruh staffmu untuk membersihkannya."


Zein menaikkan sebelah alis. Tatapannya beralih kepada Kejora yang nampak menunduk.


"Tuan Nich memang gila kebersihan. Dia tidak bisa melihat sedikit debu pun di sekitarnya, Pak," sela Hans menjawab keraguan Zein tadi.


"Oh. Saya sudah membawa rekamannya. Anda bisa melihat apa yang terjadi malam itu." Zein tidak memusingkan pikiran dan langsung membuka laptop untuk menunjukkan apa yang ia dapatkan di ruang CCTV tadi.


Nicholas tersenyum. Berbalik lagi menatap Kejora dan berbisik, "pikirkan lagi tawaranku. Ingat, kau membawa benihku sekarang."


Nicholas tersenyum licik. Sebelum akhirnya berjalan mendekati Zein yang nampak sedang membuka sesuatu di laptop.


Kejora menaikkan tali tasnya yang sedikit melorot di atas bahu. Ia melangkah dengan ragu dan menghadap Zein yang nampaknya sedang sibuk.

__ADS_1


"Saya izin keluar, Pak. Saya permisi," ucap Kejora yang langsung membuka pintu dan berlari dari sana.


Zein keheranan. Tingkah Kejora begitu mencurigakan. Tidak biasanya dia seperti itu. Baru kali ini Zein melihat tingkah Kejora yang sangat aneh.


"Aku menyuruhnya pergi karena tugasnya selesai. Jadi, bisakah kita melihat videonya sekarang?" tukas Nicholas mengalihkan pikiran Zein dari Kejora.


"Ah, maafkan saya, Tuan."


Zein segera membuka rekaman CCTV tersebut lalu menjelaskannya kepada Nicholas. Nicholas mengangguk menanggapi, tapi berbeda dengan pikirannya yang malah tertuju dengan Kejora yang tampak marah tadi. Sangat imut, batin Nicholas.


***


"Kejora. Kejora!"


"Eh, iya apa?" Kejora seperti orang linglung. Ia tidak bisa fokus melakukan pekerjaan. Seperti sekarang ini, ia bahkan malah mengambil handuk di kamar mandi padahal tadi disuruh untuk membersihkan area sofa kamar yang baru saja ditinggalkan oleh tamu.


"Apa sih yang kau pikirkan? Bukannya aku menyuruhmu membersihkan sofa?!" teriak seniornya Kejora.


"Maaf. Aku akan membersihkannya sekarang." Kejora meraih bantal di sofa dan hendak membersihkannya.


"Tidak usah! Pergi sana! Antarkan barang ini ke meja resepsionis saja!" Senior tersebut memberikannya sebuah map kecil kepada Kejora. "Kalau tidak niat kerja, ya tidak usah kerja! Tidur saja di rumah!"


Kejora menunduk merasa bersalah. Pada akhirnya ia pamit undur diri dan berjalan menuju lantai bawah untuk memberikan map tadi ke meja resepsionis. Kejora langsung meletakkan map tersebut di atas meja dan menyerahkannya.


Kejora mencari tempat untuk berisitirahat. Ia duduk di salah satu kursi sambil bertopang dagu dan merenung. Pikirannya begitu kacau. Masalah keluarga, ditambah lagi dengan masalah ancaman Arjuna yang tampak nyata. Kejora sangat pusing memikirkan itu.


"Kejora, kenapa kamu ini? Aku lihat kamu sama sekali tidak bersemangat bekerja hari ini," tukas teman Kejora sambil duduk di samping Kejora.


Kejora tidak menjawab, malahan ia menatap sahabatnya dengan lekat lalu berkata, "apa dia sudah pergi?"


"Siapa? Tamunya Pak Zein? Katanya, sih, tadi sudah pergi. Memangnya ada apa?"


Kejora menggeleng. "Tidak. Tidak apa-apa."


"Aneh."

__ADS_1


Kejora menatap temannya sambil tersenyum. Ia kembali melihat ke depan dan merenung. Rasanya Kejora ingin segera kembali ke rumah dan berisitirahat. Tubuh dan otaknya terasa sangat lelah. Di sela-sela lamunan Kejora, secara tidak terduga ada seseorang yang berjalan mendekati Kejora dengan wajah penuh senyuman.


"Kejora," panggil seseorang itu.


__ADS_2