Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Restu papa


__ADS_3

"Gwen," panggil Ruli. Sore itu ayah Gwen baru saja pulang kerja. Dia memandang sinis pada Satria. Sebagai laki-laki jantan Satria tidak kabur, dia malah menghadapi ayah calon pacarnya itu.


"Saya Satria, Om." Satria memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Ruli," jawab laki-laki berjas hitam itu. Dia menyambut uluran tangan Satria.


"Maaf, Om. Saya hanya mengantarkan martabak kesukaan Gwen," ucap Satria. Gwen mengangkat plastik bungkusan yang dia pegang.


Ruli menghela nafas. Nampaknya sulit untuk memisahkan Gwen dengan Satria. "Ajak dia masuk! Papa ingin bicara!" perintahnya pada sang anak. Gwen merasa khawatir, tapi Satria memberi pengertian pada gadis itu.


"Mas, nggak usah masuklah!" rengek Gwen.


Satria tersenyum melihat sikap cemas Gwen yang menggemaskan. "Lho memangnya kenapa?" tanya Satria.


"Aku takut papa itu orangnya galak." Gwen menakut-nakuti lelaki itu.


"Aku tidak takut. Aku lihat tidak ada taring di gigi ayahmu," goda Satria. Setelah itu dia melepas helm lalu masuk mendahului Gwen.


"Yee, dibilangin coba," keluh Gwen.


Sesampainya di dalam, Gwen menghadang ayahnya. "Pa, jangan marahi Mas Satria. Aku yang salah karena menggunakan uang papa tanpa izin. Aku hanya niat menolong," ucap Gwen sambil menunduk.


"Minggir!" usir Ruli.


"Pa, papa." Gwen menghentakkan kakinya.


"Duduk!" perintah Ruli dengan tegas.


"Apa kamu menyukai anak saya?" tanya laki-laki itu to the point.


"Saya...saya..." Satria ragu menjawab pertanyaan ayah Gwen karena dia masih bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Pa, papa nanya apaan sih?" protes Gwen.


Ruli menatap tajam putrinya. "Gwen, duduk!"


'Kurang asem, dikira aku hewan peliharaan apa?' batin Gwen mengeluh, tapi dia tetap menuruti perintah ayahnya.


"Kalau kamu tidak menyukai Gwen jangan kasih dia harapan palsu. Saya tidak suka ada laki-laki yang mempermainkan putri saya," ucap Ruli.


"Pa, kami hanya berteman," sela Gwen. Ruli melirik Gwen dan mengkode untuk diam.


Satria menghembuskan nafasnya berat. "Saya menyukai Gwen." Ucapan Satria membuat Gwen terkejut. Pasalnya selama ini laki-laki itu telah menolak dirinya puluhan kali. Namun, hari ini Gwen mendengar Satria mengungkapkan perasaannya di depan sang ayah.

__ADS_1


'Sumpah demi apa? Mas Satria suka sama gue?' Gwen rasanya ingin terbang melayang.


"Tapi saya belum yakin dengan perasaan saya," imbuh Satria. Gwen rasanya seperti dibanting dari ketinggian.


"Kalau begitu aku kasih kamu kesempatan untuk dekat dengan Gwen. Apakah pekerjaan kamu selain menjadi driver ojek online?" tanya Ruli.


"Saya memiliki bengkel motor kecil-kecilan, saya juga kuliah di sebuah universitas negeri, terakhir saya menjadi guru les privat Gwen."


Mama Kristal yang mendengar pengakuan Satria menjadi terkejut. "Apa? Guru les privatnya Gwen bukannya Pak Bagus?" tanya Mama Kristal pada Gwen lalu beralih ke Satria.


"Saya salah. Saya mengikuti usulan Gwen dan temannya untuk menyamar agar saya diperbolehkan untuk memberikan les privat pada Gwen," ungkap Satria. Ruli merasa bangga pada Satria. Dia berani mengakui kesalahannya.


"Baik, kalau begitu jangan turuti perintah anak nakal itu. Mulai besok datanglah untuk memberikan les privat tanpa menyamar. Aku sudah memberi izin," ucap Ruli pada Satria. Satria mengangguk patuh.


"Dan kamu Gwen. Ingat tantangan yang papa berikan padamu. Jika kamu tidak bisa menyaingi Glen di semester ini, maka kamu akan papa kirim sekolah ke luar negeri," ancam Ruli pada putrinya.


"Siap laksanakan, papa!" Semua orang terkekeh melihat tingkah Gwen.


Setelah itu, Satria pamit. "Mas Satria, apa betul Mas Satria suka sama Gwen?" goda Gwen yang usil.


"Tergantung," jawab Satria. Gwen langsung memanyunkan bibirnya.


"Maksudnya?" tanya Gwen yang kurang jelas dengan jawaban Satria.


"Tergantung apakah kamu menurut padaku atau tidak," jawab Satria dengan lembut sambil mengacak rambut Gwen. Gwen sangat menyukai perlakuan manis Satria. Wajahnya memerah karena malu.


"Sirik aja lo! Ganggu orang seneng aja." Gwen menjulurkan lidah. Satria terkekeh melihat Gwen dan Glen yang tidak pernah akur.


"Gwen aku narik dulu ya. Ada orderan yang masuk," ucap Satria pada Gwen. Lalu Satria melirik ke arah Glen. "Kalian jangan suka berantem!" sindir Satria.


Setelah kepergian Satria, Gwen pamer pada saudara kembarnya. "Glen elo tahu nggak?"


"Tahu apa?" tanya Glen sewot.


"Elah, lo nyolot amat sih? Jadi laki lembutan dikit napa kaya Mas Satria," sindir Gwen.


"Bodo," jawab Glen cuek. Dia berjalan menuju kamarnya. Gwen masih mengekori.


"Papa udah setuju aku pacaran sama Mas Satria," ucap Gwen melebih-lebihkan. Padahal Ruli hanya mengizinkan Satria memberikan les privat pada Gwen.


Glen menghentikan langkahnya karena terkejut. "Kok bisa?" tanya Glen.


"Bisa dong. Mas Satrianya aku tuh emang paling pinter ngambil hati orang termasuk papa," ucap Gwen dengan angkuh. Dia berjalan meninggalkan Glen yang masih tak percaya dengan ucapan saudara kembarnya.

__ADS_1


Glen pun bertanya pada sang ayah ketika makan malam keluarga. "Memang betul papa mengizinkan Gwen pacaran sama Satria?" tanya Glen di saat acara makan malam masih berlangsung. Ruli tersedak. Kristal memberikan minum pada suaminya.


"Makannya pelan-pelan aja, Pa," tegur sang istri.


"Belum, papa memang bertanya pada Satria apa dia menyukai Gwen atau tidak. Namun, papa belum mengizinkan mereka pacaran. Papa hanya menyuruh Satria memberikan les privat pada Gwen agar nilainya naik," ungkap Ruli.


Glen seketika menatap tajam pada adiknya. "Dasar pembohong!" Gwen hanya mencibir.


Usai makan malam, Gwen bermain dengan handphonenya di dalam kamar. Dia mengirim pesan pada Satria.


'Mulai besok jemput seperti biasa ya! Bayarannya aku kasih double deh.'


Gwen terkekeh setelah mengirim pesan pada pria idamannya. Tak berselang lama Satria membalas.


'Siap, Tuan putri.'


Gwen speechless saat membaca pesan dari Satria. Dia tidak menyangka Satria yang selama ini cuek padanya berubah hangat. "Emang batu kalau kena tetesan air lama-kelamaan akan bolong juga," ucap Gwen mengumpamakan Satria sebagai batu dan dia sebagai tetesan airnya.


Terdengar seseorang yang membuka kenop pintu kamarnya. "Mas Satria." Gwen terkejut ketika melihat Satria tiba-tiba ada di rumahnya itu.


Gwen menghampiri Satria. "Mas kok ada di sini?" tanya Gwen.


"Aku kangen sama kamu," jawab Satria. Gwen mengerjapkan mata beberapa kali.


"Mas, nanti kalau papa lihat bagaimana?" tanya Gwen cemas.


Satria tersenyum. "Tenang saja! Aku sudah meminta izin pada papamu. Apa kamu belum mengantuk?" tanya Satria seraya merapikan anak rambut Gwen yang menutupi sebagian wajahnya.


Gwen menggeleng. "Bagaimana bisa mengantuk kalau di sini ada Mas Satria," jawab Gwen malu-malu.


Tiba-tiba Satria mengangkat dagu Gwen. Lalu Satria menempelkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu. Gwen bukannya kaget tapi malah tersenyum tipis. Dia memang sudah menantikan saat-saat Satria menciumnya.


"Gwen, Gwen." Suara teriakan itu membangunkan Gwen. Saat Gwen membuka mata dia terkejut karena bukannya Satria yang dia cium melainkan gulingnya.


"Gwen, bangun ntar kamu telat. Satria udah nunggu di bawah tuh," teriak sang mama dari luar kamar.


"Assial. Kenapa mimpinya indah sekali sih?" gerutu Gwen. Dia cepat-cepat bangun lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.


Weleh weleh saking cintanya sama Bang Sat eh Mas Satria, Gwen sampai mimpi dicium Satria.


...♥️♥️♥️...


Mau kasih perhatian sedikit nih

__ADS_1


Yang belum kasih rate tolong bantu rate bintang lima ya. Kalau nggak suka sama bacaannya tidak usah kasih rate bintang satu. Itu sama saja kalian merusak karya penulis. Menulis itu nggak gampang ya guys jadi tolong hargai. Menulis tidak secepat membaca 😘


Makasih sebelumnya


__ADS_2