Terjerat Hasrat CEO Gila

Terjerat Hasrat CEO Gila
Hanya Sebagai Alat


__ADS_3

"Tuan, apa tidak sedikit kejam meninggalkan Nona Kejora sendirian?"


Nicholas yang saat itu tengah memainkan ponsel seketika menoleh. Memberikan tatapan aneh kepada asistennya. Sejak kemarin dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada wanita itu.


"Kejam?"


"Ah, maksud saya kita kan satu arah dengan rumah sakit. Tidak ada salahnya untuk membawa nona bersama untuk pergi," sambung Hans.


"Sebenarnya ada apa dengan dia? Kenapa aku merasa bahwa kau selalu memihak padanya, Hans? Apa kau begitu menyukai wanita itu?" tanya Nicholas sambil menyipitkan mata.


Hans menggeleng cepat. "Bukan seperti itu, Tuan. Ini, Saya sudah merekam semua kegiatan Anda dengan Nona Kejora dari awal Anda datang ke kota ini. Anda bisa melihatnya sendiri."


Nicholas menerima sebuah tablet dari Hans dan melihat beberapa foto dirinya dengan Kejora.


"Waktu pertama kali Anda datang, Anda dijebak oleh seseorang dan memperkosa Nona Kejora secara tidak sengaja. Lalu Anda terus mendekati Nona Kejora untuk bertanggung jawab, tapi dia menolak," kata Hans menjelaskan.


Nicholas masih diam. Sibuk melihat beberapa dokumen yang melibatkan interaksi dirinya dan Kejora. Ada foto dan juga video yang sudah dirangkum dengan jelas di sana.


"Karena di alam bawah sadar Anda terus mengingat Nona Kejora, akhirnya Dokter Zang menyarankan Anda untuk terus berhubungan dengannya. Namun ... sayangnya Nona Kejora pun tidak bisa menyembuhkan penyakit Anda."


Nicholas mematikan tablet yang dipegangnya itu. Sudah selesai ia melihat dan mulai paham alasan wanita itu mengenalnya.


"Jadi, dulu dia aku jadikan alat untuk menyembuhkan penyakitku ini?" tanya Nicholas.


"Benar."


Nicholas bersandar pada bahu mobil sambil menghela napas. "Pantas saja dia mengenalku dan berbicara banyak malam itu. Aku kira dia hanya berbual saja."


"Tapi Anda jangan khawatir, Tuan. Hari ini Dokter Zang sudah merekomendasikan beberapa wanita, Anda bisa mulai mengencaninya. Bisa saja ada salah satu dari mereka yang bisa menyembuhkan penyakit Anda," pungkas Hans.


"Katakan padanya tidak perlu lagi mengatur kencan untukku," putus Nicholas sambil memijit pelipis. Gusar dengan kehidupannya sendiri. "Aku lelah mencoba sesuatu yang tidak membuahkan hasil."


"Tapi, Tuan. Mungkin kali ini kita akan berhasil," ungkap Hans.


Nicholas membenarkan posisi duduknya sampai tegap lalu menatap Hans yang sibuk menyetir mobil.


"Hans, sudah berapa banyak wanita yang aku kencani sampai sekarang? Buktinya mereka semua tidak bisa membantuku. Aku melupakan mereka, tidak ada satu pun wanita yang bisa aku ingat. Mau sampai berapa banyak lagi aku harus membuang waktuku untuk ini?" tanya Nicholas gusar.


"Tapi, Tuan ...."


"Amnesiaku ini mungkin kutukan dari Tuhan untukku, Hans. Jadi, mau tidak mau aku harus menerimanya. Tidak ada yang bisa membantuku keluar dari masalah ini," potong Nicholas lebih dahulu.

__ADS_1


Hans terdiam. Merasa bahwa perkataan Nicholas itu ada benarnya. Sudah banyak wanita yang hadir dalam hidup Nicholas tapi sama sekali tidak ada wanita yang bisa menyembuhkan penyakit atasannya itu.


Nicholas menderita amnesia heteroseksual. Trauma di masa lalu yang membuatnya kerap kali melupakan wanita dalam kehidupannya ketika hujan datang. Hal itu membuat Nicholas mengencani banyak wanita untuk membantunya keluar dari masalah ini. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu.


Hanya segelintir orang yang tahu akan penyakit yang diderita Nicholas. Penyakit itu menjadi rahasia besar selama beberapa tahun terakhir ini bahkan disembunyikan dari keluarga sendiri. Dalam pencariannya selama beberapa tahun terakhir, Nicholas sama sekali belum menemukan wanita yang sama sekali tidak bisa dia lupakan.


***


"Kejora, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu untuk operasi?"


Kejora belum menjawab. Memilih memapah tubuh neneknya untuk dibaringkan ke ranjang. "Nenek tidak usah khawatir. Aku meminjamnya dari temanku."


"Baik sekali temanmu itu," ucap Ratih membenarkan posisi baringnya. "Oh, iya, kalau tidak keberatan nenek mau bertemu dengannya untuk berterima kasih."


Tangan Kejora yang memegang selimut mendadak berhenti. Mendongak dengan cepat ke arah neneknya yang menatap tak kalah lekat.


"Dia terlalu sibuk, Nek. Mungkin akan sulit menemuinya," kilah Kejora sambil tersenyum manis.


"Oh, begitu. Kalau begitu sampaikan padanya saja bahwa nenek sangat berterima kasih karena sudah dibantu," jawab Ratih.


Kejora mengangguk. "Baiklah."


Ratih merebahkan kepalanya di bantal yang sudah ditata rapi oleh Kejora. Setelah selesai, Kejora menatap arloji di tangannya untuk melihat waktu. Dia ingat ada janji dengan seseorang hari ini.


"Tidak apa-apa. Lagipula nenek sudah sembuh. Pergilah."


Kejora mencium tangan neneknya sebelum pergi. "Kejora pergi dulu, Nek."


Selama menjaga neneknya ada di rumah sakit, Kejora akhirnya bisa pulang dengan lega mengingat kondisi neneknya yang sudah membaik. Kejora sendiri sudah berjanji untuk bekerja bersama Nicholas sebagai ganti uang yang dipinjamnya waktu itu. Dan sekarang Kejora sudah sampai di kawasan perumahan milik Nicholas beberapa menit lalu.


"Nona, masuklah," suruh Hans menyambut Kejora di depan gerbang.


Kejora mengangguk. Masuk dan mengikuti Hans dari belakang. Hans membawanya masuk ke rumah luas itu untuk memberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Kejora.


"Karena saya masih ada pekerjaan, saya akan menjelaskan secara singkat kepada Anda, Nona."


"Baiklah." Kejora mengambil sebuah note kecil dan bolpoint di dalam tasnya untuk mencatat apa saja poin yang penting.


"Pertama, Anda harus membersihkan setiap ruangan di sini dan menata semua barangnya dengan rapi. Jangan sampai ada debu sedikit pun karena Tuan Nich sangat membenci debu dan suka kerapian."


Kejora mengangguk. Menulis di note kecilnya sambil berjalan mengikuti Hans menjelajah isi rumah.

__ADS_1


"Kedua, setiap pagi Anda harus menyiapkan air hangat dengan temperatur sedang——tidak panas atau dingin——lalu menyalakan lilin aroma terapi karena Tuan Nich suka wangi itu setiap kali akan mandi."


Kejora mengerutkan kening. Lumayan banyak juga peraturannya. Kejora segera menggeleng, memilih fokus saja daripada keteteran.


"Dan yang ketiga, Anda tidak usah memasak karena Tuan Nich selalu memesan dari restoran. Jadi, Anda hanya perlu memesankan makanan setiap akan makan dari restoran itu dan menatanya di meja makan."


"Setiap hari membeli makanan?" tanya Kejora.


"Benar. Apa ada masalah, Nona?"


Kejora menggeleng. "Tidak, aku hanya berpikir. Orang kaya seperti kalian suka sekali menghamburkan uang, ya? Sementara aku saja mencarinya dengan susah payah."


"Nona bisa saja. Mmm, yang jelas yang saya sebutkan tadi adalah tugas Nona di rumah ini. Jangan sampai teledor atau Tuan Nich akan memarahi Anda," tutur Nicholas berbisik.


"Siap!" Kejora mengangguk hormat. "Eh, tapi ... bagaimana dengan pekerjaanku di hotel kalau aku bekerja di sini?"


"Masalah itu biar saya yang atasi. Nanti Anda tinggal berikan surat pengunduran diri saja."


"Harus mengundurkan diri, ya?" tanya Kejora sedih.


"Harus. Karena bisa bahaya jika orang lain tahu Anda bekerja di sini. Nanti bisa menggiring opini publik yang tidak benar."


"Baiklah kalau begitu."


Hans tersenyum sekilas. Kemudian berlanjut menjelaskan hal yang harus dan tidak boleh dilakukan di rumah itu.


Kejora memulai bekerja dengan menata barang-barang pada tempatnya. Malam tiba dan Kejora masih sibuk mengepel lantai area ruang tengah sampai depan kamar. Berbicara tentang Nicholas, pria itu baru saja pulang dan membersihkan diri di kamar mandi.


"Apa kamarnya aku bersihkan sekalian, ya?" gumam Kejora bingung. Tanpa pikir panjang lagi masuk ke kamar itu dan mengepel lantainya.


Secara tidak sengaja Kejora menumpahkan botol berisikan cairan pembersih lantai tepat di depan pintu kamar mandi Nicholas. Sementara Kejora nampak memunggungi dan membersihkan area sekitar ranjang.


Baru saja Nicholas menyelesaikan mandinya, beranjak keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan mata terpejam. Tanpa kendali, kaki Nicholas terpeleset sehingga tubuhnya terduduk di lantai dengan keras.


"Akhhhh, kakiku!" jerit Nicholas keras.


Kejora sontak terkejut mendengar teriakan itu. Lekas ia berbalik dan seketika membulatkan mata sampai-sampai gagang pel di tangannya terjatuh begitu saja.


"Ada apa Tuan——aaaaaaaa!"


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2