
Siang ini Aldo datang ke sekolahan Stefy. Stefy sempat menghentikan langkahnya ketika melihat Aldo. Laki-laki itu langsung mengejar Stefy. "Tunggu, Stef!"
Stefy membuang tangan Aldo. "Lepasin!" Stefy kembali pergi. Tapi langkahnya di hadang Aldo.
"Maafkan aku, Sayang! Aku dalam keadaan mabuk semalam."
Glen yang melihat Aldo dan Stefy langsung berjalan mendekat. "Jangan ganggu dia lagi!" perintah Glen.
"Minggir lo! Gue nggak ada urusan sama lo!" Aldo menarik kerah baju Glen. Kebetulan Satria baru saja sampai. Dia melerai pertengkaran di antara Glen dan Aldo.
"Kalian kenapa?" tanya Satria.
"Dia yang mulai," ucap Glen dan Aldo secara bersamaan.
"Do, sebaiknya lo pulang!" perintah Satria.
"Tapi gue masih ada urusan sama Stefy," balas Aldo.
"Kita nggak ada urusan lagi. Mulai hari ini kita putus," ucap Stefy.
Satria tidak tahu apa permasalahan mereka tapi dia meminta Aldo mengalah untuk sementara waktu agar tidak terjadi keributan di sekolah Gwen. "Bicaralah baik-baik jika keadaannya sudah tenang," ucap Satria dengan lembut pada Aldo. Aldo pun menuruti perintah Satria karena dia menghormatinya.
Setelah itu Gwen datang. "Pada kenapa sih? Mukanya tegang gini?" tanya Gwen.
"Gwen, balik sekarang?" tanya Satria. Gwen mengangguk. Dia merangkul lengan Satria.
"Pulangnya jangan malam-malam," ucap Glen ketus. Gwen malah lidah pada Glen.
Setelah itu Glen menatap Stefy. "Ngapain lo lihat-lihat?" tanya Stefy. Glen tidak menjawab. Namun, dia merebut handphone milik Stefy.
"Eh, ngapain sih ni bocah?"
"Sekarang nomor handphone gue udah ada di kontak lo. Jadi kalau elo butuh sesuatu gue akan datang buat bantuin elo," ucap Glen kemudian tak lupa mengacak rambut Stefy. Setelah itu dia pergi meninggalkan Stefy.
"Bener-bener abangnya Gwen. Dia kesambet setan pohon beringin beneran," gumam Stefy seraya menatap punggung Glen yang semakin menjauh.
__ADS_1
Di tempat lain, Satria mengajak Gwen makan di pinggir jalan. "Nggak apa-apa kan kalau kita makan di sini?" tanya Satria. Kini dia lebih riang dibanding sebelum mengetahui kalau Gwen adalah cinta pertamanya.
"Ya nggak apa-apa dong, Mas. Aku mah makan di mana saja asal makanannya enak tetep bisa masuk," jawab Gwen. Mereka asyik menikmati makanan sambil membicarakan banyak hal.
Ketika Satria ingin membayar makanan itu, dia meraba dompetnya. Namun, ternyata dompetnya tidak ada. "Mas Satria kehilangan dompet ya?" tanya Gwen. Satria mengangguk. Dia malu sekali karena tidak bisa membayar makanan.
"Aku ada uang kok, Mas. Lima puluh ribu cukup apa nggak, Pak?" tanya Gwen pada penjual bakso tersebut.
"Masih ada kembaliannya, Neng," jawab penjual itu.
"Sisanya buat bapak saja." Satria tidak menyangka Gwen begitu murah hati. Dia bangga pada gadis itu.
"Maaf ya. Lain kali aku akan ganti uangmu," ucap Satria yang merasa tidak enak pada pacarnya.
"Tidak perlu, Mas. Lagian aku ikhlas kok." Satria pun tersenyum. Dia memberikan helm pada Gwen. Satria akan mengantar gadis itu pulang.
Pada saat Satria berhenti di lampu merah, dia melihat ibunya sedang mengendarai mobil seorang diri. Satria pun menutup kaca helmnya rapat-rapat berharap sang ibu tidak mengenali dirinya.
Namun, ternyata penglihatan ibunda Satria begitu jeli. Ketika dia melihat putranya, dia mengikuti motor tersebut. Satria tidak merasa kalau sedang diikuti.
Sesampainya di depan rumah Gwen, Satria langsung pamit. "Besok aku ke sini lagi buat ngasih kamu les privat," ucap Satria. Gwen mengangguk.
Wanita yang masih cantik di usianya yang tak terbilang muda itu melepas kaca mata hitamnya. "Aku tidak suka dibuntuti, Ma," ucap Satria.
"Jangan menghindar lagi! Kembalilah ke rumah!" perintah sang ibu.
Satria tersenyum miring. "Tidak mau. Di rumah itu aku kesepian. Lagi pula aku tidak bahagia hidup di sana. Untuk apa kembali?"
"Kamu sama sekali tidak merindukan mama?" tanya Risa.
"Ada atau tidak ada aku, Mama masih punya papa," ucap Satria lalu menyalakan mesin motornya.
"Satria, Satria," teriak Risa pada anak laki-laki satu-satunya.
Satria kesal bukan main. Ingatan terhadap masa lalunya yang kelam jadi berputar kembali. Padahal dia hampir bisa melupakan kejadian buruk di masa lalunya.
__ADS_1
Bagi Satria, masa lalunya di rumah orang tuanya itu sangatlah buruk. Tidak ada kehangatan keluarga yang dia rasakan. Meskipun bergelimang harta tapi di saat dia senang maupun sedih tidak ada orang yang peduli dengannya. Kadang Satria iri pada mereka yang biasa saja. Namun, begitu bahagia karena selalu berkumpul.
Satria pulang ke kontrakannya. Di sana Aldo juga sudah kembali. Rumah kontrakan itu dihuni oleh Satria dan sahabatnya, Aldo. "Udah pulang lo?" tanya Aldo pada Satria.
"Gue mau pindah, Do," ucap Satria.
Aldo terkejut. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Aldo heran.
"Nyokap gue udah menemukan gue. Gue nggak bisa kalau dipaksa balik ke rumah orang tua gue," terang Satria.
"Sat, sat. Elo ini anak orang kaya tapi malah pura-pura jadi orang miskin," cibir Aldo.
"Gue nggak gila harta, Do. Gue cuma mau keluarga yang penuh kehangatan. Gue tidak mendapatkannya dari kedua orang tua gue." Ada perasaan sedih yang tergambar jelas di wajah Satria.
Aldo menepuk bahu Satria pelan. "Lo pikir lagi! Selama ini mereka merawat elo dari kecil. Elo mau sampai kapan minggat nggak jelas kaya gini?" tanya Aldo.
Satria menggeleng. "Nah, kan. Elo nggak punya tempat tujuan yang pasti. Udahlah berdamai saja pada keadaan." Satria mencerna omongan. Aldo.
"Nanti gue coba. Tapi nggak sekarang, Do," jawab Satria.
"Pelan-pelan saja!" Satria mengangguk.
Di rumah besar milik keluarga Deri, Risa mengadu kalau dirinya bertemu Satria. "Biarkan saja! Tidak akan ada masalah karena dia bisa menjaga diri." Begitulah tanggapan Deri atas ucapan sang istri.
"Kamu mana pernah peduli dengan anakmu kalau kamu hanya sayang pada anak pelakor itu," tuduh Risa.
"Jaga ucapan kamu. Memangnya kenapa dia juga anakku."
"Kenapa kamu tidak juga menceraikan aku dan meninggalkan rumah ini?" tanya Risa.
"Rumah ini juga dibangun dengan uangku. Mana mungkin aku meninggalkannya," balas Deri.
"Dasar serakah! Kamu selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih. Mana pernah kamu bersyukur?"
Plak
__ADS_1
Risa mendapatkan tamparan. Dia mengusap pipinya yang terasa nyeri.
Siapakah yang datang?