
Malam itu tanpa sepengetahuan orang tuanya, Gwen pergi bersama Satria. Mereka menaiki motor menyusuri jalanan yang begitu gelap. Satria membawa Gwen ke sebuah pantai.
"Wah, ini baru pertama kalinya aku ke pantai malam-malam begini," ucap Gwen yang begitu antusias.
"Kamu suka?" tanya Satria. Gwen mengangguk cepat. Lalu dia melepas alas kakinya dan berlari di atas pasir. Setelah dia lelah, Gwen tiduran di atas pasir tersebut.
"Rasanya aku seperti kapas yang melayang. Tanpa beban tanpa tekanan," ucap Gwen mengekspresikan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
Satria mengikuti Gwen yang tengah berbaring di atas pasir. "Menurutmu jika aku kembali ke keluargaku apa mereka akan menerimaku, Gwen?" tanya Satria meminta pendapat.
"Bukankah memang mereka yang menginginkan Mas Satria untuk kembali?" tanya Gwen.
"Tapi aku merasa bersalah pada papa. Setelah aku bertengkar dengan papa, dia jadi masuk rumah sakit." Satria menatap langit yang dipenuhi bintang.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat bintang sebanyak ini," ucap Satria.
__ADS_1
Tiba-tiba Gwen berteriak. "Kamu kenapa, Gwen?" tanya Satria khawatir.
"Jari aku, Mas. Jari aku mau putus," ucap Gwen sambil menangis. Jarinya digigit kepiting yang lewat di pinggir pantai.
Satria segera membuang kepiting itu. "Sakit?" tanya Satria sambil meniup tangan Gwen. Gwen mengangguk.
"Ayo, kita beli obat agar tanganmu ini tidak iritasi." Satria mengajak Gwen pergi ke apotek. Sayangnya apotek sudah pada tutup karena saat ini malam sudah larut.
"Aku antar kamu pulang saja ya," usul Satria. Namun, hujan mendadak turun dengan lebat. Mereka pun berteduh di sebuah pondok karena Satria tidak membawa jas hujan di motornya.
"Kamu lebih butuh."
Sudah hampir dua jam mereka menunggu hujan belum juga berhenti. Gwen dan Satria mulai resah karena takut orang tua Gwen mencarinya. "Bagaimana ini, Mas? Apa kita terobos saja hujannya?" tanya Gwen meminta pendapat.
"Apa kamu tidak apa-apa? Hujannya sangat lebat aku takut kamu sakit," jawab Satria.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Satria terpaksa menuruti kemauan Gwen. Namun, nasib sial menghampiri mereka. Ban motor Satria rupanya kempes tapi dia tidak menyadarinya.
"Maaf, Gwen. Kita terpaksa tinggal di pondok malam ini sampai kita menemukan bengkel yang buka besok pagi."
"Mas Satria bukannya bisa benerin motor ya?"
"Tapi aku tidak membawa peralatannya. Aku tidak bisa membetulkan ban bocor ini." Gwen meluruhkan bahu. Coba saja dia bawa handphone. Gwen memang sengaja meninggalkan handphone karena dia pikir hanya pergi sebentar.
Sesaat kemudian Gwen mengantuk. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Satria membiarkan Gwen tertidur. Di saat yang bersamaan Satria juga tidur dengan posisi duduk di samping Gwen.
Keesokan harinya, banyak orang yang berkumpul di pondok tempat Gwen dan Satria berteduh semalam. "Hei kalian," teriak salah satu warga.
Satria terbangun. Tapi betapa terkejutnya dia ketika bangun dalam posisi memeluk Gwen. Sesaat kemudian dia mengedarkan pandangannya. 'Sial! Mereka pasti mengira aku berbuat mesum pada Gwen,' umpat Satria di dalam hati.
Gwen terbangun. Dia masih belum sadar sepenuhnya. "Mas Satria? Rupanya mimpiku sedang bagus sehingga seperti nyata saja." Dia tidak ingat kalau semalam tertidur di sebuah pondok bersama Satria.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan orang-orang pada Satria dan Gwen?